Chapter 2 - Episode 11
Lulu bekerja tanpa ragu, menyelesaikan satu pesanan lalu menunjuk berikutnya, menjaga ritme tetap jelas tanpa memberi jeda terlalu panjang. Beberapa orang sudah menyesuaikan diri, menunggu tanpa bergerak lebih dulu, sementara yang lain mulai memahami kapan harus bersiap.
Semua berjalan seperti kemarin.
Namun ada satu hal kecil yang terasa berbeda.
Pintu terbuka.
Siswi itu masuk.
Tidak ada jeda panjang di ambang pintu, tidak ada ragu dalam langkahnya. Ia langsung mengambil posisi yang hampir sama seperti kemarin, tidak terlalu dekat, namun juga tidak sejauh sebelumnya.
Seolah sudah tahu di mana harus berdiri.
Lulu melihat sekilas., Lalu kembali menghadap ke depan.
Proses sedang berjalan, Satu orang selesai.., Lalu berikutnya.
Namun kali ini, saat jeda kecil muncul, Lulu tidak langsung menunjuk. Ia melihat ke depan, lalu tanpa terlihat mencarinya, pandangannya sempat berhenti di satu titik.
Siswi itu, Hanya sekejap.
Lalu ia kembali.
“Kamu dulu,” katanya.
Bukan ke arahnya.
Melainkan kearah orang lain.
Orang itu maju.
Siswi itu tidak bergerak.
Ia hanya menunggu.
Namun tidak seperti kemarin.
Tidak ada ragu atau dorongan untuk maju lebih dulu.
Ia hanya berada di tempatnya, mengikuti ritme tanpa mencoba masuk lebih cepat.
Beberapa sesi berlalu.
Alur tetap stabil.
Namun ada pola kecil yang mulai terbentuk.
Setiap kali siswi itu datang, ia tidak lagi bertanya lebih dulu.
Ia menunggu.
Dan kemudian Lulu tidak lagi menghindari.
Sekarang Ia tidak selalu memilihnya lebih awal.
Namun juga tidak menunda tanpa alasan.
Seolah keduanya mulai menemukan titik yang tidak perlu dijelaskan.
Rian yang berdiri di sisi ruangan memperhatikan tanpa komentar. Ia hanya melihat bagaimana hal kecil itu mulai terulang tanpa direncanakan, seperti kebiasaan yang terbentuk sendiri.
Lulu menyelesaikan satu orang, lalu berhenti sejenak.
Sebuah Jeda.
Ia mengangkat pandangan.
“Kamu.”
Siswi itu maju.
Tanpa ragu.
Langkahnya pendek, seolah sudah tahu bahwa giliran itu akan datang tanpa perlu dipastikan.
Lulu mulai bekerja.
Tangannya tetap stabil.
Namun kali ini ia tidak langsung diam.
“Yang sama?” tanyanya.
Siswi itu mengangguk kecil.
“Iya.”
Jawabannya sederhana.
Namun tidak terasa kosong.
Lulu mengangguk, lalu mulai meracik tanpa banyak perubahan. Namun di tengah proses, ia sedikit menyesuaikan aliran, tidak banyak, hanya cukup untuk membuat hasilnya tidak sepenuhnya sama.
Siswi itu memperhatikan.
Namun tidak bertanya.
Ia hanya berdiri, membiarkan proses itu berjalan.
Beberapa detik berlalu.
Lulu menyelesaikan racikannya dan mendorong cangkir itu ke depan.
Siswi itu menerimanya.
“Terima kasih.”
Lulu mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada percakapan panjang.
Namun tidak terasa canggung.
Karena yang berubah bukan lagi kata-kata.
Melainkan cara mereka berada di momen yang sama.
Siswi itu tidak langsung pergi.
Ia menunggu satu detik.
Lalu berkata pelan,
“Besok aku datang lagi.”
Lulu melihatnya.
“Iya.”
Jawabannya singkat.
Namun tidak terasa jauh.
Siswi itu mengangguk kecil, lalu berbalik dan berjalan keluar.
Pintu tertutup.
Suasana kembali seperti semula.
Namun tidak benar-benar sama.
Karena sesuatu sudah mulai terulang.
Dan kali ini, tidak terasa asing.
Beberapa saat setelah itu…
Ritme tetap berjalan, namun terasa lebih ringan. Orang-orang tidak lagi menunggu dengan ragu, dan Lulu tidak perlu menahan atau mempercepat alur. Ia menyelesaikan satu pesanan, lalu mengangkat pandangan, memastikan siapa yang sudah siap tanpa harus melihat terlalu lama.
“Kamu dulu,” ucapnya pelan.
Orang itu maju, dan proses berlanjut tanpa jeda yang mengganggu.
Di sela-sela itu, Lulu mulai menyadari sesuatu yang tidak terlalu jelas bentuknya. Bukan perubahan besar, melainkan kebiasaan kecil yang muncul tanpa ia rencanakan. Setiap kali siswi itu datang, Lulu tidak lagi mempertimbangkan dari awal. Ia hanya tahu kapan waktunya.
Tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Ia menyelesaikan satu cangkir, mendorongnya ke depan, lalu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. Tangannya tidak langsung bergerak, seolah memberi ruang yang tidak ia sadari.
Rian memperhatikan dari samping.
“Kamu tidak hitung lagi,” katanya pelan.
Lulu melirik singkat, lalu kembali ke depan.
“Iya,” jawabnya, singkat.
Rian mengangguk kecil.
“Lebih gampang?”
Lulu tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu pesanan, lalu mengusap ringan bagian meja sebelum mengangkat pandangan lagi.
“Lebih terasa,” katanya akhirnya.
Jawaban itu tidak panjang, tapi cukup untuk menjelaskan tanpa perlu diperjelas lagi.
Beberapa menit berlalu.
Suasana tetap stabil.
Namun di antara alur yang berjalan itu, Lulu mulai bergerak tanpa perlu berpikir terlalu jauh. Ia tidak lagi mencari siapa berikutnya dengan cara yang sama. Ia hanya melihat sekilas, lalu memilih.
Dan pilihan itu, tidak terasa seperti keputusan.
Kali ini Lulu tidak langsung menunjuk.
Ia melihat ke depan, lalu ke sisi kiri, lalu kembali.
Seorang siswa tampak ragu untuk maju.
Lulu menangkap itu.
“Kamu dulu,” ucapnya.
Siswa itu mengangguk cepat, lalu maju dengan langkah yang lebih yakin.
Proses berjalan lagi.
Namun kali ini, ada satu hal yang Lulu sadari di tengah-tengahnya.
Ia tidak lagi menjaga jarak dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
Bukan karena ia berhenti menjaganya.
Tapi karena ia tidak perlu menahannya setiap saat.
Perubahan itu tidak terasa berat.
Tidak juga mengganggu.
Namun cukup untuk membuatnya berhenti sejenak setelah selesai.
Tangannya diam di atas meja.
Pandangannya tidak langsung berpindah.
Rian mendekat satu langkah.
“Mulai kebiasa,” katanya.
Lulu menarik napas pelan.
“Iya.”