Chapter 2 - Episode 12
Keesokan harinya, hujan turun sejak siang meski tidak terlalu deras. Tetes air membasahi kaca depan Arcane Brew dan membuat suasana di dalam terasa lebih hangat dari biasanya, apalagi saat aroma kopi mulai memenuhi ruangan sejak mesin dinyalakan.
Lulu datang lebih awal seperti biasa. Ia menggantung tasnya, lalu langsung merapikan meja depan sebelum membuka sebagian jendela kecil di dekat kasir agar udara tidak terasa terlalu pengap.
Beberapa pelanggan mulai datang tidak lama setelah itu.
Suasana berjalan seperti biasanya.
Orang-orang datang kemudian memesan Lalu pergi, siklus yang terus berulang.
Namun di sela ritme yang terus berjalan itu, Lulu beberapa kali tanpa sadar melihat ke arah pintu lebih dulu sebelum kembali bekerja.
Awalnya ia tidak terlalu memikirkan itu.
Sampai akhirnya Rian yang sedang menyusun stok di rak belakang bicara tanpa menoleh.
“Kamu dari tadi lihat pintu terus.”
Lulu yang sedang menyusun cangkir langsung berhenti sebentar.
“Nggak.”
Jawabannya sangat cepat.
Rian menahan senyum kecil sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi.
“Iya deh.”
Lulu sedikit mengernyit sambil kembali menyusun cangkir.
Ia memang beberapa kali melihat ke arah pintu.
Namun bukan karena sengaja menunggu.
Setidaknya itu yang ia pikirkan.
Beberapa pelanggan datang silih berganti, membuat suasana di dalam kembali hidup oleh suara langkah basah dan percakapan kecil yang bercampur dengan bunyi mesin kopi.
Lulu tetap bekerja seperti biasa, menjaga ritme tetap rapi tanpa terlihat terganggu. Namun sesekali pandangannya tetap bergerak ke arah yang sama saat suara lonceng pintu berbunyi.
Bukan siapa-siapa.
Bukan juga orang yang ia pikirkan.
Dan anehnya, kesadaran itu mulai terasa lebih jelas setiap kali pintu terbuka.
Satu jam berlalu.
Hujan di luar belum berhenti.
Beberapa kursi dekat jendela mulai terisi penuh oleh orang-orang yang memilih berteduh sambil memesan minuman hangat.
Lulu baru selesai menyeduh satu pesanan saat lonceng kecil di atas pintu kembali berbunyi.
Kali ini, sebelum benar-benar melihat siapa yang masuk, tubuhnya sudah lebih dulu mengenali langkah itu.
Ia langsung mengangkat pandangan.
Siswi itu berdiri di dekat pintu sambil menutup payung kecil berwarna gelap di tangannya. Beberapa tetes air masih menempel di ujung rambutnya, sementara bagian lengan seragamnya terlihat sedikit basah karena hujan.
Dan tanpa sadar, Lulu merasa lebih lega dari yang seharusnya.
Siswi itu melihat ke arah meja lalu tersenyum kecil saat mata mereka bertemu.
“Ramai ya,” katanya sambil berjalan mendekat.
“Iya,” jawab Lulu singkat, meski kali ini nadanya terdengar lebih ringan.
Siswi itu menggantung payungnya di dekat pintu sebelum mengambil tempat yang beberapa hari terakhir hampir selalu ia pilih.
Dekat jendela.
Dekat meja depan.
Seolah tempat itu memang sudah otomatis jadi miliknya.
Lulu kembali bekerja, namun sekarang suasana di sekitarnya terasa berbeda.
Bukan lebih ramai.
Bukan juga lebih tenang.
Hanya terasa… pas.
Ia menyelesaikan satu pesanan lalu mengangkat pandangan lagi tanpa sadar.
Siswi itu sedang melihat hujan di luar sambil menopang dagu dengan tangan, terlihat jauh lebih santai dibanding pertama kali datang ke tempat itu.
Dan untuk sesaat, Lulu baru sadar satu hal kecil.
Ia sudah mulai hafal kebiasaan orang itu.
Kapan biasanya datang.
Tempat duduk yang dipilih.
Cara memegang cangkir.
Bahkan ekspresi kecil saat pertama menyesap minuman.
Kesadaran itu muncul begitu saja sampai Lulu sedikit terdiam di tengah pekerjaannya sendiri.
Rian yang lewat di belakang meja menangkap itu sekilas.
“Nah,” gumamnya pelan.
Lulu langsung melirik.
“Nah apalagi?”
Rian menahan senyum kecil.
“Sekarang kamu udah mulai nungguin.”
Lulu langsung kembali menurunkan pandangan ke cangkir di tangannya.
Hujan di luar masih turun rintik-rintik setelah itu. Air terus mengalir di permukaan kaca depan, membuat cahaya jalan yang mulai menyala terlihat samar dan sedikit buram dari dalam ruangan.
Hujan di luar masih turun rintik-rintik. Tetes air terus mengalir di kaca depan Arcane Brew dan membuat cahaya lampu jalan terlihat samar dari dalam ruangan, sementara udara dingin dari luar bercampur dengan aroma kopi hangat yang memenuhi tempat itu sejak tadi.
Suasana di dalam masih ramai, tapi tidak berisik. Percakapan kecil bercampur dengan suara cangkir dan mesin kopi, menciptakan ritme yang pelan dan nyaman didengar.
Lulu tetap bekerja di balik meja seperti biasa. Tangannya bergerak tanpa terburu saat menyelesaikan satu pesanan lalu beralih ke berikutnya, sementara antrean di depan perlahan berkurang seiring beberapa orang mulai memilih duduk lebih lama karena hujan belum juga reda.
Namun sejak siswi itu datang, ada satu hal kecil yang mulai terasa jelas.
Pandangan Lulu sesekali bergerak ke arah jendela tanpa sadar.
Tidak lama.
Hanya sekilas.
Tapi cukup sering sampai akhirnya sulit diabaikan.
Siswi itu masih duduk di tempat biasanya sambil melihat hujan di luar. Cangkir di depannya tinggal setengah, dan sesekali jemarinya mengusap bagian luar gelas hangat itu sambil diam.
Lulu memperhatikan beberapa detik sebelum kembali menurunkan pandangan ke meja.
Ia menyelesaikan satu pesanan lalu mendorong cangkir ke depan.
“Nih.”
Pelanggan itu menerimanya sambil mengucapkan terima kasih sebelum berjalan ke meja kosong di sudut ruangan.
Begitu antrean sedikit lebih longgar, Lulu menghela napas kecil sambil merapikan posisi beberapa cangkir yang tadi dipakai.
Rian datang dari belakang sambil membawa stok gula tambahan.
“Capek?” tanyanya santai.
“Lumayan.”
Jawaban itu keluar begitu saja sampai Lulu sendiri sedikit sadar kalau ia tidak sedang mencoba menyembunyikannya.
Rian langsung mengangkat alis kecil.
“Tumben jujur.”
Lulu melirik sekilas.
“Karena emang ramai.”
Rian tertawa kecil sambil meletakkan stok itu di bawah meja.
“Biasanya juga ramai.”
Lulu tidak membalas.
Karena ia tahu yang berubah bukan suasananya.
Melainkan dirinya sendiri yang sekarang mulai lebih sadar pada banyak hal di sekitarnya.
Dan salah satunya, keberadaan seseorang di dekat jendela itu.
Beberapa menit kemudian, suara kursi bergeser pelan membuat pandangan Lulu kembali terangkat.
Siswi itu berdiri sambil membawa cangkir kosongnya mendekat ke meja depan.
“Kosong lagi,” katanya sambil meletakkan gelas itu pelan.
Lulu melihat cangkir itu sebentar.
“Mau tambah?”
Siswi itu tampak berpikir sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Iya… tapi jangan terlalu manis.”
Lulu mengangguk lalu langsung mulai menyiapkan lagi tanpa perlu bertanya lebih jauh.
Siswi itu berdiri di dekat meja sambil melihat ke luar jendela.
“Ramai terus dari tadi ya,” katanya.
“Iya,” jawab Lulu sambil tetap bekerja, “gara-gara hujan juga.”
Siswi itu mengangguk pelan.
“Enak sih di sini kalau lagi hujan.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi entah kenapa membuat Lulu diam sepersekian detik lebih lama sebelum kembali bergerak.
Ia baru sadar kalau belakangan ini Arcane Brew juga mulai terasa berbeda baginya.
Bukan karena tempatnya berubah.
Tapi karena suasana di dalamnya sekarang terasa lebih hidup dibanding dulu.
Dan tanpa sadar, sebagian dari itu datang dari hal-hal kecil yang terus terulang setiap hari.
Lulu menyelesaikan minuman itu lalu mendorong cangkir baru ke depan.
“Nih.”
Siswi itu menerimanya sambil tersenyum kecil.
“Makasih.”
Lulu mengangguk pelan.
Namun kali ini, sebelum siswi itu kembali ke tempat duduknya, Lulu bicara lebih dulu.
“Kamu memang suka hujan?”
Siswi itu terlihat sedikit kaget karena pertanyaan itu datang dari Lulu.
Namun beberapa detik kemudian, senyum kecil kembali muncul di wajahnya.
“Suka,” jawabnya pelan, “lebih tenang aja.”
Lulu terdiam sebentar.
Lalu tanpa sadar mengangguk kecil.
“Iya… ngerti.”
Jawaban itu keluar sangat pelan.
Tapi cukup untuk membuat siswi itu diam beberapa detik sambil melihat Lulu sedikit lebih lama dari sebelumnya.
Karena untuk pertama kalinya, Lulu tidak hanya menjawab seperlunya.
Ia mulai ikut masuk ke percakapan itu sendiri.
Hujan di luar masih belum berhenti setelah itu. Rintiknya jatuh perlahan di sepanjang kaca jendela dan sesekali terdengar lebih jelas saat angin lewat membawa udara dingin dari luar.
Namun suasana di dalam Arcane Brew justru terasa makin hangat.
Beberapa meja masih terisi, meski tidak seramai sebelumnya. Orang-orang mulai tenggelam dengan kegiatan masing-masing, ada yang berbicara pelan dengan temannya, ada yang sibuk melihat layar ponsel, dan ada juga yang hanya duduk diam sambil menikmati minuman hangat di tangan mereka.
Siswi itu kembali ke tempat duduk dekat jendela sambil membawa cangkir barunya. Uap tipis masih naik dari permukaannya saat ia duduk dan melihat hujan di luar dengan ekspresi yang jauh lebih santai dibanding hari-hari pertama datang ke tempat itu.
Sementara itu, Lulu kembali melanjutkan pekerjaannya di balik meja.
Tangannya tetap bergerak seperti biasa, menyusun pesanan satu per satu tanpa terburu. Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana, karena tanpa sadar sebagian perhatiannya masih tertinggal di dekat jendela.