Chapter 2 - Episode 13
Keesokan sore, langit masih terlihat mendung meski hujan belum turun lagi sejak malam tadi. Udara di sekitar jalan terasa lebih dingin dari biasanya, membuat aroma kopi hangat yang keluar dari Arcane Brew langsung terasa begitu pintu dibuka.
Lulu datang tidak lama setelah jam pulang sekolah. Ia langsung menggantung tasnya lalu mulai menyiapkan meja depan seperti biasa, menyusun cangkir dan memastikan semua alat berada di tempatnya masing-masing.
Namun hari itu ada satu hal kecil yang berbeda.
Sesekali pandangannya bergerak ke arah jam dinding.
Tidak sering.
Tapi cukup jelas sampai ia sendiri mulai sadar.
Rian yang sedang memeriksa stok susu di belakang langsung menangkap itu tanpa perlu bertanya terlalu jauh.
“Masih belum jam biasanya,” katanya santai.
Lulu langsung berhenti sepersekian detik sebelum kembali menyusun cangkir.
“Aku nggak nunggu.”
“Iya.”
Jawaban Rian terlalu cepat sampai Lulu langsung melirik tajam.
“Kamu nyebelin.”
Rian tertawa kecil sambil menutup kulkas penyimpanan.
“Yang penting bener.”
Lulu menghela napas kecil lalu memilih kembali fokus ke pekerjaannya.
Arcane Brew mulai ramai beberapa menit kemudian. Suara pintu yang terus terbuka dan tertutup bercampur dengan langkah kaki serta percakapan kecil pelanggan yang datang silih berganti memenuhi ruangan.
Lulu tetap bekerja seperti biasa di balik meja.
Tangannya bergerak cepat dan rapi saat menyelesaikan pesanan satu per satu, sementara antrean perlahan memanjang sampai dekat pintu masuk.
Namun di sela kesibukan itu, ia masih beberapa kali melihat ke arah jam.
Dan semakin waktu berjalan, ia mulai sadar kalau dirinya memang menunggu.
Bukan sesuatu.
Tapi seseorang.
Kesadaran itu datang begitu saja sampai Lulu sedikit terlambat menyadari suara lonceng kecil di atas pintu yang kembali berbunyi.
Saat ia mengangkat pandangan, siswi itu akhirnya masuk.
Rambutnya sedikit berantakan karena angin luar, sementara tas yang dibawanya tampak lebih penuh dari biasanya. Namun begitu melihat Lulu di balik meja, senyum kecil langsung muncul di wajahnya seperti refleks. Dan tanpa sadar, bahu Lulu terasa sedikit lebih ringan.
“Kamu rame banget,” kata siswi itu sambil mendekat.
“Iya,” jawab Lulu singkat, meski nada suaranya terdengar jauh lebih santai dibanding beberapa menit sebelumnya.
Siswi itu melihat antrean di belakang lalu tertawa kecil.
“Aku nunggu aja deh.”
Lulu mengangguk pelan sebelum kembali bekerja.
Namun sekarang ritmenya terasa berbeda lagi.
Bukan lebih cepat.
Bukan juga lebih lambat.
Hanya lebih tenang.
Rian yang berdiri di sisi belakang memperhatikan perubahan itu sambil menahan senyum kecil.
“Nah,” gumamnya pelan.
Lulu langsung melirik.
“Kamu jangan mulai.”
“Aku nggak ngomong apa-apa.”
“Tapi mukamu ngomong.”
Rian langsung tertawa kecil sementara Lulu kembali menurunkan pandangan ke cangkir di tangannya.
Namun kali ini, sudut bibirnya sempat bergerak tipis sebelum akhirnya hilang lagi.
Siswi itu mengambil tempat dekat jendela seperti biasa sambil meletakkan tasnya di kursi sebelah. Beberapa kali pandangannya bergerak ke arah meja depan, memperhatikan Lulu yang masih sibuk melayani pelanggan.
Dan untuk pertama kalinya, cara mereka saling melihat mulai terasa seperti kebiasaan yang sudah terbentuk cukup lama. Padahal semuanya baru berjalan beberapa hari.
Antrean di depan meja masih cukup panjang setelah itu. Beberapa siswa baru datang bersamaan sambil membawa udara dingin dari luar, membuat suasana di dalam Arcane Brew kembali ramai oleh suara langkah dan obrolan kecil yang saling bercampur.
Lulu tetap berdiri di balik meja sambil menyelesaikan pesanan satu per satu tanpa kehilangan ritmenya. Tangannya bergerak cepat saat mengambil cangkir, menuang, lalu berpindah ke pesanan berikutnya, namun kali ini ekspresinya tidak setegang biasanya meski suasana cukup sibuk.
Sesekali pandangannya bergerak ke arah dekat jendela.
Dan hampir setiap kali itu terjadi, siswi itu juga sedang melihat ke arahnya.
Tidak lama.
Hanya sekilas.
Namun cukup sampai Lulu mulai sadar kalau mereka sudah beberapa kali melakukan hal yang sama tanpa sengaja.
Ia langsung kembali fokus ke meja setiap kali menyadarinya, meski sekarang reaksinya tidak lagi sekeras dulu.
Rian yang melihat dari belakang hanya menahan senyum sambil menyusun stok gelas kertas.
“Kalau terus dilihat nanti bolong,” katanya santai.
Lulu langsung melirik cepat.
“Aku nggak ngelihatin.”
“Iya,” jawab Rian sambil mengangguk asal, “makanya tiap dua menit nengok.”
Lulu menghela napas kecil sebelum kembali menyelesaikan pesanan di tangannya.
Namun kali ini ia tidak membalas lagi.
Karena sebagian dari ucapan Rian memang benar.
Ia sendiri tidak sadar sejak kapan keberadaan seseorang mulai semudah itu menarik perhatiannya.
Beberapa menit kemudian antrean akhirnya mulai berkurang. Suasana di depan meja terasa lebih longgar, sementara sebagian pelanggan mulai sibuk dengan minuman mereka masing-masing.
Lulu baru selesai merapikan beberapa cangkir saat siswi itu berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekat sambil membawa dompet kecil di tangannya.
“Sekarang boleh pesan?” tanyanya sambil tersenyum kecil.
Lulu mengangguk.
“Iya.”
Siswi itu melihat menu sebentar meski jelas-jelas ia sudah hafal.
“Yang kemarin aja.”
Lulu langsung mulai menyiapkan tanpa perlu bertanya lagi.
Siswi itu memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.
“Kamu sekarang udah otomatis ya.”
Lulu sedikit mengernyit.
“Maksudnya?”
“Aku belum selesai ngomong tapi kamu udah tahu.”
Lulu diam sepersekian detik sebelum kembali menurunkan pandangan ke cangkir.
“…udah hafal dikit.”
Jawabannya terdengar pelan, tapi cukup jelas sampai siswi itu tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.
Suasana di sekitar mereka tetap berjalan seperti biasa. Beberapa orang masih berbicara di sudut ruangan, sementara suara mesin kopi kembali terdengar saat Lulu mulai menuang.
Namun di tengah semua itu, percakapan mereka terasa seperti ruang kecil yang terpisah sendiri dari keramaian.
“Kamu capek?” tanya siswi itu sambil melihat antrean yang tadi cukup panjang.
“Lumayan.”
Jawaban itu keluar lebih cepat dari biasanya.
Siswi itu terlihat sedikit terkejut sebelum akhirnya tertawa kecil.
“Kamu sekarang lebih jujur.”
Lulu langsung berhenti sebentar.
Ia baru sadar kalau akhir-akhir ini dirinya memang lebih sering menjawab apa adanya dibanding mencoba memotong percakapan secepat mungkin.
“…mungkin,” gumamnya pelan.
Siswi itu menyandarkan siku ringan di meja sambil memperhatikan Lulu yang masih bekerja.
“Bagus sih.”
Lulu melirik sekilas.
“Apanya?”
“Lebih gampang diajak ngomong.”
Kalimat itu membuat Lulu diam beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Karena dulu, ia justru sengaja membuat dirinya sulit didekati.
Namun sekarang, tanpa sadar semuanya berubah sedikit demi sedikit sampai ia sendiri tidak tahu kapan tepatnya mulai berhenti menjaga jarak sekeras dulu.
Lulu menyelesaikan minumannya lalu mendorong cangkir itu perlahan ke depan.
“Nih.”
Siswi itu menerimanya dengan kedua tangan.
“Makasih.”
Lulu mengangguk kecil.
Namun kali ini, sebelum siswi itu kembali ke tempat duduknya, Lulu bicara lebih dulu.
“Tugas kamu banyak?”
Siswi itu langsung mengangkat pandangan dengan ekspresi sedikit kaget.
“Hah?”
Tas yang tadi dibawanya tampak lebih penuh dari biasanya.
Dan tanpa sadar, Lulu memperhatikan hal kecil itu sejak pertama kali siswi itu masuk tadi.
Siswi itu masih terlihat sedikit kaget setelah mendengar pertanyaan tadi. Tangannya yang memegang cangkir sempat berhenti sebentar sebelum akhirnya ia tertawa kecil.
“Kelihatan ya?”
Lulu mengangguk pelan sambil melirik tas yang diletakkan di kursi dekat jendela.
“Penuh.”
“Oh… iya,” jawab siswi itu sambil menarik napas kecil, “hari ini banyak tugas kelompok.”
Lulu kembali merapikan area meja depan tanpa terburu.
“Makanya baru datang sekarang?”
Siswi itu langsung menatap Lulu beberapa detik.
Kali ini jelas terlihat kalau ia benar-benar tidak menyangka Lulu akan menyambung percakapan sejauh itu.
“Iya,” jawabnya pelan sambil tersenyum kecil, “tadi sempat takut kemalaman.”
Lulu diam sebentar sebelum kembali mengambil beberapa cangkir bersih dari rak atas.
“Masih sempat.”
Jawabannya sederhana.
Namun cukup untuk membuat siswi itu tersenyum lagi sebelum akhirnya kembali ke kursi dekat jendela sambil membawa minumannya.