Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #40

Episode 38 : Kalimat yang Terucap Begitu Saja

Chapter 2 - Episode 14 

Malam itu, udara terasa lebih dingin dibanding biasanya setelah hujan benar-benar reda. Jalanan di depan Arcane Brew masih basah dan memantulkan cahaya lampu kota yang bergerak samar di permukaan aspal.

Namun di dalam, Lulu masih belum bergerak dari dekat jendela.

“…aku tunggu.”. Kalimat itu terus teringat di kepalanya beberapa detik setelah pintu tertutup.

Dan semakin dipikirkan, semakin terasa memalukan.

Rian yang berdiri tidak jauh darinya masih menahan tawa sambil menyandarkan tubuh ke meja belakang.

“Aku tunggu, katanya.”

Lulu langsung menoleh cepat.

“Jangan diulang.”

“Kenapa?” tanya Rian sambil tertawa kecil, “bagus kok.”

Lulu langsung menghela napas panjang sebelum berjalan kembali ke belakang meja sambil mencoba terlihat biasa.

Namun telinganya masih terasa panas.

“Itu keluar sendiri.”

“Nah,” jawab Rian santai, “berarti emang pengen diucapin.”

Lulu langsung diam.

Karena lagi-lagi—

Rian tidak sepenuhnya salah.

Ia mengambil beberapa cangkir kosong lalu mulai membereskannya lebih cepat dari biasanya, seolah mencoba mengalihkan pikirannya sendiri.

Namun percuma.

Semakin ia mencoba fokus ke hal lain, semakin jelas wajah terkejut siswi itu tadi muncul di kepalanya.

Dan yang paling parah, ia masih ingat jelas senyum kecil setelahnya.

Rian yang melihat Lulu terus diam akhirnya berjalan mendekat sambil membawa lap kain.

“Kamu sekarang udah susah bohong sama diri sendiri.”

Lulu langsung melirik.

“Aku nggak bohong.”

“Ya makanya,” jawab Rian sambil tertawa kecil, “akhirnya ngomong jujur.”

Lulu tidak membalas.

Ia hanya kembali menyusun cangkir satu per satu ke rak atas sambil mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

Namun sekarang semuanya terasa lebih jelas dibanding sebelumnya.

Ia memang menunggu.

Menunggu suara lonceng pintu berbunyi di jam tertentu.

Menunggu kursi dekat jendela kembali terisi.

Dan menunggu percakapan kecil yang sekarang mulai terasa seperti bagian dari harinya sendiri.

Kesadaran itu membuat Lulu berhenti beberapa detik sambil menatap rak di depannya.

Aneh.

Namun tidak buruk.

Justru terasa hangat dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Rian memperhatikan perubahan ekspresi kecil itu sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Kamu kelihatan lebih ringan sekarang.”

Lulu menurunkan pandangan.

“…iya mungkin.”

Jawaban itu keluar pelan.

Tidak lagi defensif seperti biasanya.

Dan itu cukup membuat Rian sedikit terdiam karena ia sadar—

Lulu benar-benar mulai menerima perasaan itu, meski belum sepenuhnya mengerti bentuknya.

Suasana di dalam Arcane Brew kembali tenang setelah itu. Lampu bagian depan mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan cahaya hangat di area dekat meja dan jendela.

Lulu mengambil tasnya lalu berjalan pelan ke arah pintu bersama Rian.

Namun sebelum keluar, pandangannya kembali jatuh ke kursi dekat jendela itu.

Kosong. Tapi sekarang tidak terasa jauh.

Karena untuk pertama kalinya, ia tahu seseorang akan kembali mengisinya besok.

Dan tanpa sadar, pikiran itu membuat langkahnya terasa sedikit lebih ringan saat keluar ke udara malam yang dingin. Keesokan harinya, langit terlihat jauh lebih cerah dibanding beberapa hari terakhir. Sisa hujan semalam masih meninggalkan udara dingin di sepanjang jalan, namun cahaya sore yang masuk lewat kaca depan membuat Arcane Brew terasa lebih hangat dari biasanya.

Lulu datang lebih awal.

Ia langsung membuka sebagian jendela kecil dekat meja depan lalu mulai menyiapkan semuanya seperti biasa. Cangkir disusun rapi, stok diperiksa satu per satu, dan mesin kopi mulai mengeluarkan suara halus saat dinyalakan.

Namun sejak tadi pikirannya tidak benar-benar tenang.

Karena tanpa sadar, ia mulai memikirkan satu hal sejak keluar rumah tadi pagi.

“Besok aku datang lagi.”

“Aku tunggu.”

Lulu langsung menghela napas kecil sambil menutup rak sedikit lebih keras dari biasanya.

Rian yang baru keluar dari belakang langsung melirik.

“Masih kepikiran?”

Lulu langsung diam sepersekian detik.

“Nggak.”

Jawabannya terlalu cepat sampai Rian langsung tertawa kecil.

“Kamu sekarang gampang banget ketahuan.”

Lulu mengabaikannya lalu kembali menyusun beberapa sachet gula di dekat meja kasir.

Namun semakin sore berjalan, semakin jelas kalau pikirannya memang terus kembali ke sana.

Beberapa pelanggan mulai datang satu per satu. Suasana di dalam perlahan hidup oleh suara langkah dan obrolan ringan yang bercampur dengan aroma kopi hangat dari belakang meja.

Lulu tetap bekerja seperti biasa.

Tangannya bergerak cepat dan rapi saat menyelesaikan pesanan, sementara antrean perlahan bertambah mendekati pintu masuk.

Namun sekarang, ada rasa berbeda setiap kali lonceng kecil di atas pintu berbunyi.

Ia mulai refleks mengangkat kepala lebih dulu.

Dan setiap kali yang masuk bukan orang yang ia tunggu—

ada jeda kecil yang langsung terasa.

Lulu baru sadar sejauh itu saat tangannya berhenti sepersekian detik di tengah menuang minuman.

“…wah.”

Suara kecil Rian terdengar dari belakang.

Lulu langsung melirik.

“Kamu kenapa lagi?”

Rian menahan senyum sambil menyilangkan tangan.

“Nggak nyangka aja.”

“Apa?”

“Kamu sekarang beneran nungguin.”

Lulu langsung kembali menurunkan pandangan ke cangkir di tangannya.

Namun kali ini, ia tidak membantah.

Karena ia sendiri sudah mulai sadar kalau semua itu memang benar.

Beberapa menit kemudian, lonceng kecil di atas pintu kembali berbunyi.

Dan kali ini, Lulu langsung tahu. Bahkan sebelum benar-benar melihat.

Ia mengangkat kepala cepat.

Siswi itu berdiri di dekat pintu sambil membawa tas yang lebih ringan dibanding kemarin. Rambutnya tidak lagi berantakan karena hujan, dan begitu melihat Lulu, senyum kecil langsung muncul seperti biasa.

Namun kali ini, sebelum siswi itu sempat bicara, Lulu lebih dulu sadar kalau dirinya ikut tersenyum tipis. Sangat kecil. Tapi jelas.

Rian yang melihat dari belakang sampai langsung menahan tawanya sendiri.

Siswi itu berjalan mendekat sambil sedikit memiringkan kepala.

“Kamu lagi senyum ya?”

Lulu langsung tersadar lalu kembali memasang ekspresi biasa.

“Nggak.”

Jawabannya cepat.

Terlalu cepat.

Siswi itu langsung tertawa kecil.

“Barusan iya.”

Lulu menghela napas kecil sebelum akhirnya menyerah dan kembali fokus ke meja.

“Kamu datang cepet.”

“Kelas selesai lebih awal,” jawab siswi itu sambil duduk di tempat biasanya, “jadi aku langsung ke sini.”

Kalimat itu terdengar natural. Namun entah kenapa membuat dada Lulu terasa sedikit lebih ringan. Seolah tanpa sadar, tempat ini benar-benar mulai jadi tujuan seseorang selain dirinya sendiri.

Suasana di dalam Arcane Brew mulai ramai setelah itu. Beberapa pelanggan datang hampir bersamaan, membuat suara langkah dan percakapan kecil kembali memenuhi ruangan.

Namun kali ini, Lulu tidak merasa setegang biasanya saat suasana mulai sibuk.

Ia tetap berdiri di balik meja sambil menyelesaikan pesanan satu per satu, membiarkan ritme berjalan seperti biasa. Tangannya masih bergerak cepat dan rapi, tapi sekarang ekspresinya jauh lebih ringan dibanding beberapa minggu lalu.

Sesekali pandangannya bergerak ke arah dekat jendela.

Lihat selengkapnya