Chapter 2 - Episode 15
Malam itu, Lulu pulang dengan merenung dan diam saja melalui jalanan yang masih dipenuhi udara dingin dan aroma tanah basah, sementara cahaya lampu kota memantul samar di genangan kecil sepanjang trotoar. Rian beberapa kali mencoba memulai percakapan ringan di perjalanan, namun Lulu hanya menjawab seperlunya sambil terus berjalan dengan pikiran yang belum benar-benar tenang. Bunga itu muncul lagi dan kali ini terlalu jelas untuk dianggap kebetulan. Setelah berpisah di persimpangan dekat rumah, Lulu akhirnya masuk ke kamarnya sendiri tanpa banyak suara. Tasnya diletakkan begitu saja di dekat meja belajar sebelum ia duduk di sisi ranjang sambil menatap kosong ke arah jendela.
Ruangan itu sunyi.
Hanya ada suara kipas kecil dan sisa rintik air yang masih jatuh dari atap luar.
Namun justru di dalam keheningan itu, ingatan tentang bunga kecil tadi kembali muncul semakin jelas di kepalanya.
Kelopak putih kebiruan.
Cahaya lembut yang nyaris transparan.
Dan cara bunga itu selalu muncul di dekat siswi itu.
Lulu menundukkan pandangan perlahan ke arah telapak tangannya sendiri.
Dulu, saat masih kecil, bunga-bunga seperti itu sering muncul tanpa alasan. Kadang tumbuh di sela jemarinya saat ia menangis, kadang bermunculan di atas meja belajar saat ia terlalu lelah, dan kadang memenuhi sudut kamar saat emosinya tidak bisa ia tahan sendiri.
Tidak ada orang lain yang pernah melihatnya.
Bahkan ibunya dulu hanya menganggap Lulu terlalu sering melamun.
Karena itu, lama-kelamaan Lulu mulai membiasakan diri mengabaikannya.
Sampai akhirnya bunga-bunga itu perlahan berhenti muncul.
Dan sekarang, semuanya kembali lagi. Lulu menarik napnas pelan sebelum akhirnya berdiri lalu berjalan ke arah meja kecil dekat jendela. Tangannya membuka laci paling bawah dengan gerakan lambat sampai sebuah buku tua berukuran kecil terlihat di dalamnya.
Sampulnya sudah sedikit pudar. Sudut halamannya mulai menguning.
Namun Lulu masih menyimpannya sampai sekarang.
Ia duduk kembali di lantai dekat ranjang lalu membuka buku itu perlahan.
Sebagian besar isinya hanya catatan kecil, Tanggal dan Sketsa bunga.
Dan tulisan pendek yang dibuat Lulu sendiri bertahun-tahun lalu.
“Bunga muncul saat sedih.”
“Bunga warna biru muncul lebih lama.”
“Hilang kalau aku tenang lagi.”
Tulisan-tulisan itu terlihat berantakan seperti dibuat anak kecil yang belum benar-benar mengerti apa yang sedang dialaminya sendiri.
Lulu berhenti di salah satu halaman yang dipenuhi gambar bunga kecil dengan warna putih pucat.
Di bawahnya ada tulisan pendek.
“Kadang muncul kalau aku merasa nyaman sama seseorang.”
Lulu langsung diam.
Tatapannya tertahan cukup lama di kalimat itu.
Karena entah kenapa, dadanya langsung terasa tidak tenang.
Ia perlahan menutup buku itu kembali lalu menyandarkan tubuh ke sisi ranjang sambil memejamkan mata sebentar.
Nyaman.
Kata itu kembali terdengar di kepalanya.
Dan semakin dipikirkan, semakin jelas semuanya mulai terhubung.
Bunga-bunga itu tidak muncul saat Arcane Brew ramai.
Tidak juga saat ia sibuk sendirian.
Semuanya mulai muncul sejak seseorang itu datang dan perlahan mengisi hari-harinya sedikit demi sedikit.
Suara lonceng pintu. Kursi dekat jendela. Percakapan kecil setiap sore.
Dan perasaan hangat yang sekarang mulai terasa familiar.
Lulu membuka mata perlahan lalu melihat ke arah jendela kamarnya.
Pantulan dirinya terlihat samar di kaca.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai takut pada magic miliknya sendiri. Karena jika bunga-bunga itu benar-benar kembali muncul karena perasaannya, berarti ada sesuatu di dalam dirinya yang perlahan berubah semakin dalam.
Malam semakin larut setelah itu, namun Lulu masih belum tidur.
Lampu kamar hanya menyala redup dari sisi meja belajar, membuat bayangan rak buku dan jendela terlihat samar di dinding. Buku kecil tadi masih berada di sampingnya dalam keadaan tertutup, namun isi di dalamnya terus teringat jelas di kepalanya.
“Kadang muncul kalau aku merasa nyaman sama seseorang.”
Lulu menatap langit-langit kamar beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang lalu menutup wajahnya pelan dengan tangan.
“…jangan bilang…”
Kalimat itu berhenti di tengah.
Karena bahkan dirinya sendiri belum siap melanjutkannya.
Ia bangkit perlahan dari lantai lalu berjalan ke arah jendela kamar. Udara malam yang dingin langsung menyentuh wajahnya saat jendela dibuka sedikit, membawa aroma hujan yang masih tertinggal sejak sore tadi.
Kota di luar terlihat jauh lebih tenang sekarang.
Lampu rumah menyala satu per satu.
Suara kendaraan mulai jarang terdengar.
Dan di tengah suasana yang seharusnya membuat pikirannya lebih tenang, dadanya justru terasa semakin penuh.
Lulu menundukkan pandangan ke telapak tangannya sendiri.
Kosong.
Tidak ada bunga.
Namun justru itu yang membuatnya semakin gelisah, karena sekarang ia mulai tahu kapan sihir (magic) itu muncul.
Bukan saat ia takut.
Bukan saat sedih.
Melainkan saat seseorang berhasil masuk terlalu dekat ke dalam dunianya.
Dan siswi itu…
sudah mulai berada di sana.
Lulu langsung memejamkan mata sebentar.
Ia masih ingat jelas bagaimana semuanya dimulai.
Percakapan singkat.
Kursi dekat jendela.
Lalu kebiasaan kecil yang terus terulang sampai akhirnya terasa natural.
Dan sekarang, tanpa sadar ia mulai menunggu seseorang datang setiap hari.
Hal yang dulu bahkan tidak pernah terpikir olehnya.
Suara notifikasi kecil dari ponsel tiba-tiba memecah pikirannya.
Lulu sedikit tersadar lalu berjalan kembali ke dekat ranjang. Ponselnya menyala redup di atas meja kecil dengan satu pesan baru dari Rian.
“jangan dipikir keras”
Lulu langsung menghela napas kecil.
Bahkan tanpa dijelaskan pun, Rian pasti sudah sadar ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
Beberapa detik kemudian pesan baru muncul lagi.
“muka kamu tadi gampang kebaca banget”
Lulu langsung mengetik balasan pendek.
“berisik”
Tidak sampai satu menit, balasan kembali muncul.
“akhirnya ada sesuatu yang bikin kamu nggak bisa pura-pura biasa”
Lulu membaca pesan itu cukup lama sebelum akhirnya menaruh ponselnya kembali tanpa membalas lagi.
Karena untuk pertama kalinya, ia sendiri juga mulai sadar kalau dirinya memang tidak bisa lagi berpura-pura semuanya biasa saja.
Ruangan kembali tenang setelah itu.
Lulu duduk perlahan di sisi ranjang sambil menatap buku kecil di sampingnya.
Lalu tanpa sadar, pikirannya kembali mengingat satu hal lain.
Bunga-bunga itu selalu muncul dengan warna berbeda.
Putih saat tenang.
Biru pucat saat sedih.
Dan dulu…
pernah sekali muncul dengan warna keemasan yang jauh lebih terang dibanding biasanya.
Hari itu terjadi saat Lulu masih kecil, tepat setelah seseorang menolongnya saat ia menangis sendirian di taman sekolah.
Ia tidak pernah lupa cahaya bunga itu.
Karena untuk pertama kalinya, bunga-bunga tadi tidak terasa dingin.
Mereka terasa hangat.
Dan sekarang…
warna yang sama mulai muncul lagi sedikit demi sedikit di dekat siswi itu.
Lulu langsung menurunkan pandangan pelan.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Karena jika sihir (magic) itu benar-benar bereaksi pada perasaannya, maka cepat atau lambat, semuanya akan semakin sulit disembunyikan.
Malam itu akhirnya berlalu tanpa benar-benar membuat pikiran Lulu tenang.
Ia sempat mencoba tidur beberapa kali, namun setiap kali memejamkan mata, bayangan bunga kecil bercahaya itu kembali muncul di kepalanya bersama suara dan wajah seseorang yang belakangan terus memenuhi pikirannya tanpa bisa ia hentikan sendiri.
Dan itu membuat semuanya terasa semakin jelas.
Keesokan harinya, langit terlihat mendung sejak pagi. Awan abu-abu menggantung rendah di atas kota, membuat udara terasa lebih dingin meski hujan belum turun lagi.
Lulu datang ke Arcane Brew sedikit lebih awal dari biasanya.
Pintu baru saja dibuka saat aroma kopi mulai memenuhi ruangan yang masih sepi. Cahaya pagi masuk samar dari kaca depan lalu memantul lembut di meja kayu dan rak-rak cangkir yang tersusun rapi.