Chapter 2 - Episode 16
Hujan akhirnya berhenti menjelang sore, menyisakan udara dingin dan jalanan basah yang memantulkan cahaya langit mendung. Suasana di sekitar Akademi Aethelgard terlihat lebih ramai dibanding biasanya karena banyak siswa masih bertahan di sekolah untuk kegiatan tambahan dan persiapan acara akhir semester.
Namun di salah satu lorong lantai dua gedung utama, Lulu justru berjalan lebih pelan dari biasanya.
Pikirannya belum benar-benar tenang sejak kemarin.
Bunga berwarna emas kecil itu masih terus teringat di pikirannya sampai sekarang.
Lulu menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat sambil berjalan melewati jendela panjang koridor. Pantulan dirinya terlihat samar di kaca, dan untuk sesaat ia kembali melihat bayangan kelopak bunga kecil muncul di dekat rambutnya sebelum menghilang lagi.
Ia langsung memalingkan pandangan cepat.
“Lulu!”
Suara Sherly tiba-tiba memanggil dari ujung lorong.
Lulu sedikit tersadar lalu berhenti berjalan saat Sherly mendekat sambil membawa beberapa map dan lembar pengumuman.
“Kamu dari tadi dicari guru ruang administrasi,” katanya sambil sedikit terengah karena berjalan cepat, “katanya soal program observasi baru.”
Lulu sedikit mengernyit.
“Observasi?”
Sherly mengangguk.
“Iya, aku juga kurang ngerti. Katanya mulai minggu depan beberapa siswa bakal dipanggil buat pemeriksaan resonansi mana.”
Langkah Lulu langsung sedikit tertahan.
Resonansi.
Belakangan kata itu mulai sering terdengar di sekolah.
Awalnya hanya rumor kecil antar siswa, namun sekarang guru-guru mulai membicarakannya secara terbuka, meski masih terdengar samar dan hati-hati.
Sherly memperhatikan ekspresi Lulu beberapa detik sebelum akhirnya bicara lagi.
“Kamu sakit?”
Lulu langsung menggeleng kecil.
“Nggak.”
“Kamu keliatan pucet dari kemarin.”
Lulu diam sebentar sebelum akhirnya menghela napas kecil.
“Cuma capek.”
Sherly terlihat belum sepenuhnya percaya, namun akhirnya tidak memaksa bertanya lebih jauh. Ia hanya berjalan berdampingan bersama Lulu menyusuri koridor sambil sesekali membenarkan map di tangannya.
“Katanya sih program ini buat siswa yang punya pola mana nggak stabil,” lanjut Sherly, “kayaknya sekolah mulai serius soal generasi resonansi itu.”
Lulu langsung melirik kecil.
“Generasi resonansi?”
“Iya,” jawab Sherly sambil mengangkat bahu, “aku juga nggak ngerti detailnya. Tapi akhir-akhir ini banyak siswa yang manifestasi sihirnya aneh-aneh.”
Kalimat itu membuat langkah Lulu sedikit melambat.
Karena untuk pertama kalinya, ia mulai sadar kalau dirinya mungkin benar-benar bukan satu-satunya yang mengalami perubahan.
Beberapa hari terakhir, bunga-bunganya terasa semakin hidup.
Dan sekarang sekolah mulai membicarakan fenomena yang mirip.
Sherly masih terus bicara sambil berjalan.
“Denger-denger ada siswa kelas satu yang tiap gugup meja di sekitarnya jadi dingin semua. Ada juga yang lampu kelasnya pecah terus tiap stres.”
Lulu mencoba tetap terlihat biasa sambil mendengarkan.
Namun jauh di dalam pikirannya, satu kalimat Rian kembali teringat jelas.
“Polanya adaptif.”
Waktu itu Lulu belum benar-benar mengerti maksudnya.
Namun sekarang semuanya mulai terasa saling terhubung sedikit demi sedikit.
Mereka sampai di depan ruang administrasi beberapa menit kemudian. Pintu ruangan masih tertutup, namun beberapa siswa lain terlihat duduk menunggu di kursi luar sambil memegang formulir tipis berlogo Akademi Aethelgard.
Dan saat Lulu melihat salah satu judul di kertas itu, dadanya langsung terasa sedikit sesak.
“Program Observasi Resonansi Remaja.”
Untuk pertama kalinya, fenomena yang selama ini ia sembunyikan sendirian mulai memiliki nama resmi.
Lorong depan ruang administrasi terasa lebih sunyi dibanding area sekolah lainnya. Suara langkah siswa dan percakapan dari lantai bawah masih terdengar samar dari kejauhan, namun di area ini suasananya dipenuhi ketegangan kecil yang sulit dijelaskan.
Beberapa siswa duduk sambil memegang formulir di tangan mereka.
Ada yang terlihat biasa saja.
Ada juga yang terus menggoyangkan kaki karena gugup.
Lulu berdiri diam beberapa detik sambil membaca tulisan di bagian atas kertas yang dipegang salah satu siswa.
“Program Observasi Resonansi Remaja.”
Tulisan itu terasa terlalu resmi untuk sesuatu yang selama ini selalu ia sembunyikan sendirian.
“Lulu?”
Suara Sherly membuatnya sedikit tersadar.
“Kamu beneran nggak apa-apa?”
Lulu langsung mengalihkan pandangan dari formulir tadi lalu mengangguk kecil.
“Iya.”
Namun jawabannya terdengar lebih pelan dari biasanya.
Sherly memperhatikan Lulu beberapa saat sebelum akhirnya menepuk ringan lengannya.
“Kalau capek bilang aja. Jangan maksa.”
Lulu mengangguk kecil lagi.
Beberapa detik kemudian, pintu ruang administrasi terbuka pelan dan salah satu guru keluar sambil membawa map tipis berisi beberapa dokumen.
“Lulua Aethelgard?”
Nama itu langsung membuat beberapa siswa menoleh.
Lulu refleks menegakkan tubuh sedikit sebelum berjalan mendekat.
“Iya.”
Guru itu memberikan satu map tipis dengan ekspresi yang tetap tenang dan profesional.
“Ini formulir observasi awal. Tidak perlu khawatir, program ini hanya pengamatan sementara untuk memahami pola resonansi generasi baru.”
Lulu menerima map itu perlahan.
Tangannya terasa sedikit dingin.
“Kenapa saya dipilih?” tanyanya pelan.
Guru itu tersenyum kecil.
“Karena ada beberapa laporan tentang manifestasi mana yang cukup unik.”
Dadanya langsung terasa sedikit sesak.
Untungnya guru itu melanjutkan sebelum Lulu sempat berpikir terlalu jauh.
“Dan karena nilai kontrol sihirmu selalu tinggi, pihak sekolah ingin menjadikanmu salah satu referensi observasi stabilitas.”
Lulu sedikit terdiam.
Stabilitas.
Kalau mereka tahu bunga-bunga itu terus muncul bahkan saat dirinya hanya memikirkan seseorang, mungkin kata itu tidak akan dipakai untuk menggambarkannya.
Sherly yang berdiri tidak jauh dari sana langsung ikut mendekat.
“Berarti kayak penelitian kecil gitu?”
“Kurang lebih,” jawab guru itu sambil mengangguk, “beberapa konsultan luar juga akan ikut membantu.”
Lulu langsung mengangkat pandangan sedikit.
“Konsultan luar?”
“Iya,” jawab sang guru, “salah satunya mantan siswa Akademi Pusat.”
Kalimat itu langsung membuat Lulu diam.
Entah kenapa, ia langsung teringat satu orang.
Dan beberapa detik kemudian, dugaannya semakin terasa benar saat guru itu melanjutkan,
“Namanya Rian Ardhana. Mungkin sebagian siswa sudah pernah dengar.”
Sherly langsung terlihat kaget.
“Eh? Yang itu?”
Guru itu mengangguk kecil sebelum kembali membuka map lain.
“Dia akan membantu observasi pola resonansi adaptif.”
Lulu benar-benar tidak bergerak beberapa detik.
Sementara di dalam kepalanya, satu kalimat Rian kembali teringat jelas.
“Polanya adaptif.”
Berarti sejak awal, Rian sudah tahu sesuatu tentang semua ini.
Sherly masih terlihat penasaran.
“Bukannya dia keluar dari akademi?”
“Betul,” jawab guru itu tenang, “tapi penelitian strukturnya masih dipakai sampai sekarang.”
Lulu perlahan menurunkan pandangan ke formulir di tangannya.
Tulisan-tulisan kecil memenuhi beberapa halaman pertama.
“Pola manifestasi.”
“Pemicu emosi.”
“Stabilitas resonansi.”
Semua istilah itu terdengar terlalu dekat dengan dirinya.
Dan untuk pertama kalinya, Lulu mulai sadar kalau apa yang selama ini ia anggap sebagai masalah pribadi ternyata mungkin bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Namun di saat bersamaan, ada satu hal lain yang terus mengganggu pikirannya.
Kalau Rian memang sudah memahami fenomena ini sejak awal…
berarti kemungkinan besar ia juga tahu arti bunga berwarna emas itu.
Lulu masih memegang map itu saat bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Koridor yang tadi cukup sepi perlahan mulai dipenuhi siswa yang keluar dari kelas masing-masing. Suara percakapan, langkah kaki, dan kursi yang digeser bercampur menjadi keramaian yang biasa terdengar setiap sore.
Namun pikiran Lulu masih tertahan pada satu hal.
Rian.
Ia berjalan perlahan menuruni tangga utama sambil sesekali melihat formulir di tangannya. Beberapa istilah yang tertulis di sana terasa semakin familiar setiap kali dibaca.
"Manifestasi berbasis emosi."
"Resonansi adaptif."
"Perubahan pola seiring perkembangan psikologis."
Semakin banyak ia membaca, semakin sulit baginya menganggap bunga-bunga itu sebagai sesuatu yang hanya terjadi pada dirinya seorang.
"Lu!"
Sherly kembali muncul dari belakang sambil membawa tasnya.
"Kamu ke mana sekarang?"
Lulu memasukkan formulir itu kembali ke dalam map.
"Seperti biasa."
Sherly langsung tersenyum kecil.
"Ke Arcane Brew lagi?"
Lulu terdiam sepersekian detik.
Dulu pertanyaan seperti itu mungkin akan membuatnya gugup.
Sekarang tidak lagi.
"Iya."
Sherly langsung tertawa kecil.
"Aku serius penasaran sama tempat itu."
Lulu sedikit menoleh.
"Kenapa?"
"Soalnya kamu berubah sejak sering ke sana."
Langkah Lulu perlahan melambat.
Sherly tidak mengatakannya dengan nada bercanda.
Justru terdengar sangat jujur.
"Dulu kamu selalu tegang kalau ada kegiatan sekolah tambahan. Sekarang masih capek sih, tapi nggak kayak dulu."
Lulu tidak langsung menjawab.
Karena sebagian dari ucapan itu memang benar.
Dulu hampir setiap hari terasa seperti sesuatu yang harus ia lewati secepat mungkin.
Sekolah.
Rapat.
Kegiatan OSIS.