Chapter 3 - Episode 17
.Suasana di dalam Arcane Brew terasa sedikit berbeda setelah ayah Lulu masuk ke dalam ruangan.
Pria itu tidak datang dengan kemarahan ataupun ekspresi yang membuat seluruh ruangan mendadak tegang. Ia hanya melangkah masuk seperti biasa, tenang dan terukur, namun justru sikap itulah yang membuat Lulu sulit merasa santai.
Sejak kecil, ayahnya memang selalu seperti itu.
Ia jarang meninggikan suara, tidak mudah menunjukkan emosi, dan hampir tidak pernah memperlihatkan apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya. Karena itulah Lulu selalu merasa lebih gugup saat menghadapi ayahnya dibanding saat menghadapi orang yang marah secara terang-terangan.
Ayahnya berjalan melewati beberapa meja pelanggan sebelum berhenti tidak jauh dari tempat Lulu duduk. Jas gelap yang dikenakannya terlihat mencolok di tengah suasana hangat Arcane Brew yang dipenuhi aroma kopi dan cahaya lampu kekuningan.
"Lama tidak bertemu, Lulu."
Nada suaranya terdengar sama seperti biasanya.
Sulit ditebak.
"Iya, Ayah."
Lulu langsung duduk lebih tegak tanpa sadar.
Ayahnya mengangguk kecil lalu mengamati sekeliling ruangan. Pandangannya bergerak perlahan dari meja ke meja, memperhatikan rak-rak kayu, mesin kopi, dan beberapa pelanggan yang masih menikmati waktu mereka sendiri.
Tempat seperti ini jelas jauh berbeda dari lingkungan yang biasa dikunjungi ayahnya. Sebagai pejabat di Biro Keamanan Sihir, kesehariannya lebih sering dihabiskan di ruang rapat, pusat penelitian, atau kantor pemerintahan. Karena itulah melihatnya berdiri di tengah kafe kecil yang tersembunyi di gang samping sekolah terasa sedikit tidak nyata bagi Lulu.
"Kamu sering ke sini?"
"Iya."
"Sejak kapan?"
"Beberapa bulan."
Ayahnya kembali mengangguk pelan.
Namun sikap tenang itu justru membuat Lulu semakin sulit menebak alasan kedatangannya.
Di balik meja, Rian masih melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Ia sedang membersihkan beberapa cangkir ketika akhirnya menyadari pandangan ayah Lulu tertuju kepadanya.
"Kamu Rian Ardhana."
Kalimat itu terdengar lebih seperti kepastian daripada pertanyaan.
Rian meletakkan cangkir yang sedang dibersihkannya.
"Iya."
Ia hanya menjawab apa adanya.
Lulu yang memperhatikan dari dekat tiba-tiba menyadari sesuatu yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya.
Ayahnya dan Rian memiliki beberapa kesamaan yang aneh.
Keduanya sama-sama tenang saat berbicara.
Keduanya tidak suka menjelaskan sesuatu lebih panjang dari yang diperlukan.
Dan keduanya memiliki kebiasaan mengamati lebih banyak daripada berbicara.
"Aku pernah membaca beberapa penelitianmu."
Kali ini Rian terlihat sedikit terkejut.
Meski hanya sesaat.
"Itu sudah cukup lama."
"Masih digunakan sampai sekarang."
Lulu langsung mengangkat kepala.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun ia tahu betapa jarangnya ayahnya memberikan pengakuan seperti itu kepada seseorang.
Apalagi kepada Rian.
Seseorang yang memilih meninggalkan akademi dan menjalani hidup sebagai barista.
Namun dari cara ayahnya berbicara, tidak ada nada meremehkan sama sekali.
Sebaliknya, terdengar seperti seorang profesional yang sedang berbicara kepada profesional lain.
"Aku dengar kamu ikut program observasi resonansi."
"Iya."
"Kamu setuju dengan teori yang sedang dikembangkan sekolah?"
Rian memikirkan pertanyaan itu beberapa saat sebelum menjawab.
"Sebagian."
Jawaban itu membuat ayah Lulu sedikit tertarik.
"Kenapa hanya sebagian?"
Rian mengambil satu cangkir dari rak lalu membersihkannya perlahan.
"Karena sebagian orang masih menganggap resonansi sebagai sesuatu yang harus diperbaiki."
"Lalu menurutmu?"
Rian sempat diam sejenak.
Pandangan matanya bergerak ke arah Lulu sebelum kembali ke lawan bicaranya.
"Menurutku sebagian besar pola baru yang muncul bukan kesalahan."
"Lalu?"
"Mereka sedang beradaptasi."
Percakapan itu membuat Lulu perlahan terdiam.
Karena semakin lama ia mendengarkan, semakin kuat perasaan bahwa pembicaraan mereka sebenarnya bukan tentang teori, penelitian, ataupun data observasi.
Mereka sedang membicarakan dirinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya datang ke Arcane Brew, Lulu mulai merasa bahwa pria itu tidak datang untuk mengawasi atau menghakimi.
Ia datang untuk mencari sesuatu yang selama ini tidak pernah berhasil ia pahami.
Perubahan yang perlahan terjadi pada putrinya sendiri.
Suasana di dalam Arcane Brew perlahan kembali bergerak setelah percakapan itu berhenti. Seorang pelanggan datang memesan minuman, sementara beberapa siswa di sudut ruangan masih sibuk dengan buku dan tugas mereka. Dari luar, cahaya sore mulai berubah lebih lembut seiring matahari yang perlahan turun di balik deretan bangunan kota.
Namun bagi Lulu, suasana tetap terasa berbeda.
Ia masih duduk di tempatnya sambil memperhatikan ayahnya yang kini berdiri tidak jauh dari meja depan. Pria itu tidak terlihat terburu-buru untuk pergi, sesuatu yang cukup jarang terjadi.
Biasanya ayahnya selalu memiliki jadwal yang padat.
Pertemuan.
Laporan.
Pemeriksaan.
Dan berbagai urusan yang membuatnya jarang berada di rumah sebelum malam.
Karena itu, melihatnya berdiri santai di dalam Arcane Brew terasa sedikit asing.
"Ayah nggak kerja?" tanya Lulu akhirnya.
Ayahnya menoleh.
"Aku sedang kerja."
Lulu sedikit mengernyit.
"Di sini?"
"Sebagian."
Jawaban itu terdengar seperti sesuatu yang hanya bisa diucapkan oleh ayahnya.
Tidak salah.
Namun juga tidak benar-benar menjelaskan apa pun.
Rian yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum kecil sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Aku mulai ngerti kenapa Lulu susah ditebak."
Ayah Lulu menatapnya.
"Karena aku?"
"Sedikit."
Jawaban itu membuat Lulu langsung menutup wajahnya sebentar.
"Aku nggak sesusah itu."
Rian dan ayahnya saling berpandangan beberapa detik.
Lalu keduanya menjawab hampir bersamaan.
"Kamu lumayan."
Lulu langsung menghela napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya sore itu, ayahnya terlihat tersenyum tipis.
Sangat tipis.
Namun cukup untuk membuat Lulu terdiam.
Karena ia tidak ingat kapan terakhir kali melihat ekspresi seperti itu muncul secara alami.
"Ayah..."
Pria itu mengalihkan pandangan.
"Hm?"
"Kamu datang ke sini cuma buat observasi?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
Sejak awal, itulah yang terus mengganggu pikirannya.
Ayahnya terdiam beberapa saat sebelum menarik kursi kosong di dekat meja.
"Aku memang ingin melihat tempat ini."
Jawaban itu terdengar jujur.
Namun Lulu masih merasa ada sesuatu yang belum dikatakan.
"Aku juga ingin melihat perubahanmu."
Kalimat berikutnya membuat Lulu langsung diam.
Bukan karena nadanya keras.
Justru sebaliknya.
Nada suara ayahnya terdengar lebih lembut dibanding biasanya.
"Perubahanku?"
Ayahnya mengangguk kecil.
"Beberapa bulan terakhir, gurumu beberapa kali menghubungiku."
Lulu langsung menegang.
"Kenapa?"
"Mereka bilang kamu terlihat lebih baik."
Jawaban itu tidak sesuai dengan yang ia bayangkan.
Ia sempat mengira akan mendengar keluhan.
Atau laporan tentang nilai.
Atau masalah disiplin.
Namun bukan itu.
"Mereka bilang kamu mulai lebih sering berinteraksi, terlihat lebih santai dan juga lebih sering tersenyum."
Lulu menundukkan pandangan.
Entah kenapa, mendengar semua itu terasa lebih memalukan daripada dimarahi.
Karena ia tidak pernah sadar perubahan tersebut terlihat jelas sampai sejauh itu.
Ayahnya memperhatikan reaksi putrinya beberapa saat sebelum kembali berbicara.
"Dulu aku sempat khawatir."
Lulu perlahan mengangkat kepala.
Pria itu sedang melihat keluar jendela sekarang.
Bukan ke arahnya.
Seolah lebih mudah mengatakan semuanya dengan cara seperti itu.
"Kamu selalu terlihat baik-baik saja."
Kalimat itu terdengar aneh.
Karena biasanya itu adalah pujian.
Namun kali ini tidak.
"Dan justru itu yang membuatku khawatir."
Lulu terdiam.
Sementara di balik meja, Rian juga berhenti bekerja sejenak.
"Dulu aku tidak pernah tahu apa yang sedang kamu pikirkan."
Ayahnya menghela napas pelan.
"Kamu jarang mengeluh."
"Jarang meminta bantuan."
"Jarang marah."
"Jarang menunjukkan kesedihan."
Kali ini Lulu mengerti maksudnya.
Ayahnya bukan sedang memuji.
Ia sedang menjelaskan jarak yang selama ini ada di antara mereka.
"Aku pikir itu karena kamu kuat."
Pria itu tersenyum tipis.
"Belakangan aku mulai sadar mungkin aku salah."
Suasana di meja itu perlahan menjadi lebih sunyi.
Namun bukan sunyi yang canggung.
Melainkan sunyi yang muncul ketika seseorang akhirnya mulai mengatakan hal yang selama ini disimpan terlalu lama.
Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Lulu tidak tahu harus menjawab apa.
Karena jauh di dalam hatinya, ia juga mulai menyadari hal yang sama.
Selama ini ia bukan kuat.Ia hanya terlalu terbiasa menanggung semuanya sendirian.
Suasana di Arcane Brew perlahan kembali seperti semula setelah percakapan itu berakhir
Beberapa pelanggan datang silih berganti, suara mesin kopi sesekali terdengar dari belakang meja, sementara cahaya sore mulai berubah lebih hangat saat matahari bergerak turun di balik gedung-gedung kota.
Lulu masih duduk di tempatnya sambil memandangi minuman yang sudah tidak terlalu panas. Kehadiran ayahnya di seberang meja masih terasa sedikit aneh. Biasanya mereka bertemu di rumah dengan waktu yang terbatas, sering kali hanya bertukar beberapa kalimat sebelum kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
Hari ini berbeda.
Tidak ada jadwal yang harus dikejar.
Tidak ada rapat keluarga yang canggung.
Mereka hanya duduk di tempat yang sama.
Rian datang membawa dua cangkir kopi lalu meletakkannya di atas meja.
"Satu untuk Ayah Lulu."
Pria itu menatap cangkir di depannya.
"Saya tidak memesannya."
Rian tersenyum tipis.
"Saya juga belum menagih."
Lulu langsung tahu ke mana arah percakapan itu akan berjalan. Cara bicara Rian memang selalu seperti itu. Santai, kadang sedikit menyebalkan, namun sulit dianggap kasar.
Ayahnya mengamati kopi itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat cangkir.
"Saya biasanya minum teh."
"Kalau begitu anggap saja hari ini percobaan."
"Percobaan yang cukup berani."
"Kalau gagal, saya yang rugi."
Jawaban itu membuat sudut bibir ayah Lulu sedikit terangkat.
Kecil sekali.
Namun cukup untuk membuat Lulu memperhatikannya.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali melihat ayahnya terlihat sesantai itu saat berbicara dengan orang lain.
Rian kemudian kembali ke belakang meja, meninggalkan mereka berdua dengan suasana yang jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.
Beberapa saat berlalu tanpa percakapan.
Lulu mengira ayahnya sedang menikmati kopi atau sekadar beristirahat sejenak, sampai akhirnya pria itu membuka suara.
"Kamu memang sering ke sini?"
"Iya."
"Hampir setiap hari?"