Chapter 3 - Episode 18
Keesokan paginya, langit terlihat lebih cerah dibanding beberapa hari terakhir.
Sisa hujan yang sempat turun sepanjang minggu meninggalkan udara yang lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela kelas dan memantul di permukaan meja, sementara suara siswa yang baru datang memenuhi ruangan dengan obrolan kecil yang bercampur satu sama lain.
Lulu baru saja meletakkan tasnya ketika Sherly langsung menarik kursi ke samping mejanya.
"Kamu udah baca jadwal observasinya?"
Belum ada lima menit sejak bel masuk berbunyi.
Lulu bahkan belum sempat duduk dengan tenang.
"Pagi juga."
"Pagi."
Sherly menjawab tanpa rasa bersalah.
"Terus?"
Lulu mengeluarkan map observasi dari dalam tas.
"Aku baca tadi malam."
"Mereka serius banget ternyata."
Sherly menunjuk beberapa halaman yang terlihat penuh dengan tabel dan catatan.
Lulu mengangguk kecil.
Program itu memang jauh lebih terstruktur dibanding yang ia bayangkan. Ada sesi wawancara, pengukuran stabilitas mana, evaluasi emosional, sampai observasi perilaku dalam aktivitas sehari-hari.
Saat pertama kali membacanya semalam, ia sempat mengira sedang melihat dokumen penelitian universitas.
"Aku mulai kasihan sama yang bikin laporannya," gumam Sherly.
Lulu menahan senyum.
"Kamu baca bagian mana?"
"Bagian yang ada dua puluh halaman pertanyaan."
"Itu baru awal."
Sherly langsung menutup map tersebut.
"Nggak jadi."
Lulu akhirnya tertawa kecil.
Percakapan mereka terhenti saat guru masuk ke dalam kelas. Beberapa siswa yang masih berdiri langsung kembali ke tempat duduk masing-masing, sementara suasana ruangan perlahan menjadi lebih tenang.
Namun pembahasan tentang observasi rupanya belum benar-benar selesai.
Setelah pelajaran pertama berakhir, beberapa siswa mulai membicarakannya lagi.
Ada yang penasaran, ada juga yang gugup ataupun yang merasa program itu terlalu berlebihan. Lulu mendengarkan sebagian percakapan itu tanpa ikut terlibat.
Sampai sebuah suara dari belakang membuatnya menoleh.
"Kamu juga ikut observasi?"
Seorang siswa laki-laki yang duduk dua baris di belakangnya berdiri sambil memegang formulir serupa.
Lulu sempat berpikir beberapa detik sebelum akhirnya mengenalinya.
Namanya Arvin.
Mereka tidak terlalu dekat, tetapi pernah beberapa kali berada dalam kelompok tugas yang sama.
"Iya."
Arvin mengangkat formulir di tangannya.
"Aku juga."
Sherly langsung terlihat tertarik.
"Manifestasinya apa?"
Arvin menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Katanya sih suhu tubuh mana."
"Hah?"
"Aku juga nggak ngerti."
Ia terlihat sedikit malu.
"Kalau gugup, suhu di sekitar aku turun."
Sherly langsung berkedip.
"Itu keren."
"Nggak kalau lagi presentasi."
Lulu bisa memahami maksudnya.
Arvin terlihat seperti tipe orang yang cukup mudah gugup saat menjadi pusat perhatian.
Kalau manifestasinya benar-benar aktif setiap kali itu terjadi, pasti cukup merepotkan.
"Aku dengar ada yang bikin lampu pecah."
Arvin ikut menambahkan.
Sherly langsung mengangguk semangat.
"Nah itu! Aku juga dengar."
Percakapan kecil itu membuat Lulu perlahan menyadari sesuatu.
Beberapa minggu lalu, ia masih merasa sendirian.
Ia mengira hanya dirinya yang mengalami hal-hal aneh yang sulit dijelaskan.
Namun semakin banyak cerita yang ia dengar, semakin jelas bahwa banyak orang lain juga sedang mengalami perubahan serupa.
Bentuknya berbeda.
Pemicunya berbeda.
Namun semuanya mengarah pada hal yang sama.
Resonansi.
Bel istirahat berikutnya akhirnya berbunyi.
Beberapa siswa langsung keluar kelas, sementara sebagian lainnya tetap tinggal.
Lulu baru saja hendak merapikan buku ketika seseorang muncul di depan mejanya.
"Permisi."
Ia mengangkat kepala.
Seorang siswi yang belum pernah ia lihat sebelumnya berdiri sambil membawa map observasi yang sama.
Rambut pendek berwarna cokelat gelap membingkai wajahnya, sementara pin peserta observasi terpasang di bagian kerah seragamnya.
"Aku boleh duduk sebentar?"
Lulu sedikit terkejut, tetapi tetap mengangguk.
"Boleh."
Siswi itu menarik kursi kosong lalu duduk.
"Aku Nara."
"Lulu."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat Lulu berkedip.
Nara tersenyum kecil.
"Nama kamu sering muncul di daftar observasi."
Lulu langsung merasa itu bukan kalimat yang menenangkan.
Dan dari ekspresi Nara, sepertinya ia sadar akan hal itu.
"Maaf. Kedengarannya aneh ya."
"Sedikit."
Nara tertawa pelan.
"Aku cuma penasaran."
"Penasaran soal apa?"
Siswi itu memiringkan kepala sedikit sebelum menjawab.
"Manifestasi kamu."
Pertanyaan itu membuat Lulu terdiam.
Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menanyakannya secara langsung.
Dan entah kenapa, ia merasa percakapan ini akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar daripada sekadar program observasi sekolah.
Lulu sempat terdiam setelah mendengar pertanyaan itu.
Di luar jendela kelas, angin siang membuat dedaunan pohon di halaman sekolah bergerak perlahan. Sementara di dalam kelas, beberapa siswa masih memanfaatkan waktu istirahat untuk mengobrol sebelum pelajaran berikutnya dimulai.
Namun perhatian Lulu kini tertuju pada gadis yang duduk di depannya.
Nara terlihat santai. Ia tidak tampak seperti seseorang yang sedang menginterogasi atau mencari tahu rahasia orang lain. Justru sebaliknya, ekspresinya lebih mirip seseorang yang akhirnya bertemu orang dengan pengalaman serupa.
Mungkin karena itulah Lulu tidak langsung merasa terganggu.
Meski begitu, pertanyaan tentang manifestasi tetap bukan hal yang mudah dijawab.
Nara tampaknya menyadari keraguan tersebut.
Ia langsung mengangkat kedua tangannya sedikit sambil tersenyum canggung.
"Aku nggak maksud bikin kamu nggak nyaman."
Lulu menggeleng pelan.
"Aku tahu."
"Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa."
Nada suaranya terdengar tulus.
Lulu memandangi map observasi yang berada di pangkuan Nara selama beberapa detik sebelum akhirnya bertanya balik.
"Kalau kamu?"
Nara terlihat sedikit bingung.
"Hmm?"
"Manifestasimu."
"Oh."
Gadis itu tertawa kecil.
"Kalau dijelasin, kedengarannya agak aneh."
Sherly yang masih duduk di samping Lulu langsung menyandarkan tubuh ke depan.
"Sekarang aku makin penasaran."
Nara memutar pulpennya beberapa kali sebelum menjawab.
"Kalau emosiku lagi nggak stabil, aku bisa mendengar gema Energy Mana."
Lulu sedikit mengernyit.
"Gema Energy Mana?"
"Iya."
Nara mengangguk.
"Kurang lebih seperti jejak yang ditinggalkan setelah seseorang menggunakan sihir."
Sherly langsung berkedip beberapa kali.
"Tunggu, jadi kamu bisa dengar orang pakai sihir?"
"Nggak sesederhana itu."
Nara tertawa pelan melihat ekspresi mereka.
"Kadang aku bisa merasakan sisa aliran Energy Mana yang masih tertinggal di suatu tempat. Kadang juga bisa tahu kalau seseorang baru menggunakan sihir beberapa jam sebelumnya."
"Itu keren."
"Itu yang selalu dibilang orang."
Nada suaranya terdengar pasrah.
Lulu memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi Nara.
Jelas sekali ada bagian yang belum diceritakan.
Dan benar saja.
Beberapa detik kemudian Nara melanjutkan dengan senyum tipis.
"Masalahnya aku nggak bisa matiin kemampuan itu."
Sherly langsung terdiam.
Nara memainkan ujung pulpennya pelan.
"Kalau terlalu banyak Energy Mana aktif di sekitar, kepalaku rasanya berisik."
"Berisik?"
Nara mengangguk.
"Bayangin ada puluhan orang ngobrol di ruangan yang sama. Aku nggak ngerti isi pembicaraannya, tapi tetap bisa dengar semuanya."
Lulu langsung bisa membayangkannya.
Dan itu terdengar melelahkan.
"Susah tidur?"
tanyanya.
"Sangat."
Nara tertawa kecil, meski kali ini terdengar lebih pasrah.
"Waktu pertama masuk akademi, aku hampir tiap malam bangun gara-gara nggak terbiasa."
Sherly yang tadi terlihat kagum kini justru menunjukkan ekspresi iba.
"Oke. Sekarang aku nggak iri lagi."
"Itu reaksi yang lebih sehat."
Ketiganya tertawa kecil.
Percakapan itu membuat Lulu perlahan menyadari sesuatu.
Selama ini ia selalu melihat manifestasi miliknya sebagai sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang harus disembunyikan.
Sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Namun sekarang, setelah mendengar cerita Arvin dan Nara, pandangannya mulai berubah.
Masing-masing orang memiliki manifestasi yang berbeda.
Tetapi hampir semuanya datang bersama kesulitannya sendiri.
Nara lalu kembali menoleh ke arah Lulu.
"Kalau kamu?"
Pertanyaan itu kembali muncul.
Namun kali ini tidak terasa seperti tekanan.
Lebih seperti rasa ingin tahu dari seseorang yang mengalami hal serupa.
Lulu menunduk sebentar.
Ia memikirkan bunga-bunga kecil yang muncul saat emosinya berubah.
Bunga yang bahkan sampai sekarang belum sepenuhnya ia pahami.
"Aku juga masih belajar ngerti manifestasiku sendiri."
Nara tersenyum.
"Nah."
"Hmm?"
"Itu jawaban paling umum yang pernah aku dengar dari peserta observasi."
Sherly langsung menunjuk mereka berdua.
"Tunggu. Jadi semua orang bingung?"
"Hampir semua."
Nara mengangguk mantap.
"Kebanyakan dari kita bahkan baru sadar manifestasi itu berkembang setelah sekolah mulai melakukan observasi."
Kalimat itu membuat Lulu berpikir.
Mungkin memang benar.
Sekolah, peneliti, dan para ahli sedang mencoba memberi nama pada fenomena yang terjadi.
Namun bagi siswa yang mengalaminya langsung, semuanya masih terasa baru.
Bel masuk akhirnya berbunyi.
Suara riuh di dalam kelas perlahan mereda saat para siswa kembali ke tempat duduk masing-masing.
Nara berdiri sambil merapikan map observasinya.
"Kayaknya aku harus balik."
Lulu mengangguk.
Namun sebelum pergi, Nara berhenti sebentar di samping mejanya.
"Oh iya."
Lulu mengangkat kepala.
"Ada apa?"
Nara terlihat berpikir beberapa detik sebelum tersenyum kecil.
"Kamu ternyata jauh lebih normal dari yang aku bayangkan."
Lulu langsung berkedip.
"Itu pujian?"
"Kurang lebih."
"Lalu sebelumnya kamu bayangin aku seperti apa?"
Nara menatap langit-langit kelas seolah sedang mengingat sesuatu.
"Hmm... mungkin seseorang yang bisa membuat satu gedung sekolah mekar penuh bunga kalau emosinya lepas kendali."
Sherly langsung tertawa.
Sementara Lulu hanya bisa menatap Nara tanpa berkata apa-apa.
"Itu terdengar sangat spesifik."
"Aku suka berimajinasi."
Nara mengangkat bahu santai.
"Untungnya aku salah."
Setelah melambaikan tangan singkat, ia kembali ke kelasnya.
Lulu memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu.
Entah kenapa, percakapan itu membuat perasaannya jauh lebih ringan.
Karena untuk pertama kalinya sejak program observasi dimulai, ia bertemu seseorang yang juga sedang mencoba memahami dirinya sendiri.
Dan mungkin, itu yang selama ini perlu ia sadari.
Ia bukan satu-satunya orang yang sedang belajar hidup bersama manifestasinya.
Pelajaran berikutnya berlangsung seperti biasa.
Setidaknya begitulah menurut sebagian besar siswa di kelas.
Namun bagi Lulu, pikirannya masih beberapa kali kembali pada percakapan bersama Nara saat jam istirahat tadi.
Bukan karena pertanyaannya.
Melainkan karena perasaan aneh yang muncul setelahnya.
Selama ini ia terlalu fokus memikirkan dirinya sendiri sampai lupa bahwa orang lain juga sedang mengalami hal serupa.
Mereka sama-sama bingung.
Sama-sama berusaha memahami perubahan yang terjadi pada diri mereka.
Dan untuk pertama kalinya, program observasi itu tidak terasa seperti sesuatu yang menyorot dirinya seorang.
Bel tanda pergantian jam pelajaran akhirnya berbunyi.
Begitu guru keluar dari kelas, beberapa siswa langsung bergerak cepat membereskan buku mereka.
Sementara itu, Lulu baru saja menutup catatannya ketika sebuah pengumuman muncul di layar informasi kelas.
PESERTA OBSERVASI GELOMBANG PERTAMA HARAP HADIR DI GEDUNG PENELITIAN PUKUL 15.30.
Beberapa nama muncul di bawahnya.
Nama Lulu berada di urutan ketiga.
"Yah."
Sherly menjatuhkan dagunya ke atas meja.
"Aku mulai kasihan sama kamu."
Lulu menoleh.
"Kenapa?"
"Kamu bakal jadi tikus percobaan resmi."
"Itu bukan istilah yang dipakai sekolah."
"Tapi maknanya mirip."
Lulu hanya menghela napas kecil.
Arvin yang duduk beberapa baris di belakang ikut mengangkat formulirnya.
"Aku juga masuk gelombang pertama."
Sherly langsung menunjuknya.
"Nah. Kalian bisa jadi tikus percobaan bareng."
"Itu tetap terdengar buruk."
"Memang."
Kali ini bahkan Arvin ikut tertawa.
Suasana kelas yang sempat tegang karena pengumuman tadi perlahan kembali santai.
Namun jauh di dalam pikirannya, Lulu mulai merasakan sedikit gugup.
Bukan karena pemeriksaannya.
Melainkan karena rasa penasaran.
Selama ini bunga-bunga itu hanya ia pahami dari pengalamannya sendiri.
Bagaimana jika hasil observasi menemukan sesuatu yang belum pernah ia ketahui?
Bagaimana jika manifestasinya ternyata berbeda dari yang selama ini ia kira?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul sampai jam pelajaran terakhir berakhir.
Pukul tiga lewat dua puluh lima menit.
Lulu berdiri di depan Gedung Penelitian Akademi Aethelgard sambil memandangi bangunan yang menjulang di hadapannya.
Gedung itu berada sedikit terpisah dari area utama sekolah.
Bangunannya tidak terlalu besar, namun terlihat jauh lebih modern dibanding gedung kelas biasa.
Dinding kaca tinggi memantulkan cahaya sore, sementara beberapa lambang penelitian sihir terpasang di dekat pintu masuk.
Di depan pintu, beberapa siswa yang terdaftar dalam observasi sudah lebih dulu datang.
Arvin termasuk salah satunya.
"Kamu juga baru sampai?" tanyanya.
Lulu mengangguk.
"Iya."
Arvin terlihat sedikit gugup.
Tangannya terus memainkan ujung formulir yang dibawanya.
"Kamu deg-degan?"
Lulu bertanya sambil memperhatikan tingkahnya.
"Sedikit."
"Sedikit?"
Arvin tertawa canggung.
"Oke. Banyak."
"Itu lebih jujur."
Percakapan mereka terhenti saat pintu utama terbuka.
Seorang wanita berusia sekitar akhir dua puluhan keluar sambil membawa tablet digital di tangannya.
Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang, sementara jas penelitian berwarna putih gading membuatnya terlihat berbeda dari para guru biasa.
Ia melihat daftar peserta sebentar sebelum tersenyum.
"Selamat sore."
Beberapa siswa langsung membalas salamnya.
"Aku Arisa Feyn."
Wanita itu memperkenalkan diri sambil menutup tabletnya.
"Mulai hari ini, aku yang akan menangani observasi awal kalian."
Namanya terasa asing bagi sebagian besar siswa.
Namun begitu mendengar nama belakangnya, beberapa peserta langsung saling berpandangan.
Lulu menangkap perubahan itu.
Dan rupanya Arvin juga.
"Kenapa?" bisik Lulu.
Arvin menelan ludah.
"Keluarga Feyn."
"Hmm?"
"Itu salah satu keluarga peneliti Energy Mana terbesar."
Lulu sedikit terkejut.
Ia pernah membaca nama itu di beberapa jurnal sekolah.
Arisa melanjutkan penjelasannya tanpa menyadari bisikan kecil para siswa.
"Tenang saja."
Senyumnya terlihat ramah.
"Tujuan observasi ini bukan mencari siapa yang paling kuat atau paling berbakat."
Beberapa siswa langsung terlihat sedikit lega.
"Yang ingin kami pahami adalah bagaimana resonansi berkembang pada generasi kalian."
Kalimat itu membuat suasana kembali tenang.
Lulu memperhatikan wanita itu beberapa saat.
Nada bicaranya berbeda dari yang ia bayangkan.
Lebih mirip seseorang yang benar-benar penasaran pada apa yang sedang mereka alami.
"Baik."
Arisa membuka kembali tabletnya.
"Kita mulai dari pemeriksaan dasar."
Pandangannya bergerak menyusuri daftar nama.
Lalu berhenti pada satu baris.
"Oh."
Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Lulua Aethelgard."
Lulu langsung mengangkat kepala.
Dan untuk alasan yang belum ia ketahui, ekspresi Arisa berubah sedikit setelah melihat namanya.
Seolah ia baru menemukan sesuatu yang sudah lama ingin ia lihat.
Lulu sempat mengira dirinya salah dengar.
Namun Arisa masih melihat layar tabletnya dengan ekspresi yang sama.
"Lulua Aethelgard?"
"Iya."
Lulu mengangkat tangan kecil.
Arisa tersenyum.
"Senang akhirnya bertemu langsung."
Kalimat itu membuat Lulu sedikit bingung.
"Eh?"
Arisa tampaknya menyadari reaksinya.
"Maaf. Kedengarannya aneh ya."
"Sedikit."
Beberapa peserta lain langsung menoleh ke arah Lulu.
Bahkan Arvin yang berdiri di sampingnya ikut terlihat penasaran.
Arisa terkekeh pelan.
"Namamu cukup sering muncul di laporan observasi awal."
Lulu langsung menahan napas sebentar.
Ia mulai merasa kalimat itu juga tidak menenangkan.
"Tenang."
Arisa mengangkat tangan seolah membaca pikirannya.
"Aku tidak sedang mengatakan sesuatu yang buruk."
"Biasanya kalimat seperti itu diikuti sesuatu yang buruk."
Kali ini beberapa siswa di belakang Lulu ikut tertawa kecil.
Arisa terlihat berpikir sesaat.
"Oke, itu memang masuk akal."
Suasana yang sempat terasa formal perlahan mencair.
Arisa kemudian mengarahkan peserta untuk masuk ke dalam gedung.
Bagian dalam Gedung Penelitian jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.
Koridor utamanya dipenuhi panel kaca transparan yang memperlihatkan beberapa ruang laboratorium di sisi kiri dan kanan. Di beberapa ruangan terlihat alat-alat pengukur Energy Mana, layar pemantau, serta berbagai perangkat yang belum pernah dilihat Lulu sebelumnya.
"Ini lebih mirip fasilitas universitas."
Arvin berbicara pelan sambil melihat sekeliling.
"Aku juga mikir begitu."
Lulu mengangguk setuju.
Mereka mengikuti Arisa sampai ke sebuah ruangan observasi berukuran sedang. Kursi-kursi sudah disusun melingkar, sementara sebuah layar besar menampilkan logo Program Observasi Resonansi Remaja.
Begitu semua peserta duduk, Arisa berdiri di depan ruangan.
"Pertama-tama, selamat datang."
Ia meletakkan tabletnya di atas meja.
"Aku tahu sebagian dari kalian gugup."
Beberapa siswa langsung tertawa kecil.
Karena itu memang benar.
"Aku juga tahu sebagian lainnya penasaran."
Kali ini lebih banyak siswa yang mengangguk.
Arisa tersenyum puas.
"Nah, berarti kita punya titik awal yang bagus."