Chapter 3 - Episode 19
Lulu baru meninggalkan Gedung Penelitian ketika matahari sore mulai turun mendekati atap-atap bangunan akademi.
Udara terasa lebih sejuk dibanding siang tadi.
Jalan setapak yang menghubungkan gedung penelitian dengan area utama sekolah terlihat jauh lebih sepi dibanding beberapa jam sebelumnya. Sebagian besar siswa sudah pulang, sementara yang masih berada di akademi biasanya mengikuti kegiatan klub atau program tambahan.
Lulu berjalan, Pikirannya masih tertinggal di ruangan observasi.
Tepatnya pada layar-layar yang dipenuhi grafik.
Pada data yang menurut Arisa tidak sesuai prediksi.
Dan terutama pada satu hal yang terus muncul berulang kali selama percakapan mereka.
Arcane Brew.
Ia mengingat kembali grafik yang ditunjukkan Arisa.
Titik-titik manifestasi.
Lokasi kemunculan bunga.
Pola yang perlahan membentuk sesuatu.
Dan sebagian besar titik itu berkumpul di tempat yang sama.
Arcane Brew.
Sebelumnya Lulu tidak pernah benar-benar memikirkannya.
Bunga-bunga itu muncul begitu saja.
Kadang saat gugup.
Kadang saat sedih.
Kadang saat bahagia.
Ia selalu menganggap tempat kemunculannya hanyalah kebetulan.
Namun setelah melihat data yang dikumpulkan selama berbulan-bulan, kebetulan itu mulai terlihat sedikit berbeda.
"Mungkin memang karena aku sering ke sana."
gumamnya pelan.
Kalimat yang sama pernah ia katakan kepada Arisa.
Dan sampai sekarang ia masih merasa itu penjelasan yang paling masuk akal.
Meski demikian, semakin ia memikirkannya, semakin sulit mengabaikan fakta bahwa banyak perubahan dalam hidupnya memang dimulai setelah ia mengenal tempat itu.
Arcane Brew.
Pertemuan dengan Rian.
Percakapan-percakapan kecil.
Waktu yang dihabiskan di sana setelah sekolah.
Bahkan beberapa hari terbaik yang ia ingat dalam beberapa bulan terakhir hampir selalu berhubungan dengan tempat itu.
Langkah Lulu melambat.
Ia baru sadar dirinya sudah sampai di gerbang akademi.
Di luar gerbang, jalan kota mulai ramai oleh orang-orang yang pulang kerja.
Suara kendaraan terdengar dari kejauhan.
Angin sore menggerakkan dedaunan pohon yang berjajar di sepanjang trotoar.
Dan tanpa benar-benar memikirkannya, pandangannya bergerak ke arah jalan yang mengarah ke distrik pertokoan.
Ke arah tempat Arcane Brew berada.
Lulu berkedip.
Kemudian tertawa kecil pada dirinya sendiri.
"Aku bahkan baru selesai memikirkannya."
Ia menggeleng pelan.
Namun pada akhirnya kedua kakinya tetap bergerak ke arah yang sama.
Bukan karena ada janji.
Bukan karena ada urusan penting.
Bukan karena seseorang memintanya datang.
Ia hanya ingin ke sana.
Sesederhana itu.
Dan entah sejak kapan, alasan sederhana itu terasa sudah cukup.
Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan ketika Lulu masuk ke dalam Arcane Brew.
Kehangatan ruangan langsung menyambutnya.
Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi roti panggang memenuhi udara. Cahaya sore masuk melalui jendela besar di sisi bangunan, memantul lembut di permukaan meja kayu yang mulai ditempati beberapa pelanggan.
Lulu baru melangkah beberapa langkah ketika suara Adrian terdengar dari arah meja bar.
Adrian mengangkat sebuah buku catatan tebal ke udara sambil menunjukkannya kepada Rian.
"Aku kasih tahu sekali lagi. Menu ini bakal laku."
Di belakang meja, Rian tetap fokus menyusun beberapa cangkir bersih ke rak.
"Kamu mengatakan hal yang sama minggu lalu."
Adrian meletakkan buku catatannya di atas meja dengan ekspresi tidak terima.
"Karena minggu lalu aku juga benar."
Rian akhirnya mengangkat kepala dan menatapnya datar.
"Minggu lalu kamu ingin menjual kopi rasa stroberi."
"Itu konsep yang visioner."
"Itu konsep yang membuat tiga pelanggan meminta air putih tambahan."
Lulu yang mendengar percakapan itu dari dekat pintu langsung menahan tawa.
Adrian baru menyadari kehadirannya.
Matanya langsung berbinar seolah menemukan bala bantuan.
"Nah. Bagus."
Ia menunjuk Lulu.
"Kamu yang nilai."
Lulu berhenti berjalan.
"Aku bahkan belum tahu masalahnya."
Adrian segera membuka halaman buku catatannya.
"Menu musiman baru."
Rian menyandarkan satu tangan ke meja bar.
"Menu dengan tiga lapis sirup karamel."
Lulu berkedip beberapa kali.
"Tiga lapis?"
"Nah."
Adrian menunjuk Lulu.
"Lihat? Dia tertarik."
"Itu bukan ekspresi tertarik."
Rian langsung membalas.
"Itu ekspresi bingung."
"Ada perbedaan tipis."
"Itu perbedaan yang sangat besar."
Adrian menghela napas panjang lalu membalik halaman catatannya.
"Kalian tidak menghargai kreativitas."
Lulu akhirnya berjalan mendekat ke meja bar.
Ia melirik rancangan menu yang ditunjukkan Adrian.
Di atas kertas terlihat beberapa coretan resep, sketsa gelas, dan catatan tambahan yang ditulis tergesa-gesa.
"Kamu benar-benar serius soal ini?"
tanya Lulu sambil melihat catatan tersebut.
Adrian mengangguk mantap.
"Sangat serius."
Rian melipat kedua tangannya.
"Itulah yang mengkhawatirkan."
"Aku mulai merasa tidak didukung di tempat kerja sendiri."
Keluh Adrian sambil memegang dada.
Rian menoleh ke arah Lulu.
"Kalau dia mulai bicara seperti itu, biasanya dia kehabisan argumen."
"Aku masih punya banyak argumen."
balas Adrian cepat.
"Hanya saja kalian terlalu sempit untuk memahaminya."
Lulu tidak bisa menahan tawanya kali ini.
Suasana yang sejak tadi memenuhi Arcane Brew terasa ringan.
Beberapa pelanggan yang duduk tidak jauh dari meja bar bahkan ikut tersenyum mendengar perdebatan mereka.
Seorang pria paruh baya yang sering datang ke sana mengangkat cangkir kopinya.
"Kalau menu baru itu jadi dibuat, saya mau coba."
Adrian langsung menunjuk pria itu.
"Lihat!"
Pria itu tertawa kecil.
"Tapi satu gelas saja."
Tambahan kalimat itu membuat pelanggan lain ikut tertawa.
Bahkan Rian sampai menggeleng pelan.
Adrian terlihat seperti seseorang yang baru saja dikhianati seluruh dunia.
"Aku mulai mengerti kenapa para penemu hebat tidak dihargai pada zamannya." gumamnya.
"Kamu baru mengusulkan karamel."
Rian mengambil sebuah cangkir dari rak.
"Kamu belum menemukan benua baru."
Adrian membuka mulut untuk membalas.
Namun sebelum sempat mengeluarkan argumen baru, bunyi alarm kecil dari dapur terdengar.
Matanya langsung melebar.
"Rotinya."
Ia berbalik cepat lalu berlari menuju dapur.
Pintu dapur menutup di belakangnya.
Keheningan singkat langsung muncul.
Lulu dan Rian saling memandang beberapa detik.
Kemudian tanpa sadar mereka tertawa hampir bersamaan.
Rian menggeleng pelan sambil mengambil lap kain dari bawah meja.
"Setiap minggu ada saja."
katanya.
Lulu memperhatikan pintu dapur yang baru saja dilewati Adrian.
"Dia memang selalu seperti itu?"
"Kurang lebih."
jawab Rian.
"Kadang lebih parah."
"Itu masih bisa lebih parah?"
Rian terlihat mempertimbangkan pertanyaan itu.
"Lumayan sering."
Lulu kembali tertawa kecil.
Entah kenapa, suasana seperti ini selalu terasa menyenangkan.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada sesuatu yang luar biasa.
Hanya percakapan sederhana, pelanggan yang datang silih berganti, dan orang-orang yang menjalani sore mereka masing-masing.
Namun justru hal-hal kecil seperti itulah yang membuat Arcane Brew terasa hidup.
Dan tanpa disadari Lulu, sejak beberapa waktu terakhir ia mulai menantikan suasana seperti ini setiap kali hari sekolah berakhir.
Setelah perdebatan tentang menu musiman berakhir sementara, Lulu membawa minumannya menuju meja dekat jendela.
Kursi itu masih kosong.
Tanpa sadar ia langsung berjalan ke sana, menarik kursi, lalu duduk seperti yang sudah sering ia lakukan beberapa minggu terakhir.
Baru setelah meletakkan gelasnya di atas meja, Lulu menyadari bahwa ia bahkan tidak sempat mempertimbangkan tempat lain.
Pilihan itu terasa begitu alami.
Sinar matahari sore masuk melalui kaca besar di sampingnya, membentuk pantulan hangat di permukaan meja kayu. Dari tempat duduknya, hampir seluruh ruangan Arcane Brew terlihat jelas.
Pintu masuk.
Meja bar.
Rak buku.
Sebagian besar pelanggan yang sedang menghabiskan waktu mereka.
Lulu membuka buku yang dibawanya dari sekolah.
Namun fokusnya tidak langsung tertuju pada halaman-halaman di depannya.
Perhatiannya justru beberapa kali berpindah ke suasana di sekitar.
Seorang mahasiswa sedang mengetik sesuatu di laptopnya sambil sesekali mengusap wajah lelahnya.
Dua pelanggan yang terlihat sudah saling mengenal duduk di dekat rak buku dan mengobrol pelan.
Di sudut lain, seorang anak kecil sibuk menggambar sementara ibunya menikmati secangkir kopi.
Pemandangan sederhana seperti itu hampir selalu ada setiap kali Lulu datang.
Mungkin orang-orangnya berbeda.
Mungkin percakapannya berbeda.
Namun suasana hangat yang mengisi ruangan itu selalu terasa sama.
"Lulu."
Suara seseorang membuatnya mengangkat kepala.
Pria paruh baya yang tadi sempat membela ide Adrian mengangkat cangkir kopinya sedikit ke arah Lulu.