Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #46

Episode 44 : Kebiasaan Baru

Chapter 3 - Episode 20 

Keesokan harinya, Lulu baru menyadari sesuatu ketika bel istirahat siang berbunyi.

Ia sedang membereskan buku-bukunya ketika Sherly menjatuhkan dagu ke atas meja.

"Aku capek.", keluh Sherly.

"Kita baru setengah hari.", jawab Lulu.

"Itulah masalahnya."

Sherly mengangkat kepalanya sedikit, "Masih ada setengah hari lagi."

Lulu hanya tersenyum kecil sebelum kembali merapikan catatan.

Beberapa siswa mulai keluar kelas menuju kantin, sementara yang lain memilih tetap tinggal untuk mengerjakan tugas atau sekadar mengobrol.

Suasana berlangsung seperti biasa.

Namun perhatian Lulu sempat teralihkan ketika melihat jadwal pelajaran yang menempel di samping papan tulis.

Hari itu terasa cukup padat.

Tugas observasi masih ada.

Laporan sekolah mulai bertambah.

Dan minggu depan mereka akan menghadapi evaluasi tengah semester.

Memikirkan semua itu seharusnya membuatnya sedikit lelah.

Anehnya tidak.

"Kenapa senyum-senyum?"

tanya Sherly tiba-tiba.

Lulu langsung menoleh.

"Aku tidak senyum."

Sherly menunjuk wajahnya.

"Itu namanya senyum."

"Bukan."

"Kalau kamu mau bohong, minimal jangan saat buktinya masih ada."

Lulu menghela napas pelan.

Kadang-kadang berdebat dengan Sherly sama tidak bergunanya dengan berdebat dengan Adrian.

"Aku cuma lagi mikir."

akhirnya jawab Lulu.

"Nah."

Sherly langsung duduk lebih tegak.

"Tentang apa?"

"Tidak ada."

"Itu jawaban paling mencurigakan yang pernah ada."

Lulu memilih tidak menanggapi.

Sherly memperhatikannya beberapa detik.

Kemudian matanya sedikit menyipit.

"Jangan-jangan..."

Lulu langsung merasa firasat buruk.

"Jangan-jangan apa?"

Sherly menyandarkan tubuh ke depan.

"Kamu lagi mikirin hasil observasi kemarin?"

Lulu berkedip.

Lalu mengangguk kecil.

Sebagian memang benar.

Sherly terlihat puas.

"Untung."

"Untung apa?"

"Aku kira lebih parah."

Lulu mengernyit.

"Lebih parah bagaimana?"

Sherly menunjuk ke luar jendela.

"Aku kira kamu lagi mikirin seseorang."

Lulu langsung memejamkan mata.

"Aku menyesal menjawab pertanyaanmu."

Sherly tertawa keras.

Suasana kelas yang sempat tenang langsung kembali ramai.

Bahkan beberapa siswa yang duduk tidak jauh dari mereka ikut menoleh karena suara tawa tersebut.

Namun Sherly sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.

Justru sebaliknya.

Ia tampak sangat menikmati dirinya sendiri.

"Aku cuma bercanda."

katanya setelah tawanya mereda.

"Itu bukan alasan."

"Itu alasan yang sangat bagus."

Lulu memutuskan menyerah.

Beberapa menit kemudian, bel masuk kembali berbunyi.

Percakapan mereka terputus ketika guru memasuki kelas dan pelajaran berikutnya dimulai.

Namun menjelang akhir jam sekolah, sebuah hal kecil mulai mengganggu pikiran Lulu.

Bukan karena pelajaran.

Bukan karena tugas.

Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Ketika jarum jam bergerak semakin mendekati waktu pulang, pikirannya mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah sekolah selesai.

Dan jawaban yang muncul begitu cepat membuatnya sedikit terkejut.

Arcane Brew.

Bahkan sebelum ia sempat mempertimbangkan pilihan lain.

Bahkan sebelum ia benar-benar memutuskan.

Nama tempat itu sudah lebih dulu muncul di kepalanya.

Lulu menatap keluar jendela kelas.

Kemudian menghela napas kecil.

Karena untuk kedua kalinya dalam dua hari terakhir, ia mulai merasa bahwa kebiasaan baru sedang terbentuk tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Dan yang membuatnya semakin aneh, ia tidak merasa keberatan sedikit pun.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suara kursi bergeser dan percakapan siswa langsung memenuhi kelas. Beberapa orang bergegas membereskan barang mereka, sementara yang lain masih sibuk menyelesaikan pembicaraan yang tertunda sejak jam istirahat.

Lulu memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya.

Ia bahkan belum berdiri ketika Sherly sudah muncul di samping meja.

"Mau ke mana?"

tanya Sherly.

Lulu menutup resleting tasnya.

"Pulang."

Sherly menyipitkan mata.

"Memangnya kenapa?"

"Aku tanya tujuan setelah itu."

Lulu menghela napas kecil.

"Aku belum tahu."

Sherly menatapnya beberapa detik.

Kemudian mengangguk pelan.

"Oke."

Lulu langsung curiga.

"Oke kenapa?"

"Aku kasih waktu lima belas menit."

Sherly mengangkat satu tangan.

"Maksimal dua puluh."

"Apa?"

Sherly mulai berjalan mundur menuju pintu kelas.

"Dua puluh menit lagi kamu pasti ada di Arcane Brew."

Lulu membuka mulut untuk membantah.

Namun Sherly sudah lebih dulu tertawa lalu pergi meninggalkan kelas.

"Dia makin aneh."

gumam Lulu.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Lulu berjalan menyusuri trotoar yang mengarah ke distrik pertokoan.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia teringat percakapan bersama Sherly.

Lulu berhenti.

Kemudian melihat ke depan.

Jalan yang sedang dilaluinya.

Arah yang sedang ditujunya.

Arcane Brew.

"...oh."

Ia memijat pelipisnya pelan.

Karena Sherly ternyata benar.

Perasaan kesal itu hanya bertahan beberapa detik sebelum akhirnya berubah menjadi tawa kecil.

Pada titik ini, bahkan dirinya sendiri mulai menyadari pola tersebut.

Langkahnya hampir selalu berakhir di tempat yang sama.

Lulu kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini tanpa mencoba mencari alasan lain.

Namun baru beberapa menit berjalan, seseorang memanggil namanya dari arah belakang.

"Lulu?"

Lulu menoleh.

Nara berdiri beberapa meter di belakangnya sambil membawa tas selempang berwarna gelap.

Rambut pendeknya bergerak pelan tertiup angin sore.

"Nara."

Nara mempercepat langkah hingga akhirnya berjalan sejajar dengannya.

"Kebetulan sekali."

katanya.

"Kamu mau pulang?"

Lulu sempat ragu menjawab.

"Kurang lebih."

Nara mengangkat alis, "Kok, seperti ga meyakinkan."

"Aku sedang menuju suatu tempat.", akhirnya jawab Lulu.

Nara mengikuti arah pandangannya.

Kemudian langsung mengangguk paham.

"Arcane Brew?"

Lulu berkedip.

"Kamu tahu?"

"Aku pernah lihat kamu di sana."

jawab Nara.

"Beberapa kali."

Lulu mulai curiga.

"Berapa kali tepatnya?"

Nara terlihat berpikir.

"Lumayan banyak."

Nara tertawa kecil.

"Kalau boleh jujur, cukup sering sampai aku mulai menganggap itu tujuan utamamu."

Lulu memejamkan mata selama beberapa detik.

Entah kenapa kalimat seperti itu semakin sering ia dengar.

"Aku tidak sesering itu."

Nara langsung menatapnya.

Tatapan yang sama seperti yang biasa diberikan Sherly ketika mendengar sesuatu yang jelas tidak benar.

Lulu mulai merasa dirinya sedang kehilangan argumen.

Untungnya Nara tidak melanjutkan.

"Aku juga sebenarnya mau ke sana."

katanya.

"Kamu juga?"

Nara mengangguk.

"Aku kadang belajar di sana."

Lulu sedikit terkejut.

Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya.

"Serius?"

"Tempatnya nyaman."

jawab Nara.

"Dan kopinya lumayan."

"Katanya lumayan.", jawab ulang Lulu.

Nara tertawa, "Aku belum cukup berani memuji kopi di depan pelanggan tetap."

"Kamu juga mulai pakai istilah itu."

"Nah."

Nara menunjuk Lulu.

"Berarti memang ada alasannya."

Mereka melanjutkan perjalanan sambil mengobrol ringan.

Topiknya berpindah dari sekolah, tugas, sampai program observasi yang masih menjadi pembahasan hangat di akademi.

Berbeda dengan pertemuan pertama mereka, percakapan kali ini terasa jauh lebih santai.

Beberapa menit kemudian, papan nama Arcane Brew mulai terlihat di ujung jalan.

Nara langsung menunjuk ke depan.

"Oke."

katanya.

"Sekarang aku mengerti."

"Mengerti apa?"

Nara memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya.

"Kenapa banyak orang suka tempat itu."

Lulu melihat ke arah bangunan yang semakin dekat.

Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

Entah kenapa, melihat Arcane Brew di ujung jalan selalu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan.

Perasaan sederhana.

Namun cukup nyaman untuk membuat langkahnya terasa lebih ringan.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya, ia datang ke sana bersama seseorang yang baru mulai dikenalnya.

Sebuah perubahan kecil.

Namun cukup untuk membuat sore itu terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan saat Lulu dan Nara melangkah masuk ke dalam Arcane Brew.

Suasana sore masih cukup ramai.

Beberapa meja sudah terisi pelanggan, sementara aroma kopi yang baru diseduh memenuhi seluruh ruangan.

Di balik meja bar, Adrian yang sedang menyusun beberapa gelas langsung mengangkat kepala.

Matanya bergantian melihat Lulu, lalu Nara yang berjalan di sampingnya.

Senyum lebar langsung muncul di wajahnya.

"Wah."

gumam Adrian sambil meletakkan gelas di atas meja.

"Ada tamu baru."

Lulu menghela napas pelan.

"Kamu baru lihat orang masuk."

"Itu bagian dari pekerjaanku."

balas Adrian santai.

Ia berjalan keluar dari balik meja bar sebelum berhenti di depan Nara.

"Halo."

sapanya ramah.

"Selamat datang di Arcane Brew."

Nara membalas senyum tersebut.

"Halo."

Adrian menoleh ke arah Lulu.

"Kamu akhirnya bawa teman juga."

"Lho?"

Lulu terlihat bingung.

"Apa maksudmu?"

Adrian menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Selama ini kamu datang sendirian."

Lihat selengkapnya