Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #47

Episode 45 : Arah yang sama

Chapter 3 - Episode 21

Jam pelajaran terakhir berakhir lebih cepat dari biasanya.

Guru yang seharusnya mengajar pada sesi terakhir berhalangan hadir sehingga kelas dibubarkan lebih awal. Kabar itu langsung disambut riuh oleh para siswa yang tidak menyangka bisa pulang hampir tiga puluh menit lebih cepat.

Lulu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas sementara Sherly sudah lebih dulu berdiri di samping mejanya.

"Kalau setiap minggu begini, aku mulai suka jadwal hari Kamis."

kata Sherly sambil merapikan rambutnya.

Lulu tersenyum kecil.

"Besok juga pasti berubah pikiran."

"Bisa jadi."

Sherly mengangkat bahu.

"Kalau tugasnya tetap banyak."

Mereka berjalan keluar kelas bersama.

Koridor akademi terlihat lebih ramai dari biasanya karena seluruh siswa keluar hampir bersamaan. Suara percakapan memenuhi setiap sudut gedung, membuat suasana sore itu terasa lebih hidup.

Sesampainya di halaman depan, Sherly berhenti lebih dulu.

"Aku ke perpustakaan sebentar."

katanya.

"Mau pinjam buku?"

tanya Lulu.

"Bukan."

Sherly menggeleng.

"Mau balikin buku yang sudah lewat dua hari."

Lulu tertawa pelan.

"Semoga belum kena denda."

"Itu juga doaku."

balas Sherly sambil tertawa sebelum melambaikan tangan.

"Sampai besok."

"Sampai besok."

Lulu melanjutkan langkahnya seorang diri.

Karena pulang lebih awal, jalanan di sekitar akademi belum seramai biasanya.

Angin sore bertiup pelan melewati deretan pepohonan di sepanjang trotoar. Beberapa toko baru saja membuka pintunya, sementara para pemilik kedai mulai menata meja di depan bangunan mereka.

Lulu berjalan santai tanpa tujuan yang benar-benar dipikirkan.

Sesekali ia memperhatikan etalase toko yang dilewatinya.

Di depan sebuah toko alat tulis, ia berhenti sejenak untuk melihat beberapa buku catatan baru yang dipajang di balik kaca.

"Cantik juga."

gumamnya pelan.

Namun setelah beberapa detik, ia kembali melanjutkan perjalanan.

Tidak lama kemudian, langkahnya kembali melambat.

Di hadapannya terbentang sebuah persimpangan.

Ke kiri menuju halte.

Ke kanan menuju kawasan pertokoan.

Lulu tidak berhenti untuk memilih.

Ia langsung membelok ke kanan.

Beberapa langkah kemudian, ia baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya.

"Hm..."

Lulu menoleh sekilas ke belakang, lalu tersenyum kecil kepada dirinya sendiri.

"Aku bahkan tidak sempat mikir."

Tidak ada rasa heran seperti beberapa hari sebelumnya.

Kesadaran itu justru terasa lucu.

Seolah tubuhnya sudah lebih dulu memahami ke mana ia ingin pergi setiap kali sekolah selesai.

"Lulu?"

Sebuah suara memanggil dari seberang jalan.

Lulu mengangkat kepala.

Seorang mahasiswi yang pernah beberapa kali ditemuinya di Arcane Brew sedang berdiri di depan toko roti sambil membawa kantong kertas di tangannya.

Wanita itu tersenyum ramah ketika pandangan mereka bertemu.

"Kamu juga ke sana?"

tanyanya sambil menunjuk ke arah jalan yang sedang dilewati Lulu.

Lulu sempat bingung.

"Ke mana?"

"Arcane Brew."

jawab wanita itu.

"Aku sering lihat kamu di sana."

Lulu tersenyum kecil.

"Iya."

Wanita itu berjalan menyeberang hingga akhirnya berada di sisi trotoar yang sama.

"Aku juga mau mampir sebentar."

katanya.

"Biasanya sebelum pulang kerja."

"Oh."

Lulu mengangguk pelan.

Mereka berjalan berdampingan beberapa saat.

Meski tidak banyak berbicara, suasananya tidak terasa canggung.

Sesekali mereka saling bertukar cerita ringan tentang cuaca, tugas, dan ramainya kawasan pertokoan menjelang akhir pekan.

Beberapa menit kemudian, papan kayu bertuliskan Arcane Brew mulai terlihat di ujung jalan.

Wanita itu tersenyum.

"Sepertinya kita memang punya tujuan yang sama."

Lulu mengikuti arah pandangnya.

Sudut bibirnya ikut terangkat.

"Iya."

jawabnya pelan.

"Hari ini juga begitu."

Tanpa mereka sadari, langkah keduanya kembali bergerak bersamaan menuju pintu Arcane Brew yang perlahan semakin dekat.

Dan untuk pertama kalinya, Lulu menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang selalu memilih arah itu setiap sore.

Bel kecil di atas pintu berdenting pelan ketika Lulu dan wanita itu melangkah masuk ke dalam Arcane Brew.

Suasana di dalam belum terlalu ramai.

Beberapa meja masih kosong, sementara aroma kopi yang baru digiling memenuhi ruangan bersama wangi roti yang baru keluar dari oven.

Adrian yang sedang menyusun beberapa gelas langsung mengangkat kepala.

Senyumnya mengembang begitu melihat Lulu.

"Selamat datang."

sapanya sambil mengangkat satu tangan.

"Lumayan cepat hari ini."

Lulu berjalan mendekat sambil tersenyum tipis.

"Kelas terakhir selesai lebih awal."

"Pantas."

Adrian mengangguk.

"Aku sempat lihat jam dan mikir..."

Ia berhenti sejenak sambil melirik jam dinding.

"...kayaknya pelanggan tetapku belum waktunya datang."

Lulu terkekeh pelan.

"Sejak kapan aku jadi pelanggan tetapmu?"

Adrian menatapnya seolah pertanyaan itu sangat aneh.

"Sejak kamu berhenti bertanya menu setiap datang."

Lulu sempat berpikir.

Lalu ia baru sadar Adrian memang benar.

Sudah beberapa hari terakhir ia selalu memesan minuman yang sama.

Bahkan tanpa membuka buku menu.

"Aku baru menyadarinya."

ucap Lulu sambil tersenyum kecil.

"Berarti teoriku benar."

kata Adrian dengan wajah puas.

Wanita yang berjalan bersama Lulu ikut mendekati meja bar.

"Sepertinya aku datang di waktu yang tepat."

katanya sambil tertawa pelan.

Adrian langsung menoleh.

"Wah, kita ketemu lagi."

"Ternyata masih ingat."

balas wanita itu.

"Tentu."

Adrian mengangguk mantap.

"Pelanggan yang pernah memuji rotiku biasanya sulit dilupakan."

Wanita itu tertawa.

"Padahal waktu itu aku cuma bilang enak."

"Itu sudah cukup."

jawab Adrian.

"Namaku Mira, ya."

kata wanita itu sambil memperkenalkan diri kepada Lulu.

Lulu membalas dengan senyum ramah.

"Lulu."

"Aku sering lihat kamu duduk dekat jendela."

lanjut Mira.

"Tapi baru hari ini kita sempat ngobrol."

Lulu mengangguk pelan.

"Aku juga sering lihat Kak Mira datang sore."

Mira terlihat sedikit terkejut.

"Kamu ingat?"

Lulu tersenyum.

"Soalnya Kak Mira hampir selalu bawa tas kerja yang sama."

Mira spontan melihat tas selempangnya sendiri.

"Kalau begitu lain kali aku harus ganti tas."

Lulu terkekeh pelan.

"Jangan."

"Malah jadi lebih mudah dikenali."

Percakapan mereka terhenti ketika Rian keluar dari area belakang sambil membawa baki berisi beberapa cangkir bersih.

Begitu melihat Lulu, langkahnya berhenti sesaat.

"Kamu datang lebih awal."

kata Rian.

Lulu mengangguk.

"Hari ini pulangnya lebih cepat."

Rian melirik jam dinding.

"Masih ada meja favoritmu."

Adrian langsung menyela.

"Aku bilang juga apa."

Rian memandang Adrian sekilas.

"Kamu bilang apa?"

"Aku yakin dia bakal duduk di sana."

Rian mengangguk kecil.

"Memang kemungkinan besarnya begitu."

Adrian tersenyum lebar.

"Lihat?"

katanya kepada Lulu.

"Bahkan Rian setuju."

Lulu menggeleng pelan sambil tertawa.

"Kalian berdua benar-benar memperhatikan hal yang aneh."

"Bukan aneh."

jawab Rian tenang.

"Itu hanya kebiasaan yang mudah diingat."

Kalimat itu membuat Lulu terdiam sesaat.

Entah kenapa, mendengar seseorang mengingat kebiasaan kecilnya tidak lagi membuatnya canggung.

Justru ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.

Mungkin karena semuanya terjadi dengan alami.

Tidak ada yang berusaha membuatnya menjadi pusat perhatian.

Mereka hanya mengingat hal-hal kecil yang selama ini terbentuk begitu saja.

"Nah."

Adrian mengangkat buku menu.

"Seperti biasa?"

Lulu tersenyum sambil mengangguk ringan.

"Iya, tapi hari ini aku mau tambah roti yang kemarin."

Adrian langsung menutup buku menu.

"Itu jawaban yang membuatku semangat kerja."

Lulu tertawa.

"Kalau begitu jangan sampai gosong."

Adrian meletakkan tangan di dada sambil berpura-pura tersinggung.

"Lulu."

katanya dramatis.

"Kepercayaan kita ternyata masih serapuh itu."

"Aku cuma mengingatkan."

balas Lulu sambil menahan tawa.

"Berarti masih ada harapan."

jawab Adrian sebelum berjalan menuju dapur dengan langkah ringan.

Rian memperhatikan punggung Adrian yang menjauh, lalu menggeleng pelan.

"Dia kelihatan senang."

"Lumayan mudah ditebak, ya?"

tanya Lulu.

Rian tersenyum tipis.

"Kalau ada yang menikmati makanan buatannya, suasana hatinya memang langsung berubah."

Lulu mengikuti arah pandang Rian ke pintu dapur.

"Kalau begitu, semoga rotinya benar-benar enak."

"Tidak perlu khawatir."

jawab Rian.

"Hari ini dia sudah mencicipinya tiga kali."

Lulu spontan tertawa.

"Pantas percaya dirinya tinggi."

Untuk sesaat, suasana di sekitar meja bar dipenuhi tawa kecil yang terdengar begitu ringan, seolah sore itu berjalan sebagaimana mestinya.

Lulu dan Mira akhirnya memilih meja dekat jendela.

Begitu duduk, Mira meletakkan tas kerjanya di kursi kosong di sebelahnya, sementara Lulu tanpa sadar merapikan posisi gelas gula dan tisu yang sedikit bergeser.

Mira memperhatikan gerakan kecil itu sambil tersenyum.

"Kamu benar-benar sudah terbiasa."

katanya.

Lulu menoleh.

"Terbiasa apa?"

"Duduk di meja ini."

Mira menunjuk ke arah jendela.

"Tanganmu langsung tahu letak semuanya."

Lulu sempat memperhatikan meja di depannya.

Baru sekarang ia sadar bahwa sejak tadi ia melakukannya tanpa berpikir.

Ia terkekeh pelan.

"Aku bahkan tidak sadar."

"Itu namanya kebiasaan."

balas Mira.

"Kalau masih sadar, berarti belum jadi kebiasaan."

Ucapan itu membuat Lulu tersenyum kecil.

Beberapa saat kemudian, Rian datang membawa nampan berisi dua gelas minuman.

Ia meletakkan latte di depan Lulu lebih dulu.

"Seperti biasa."

ucap Rian.

Lalu ia menggeser secangkir teh hangat ke depan Mira.

"Dan ini pesanan Kak Mira."

"Terima kasih."

jawab Mira sambil menerima gelasnya.

Rian mengangguk ringan sebelum hendak kembali ke meja bar.

Lihat selengkapnya