Chapter 3 - Episode 22
Ketika Lulu dan Mira keluar dari Arcane Brew, udara malam sudah terasa lebih sejuk dibanding beberapa jam sebelumnya.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar yang mulai lengang. Deretan lampu jalan memantulkan cahaya hangat di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas matahari.
"Kalau dipikir-pikir..." ucap Mira sambil menatap ke depan.
"...hari ini aku malah lebih banyak mengobrol daripada biasanya."
Lulu tersenyum kecil. "Aku juga."
"Padahal kita baru benar-benar kenal hari ini."
Lulu mengangguk pelan. "Iya. Rasanya tidak seperti pertama kali mengobrol."
Mira terkekeh pelan. "Mungkin karena tempatnya."
"Mungkin." Lulu membalas dengan senyum tipis.
Beberapa langkah kemudian, mereka tiba di persimpangan jalan.
Mira berhenti lebih dulu.
"Aku belok ke sini."
katanya sambil menunjuk jalan di sebelah kiri.
Lulu mengangguk.
"Kalau begitu hati-hati di jalan, Kak."
"Kamu juga."
Mira melambaikan tangan kecil sebelum berjalan menjauh.
Lulu memperhatikan punggungnya hingga menghilang di balik deretan pertokoan.
Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.
Keesokan harinya...
Jam menunjukkan pukul setengah empat sore ketika Lulu tiba di depan Arcane Brew.
Ia berdiri beberapa detik di depan pintu.
Entah sejak kapan, kebiasaan kecil itu mulai muncul.
Sebelum masuk, ia selalu melihat ke arah jendela lebih dulu.
Meja dekat jendela tampak kosong.
Tanpa sadar, sudut bibir Lulu terangkat.
Bel kecil kembali berdenting ketika ia membuka pintu.
"Selamat datang."
Suara Rian menyambut lebih dulu dari balik meja bar.
Lulu membalas dengan lambaian kecil.
"Sore."
Rian memperhatikan jam dinding sekilas.
"Hari ini tepat waktu."
Lulu terkekeh pelan.
"Kamu sampai hafal jam datangku?"
"Bukan jamnya."
jawab Rian tenang.
"Kurang lebih waktunya."
Lulu tersenyum geli.
"Bedanya tipis."
"Memang."
Rian mengangguk kecil.
"Tapi tetap berbeda."
Sebelum Lulu sempat membalas, Adrian muncul dari area dapur sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir.
"Wah."
serunya.
"Aku kalah lagi."
Lulu menatapnya heran.
"Kalah apa?"
Adrian meletakkan nampan di atas meja.
"Tadi aku bilang kamu datang lima menit lagi."
Ia melirik Rian.
"Rian bilang paling lama dua menit."
Lulu bergantian melihat keduanya.
"Kalian menebak jam kedatanganku?"
"Bukan menebak."
jawab Adrian.
"Menghitung peluang."
"Itu tetap menebak."
Lulu tertawa pelan.
Rian ikut tersenyum.
"Kalau dipikir-pikir..."
ucap Lulu.
"...kalian justru lebih aneh daripada aku."
Adrian langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Aku terima."
Lalu ia menunjuk Rian.
"Yang itu jangan disamakan."
Rian mengembuskan napas pelan.
"Kamu yang mengajak."
"Tapi kamu ikut."
balas Adrian cepat.
Lulu menggeleng kecil sambil berjalan menuju meja dekat jendela.
Belum sempat ia menarik kursinya, seorang pelanggan yang sedang bersiap pulang berdiri sambil membawa tas kerja.
Pria itu tersenyum ramah kepada Lulu.
"Silakan."
katanya.
"Aku memang sudah selesai."
"Terima kasih."
jawab Lulu.
Setelah pelanggan itu pergi, Lulu duduk di kursi yang masih terasa sedikit hangat.
Ia meletakkan tas di samping kursi, mengeluarkan buku pelajaran, lalu membukanya pada halaman yang terakhir dipelajari di sekolah.
Beberapa menit berlalu.
Lulu sempat membaca beberapa paragraf sebelum sebuah cangkir perlahan diletakkan di samping bukunya.
Ia mendongak.
Rian berdiri di samping meja sambil tersenyum tipis.
Lulu memandang cangkir itu, lalu kembali menatap Rian.
"Aku belum pesan."
katanya.
Rian mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Lalu ini?"
Rian menunjuk cangkir tersebut.
"Pesananmu."
Lulu terkekeh.
"Tapi aku belum bilang apa-apa."
"Memangnya akan berubah?"
tanya Rian.
Lulu terdiam beberapa detik.
Ia mencoba memikirkan jawaban lain.
Namun yang muncul di kepalanya justru minuman yang sama seperti beberapa hari terakhir.
Akhirnya ia tersenyum sambil menggeleng kecil.
"Sepertinya tidak."
"Makanya aku buat dulu."
jawab Rian.
Lulu menatap cangkir hangat di depannya.
Kemudian tanpa sadar ia kembali tersenyum.
Rasanya aneh.
Sekaligus menyenangkan.
Ada seseorang yang mulai mengenali kebiasaan kecilnya, bahkan sebelum ia sendiri mengucapkannya.
Di balik meja bar, Adrian memperhatikan pemandangan itu sambil melipat kedua tangan.
Ia menoleh kepada Rian dengan senyum penuh arti.
"Kamu tahu?"
katanya pelan.
"Apa?"
tanya Rian.
Adrian melirik ke arah Lulu yang kembali membuka bukunya.
"Meja dekat jendela akhirnya benar-benar punya pemilik."
Rian mengikuti arah pandangnya sesaat.
Kemudian Lulu tersenyum tipis, "Bukan."
jawabnya tenang. "Itu hanya meja yang selalu menunggu orang yang sama datang."
Lulu menutup bukunya sejenak setelah menyelesaikan satu halaman.
Cangkir di sampingnya masih mengepulkan uap tipis. Ia meraih gelas itu, menikmati satu tegukan kecil sebelum kembali memandang keluar jendela.
Trotoar di depan Arcane Brew mulai dipenuhi orang-orang yang baru pulang bekerja. Ada yang berjalan sendiri sambil memainkan ponsel, ada pula yang mengobrol dengan rekannya sebelum berpisah di persimpangan.
Suasana itu selalu berubah setiap sore.
Namun entah mengapa, pemandangan dari meja dekat jendela tidak pernah terasa membosankan.
"Lagi belajar?"
Suara Adrian membuyarkan lamunannya.
Lulu mengangkat kepala.
Adrian berdiri di samping meja sambil membawa lap bersih yang disampirkan di bahunya.
"Iya."
jawab Lulu.
"Masih ada tugas yang harus diselesaikan minggu depan."
Adrian melirik buku yang terbuka di depannya.
"Pelajaran apa?"
"Sejarah."
Adrian mengangguk pelan.
"Wah."
Ekspresinya langsung berubah serius.
"Itu kelemahanku."
Lulu tertawa kecil.
"Memangnya waktu sekolah nilaimu jelek?"
"Bukan jelek."
Adrian menggeleng.
"Aku cuma sering lupa tahun."
"Lupa sampai tidak lulus?"
tanya Lulu sambil tersenyum geli.
"Untungnya tidak."
Adrian ikut tertawa.
"Tapi guruku pernah bilang kalau aku lebih hafal jadwal istirahat kantin daripada urutan kerajaan."
Lulu spontan menutup mulutnya karena menahan tawa.
"Itu terdengar seperti kamu."
"Makanya aku bilang."
Adrian mengangkat bahu.
"Sejarah bukan bidangku."
"Lalu bidangmu apa?"
Adrian berpikir sejenak.
"Makan."
"Maksudku pekerjaan."
"Oh."
Adrian terkekeh.
"Kalau sekarang... bikin orang pulang dengan perut kenyang."
Jawaban itu membuat Lulu tersenyum.
"Terdengar sederhana."
"Soalnya memang sederhana."
balas Adrian.
"Kalau ada orang datang capek, terus pulangnya sambil senyum, menurutku itu sudah cukup."
Lulu memandang Adrian beberapa detik.
Kalimat itu diucapkan dengan santai, tetapi terdengar sangat tulus.
Ia mulai mengerti mengapa Adrian begitu bersemangat setiap kali seseorang memuji roti buatannya.
Bukan sekadar karena hasil kerjanya dihargai.
Melainkan karena ia memang menikmati proses membuat orang lain merasa senang.
"Lulu."
Suara Rian terdengar dari balik meja bar.
"Kalau sudah selesai membaca, ada yang ingin kutunjukkan."
Lulu menoleh.
"Untukku?"
Rian mengangguk.
"Iya."
Rasa penasaran langsung muncul di wajah Lulu.
Ia menutup bukunya, lalu berdiri sambil membawa cangkir yang masih setengah penuh.
"Apa?"
tanyanya ketika sudah berada di depan meja bar.
Rian membuka salah satu rak kecil di bawah mesin kopi.
Beberapa kantong biji kopi tersusun rapi di dalamnya, masing-masing diberi label asal daerah dan tanggal sangrai.
Lulu memperhatikan semuanya dengan saksama.
"Banyak sekali."
gumamnya.
"Selama ini kusimpan di sini."
jelas Rian.
Ia mengambil dua kantong yang ukurannya hampir sama, lalu meletakkannya di atas meja.
"Menurutmu, apa bedanya?"
Lulu membaca label pada keduanya.
Yang satu berasal dari dataran tinggi di utara, sementara yang lain berasal dari daerah pegunungan yang berbeda.
"Dari asalnya?"
jawab Lulu ragu.
"Itu salah satunya."
Rian mengangguk.
"Lalu?"
Lulu berpikir lebih lama.
"Jenis bijinya juga berbeda?"
"Kali ini benar."
kata Rian sambil tersenyum tipis.
Adrian yang sedang menyusun piring di rak sebelah langsung ikut mendekat.
"Hati-hati."
katanya kepada Lulu.
"Kalau Rian sudah mulai cerita soal kopi, kamu bisa lupa waktu."
Rian melirik Adrian.
"Aku cuma menjawab kalau ditanya."
"Itu awalnya."
balas Adrian.
"Nanti ujung-ujungnya dia jelaskan dari biji sampai cangkir."
Lulu terkekeh pelan.
"Aku tidak keberatan."
Mendengar jawaban itu, Adrian langsung menatap Lulu dengan wajah pasrah.
"Nah."
katanya.
"Satu orang lagi berhasil masuk."
Lulu memiringkan kepala.
"Masuk ke mana?"
"Klub pendengar penjelasan Rian."
jawab Adrian.
"Aku dulu korbannya."
Rian mengembuskan napas pelan sambil tersenyum.
"Padahal waktu itu kamu yang bertanya."
"Aku tidak menyangka jawabannya tiga puluh menit."
balas Adrian.
Lulu tidak bisa menahan tawanya.
Ia kembali melihat dua kantong kopi di hadapannya.