Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #49

Episode 47 : Satu Cangkir Lagi

Chapter 3 - Episode 23 

Pagi itu, aroma roti yang dibawa Lulu memenuhi ruang makan.

Ayahnya yang baru selesai menuangkan secangkir teh memperhatikan kotak kecil di atas meja dengan rasa penasaran.

"Itu beli di perjalanan?"

tanyanya sambil menarik kursi.

Lulu menggeleng pelan. "Bukan."

Ia membuka tutup kotak tersebut, memperlihatkan beberapa potong roti yang tersusun rapi di dalamnya.

"Adrian yang memberikannya."

"Temanmu di Arcane Brew?"

"Iya."

Ayah Lulu mengambil satu potong kecil setelah mendapat anggukan dari putrinya.

Beliau mengunyah perlahan, lalu mengangguk beberapa kali.

"Enak." komentarnya.

Lulu tersenyum.

"Katanya bentuknya kurang bagus." Ayahnya kembali memperhatikan roti itu.

"Kalau rasanya seperti ini, bentuknya bukan masalah." Lulu terkekeh pelan.

"Aku juga bilang begitu."

"Besok kalau bertemu dia lagi..."

lanjut Ayah Lulu.

"...bilang terima kasih dariku."

Lulu mengangguk. "Pasti."

Percakapan sederhana itu berakhir ketika keduanya mulai menikmati sarapan.

Namun sepanjang perjalanan menuju sekolah, ucapan ayahnya terus teringat di kepala Lulu.

Beliau jarang memberi komentar panjang tentang makanan.

Kalau sudah mengatakan enak, berarti memang benar-benar menyukainya.

Hari itu berjalan seperti biasanya.

Pelajaran berlangsung hingga sore.

Beberapa tugas baru mulai diberikan menjelang bel pulang, membuat hampir seluruh siswa menghela napas bersamaan.

Sherly langsung menyandarkan kepalanya di atas meja.

"Aku mulai curiga."

katanya lemas.

"Guru-guru sengaja kompak."

Lulu tersenyum sambil membereskan buku.

"Kompak soal apa?"

"Memberi tugas di hari yang sama."

Sherly mengangkat wajahnya perlahan.

"Supaya murid tidak sempat bernapas."

Lulu tertawa kecil.

"Masih sempat."

"Katanya yang paling rajin."

Sherly menunjuk tumpukan buku di meja Lulu.

"Kamu saja dapat tiga tugas."

"Iya."

jawab Lulu sambil mengangguk.

"Tapi kalau dicicil, harusnya selesai."

Sherly memandang Lulu beberapa detik.

"Kamu pasti habis ini ke Arcane Brew."

Lulu tidak langsung menjawab.

Ia justru berhenti memasukkan buku ke dalam tas.

Beberapa detik kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya.

"Sepertinya begitu."

"Nah."

Sherly mengangkat kedua tangannya.

"Akhirnya mengaku."

Lulu terkekeh.

"Bukan mengaku."

"Aku memang mau ke sana."

Sherly ikut tersenyum.

"Bagus."

"Lho?"

Lulu terlihat heran.

"Kupikir kamu bakal menggodaku."

"Aku sudah bosan."

jawab Sherly santai.

"Sekarang aku malah penasaran."

"Penasaran apa?"

Sherly mengenakan tasnya.

"Suatu hari nanti."

katanya sambil berjalan keluar kelas bersama Lulu.

"...kamu bakal datang ke sana karena kopinya."

Ia melirik Lulu sekilas.

"Atau karena orang-orangnya."

Langkah Lulu melambat sesaat.

Pertanyaan itu terdengar ringan.

Namun jawabannya tidak langsung muncul.

Ia menyukai latte yang dibuat Ria, Ia juga menikmati roti buatan Adrian dan juga ia senang mengobrol dengan Mira.

Suasana Arcane Brew juga selalu membuatnya merasa tenang.

Sulit menentukan mana yang paling membuatnya ingin kembali.

"Aku belum tahu." jawab Lulu.

Sherly tersenyum puas.

"Berarti memang sudah mulai susah dibedakan."

Mereka tiba di depan gerbang sekolah.

Sherly berhenti sambil menunjuk jalan menuju halte.

"Aku ke sini."

"Oke."

Lulu mengangguk.

"Sampai besok."

"Sampai besok."

Setelah berpisah, Lulu melanjutkan langkahnya menyusuri trotoar.

Hari itu ia tidak lagi memperhatikan persimpangan jalan seperti biasanya.

Ia tidak lagi bertanya ke mana harus melangkah.

Seolah tubuhnya sudah lebih dulu mengingat arah yang harus diambil.

Beberapa belas menit kemudian, papan kayu bertuliskan Arcane Brew kembali terlihat di kejauhan.

Lulu memperlambat langkahnya.

Senyum kecil muncul begitu saja.

"Selamat sore."

gumamnya pelan.

Entah sapaan itu ditujukan kepada tempat itu.

Atau kepada orang-orang yang sudah menunggunya di dalam.

Namun satu hal yang pasti.

Sore itu, langkahnya kembali berhenti di tempat yang sama.

Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan ketika Lulu memasuki Arcane Brew.

Suasana sore itu sedikit lebih ramai dibanding biasanya. Hampir seluruh meja terisi, menyisakan beberapa kursi kosong di dekat rak buku dan satu meja kecil di sudut ruangan.

Lulu langsung melirik ke arah jendela.

Meja favoritnya masih ditempati.

Seorang wanita paruh baya terlihat sedang membaca novel sambil menikmati secangkir kopi.

Lulu hanya tersenyum kecil.

Ia sama sekali tidak merasa kecewa.

Justru untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa meja itu memang bukan miliknya.

Ia hanya kebetulan sering duduk di sana.

"Selamat sore."

Suara Rian menyambut dari balik meja bar.

Lulu berjalan mendekat sambil membalas senyum.

"Sore."

Rian sempat memperhatikan arah pandang Lulu.

"Meja dekat jendela sedang dipakai."

katanya.

Lulu mengangguk ringan.

"Iya, aku lihat."

"Kamu tidak keberatan?"

Lulu menggeleng pelan.

"Masih banyak tempat lain."

Jawaban itu membuat Rian tersenyum tipis.

"Kalau begitu, pilih saja dulu."

Lulu memandang sekeliling ruangan.

Setelah beberapa saat, ia memilih meja yang berada tidak jauh dari meja bar.

Posisinya memang tidak menghadap jendela, tetapi masih cukup nyaman untuk membaca.

Begitu ia menarik kursinya, Adrian datang menghampiri sambil membawa buku menu.

"Hari ini pindah markas?"

candanya.

Lulu terkekeh.

"Markasku sedang dipakai orang."

Adrian melirik ke arah jendela.

"Lumayan."

katanya sambil mengangguk.

"Berarti meja itu akhirnya berguna juga buat pelanggan lain."

Lulu tertawa kecil.

"Memangnya selama ini tidak berguna?"

"Berguna."

jawab Adrian cepat.

"Cuma aku mulai mengira meja itu sudah dipesan alam semesta."

Lulu menggeleng geli.

"Kamu memang selalu berlebihan."

"Sedikit."

balas Adrian sambil tersenyum.

"Kalau tidak begitu, nanti Rian yang terlalu serius."

"Aku dengar."

sahut Rian dari meja bar.

Adrian langsung menoleh.

"Memang sengaja."

Rian hanya mengembuskan napas pelan sambil mengambil cangkir dari rak.

Beberapa saat kemudian, ia berjalan menghampiri Lulu.

"Hari ini tetap pesan yang sama?"

tanyanya.

Lulu berpikir sejenak.

Pandangan matanya jatuh pada papan menu yang tergantung di belakang meja bar.

Beberapa nama minuman yang belum pernah dicobanya menarik perhatian.

"Aku mau coba yang lain."

ucap Lulu.

Rian terlihat sedikit terkejut.

"Serius?"

Lulu mengangguk sambil tersenyum.

"Iya."

"Katanya kemarin mulai penasaran."

"Lagipula..."

Lulu melirik cangkir-cangkir yang berjajar di rak.

"...kalau terus pesan yang sama, aku tidak pernah tahu rasa yang lain."

Rian mengangguk pelan.

"Itu juga benar."

Ia mengambil buku menu lalu membukanya di halaman minuman.

"Kalau begitu, aku rekomendasikan satu."

Lulu mendekatkan tubuhnya sedikit agar lebih mudah melihat.

"Yang mana?"

Rian menunjuk salah satu nama di bagian tengah menu.

"Kalau masih ingin rasa yang lembut, tapi sedikit berbeda dari latte, kamu bisa coba ini."

Lulu membaca nama minuman tersebut perlahan.

"Café au lait."

ucapnya.

"Bedanya apa?"

Rian tersenyum tipis.

"Nanti lebih seru kalau kamu menebaknya sendiri."

Lulu memandang Rian beberapa detik sebelum akhirnya tertawa pelan.

"Jawabanmu mirip guru yang memberi tugas."

"Masa?"

"Iya."

"Lihat, rasakan, lalu simpulkan."

Rian ikut tersenyum.

"Kurang lebih begitu."

Lulu menutup buku menu.

"Baiklah."

katanya mantap.

"Hari ini aku percaya rekomendasimu."

"Siap."

jawab Rian.

Ia menutup buku menu, lalu berjalan kembali ke meja bar.

Adrian yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka menyenggol pelan lengan Rian.

"Wah."

gumamnya pelan.

"Ada kemajuan."

Rian tetap menyiapkan gelas tanpa mengalihkan pandangan.

"Kemajuan apa?"

"Dulu dia datang karena penasaran sama tempat ini."

Adrian mengambil kain lap yang berada di sampingnya.

"Sekarang dia mulai penasaran sama kopi yang kamu buat."

Rian terdiam sejenak.

Tangannya tetap bekerja seperti biasa, menimbang bubuk kopi dengan gerakan yang tenang dan teratur.

Beberapa detik kemudian, senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

"Mudah-mudahan dia suka."

ucapnya pelan.

Sementara itu, dari meja yang baru dipilihnya, Lulu memperhatikan kesibukan di balik meja bar.

Lihat selengkapnya