Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #50

Episode 48 : Obrolan Sore

Chapter 3 - Episode 24 

Keesokan harinya, hujan rintik-rintik turun sejak jam pelajaran terakhir dimulai.

Butiran air yang mengenai jendela kelas membentuk garis-garis tipis, membuat suasana belajar berubah lebih tenang dibanding biasanya. Beberapa siswa terlihat mulai tidak sabar menunggu bel pulang, sementara yang lain justru menikmati udara sejuk yang masuk melalui celah-celah jendela.

Begitu bel berbunyi, suara kursi yang bergeser hampir terdengar bersamaan di seluruh kelas.

Sherly menutup bukunya lebih dulu lalu menghembuskan napas lega.

"Akhirnya selesai juga."

gumamnya sambil meregangkan kedua tangannya.

Lulu ikut memasukkan buku ke dalam tas, lalu melirik ke luar jendela.

"Hujannya masih belum berhenti."

"Iya." Sherly berdiri di samping mejanya.

"Untung aku bawa payung."

Ia kemudian menatap Lulu sambil tersenyum penuh arti.

"Kalau kamu?"

Lulu mengangkat payung lipat berwarna krem dari dalam tas.

"Aku juga."

Sherly mengangguk puas.

"Bagus."

Ia kemudian mengenakan tasnya sebelum kembali berkata,

"Kalau begitu, nanti tidak ada alasan buat tidak mampir."

Lulu tertawa kecil.

"Kamu masih ingat saja."

"Soalnya sekarang sudah gampang menebaknya."

Sherly berjalan lebih dulu menuju pintu kelas, lalu menoleh sambil berjalan mundur beberapa langkah.

"Coba aku tebak."

katanya dengan senyum jahil.

"Sepuluh menit lagi kamu pasti sudah ada di Arcane Brew."

Lulu hanya menggeleng sambil tertawa.

"Kamu percaya diri sekali."

"Bukan percaya diri." balas Sherly.

"Aku sudah hafal polanya."

Mereka keluar kelas bersama mengikuti arus siswa yang memenuhi koridor.

Di bawah atap gedung utama, sebagian siswa memilih menunggu hujan sedikit reda. Beberapa yang lain langsung membuka payung dan berlari kecil menuju gerbang sekolah.

Sherly membuka payungnya lebih dulu.

"Aku duluan, ya."

katanya.

"Ibuku sudah menunggu." Lulu Mengangguk.

"Hati-hati di jalan."

"Kamu juga."

Setelah Sherly pergi, Lulu masih berdiri beberapa saat di bawah teras.

Ia memperhatikan hujan yang turun dengan ritme pelan.

Udara yang lembap membawa aroma tanah yang khas, membuat suasana sore itu terasa berbeda dari biasanya.

Tanpa sadar, pikirannya melayang pada Arcane Brew.

Ia membayangkan jendela besar yang menghadap jalan, secangkir minuman hangat di atas meja, serta suara bel kecil yang selalu berbunyi setiap kali pintu terbuka.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Ternyata benar."

gumamnya pelan.

"Aku memang kepikiran ke sana."

Tidak ada lagi keraguan seperti beberapa minggu lalu.

Ia tidak perlu mencari alasan.

Tidak perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah ingin mampir atau langsung pulang.

Jawabannya datang dengan sendirinya.

Lulu membuka payung, lalu melangkah keluar dari gerbang sekolah.

Rintik hujan menemani setiap langkahnya menuju kawasan pertokoan.

Orang-orang berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya, sesekali menghindari genangan kecil yang mulai terbentuk di tepi jalan. Beberapa toko memasang papan bertuliskan Selamat Datang di depan pintu, mengundang siapa saja yang ingin berteduh.

Ketika Arcane Brew mulai terlihat dari kejauhan, Lulu memperlambat langkahnya.

Dari balik jendela yang sedikit berembun, ia melihat beberapa siluet pelanggan sedang menikmati sore mereka. Cahaya hangat dari dalam kedai memantul di permukaan jalan yang basah, menciptakan pemandangan yang entah mengapa terasa begitu menenangkan.

Lulu berdiri sejenak di seberang jalan.

Tatapannya tidak hanya tertuju pada bangunan itu, tetapi juga pada perasaan yang muncul setiap kali melihatnya.

Dulu, Arcane Brew hanyalah sebuah kedai yang kebetulan ia temukan sepulang sekolah.

Sekarang, tempat itu telah berubah menjadi tujuan yang selalu ia datangi, bahkan sebelum sempat memikirkannya.

Lulu tersenyum kecil, lalu menyeberangi jalan dengan langkah yang ringan.

Sesaat kemudian, bel kecil kembali berdenting lembut ketika ia membuka pintu Arcane Brew.

Kehangatan yang sudah dikenalnya segera menyambut bersama aroma kopi yang baru diseduh.

"Selamat sore."

Suara Rian terdengar dari balik meja bar, kali ini disertai senyum yang muncul lebih dulu sebelum sapaan itu selesai.

Lulu menutup payungnya, mengibaskan sisa tetesan air di ujungnya, lalu membalas senyum tersebut.

"Sore."

Ia memandang sekeliling ruangan sejenak sebelum berkata pelan,

"Di luar dingin sekali."

Rian mengangguk sambil mengambil sebuah handuk kecil dari rak di bawah meja.

"Kalau begitu, hari ini secangkir minuman hangat pasti terasa lebih enak daripada biasanya."

Lulu terkekeh pelan.

"Aku juga baru berpikir begitu."

Chapter 3 - Episode 24 

Keesokan harinya, hujan rintik-rintik turun sejak jam pelajaran terakhir dimulai.

Butiran air yang mengenai jendela kelas membentuk garis-garis tipis, membuat suasana belajar berubah lebih tenang dibanding biasanya. Beberapa siswa terlihat mulai tidak sabar menunggu bel pulang, sementara yang lain justru menikmati udara sejuk yang masuk melalui celah-celah jendela.

Begitu bel berbunyi, suara kursi yang bergeser hampir terdengar bersamaan di seluruh kelas.

Sherly menutup bukunya lebih dulu lalu mengembuskan napas lega.

"Akhirnya selesai juga."

gumamnya sambil meregangkan kedua tangannya.

Lulu ikut memasukkan buku ke dalam tas, lalu melirik ke luar jendela.

"Hujannya masih belum berhenti."

"Iya."

Sherly berdiri di samping mejanya.

"Untung aku bawa payung."

Ia kemudian menatap Lulu sambil tersenyum penuh arti.

"Kalau kamu?"

Lulu mengangkat payung lipat berwarna krem dari dalam tas.

"Aku juga."

Sherly mengangguk puas.

"Bagus."

Ia kemudian mengenakan tasnya sebelum kembali berkata,

"Kalau begitu, nanti tidak ada alasan buat tidak mampir."

Lulu tertawa kecil.

"Kamu masih ingat saja."

"Soalnya sekarang sudah gampang menebaknya."

Sherly berjalan lebih dulu menuju pintu kelas, lalu menoleh sambil berjalan mundur beberapa langkah.

"Coba aku tebak."

katanya dengan senyum jahil.

"Sepuluh menit lagi kamu pasti sudah ada di Arcane Brew."

Lulu hanya menggeleng sambil tertawa.

"Kamu percaya diri sekali."

"Bukan percaya diri."

balas Sherly.

"Aku sudah hafal polanya."

Mereka keluar kelas bersama mengikuti arus siswa yang memenuhi koridor.

Di bawah atap gedung utama, sebagian siswa memilih menunggu hujan sedikit reda. Beberapa yang lain langsung membuka payung dan berlari kecil menuju gerbang sekolah.

Sherly membuka payungnya lebih dulu.

"Aku duluan, ya."

katanya.

"Ibuku sudah menunggu."

Lulu mengangguk.

"Hati-hati di jalan."

"Kamu juga."

Setelah Sherly pergi, Lulu masih berdiri beberapa saat di bawah teras.

Ia memperhatikan hujan yang turun dengan ritme pelan.

Udara yang lembap membawa aroma tanah yang khas, membuat suasana sore itu terasa berbeda dari biasanya.

Tanpa sadar, pikirannya melayang pada Arcane Brew.

Ia membayangkan jendela besar yang menghadap jalan, secangkir minuman hangat di atas meja, serta suara bel kecil yang selalu berbunyi setiap kali pintu terbuka.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Ternyata benar."

gumamnya pelan.

"Aku memang kepikiran ke sana."

Tidak ada lagi keraguan seperti beberapa minggu lalu.

Ia tidak perlu mencari alasan.

Tidak perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah ingin mampir atau langsung pulang.

Jawabannya datang dengan sendirinya.

Lulu membuka payung, lalu melangkah keluar dari gerbang sekolah.

Rintik hujan menemani setiap langkahnya menuju kawasan pertokoan.

Orang-orang berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya, sesekali menghindari genangan kecil yang mulai terbentuk di tepi jalan. Beberapa toko memasang papan bertuliskan Selamat Datang di depan pintu, mengundang siapa saja yang ingin berteduh.

Ketika Arcane Brew mulai terlihat dari kejauhan, Lulu memperlambat langkahnya.

Dari balik jendela yang sedikit berembun, ia melihat beberapa siluet pelanggan sedang menikmati sore mereka. Cahaya hangat dari dalam kedai memantul di permukaan jalan yang basah, menciptakan pemandangan yang entah mengapa terasa begitu menenangkan.

Lulu berdiri sejenak di seberang jalan.

Tatapannya tidak hanya tertuju pada bangunan itu, tetapi juga pada perasaan yang muncul setiap kali melihatnya.

Dulu, Arcane Brew hanyalah sebuah kedai yang kebetulan ia temukan sepulang sekolah.

Sekarang, tempat itu telah berubah menjadi tujuan yang selalu ia datangi, bahkan sebelum sempat memikirkannya.

Lulu tersenyum kecil, lalu menyeberangi jalan dengan langkah yang ringan.

Sesaat kemudian, bel kecil kembali berdenting lembut ketika ia membuka pintu Arcane Brew.

Kehangatan yang sudah dikenalnya segera menyambut bersama aroma kopi yang baru diseduh.

"Selamat sore."

Suara Rian terdengar dari balik meja bar, kali ini disertai senyum yang muncul lebih dulu sebelum sapaan itu selesai.

Lulu menutup payungnya, mengibaskan sisa tetesan air di ujungnya, lalu membalas senyum tersebut.

"Sore."

Ia memandang sekeliling ruangan sejenak sebelum berkata pelan,

"Di luar dingin sekali."

Rian mengangguk sambil mengambil sebuah handuk kecil dari rak di bawah meja.

"Kalau begitu, hari ini secangkir minuman hangat pasti terasa lebih enak daripada biasanya."

Lulu terkekeh pelan.

"Aku juga baru berpikir begitu."

Lulu masih berdiri di dekat pintu sambil menutup payung lipatnya dengan perlahan. Beberapa tetes air jatuh dari ujung payung dan membasahi alas karet yang terbentang di depan pintu masuk.

Rian keluar dari balik meja bar sambil membawa sebuah wadah kayu yang memang disediakan khusus untuk menyimpan payung pelanggan.

"Titip di sini saja," ujarnya dengan nada tenang. "Biar nanti tidak repot membawanya ke meja."

Lulu menyerahkan payung itu sambil tersenyum kecil.

"Terima kasih."

"Kalau hujannya belum reda waktu pulang, tinggal diambil lagi."

Lulu mengangguk pelan.

"Semoga nanti sudah berhenti."

"Kalau belum juga, tidak usah terburu-buru pulang."

kata Rian.

"Banyak pelanggan yang biasanya memilih menunggu di sini sampai hujannya reda."

Lulu mengikuti arah pandangnya ke dalam ruangan.

Beberapa orang memang masih menikmati minuman mereka meski cangkir di atas meja hampir kosong. Ada yang membaca buku, ada yang berbincang santai, sementara seorang mahasiswa di dekat rak buku masih sibuk menatap layar laptopnya.

"Sepertinya memang begitu."

gumam Lulu.

"Suasananya juga enak buat menunggu."

Rian mengangguk kecil.

"Itu yang kami harapkan."

Sebelum percakapan mereka berlanjut, Adrian muncul dari arah dapur sambil membawa loyang roti yang baru keluar dari oven.

Aroma mentega yang hangat langsung memenuhi ruangan.

"Wah."

katanya begitu melihat Lulu.

"Kamu datang pas sekali."

Lulu tersenyum penasaran.

Lihat selengkapnya