Chapter 3 - Episode 25
Malam sebelumnya, hujan turun hingga larut.
Keesokan paginya, udara masih terasa sejuk ketika Lulu membuka jendela kamarnya. Daun-daun di halaman rumah tampak lebih segar setelah semalaman diguyur hujan, sementara sinar matahari perlahan menembus sela-sela awan yang belum sepenuhnya pergi.
Hari itu berjalan seperti biasanya.
Pelajaran berlangsung hingga sore tanpa kejadian yang benar-benar berbeda. Bahkan ketika bel pulang berbunyi, Lulu sempat mengira cuaca akan tetap cerah sampai malam.
Namun baru beberapa langkah meninggalkan gerbang sekolah, langit yang semula terang perlahan kembali berubah kelabu.
Lulu mendongak.
"Awan lagi..."gumamnya pelan.
Angin bertiup lebih dingin daripada biasanya.
Beberapa siswa mulai mempercepat langkah, seolah tahu hujan akan segera turun.
"Lulu."
Nara yang kebetulan berjalan beberapa meter di depannya berhenti sambil menoleh.
"Kamu bawa payung?"
Lulu mengangguk sambil mengangkat payung lipat dari dalam tas.
"Bawa."
"Syukurlah."
Nara tersenyum lega.
"Aku juga."
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, terdengar suara rintik pertama mengenai atap halte di seberang jalan.
Tak lama kemudian, hujan kembali turun.
Kali ini lebih deras daripada hari sebelumnya.
Nara spontan membuka payungnya.
"Aku duluan, ya."
katanya sambil tertawa kecil.
"Kalau terlambat sedikit, bisa keburu basah."
Lulu mengangguk.
"Hati-hati."
"Kamu juga."
Setelah Nara berlari kecil meninggalkan gerbang sekolah, Lulu masih berdiri beberapa saat di bawah kanopi.
Ia memperhatikan hujan yang semakin rapat membasahi jalan raya.
Suara air yang jatuh di atas aspal bercampur dengan deru kendaraan yang melintas perlahan, menciptakan suasana yang entah mengapa terasa menenangkan.
Lulu tersenyum kecil.
Dulu, hujan seperti ini biasanya membuatnya ingin segera sampai di rumah.
Sekarang, ada satu tempat lain yang selalu terlintas di pikirannya.
Ia membuka payung, lalu mulai berjalan menyusuri trotoar.
Butiran hujan memantul di permukaan jalan yang mulai dipenuhi genangan kecil. Beberapa pejalan kaki memilih berteduh di bawah teras toko, sementara yang lain mempercepat langkah agar segera sampai ke tujuan.
Sekitar lima belas menit kemudian, papan kayu bertuliskan Arcane Brew kembali terlihat di kejauhan.
Namun langkah Lulu melambat ketika melihat sesuatu yang berbeda.
Di bawah kanopi depan kedai, beberapa orang berdiri sambil melipat payung mereka.
Sebagian tertawa kecil karena celana mereka sempat terkena cipratan air.
Sebagian lagi baru saja keluar dari dalam dengan secangkir minuman yang dibawa menggunakan gelas kertas.
Pintu Arcane Brew terbuka dan tertutup berkali-kali.
Bel kecil di atasnya berdenting silih berganti, mengiringi pelanggan yang datang untuk berteduh maupun mereka yang hendak melanjutkan perjalanan.
Lulu memperhatikan pemandangan itu beberapa saat.
Tanpa disadari, senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
Tempat ini terasa hidup.
Bukan karena ramai.
Melainkan karena setiap orang datang membawa cerita yang berbeda.
Ada yang sekadar membeli kopi untuk dibawa pulang.
Ada yang memilih menunggu hujan reda.
Ada pula yang datang hanya untuk menikmati suasana sebelum kembali menghadapi kesibukan mereka.
Lulu melangkah mendekat.
Begitu membuka pintu, kehangatan yang sudah dikenalnya kembali menyambut.
"Selamat sore."
Suara Adrian terdengar lebih dulu dari balik meja kasir.
Ia sedang membungkus dua kantong roti untuk seorang pelanggan, tetapi masih sempat mengangkat tangan ketika melihat Lulu masuk.
"Wah, hujannya berhasil membawa pelanggan tetap lagi."
Lulu menutup payungnya sambil terkekeh pelan.
"Jangan salahkan hujannya."
"Lalu?"
Adrian tersenyum lebar.
"Kalau bukan hujan..."
Ia melirik ke arah Rian yang sedang menyiapkan pesanan di balik meja bar.
"...berarti memang ada yang sengaja ingin datang."
Lulu menggeleng sambil menahan senyum.
"Kamu selalu punya kesimpulan sendiri."
"Bukan kesimpulan."
balas Adrian ringan.
"Pengamatan."
Sebelum Lulu sempat membalas, Rian meletakkan cangkir yang baru selesai dibuat di hadapan pelanggan, lalu menoleh ke arahnya.
"Sore."
sapanya dengan nada tenang.
Lulu membalas senyum itu.
"Sore."
Rian sempat memperhatikan jaket Lulu yang bagian lengannya sedikit basah akibat hujan.
"Masih sempat kehujanan?"
"Tidak banyak."
jawab Lulu sambil mengusap pelan ujung lengan bajunya.
"Cuma waktu menyeberang jalan."
Rian mengangguk kecil.
"Kalau begitu, duduk dulu saja."
Ia melirik ke arah luar jendela yang masih dipenuhi rintik hujan.
"Hari ini sepertinya hujannya belum akan berhenti dalam waktu dekat."
Lulu mengikuti arah pandangnya.
Untuk pertama kalinya sejak sering datang ke Arcane Brew, ia tidak merasa terburu-buru untuk pulang.
Justru sore itu, ia merasa tidak keberatan jika hujan turun sedikit lebih lama.
Rian kembali ke balik meja bar setelah memastikan payung Lulu tersimpan rapi di dekat pintu masuk. Sementara itu, Lulu berdiri beberapa saat menikmati kehangatan yang langsung menyambut begitu ia memasuki kedai.
Perbedaan suhu antara udara di luar dan di dalam Arcane Brew terasa cukup jelas.
Baru beberapa menit berjalan di bawah hujan, ujung jemarinya sudah mulai terasa dingin. Kini perlahan rasa itu menghilang, berganti dengan aroma kopi yang memenuhi ruangan serta wangi roti yang baru selesai dipanggang dari arah dapur.
"Aku hampir lupa rasanya hujan deras begini."
gumam Lulu pelan sambil memandang ke luar jendela.
Rian yang sedang merapikan beberapa cangkir bersih mengangkat pandangannya.
"Kenapa?"
"Belakangan ini pulang sekolah selalu keburu sampai rumah sebelum hujan turun."
Lulu tersenyum kecil.
"Hari ini malah ketemu hujannya di jalan."
"Untung kamu bawa payung."
kata Rian.
"Iya."
Lulu terkekeh pelan.
"Kalau tidak, mungkin sekarang bajuku sudah benar-benar basah."
Rian mengangguk ringan sebelum melirik beberapa meja di dalam kedai.
"Hari ini memang sedikit lebih ramai."
katanya.
"Banyak yang mampir karena hujan."
Lulu mengikuti arah pandangnya.
Beberapa meja memang hampir penuh. Ada dua mahasiswa yang sedang berdiskusi sambil membuka laptop, sepasang pekerja kantoran yang tampaknya baru pulang, serta beberapa pelanggan lain yang memilih menikmati sore sambil memandangi hujan di balik jendela.
Namun berbeda dengan hari sebelumnya, meja dekat rak buku yang sempat ia tempati kini justru kosong.
"Lagi beruntung."
ucap Rian sambil tersenyum tipis.
Lulu memandang meja itu beberapa saat.
"Kalau yang dekat jendela?"
"Masih penuh."
jawab Rian.
"Tapi biasanya tidak lama lagi kosong."
Lulu menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa."
Ia tersenyum sebelum melanjutkan,
"Aku duduk di dekat rak buku saja."
"Mulai suka tempat itu?"
tanya Rian.
Lulu mengangguk.
"Iya."
"Dari sana ternyata suasananya juga enak."
"Kalau lagi ingin membaca..."
Ia melirik rak buku yang berdiri tepat di samping meja tersebut.
"...malah lebih tenang."
Rian menganggukkan kepala pelan.
"Setiap meja memang punya suasananya sendiri."
Kalimat itu membuat Lulu tersenyum.
"Berarti meja favorit setiap orang juga berbeda?"
"Mungkin."
jawab Rian.
"Ada yang selalu memilih dekat jendela."
"Ada yang lebih suka duduk di dekat meja bar supaya bisa mengobrol."
"Ada juga yang selalu memilih sudut ruangan karena ingin menikmati waktu sendirian."
Lulu perlahan berjalan menuju meja di dekat rak buku.
Ia meletakkan tasnya di kursi, kemudian membuka resletingnya untuk memastikan buku pelajaran yang dibawanya tidak terkena air hujan.
Syukurlah semuanya masih kering.
"Aman?"
tanya Rian yang masih berdiri tidak jauh darinya.
Lulu menghela napas lega.
"Untungnya aman."
"Kalau sampai basah..."
Ia tersenyum geli.
"...aku yang repot nanti."
Rian ikut tersenyum kecil.
"Berarti hari ini payungmu bekerja dengan baik."
Lulu tertawa pelan.
"Sepertinya begitu."
Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku pelajaran dan meletakkannya di atas meja.
Namun sebelum sempat membukanya, pandangannya kembali tertuju pada rak buku di sampingnya.
Beberapa judul yang kemarin sempat ia lihat kini terasa lebih akrab.
Tanpa sadar, ia berdiri lalu mengambil buku yang sama seperti kemarin.
"Masih penasaran?"
tanya Rian.
Lulu membalik beberapa halaman sambil mengangguk.
"Kemarin belum sempat lanjut."
"Baru baca beberapa halaman."
Rian memperhatikan buku itu sekilas.
"Buku itu memang tidak cepat selesai."
"Lho?"
"Semakin dibaca..."
Rian tersenyum tipis.
"...biasanya orang malah semakin pelan membacanya."
Lulu memandang sampul buku tersebut sebelum kembali menatap Rian.
"Kenapa begitu?"
"Karena ceritanya tidak terburu-buru."
jawab Rian tenang.
"Kalau membacanya terlalu cepat, banyak bagian kecil yang justru terlewat."
Lulu mengusap pelan sampul buku itu.
Entah mengapa, penjelasan tersebut mengingatkannya pada beberapa minggu terakhir.
Tentang sore-sore yang ia habiskan di Arcane Brew.
Tentang percakapan-percakapan sederhana yang tidak pernah berlangsung lama, tetapi selalu meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan.
Kalau dipikir-pikir, semuanya memang berjalan sangat pelan.
Namun ketika ia menoleh ke belakang, tanpa sadar sudah banyak hal yang berubah.
"Lulu."
Suara Adrian tiba-tiba terdengar dari arah dapur.
Ia keluar sambil membawa sebuah nampan berisi roti yang baru selesai dipanggang. Uap hangat masih terlihat tipis mengepul dari permukaannya, memenuhi ruangan dengan aroma mentega yang lembut.
"Wah, benar dugaanku."
katanya begitu melihat Lulu.
"Hujan memang selalu berhasil membawamu ke sini."
Lulu terkekeh kecil sambil menutup buku di tangannya.
"Boleh saja kamu bilang begitu."
Ia memandang ke luar jendela yang masih dipenuhi rintik hujan.
"Tapi kali ini..."
Lulu kembali menoleh kepada Adrian dengan senyum yang jauh lebih santai daripada beberapa minggu lalu.
"...aku memang ingin datang, meskipun tidak hujan."
Ucapan Lulu membuat Adrian berhenti tepat di depan meja.
Ia masih memegang nampan berisi beberapa roti yang baru keluar dari oven. Uap tipis terus mengepul dari permukaannya, membawa aroma mentega yang langsung memenuhi sudut ruangan tempat Lulu duduk.
Adrian menatap Lulu beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
"Kalau begitu..."
gumamnya pelan.
"...aku boleh menganggap itu kabar baik."
Lulu mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa?"
"Soalnya berarti Arcane Brew sudah menang."
Lulu tertawa pelan.
"Menang dari siapa?"
"Dari hujan."
jawab Adrian tanpa ragu.
"Dulu hujan yang membawamu ke sini."
"Sekarang..."
Ia mengangkat bahu sambil tersenyum.
"...meski cuacanya cerah, kamu tetap datang."
Lulu tidak langsung menjawab.
Kalau dipikir-pikir, Adrian memang tidak sepenuhnya salah.
Pada awalnya, Arcane Brew hanyalah tempat yang ia temukan secara kebetulan.
Lalu tempat untuk beristirahat.
Kemudian menjadi tempat yang ia datangi ketika ingin menenangkan pikiran.
Dan sekarang...
Ia datang karena memang ingin datang.
Perubahan itu terjadi begitu pelan hingga bahkan dirinya sendiri baru benar-benar menyadarinya ketika mengucapkan kalimat tadi.
"Aku baru sadar."
ucap Lulu sambil tersenyum kecil.
"Beberapa minggu yang lalu, aku pasti langsung pulang."
Adrian menarik kursi di seberang Lulu, tetapi hanya menyandarkan satu tangan pada sandarannya. Ia tetap berdiri karena masih mengenakan celemek kerja.
"Lalu sekarang?"
Lulu memandang keluar jendela.
Hujan masih turun dengan ritme yang tenang. Lampu kendaraan memantul di permukaan jalan yang basah, sementara beberapa pejalan kaki mempercepat langkah agar tidak terlalu lama berada di luar.
"Rasanya..."
Ia berhenti sejenak, berusaha memilih kata yang paling tepat.
"...kalau langsung pulang, ada sesuatu yang kurang."
Adrian tersenyum.
"Aku mengerti."
"Benarkah?"
"Iya."
Ia melirik sekeliling ruangan.
"Ada pelanggan yang setiap Jumat sore selalu duduk di meja dekat jendela."
"Kalau mejanya dipakai orang lain, dia tetap datang."
"Kalau kopi favoritnya habis, dia pesan yang lain."
"Tapi dia tetap datang."
Lulu mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kenapa?"
"Karena yang dia cari ternyata bukan cuma kopinya."
jawab Adrian.
"Lalu?"
"Katanya..."
Adrian terkekeh kecil mengingat percakapan beberapa waktu lalu.
"...habis seminggu bekerja, dia cuma ingin duduk di tempat yang membuat pikirannya tenang."
Lulu perlahan mengangguk.
Kalimat itu terasa begitu dekat dengan apa yang selama ini ia rasakan.
Ia memang menikmati kopi yang dibuat Rian.
Ia juga menyukai roti buatan Adrian.
Namun jika ditanya alasan terbesar mengapa ia selalu kembali, jawabannya mungkin jauh lebih sederhana.
Ia merasa nyaman.
Tidak ada yang menuntutnya menjadi ketua OSIS.
Tidak ada yang meminta dirinya terlihat sempurna.
Ia bisa membaca buku, mengerjakan tugas, atau sekadar menikmati sore tanpa merasa harus melakukan sesuatu.
Arcane Brew memberinya ruang untuk berhenti sejenak.
Dan ruang itu ternyata sangat ia butuhkan.
"Lagi ngobrol apa?"
Suara Mira terdengar dari arah kasir.
Ia baru saja selesai membantu pelanggan melakukan pembayaran, lalu berjalan menghampiri meja Lulu sambil membawa secangkir teh hangat untuk dirinya sendiri.
"Sedang membahas pelanggan tetap."
jawab Adrian.
Mira tersenyum kecil.
"Wah."
Ia melirik Lulu.
"Kalau begitu, orang yang paling tepat memang sedang duduk di sini."
Lulu spontan tertawa.
"Kak Mira juga mulai begitu."
"Aku cuma mengatakan kenyataan."
Mira duduk di kursi kosong di samping Lulu.
"Pertama kali datang ke sini, kamu masih sering melihat jam."
Lulu mencoba mengingat.
"Memang?"
"Iya."
Mira mengangguk.
"Hampir setiap lima menit."
"Seolah-olah takut terlalu lama berada di luar rumah."
Lulu menunduk sambil tersenyum malu.
"Aku tidak sadar."
"Sekarang berbeda."
lanjut Mira.
"Kadang aku yang mengingatkan kalau hari sudah mulai malam."
Adrian tertawa pelan.
"Itu namanya perkembangan."
Lulu menggeleng sambil ikut tertawa.
"Kenapa kalian jadi kompak menggodaku?"
"Bukan menggodamu."
Mira mengangkat cangkir tehnya.
"Kami cuma senang melihatmu lebih santai."
Kalimat itu membuat Lulu terdiam.
Ia memandang kedua orang di hadapannya bergantian.
Adrian sedang merapikan beberapa penjepit menu yang tertinggal di atas meja.
Mira menikmati tehnya sambil sesekali memperhatikan hujan di luar.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan sesuatu untuk membuatnya merasa harus berubah.
Mereka juga tidak pernah memaksa dirinya agar lebih sering datang.
Mereka hanya menerima kehadirannya, apa adanya.
Mungkin justru karena itulah ia bisa berubah sedikit demi sedikit.
"Lulu."
Rian memanggil dari balik meja bar.
"Ada satu menu baru yang sedang kami coba."
Lulu mengangkat wajahnya.
"Menu baru?"
Rian mengangguk.
"Belum masuk daftar menu."
"Tapi kalau kamu tidak keberatan..."
Ia tersenyum tipis.
"...mau jadi orang pertama yang mencicipinya?"
Lulu berkedip pelan.
Ia melirik Adrian, lalu Mira.
Keduanya hanya tersenyum seolah sudah mengetahui sesuatu yang belum ia ketahui.