Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #52

Episode 50 : Hari yang sibuk

Chapter 2 - Episode 26  

Sabtu pagi di sekolah selalu terasa lebih ramai.

Kegiatan klub berjalan bersamaan dengan rapat beberapa organisasi, ditambah siswa yang tetap datang meski tidak memiliki jadwal karena ingin mengerjakan tugas bersama.

Lulu menutup map berisi daftar kegiatan OSIS yang baru selesai diperiksa.

"Berarti tinggal dekorasi buat minggu depan."

kata Nisa sambil memberi tanda pada buku catatannya.

"Iya." jawab Lulu.

"Spanduk juga sudah dipesan."

"Bagus."

Nisa meregangkan badan.

"Akhirnya selesai."

Lulu ikut tersenyum. Mereka sudah hampir dua jam duduk di ruang OSIS. Meja yang tadi penuh kertas kini mulai rapi. Beberapa anggota lain juga mulai berpamitan karena urusan mereka sudah selesai.

"Ketua."

Seorang adik kelas menghampiri sambil membawa kotak kardus kecil.

"Banner yang kemarin."

Lulu membuka isinya sebentar.

"Warnanya sudah sesuai."

"Kalau begitu aku simpan di gudang dulu."

"Biar aku saja."

Adik kelas itu langsung mengangkat kardus tersebut.

"Enggak berat kok."

"Makasih."

"Sama-sama."

Begitu ruangan mulai sepi, Nisa melirik Lulu.

"Kamu langsung pulang?"

Lulu sempat berpikir.

"Belum tahu."

"Hm?"

"Mungkin mampir dulu."

"Ke toko buku?"

Lulu menggeleng.

"Bukan."

"Arcane Brew?"

Lulu tersenyum kecil.

"Iya."

Nisa langsung tertawa.

"Ketahuan."

"Memangnya kelihatan?"

"Banget."

Lulu memasukkan pulpen ke dalam tempat pensilnya.

"Aku memang mau beli rotinya."

"Yakin cuma roti?"

Lulu menoleh sambil tertawa kecil.

"Iya."

Nisa hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu tidak melanjutkan godaannya.

Mereka berjalan keluar dari ruang OSIS bersama. Koridor sekolah masih dipenuhi beberapa siswa yang baru selesai latihan basket. Dari arah lapangan terdengar peluit guru olahraga, sementara suara musik dari aula sesekali terbawa angin.

Di gerbang sekolah, mereka berpisah.

"Duluan ya."

"Hati-hati."

"Kamu juga."

Lulu mengenakan tas di bahunya lalu berjalan menuju halte.

Hari itu langit jauh lebih cerah dibanding sore kemarin. Jalanan masih sedikit basah di beberapa bagian, tetapi matahari sudah muncul sejak pagi.

Bus datang tidak lama kemudian.

Lulu memilih duduk di dekat jendela.

Perjalanan menuju Arcane Brew memakan waktu sekitar dua puluh menit. Selama di bus, ia hanya melihat keluar sambil sesekali membuka ponselnya. Grup OSIS masih ramai dengan pesan-pesan tentang jadwal minggu depan. Setelah membalas dua pesan, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Beberapa menit kemudian bus berhenti di halte yang sudah dikenalnya.

Lulu turun, lalu berjalan menyusuri trotoar.

Dari kejauhan papan kayu bertuliskan Arcane Brew sudah terlihat.

Sebelum sempat membuka pintu, Lulu bisa melihat suasana di dalam melalui jendela.

Lebih ramai dari biasanya.

Beberapa meja sudah terisi penuh.

Dua orang tampak mengantre di depan kasir.

Adrian sedang mengangkat nampan berisi minuman, sementara Mira membantu pelanggan memilih roti di etalase.

Lulu mendorong pintu.

Bel kecil langsung berbunyi.

Adrian yang sedang berjalan membawa pesanan sempat menoleh.

"Lho."

"Kamu jadi datang."

Lulu tersenyum.

"Tadi kan sudah bilang mungkin."

"Berarti hari ini termasuk mungkin."

balas Adrian sambil tertawa.

"Nunggu sebentar ya."

"Lagi ramai."

"Iya."

"Enggak apa-apa."

Lulu melihat sekeliling mencari tempat kosong.

Hanya ada satu meja kecil di dekat rak buku yang belum terisi.

Ia berjalan ke sana, meletakkan tasnya, lalu duduk.

Belum sampai satu menit, Mira sudah datang sambil membawa segelas air putih.

"Ini dulu."

"Terima kasih, Kak."

"Sama-sama."

Mira melihat ke arah antrean kasir yang mulai bertambah lagi.

"Hari Sabtu memang begini."

"Ramai terus?"

"Hampir dari jam sebelas."

Lulu melihat jam tangannya.

Sekarang baru menunjukkan pukul dua belas lewat sedikit.

"Masih panjang."

gumamnya.

Mira mengangguk sambil tersenyum.

"Iya."

"Biasanya baru agak sepi nanti sore."

Tak lama kemudian Adrian lewat lagi sambil membawa dua gelas es kopi.

Ia melambat sebentar ketika melewati meja Lulu.

"Pesananmu tunggu lima menit ya."

Lulu mengangguk.

"Aku belum pesan."

Adrian berhenti.

"Oh iya."

Ia tertawa sambil menggeleng.

"Refleks."

"Lihat kamu duduk, kirain sudah pesan."

"Kalau begitu nanti aku balik lagi."

"Oke."

Adrian kembali melanjutkan langkahnya menuju meja pelanggan.

Lulu memperhatikan suasana kedai yang hari itu jauh berbeda dari sore kemarin. Obrolan terdengar dari hampir setiap meja, mesin espresso bekerja tanpa banyak jeda, dan aroma roti yang baru keluar dari oven terus memenuhi ruangan.

Baru beberapa menit duduk, ia sudah mengerti kenapa Adrian bilang hari Sabtu selalu lebih sibuk.

Adrian baru sempat menghampiri meja Lulu sekitar sepuluh menit kemudian. Ia membawa buku catatan kecil yang biasa dipakai untuk mencatat pesanan.

"Maaf ya."

katanya sambil tersenyum.

"Hari ini agak kewalahan."

Lulu menggeleng.

"Kelihatan."

"Padahal baru siang."

"Iya."

Adrian melihat sekeliling sebentar.

"Kalau jam makan siang sama akhir pekan ketemu, biasanya begini."

Ia membuka buku catatannya.

"Seperti biasa?"

Lulu membaca papan menu yang berdiri di sudut meja.

"Hari ini aku mau coba yang lain."

"Wah."

Adrian mengangguk antusias.

"Akhirnya."

"Kenapa akhirnya?"

"Soalnya tiap pelanggan yang sudah mulai sering datang pasti ada fase mulai nyoba menu lain."

Lulu tertawa kecil.

"Memangnya ada fasenya?"

"Versi pengamatanku ada."

Adrian menunjuk papan menu.

"Awalnya pesan menu yang paling aman."

"Terus?"

"Kalau sudah cocok sama tempatnya, mulai penasaran."

"Kalau sudah penasaran?"

"Mulai bilang, 'yang biasa aja deh' atau 'coba rekomendasi hari ini'."

Lulu memperhatikan daftar minuman lagi.

"Kalau menurutmu?"

"Rekomendasi?"

"Iya."

Adrian berpikir sebentar.

"Kalau hari ini..."

Ia melirik ke arah Rian yang sedang menyeduh kopi.

"...coba caramel latte."

"Manis?"

"Sedikit."

"Masih ada rasa kopinya."

"Oke."

Lulu menutup menu.

"Yang itu saja."

"Ukuran biasa?"

"Iya."

"Terus..."

Adrian melihat etalase roti.

"Hari ini enggak mau beli roti yang bentuknya bagus?"

Lulu langsung tertawa.

"Kamu masih ingat."

"Soalnya kemarin kamu janji."

"Kalau begitu..."

Lulu berdiri sebentar mendekati etalase.

"Yang ini."

Ia menunjuk roti berbentuk bulat dengan lapisan gula tipis di atasnya.

"Butter milk bun?"

"Iya."

"Itu favorit Kak Mira."

Mira yang sedang lewat langsung menoleh.

"Lho."

"Kok aku dibawa-bawa?"

Adrian menunjuk roti yang dipilih Lulu.

"Aku cuma bilang ini favorit Kak Mira."

"Oh."

Mira mengangguk.

"Yang itu memang enak."

Lulu tersenyum.

"Kalau begitu sekalian saja."

"Oke."

Adrian menulis pesanan dengan cepat.

"Satu caramel latte."

"Satu butter milk bun."

"Siap."

Begitu Adrian berjalan kembali ke arah bar, Lulu memperhatikan antrean yang belum juga berkurang.

Beberapa pelanggan tampak saling mengobrol sambil menunggu pesanan. Di meja dekat jendela ada keluarga kecil dengan seorang anak laki-laki yang sejak tadi sibuk menggambar di atas kertas.

Sesekali anak itu memperlihatkan gambarnya kepada ibunya.

"Ini kucing."

Ibunya mengangguk.

"Lucu."

"Tapi ekornya kepanjangan."

"Memang."

Anak itu menjawab dengan wajah serius.

"Soalnya habis makan banyak."

Lulu menahan tawanya.

Tak lama kemudian Rian datang membawa secangkir caramel latte.

"Coba dulu."

katanya sambil meletakkan cangkir di depan Lulu.

"Rotinya sebentar lagi."

"Terima kasih."

Rian mengangguk lalu kembali ke meja bar.

Lulu mengangkat cangkirnya. Aroma karamelnya lebih terasa dibanding minuman yang ia coba kemarin. Ia mengambil satu tegukan kecil, lalu mengangguk pelan.

Saat Adrian lewat membawa pesanan lain, Lulu mengangkat ibu jarinya.

Adrian membalas dengan senyum lebar.

"Berarti aman."

Lima menit kemudian butter milk bun menyusul datang.

Adrian meletakkan piring kecil di depannya.

"Nah."

"Yang bentuknya bagus."

Lulu melihat rotinya sebentar lalu tertawa.

"Memang lebih rapi."

"Kan."

Adrian terlihat cukup puas.

"Kalau yang kemarin?"

"Yang kemarin juga enak."

"Lega."

Adrian mengembuskan napas dramatis sambil menepuk dada.

"Aku kira bakal dibanding-bandingin."

"Ya dibandingkan."

jawab Lulu santai.

"Tapi yang kemarin gratis."

"Itu enggak adil."

Lulu tertawa.

"Justru adil."

"Kalau gratis rasanya memang jadi lebih enak."

Adrian langsung menoleh ke arah Mira.

"Dengar, Kak?"

"Itu teori baru."

Mira yang sedang menyusun gelas hanya tersenyum.

"Kayaknya benar juga."

Adrian menggeleng sambil ikut tertawa.

"Kalau begitu mulai besok semuanya gratis saja."

"Jangan."

kata Mira cepat.

"Nanti kita yang rugi."

"Benar juga."

Semua ikut tertawa.

Suasana kembali sibuk ketika tiga pelanggan baru masuk hampir bersamaan. Adrian meminta izin lalu kembali menyambut mereka, sementara Rian mulai menyiapkan pesanan berikutnya.

Lulu memotong rotinya menjadi dua bagian kecil. Baru satu gigitan, ponselnya yang berada di atas meja bergetar.

Nama Sherly muncul di layar.

Lulu segera mengangkatnya.

"Halo?"

"Lagi di mana?"

Suara Sherly terdengar cukup jelas meski di seberang terdengar ramai.

"Di Arcane Brew."

"Serius?"

"Iya."

Sherly tertawa.

"Tunggu lima belas menit."

"Aku lagi di toko buku sebelah."

Lulu spontan menoleh ke arah jendela, seolah bisa melihat toko yang dimaksud dari tempat duduknya.

"Mau ke sini?"

"Iya."

"Aku lapar."

"Lagipula kamu sudah duluan."

Lulu tersenyum.

"Ya sudah."

"Aku tunggu."

"Jangan habiskan semua rotinya."

Sambungan telepon terputus.

Lulu meletakkan kembali ponselnya di atas meja, lalu tersenyum sendiri.

Hari yang tadinya ia kira hanya akan diisi dengan secangkir kopi dan sedikit waktu istirahat, tampaknya akan berubah menjadi sore yang lebih ramai.

Sekitar sepuluh menit kemudian, bel di atas pintu kembali berbunyi.

Sherly masuk sambil membawa tas kain yang tampak penuh. Begitu melihat Lulu duduk di dekat rak buku, ia langsung mengangkat tangan.

"Lulu!"

Lulu ikut melambaikan tangan.

"Di sini."

Sherly berjalan menghampiri, lalu menjatuhkan dirinya ke kursi di depan Lulu.

"Akhirnya duduk juga."

Ia meletakkan tasnya di lantai.

"Toko bukunya rame?"

tanya Lulu.

"Banget."

"Ada diskon akhir pekan."

Sherly mengeluarkan dua buku dari dalam tas.

"Lihat."

Lulu mengambil salah satunya.

"Kamu beli dua?"

"Iya."

"Padahal niatnya cuma lihat-lihat."

Lulu tertawa.

"Kayaknya setiap orang yang bilang 'cuma lihat-lihat' pasti pulangnya bawa belanjaan."

"Makanya."

Sherly mengangguk serius.

"Aku korban diskon."

Adrian yang kebetulan lewat berhenti di samping meja.

"Wah."

"Hari ini nambah satu pelanggan."

Sherly menoleh.

"Halo."

"Halo juga."

Adrian membuka buku catatannya.

"Sudah tahu mau pesan apa?"

Sherly langsung melihat ke arah etalase.

"Itu yang bulat apa?"

"Buttermilk bun."

"Enak?"

Adrian menunjuk Lulu.

"Coba tanya yang lagi makan."

Sherly menoleh ke Lulu.

"Gimana?"

Lulu mengangguk.

"Enak."

"Oke."

"Kalau minumnya?"

Adrian berpikir sebentar.

"Kamu suka kopi?"

"Suka."

"Tapi jangan pahit."

"Hm..."

Adrian melirik Rian yang sedang menyusun gelas.

"Kak."

"Kalau buat yang suka manis?"

Rian menjawab tanpa menghentikan pekerjaannya.

"Vanilla latte."

"Oke."

Adrian kembali menoleh ke Sherly.

"Vanilla latte."

Sherly mengangguk.

"Ya sudah, itu saja."

"Satu vanilla latte."

"Satu buttermilk bun."

"Siap."

Begitu Adrian pergi, Sherly langsung melihat sekeliling ruangan.

"Pantes kamu betah."

Lulu mengikuti arah pandangnya.

"Kenapa?"

"Enak."

"Enggak terlalu berisik."

"Padahal lagi ramai."

Lulu baru menyadarinya.

Memang banyak orang di dalam kedai, tetapi suara percakapan mereka saling bercampur menjadi dengungan yang nyaman didengar. Tidak ada musik yang diputar terlalu keras. Suara mesin kopi sesekali terdengar, lalu menghilang lagi di antara obrolan para pelanggan.

Sherly menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Kalau habis kegiatan sekolah enak juga mampir ke sini."

"Iya."

jawab Lulu.

"Aku biasanya beberapa lama di sini."

"Sendirian?"

"Kadang."

"Kadang ngobrol."

Sherly mengangguk kecil.

"Kelihatan."

"Kelihatan apa?"

"Kamu sudah kenal semuanya."

Lulu tersenyum sambil mengambil sepotong roti.

"Sudah lumayan."

"Yang mana Rian?"

Lulu menunjuk ke arah bar.

"Yang lagi bikin kopi."

Sherly memperhatikan beberapa detik.

"Oh."

"Terus Adrian?"

"Yang mondar-mandir."

Sherly langsung tertawa.

"Deskripsinya gampang banget."

"Soalnya memang begitu."

Belum lama mereka mengobrol, Adrian datang membawa pesanan Sherly.

"Vanilla latte."

Ia meletakkan cangkir lebih dulu.

"Lalu ini buttermilk bun."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Adrian hendak kembali bekerja, tetapi Sherly memanggilnya lagi.

"Mas."

"Iya?"

"Kalian setiap Sabtu memang seramai ini?"

"Iya."

"Besok lebih ramai lagi."

Sherly membelalakkan mata.

"Lho, masih bisa lebih ramai?"

"Bisa."

Adrian tertawa.

"Kadang sampai enggak sempat duduk."

"Pantes."

Sherly melihat ke arah meja-meja yang hampir semuanya terisi.

"Tadi aku kira ini sudah penuh."

"Masih belum."

jawab Adrian sambil tersenyum.

"Nanti sekitar jam tiga baru mulai penuh."

"Berarti bentar lagi."

"Iya."

Adrian pamit kembali melayani pelanggan.

Sherly mengambil cangkirnya lalu mencicipi vanilla latte.

Beberapa detik kemudian ia mengangguk puas.

"Enak."

Lulu tersenyum.

"Kan."

"Kenapa baru ngajak sekarang?"

"Aku enggak ngajak."

Sherly menatap Lulu.

"Lho?"

"Kamu sendiri yang datang."

"Oh iya juga."

Mereka berdua tertawa.

Di meja sebelah, dua pelanggan baru saja selesai makan dan berdiri untuk membayar. Belum sampai satu menit setelah mereka pergi, sepasang mahasiswa masuk dan langsung menempati meja yang kosong itu.

Sherly memperhatikan pemandangan tersebut.

"Mejanya cepat banget kepakai lagi."

"Iya."

kata Lulu.

"Dari tadi begitu."

Sherly mengangguk sambil mengambil sepotong roti.

"Kayaknya kalau buka dari pagi sampai malam, orangnya gantian terus."

Lulu belum sempat menjawab ketika Rian berjalan melewati meja mereka sambil membawa teko berisi air.

"Cangkirnya boleh aku tambah air?"

tanyanya kepada Lulu.

"Boleh."

Rian mengisi gelas air mereka berdua, lalu mengangguk kecil kepada Sherly.

"Selamat menikmati."

"Terima kasih."

Setelah Rian kembali ke bar, Sherly tersenyum sambil menatap Lulu.

"Sekarang aku ngerti."

"Mengerti apa?"

"Kenapa kamu sering ke sini."

Lulu hanya tersenyum kecil sambil kembali menikmati kopinya. Obrolan mereka berlanjut ke cerita-cerita sekolah, tugas yang belum selesai, dan buku-buku yang baru dibeli Sherly, sementara suasana Arcane Brew tetap ramai oleh pelanggan yang datang silih berganti.

"Aku baru ingat."

Sherly mengambil salah satu buku dari dalam tasnya lalu mendorongnya ke arah Lulu.

"Lihat yang ini."

Lulu membaca sampulnya sebentar.

"Bukunya baru keluar?"

"Minggu ini."

Sherly membuka beberapa halaman.

"Aku baca sinopsisnya tadi. Kayaknya seru."

Lulu membalik beberapa halaman dengan hati-hati.

"Kamu memang selalu cepat tahu buku baru."

"Soalnya tiap minggu mampir."

Sherly tertawa kecil.

"Mas-mas tokonya sampai hafal."

"Datang lagi, Mbak?"

Lulu menirukan nada seseorang.

Sherly langsung tertawa.

"Iya, persis begitu."

"Kemarin malah ditanya, 'lanjutan seri yang kemarin sudah selesai?'"

"Habis itu?"

"Aku bilang belum."

"Lima menit kemudian beli lagi."

Lulu menggeleng sambil tersenyum.

"Berarti memang susah berhenti."

"Susah."

Sherly menyesap vanilla lattenya.

"Eh, kamu sendiri akhir-akhir ini masih sempat baca?"

"Masih."

"Di rumah?"

"Kadang."

"Kadang di sini."

Sherly melihat rak buku di samping mereka.

"Boleh ambil?"

"Boleh."

"Lumayan banyak juga."

Sherly berdiri lalu berjalan ke rak. Ia membaca judul-judul yang tersusun rapi sambil sesekali menarik satu buku, melihat sampul belakangnya, lalu mengembalikannya lagi.

"Campur ya."

"Iya."

kata Lulu.

"Ada novel, ada buku masak, ada fotografi."

"Bahkan komik juga ada."

Sherly mengeluarkan sebuah komik tipis.

"Ini lucu."

"Itu sering dipinjam anak kecil."

Suara Mira terdengar dari belakang mereka.

Sherly menoleh.

"Oh, Kak."

Mira tersenyum.

"Kalau akhir pekan biasanya ada keluarga yang datang bawa anak."

"Pantes."

Sherly mengembalikan komik itu ke tempat semula.

"Rak bukunya enggak cuma pajangan."

"Iya."

"Kami memang sengaja dibebaskan buat dibaca."

Sherly kembali duduk.

"Kalau ada yang lupa balikin?"

"Pernah."

jawab Mira sambil tertawa kecil.

"Tapi besoknya dibalikin."

"Lega."

"Iya."

Mira melihat meja mereka.

"Rotinya cocok?"

Sherly mengangguk cepat.

"Enak."

"Lembut."

"Lulu juga tadi bilang begitu."

Mira tersenyum puas.

"Nanti Adrian senang dengarnya."

Seolah mendengar namanya dipanggil, Adrian keluar dari dapur sambil membawa loyang kosong.

"Ada apa?"

"Kata Sherly rotinya enak."

"Oh."

Adrian mengangguk mantap.

"Berarti hari ini berhasil."

Sherly tertawa.

"Memangnya ada kemungkinan gagal?"

"Selalu ada."

jawab Adrian santai.

"Kemarin aku salah ngitung garam."

Lulu menoleh.

"Yang mana?"

"Untung belum dijual."

Sherly langsung tertawa.

"Rasanya gimana?"

"Aneh."

"Lumayan bikin semangat minum."

Ucapan Adrian membuat Lulu dan Sherly ikut tertawa.

"Diminum terus?"

tanya Lulu.

"Enggak."

"Semua keburu dicicipin sama aku."

"Lalu?"

"Aku langsung bikin lagi."

Adrian mengangkat loyang di tangannya.

"Makanya sekarang lebih hati-hati."

Di dekat pintu, seorang pelanggan melambaikan tangan.

"Mas."

"Bayar."

"Datang."

balas Adrian.

Ia buru-buru menuju kasir.

Sherly memperhatikan kepergiannya lalu berbisik pelan kepada Lulu.

"Orangnya memang begini?"

Lulu mengangguk.

"Dari pertama ketemu."

"Capek enggak ya?"

"Kayaknya enggak kelihatan."

Sherly mengaduk pelan minumannya.

"Kalau aku disuruh mondar-mandir terus mungkin sudah duduk dari tadi."

Lulu tersenyum.

"Dia tadi juga bilang belum sempat duduk."

"Serius?"

"Iya."

Sherly melihat ke arah Adrian yang kini sedang membantu Mira membungkus beberapa roti untuk dibawa pulang pelanggan.

"Berarti pas toko tutup langsung tidur."

Lulu tertawa kecil.

"Bisa jadi."

Ponsel Sherly tiba-tiba bergetar di atas meja.

Ia melihat layarnya sebentar.

"Ibuku."

Sherly mengangkat panggilan itu.

"Halo, Bu."

"Iya, masih di luar."

"Sebentar lagi."

"Iya."

"Oke."

Telepon ditutup.

"Disuruh pulang?"

tanya Lulu.

"Iya."

"Katanya nanti sore ada tamu."

Sherly mulai memasukkan kedua bukunya kembali ke dalam tas.

"Aku enggak bisa lama-lama."

Lulu mengangguk.

"Untung tadi sempat ketemu."

"Iya."

Sherly berdiri sambil merapikan tali tas di bahunya.

"Lain kali kalau ke sini lagi, kabarin."

"Biar enggak datang sendiri."

"Boleh."

Lulu ikut berdiri.

"Aku antar sampai depan."

Mereka berjalan menuju kasir. Sherly mengeluarkan dompetnya, tetapi Adrian lebih dulu menggeleng.

"Sudah dibayar?"

tanya Sherly.

Adrian melihat layar kasir.

"Belum."

"Nah, berarti boleh."

Sherly menyerahkan uangnya sambil tersenyum.

"Lain kali aku coba menu rekomendasi yang lain."

"Boleh."

jawab Adrian.

"Tinggal bilang saja lagi pengin yang seperti apa."

"Sip."

Sherly melambaikan tangan ke arah Rian dan Mira.

Lihat selengkapnya