Chapter 3 - Episode 1
Matahari terbit pada Pagi hari lebih cepat dari yang Lulu perkirakan, Akhir pekan yang kemarin terasa panjang kini sudah berganti dengan kembali ke rutinitas sekolah.
Setelah berpamitan kepada Ayah dan Ibunya, Lulu naik bus seperti biasa. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang berangkat bekerja, sementara halte yang dilewati perlahan dipenuhi siswa dari berbagai sekolah.
Sesampainya di gerbang sekolah, suasana sudah ramai. Beberapa siswa berjalan terburu-buru menuju kelas, sebagian lain masih sempat berhenti di kantin untuk membeli sarapan. Dari kejauhan Sherly melambaikan tangan sambil membawa dua kotak susu.
"Lulu! Di sini."
Lulu menghampiri sahabatnya sambil tersenyum. "Pagi. Kamu datang lebih awal hari ini."
Sherly menyerahkan salah satu kotak susu yang dibawanya. "Tadi Ayah sekalian lewat, jadi aku diantar. Daripada minum sendirian, sekalian kubelikan satu buat kamu."
Mereka berjalan berdampingan menuju gedung kelas sambil menikmati susu yang baru dibeli. Percakapan mereka berpindah dari tugas sekolah, rapat OSIS minggu depan, sampai cerita singkat tentang akhir pekan masing-masing.
"Adikku akhirnya jadi beli tiga buku," cerita Sherly sambil menggeleng pelan. "Niatnya cuma satu. Begitu masuk toko buku, semua kelihatan menarik."
Lulu tertawa membayangkannya. "Memang begitu kalau sudah suka baca."
"Iya. Terus pulangnya malah aku yang disuruh bawain kantongnya."
"Kasihan juga."
"Makanya. Minggu depan aku enggak mau lagi diajak."
Sherly berhenti sejenak, lalu melirik Lulu dengan senyum yang sedikit usil.
"Ngomong-ngomong..."
"Apa?"
"Kamu jadi kepikiran Arcane Brew lagi enggak?"
Lulu sedikit terdiam.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya muncul hampir tanpa perlu dipikirkan.
"Iya."
Sherly langsung tersenyum lebih lebar.
"Tuh, kan."
"Bukan karena apa-apa."
Lulu mencoba menjelaskan sambil tersenyum malu. "Cuma... rasanya pengin mampir lagi. Soalnya masih banyak menu yang belum sempat dicoba."
"Hmm."
Sherly mengangguk pelan, jelas belum sepenuhnya percaya.
"Cuma menu?"
"Iya."
"Yakin?"
Lulu tertawa pelan.
"Memangnya harus ada alasan lain?"
"Enggak juga."
Sherly mengangkat bahu santai. "Aku cuma merasa sekarang kamu sudah punya tempat yang selalu kepikiran waktu lagi enggak di sana."
Kalimat itu membuat Lulu kembali berpikir.
Ia mencoba mengingat akhir pekan kemarin. Mulai dari membantu Mira mengganti menu, bercanda dengan Adrian, melihat buku catatan milik Rian, sampai pulang membawa roti untuk dimakan bersama keluarganya.
Tanpa sadar, kenangan-kenangan kecil itu muncul satu per satu.
"Aku enggak tahu."
jawab Lulu jujur.
"Tapi memang... nyaman."
Sherly tidak lagi menggoda. Ia hanya tersenyum kecil sambil mengangguk.
"Menurutku itu bagus."
"Soalnya enggak semua orang punya tempat yang bikin mereka pengin kembali."
Mereka sampai di depan kelas tepat ketika bel pertama berbunyi.
Suasana kelas perlahan berubah ramai. Kursi bergeser, tas diletakkan di samping meja, dan beberapa siswa masih sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum guru datang.
Lulu duduk di tempatnya sambil mengeluarkan buku pelajaran.
Ketika membuka halaman pertama, sebuah kartu kecil berwarna krem terselip di antara buku dan mapnya.
Ia mengangkat kartu itu yang bertuliskan. ‘Free Drink - Arcane Brew’
Rupanya semalam ia lupa mengeluarkannya dari map setelah membereskan tas.
Sherly yang duduk di sebelah langsung melirik.
"Itu yang kemarin?"
"Iya."
Lulu tersenyum sambil memasukkannya kembali ke dalam dompet.
"Untung ketemu."
"Hampir saja ikut kebawa ke sekolah."
Sherly tertawa.
"Kalau hilang, nanti kamu sedih."
"Mungkin."
jawab Lulu sambil tersenyum kecil.
"Tapi bukan karena minuman gratisnya."
"Lho?"
Sherly memandangnya penasaran.
"Lalu karena apa?"
Lulu menutup dompetnya sebelum menjawab.
"Soalnya... waktu lihat kartu ini, aku jadi ingat hari kemarin."
Jawaban Lulu membuat Sherly tersenyum tanpa berkata apa-apa lagi.
Di luar kelas, bel kedua mulai berbunyi. Guru mata pelajaran pertama terlihat berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas mereka. Hari baru pun dimulai, membawa kembali rutinitas sekolah, sementara di sudut kecil dalam benak Lulu, Arcane Brew perlahan telah berubah dari sekadar tempat yang pernah ia kunjungi menjadi tempat yang selalu ingin ia datangi kembali.
Jam pelajaran pertama berlangsung seperti biasanya. Guru Matematika menjelaskan materi baru di depan kelas, sementara suara kapur yang sesekali bergesekan dengan papan tulis berpadu dengan bunyi kipas angin yang berputar pelan di langit-langit ruangan. Beberapa siswa sibuk mencatat, sebagian lainnya sesekali mengangkat tangan untuk bertanya.
Lulu mengikuti pelajaran dengan tenang. Ia menuliskan setiap rumus yang dianggap penting, lalu memberi tanda kecil pada bagian yang ingin dipelajari lagi nanti di rumah. Sesekali ia melirik keluar jendela ketika cahaya matahari mulai menerangi halaman sekolah. Akhir pekan yang baru berlalu masih terasa dekat, tetapi ritme sekolah perlahan mengembalikan semuanya ke rutinitas.
Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi. Suasana kelas yang semula tenang langsung berubah ramai. Kursi bergeser, percakapan bermunculan dari berbagai sudut, dan beberapa siswa bergegas keluar menuju kantin.
Sherly menutup bukunya lebih dulu sebelum menoleh ke arah Lulu.
"Ke kantin?"
"Boleh."
Mereka berjalan keluar kelas bersama. Koridor dipenuhi siswa yang saling menyapa sambil membawa dompet atau kotak bekal. Dari lantai dua, aroma makanan yang berasal dari kantin mulai terbawa angin hingga ke depan kelas.
"Aku baru sadar," ujar Sherly sambil menuruni tangga, "minggu ini jadwal piket kelas kita, ya?"
Lulu mengangguk pelan.
"Besok kalau enggak salah."
"Berarti besok harus datang lebih pagi."
"Iya."
Sherly menghela napas panjang, tetapi senyum di wajahnya tidak hilang.
"Enggak apa-apa, deh. Daripada kesiangan terus."
Mereka tertawa kecil.
Begitu tiba di kantin, suasana sudah cukup padat. Beberapa antrean mulai terbentuk di depan kios makanan. Lulu dan Sherly memilih membeli roti isi dan teh dingin sebelum mencari meja yang masih kosong di sudut kantin.
Belum sempat mereka duduk, terdengar seseorang memanggil dari belakang.
"Lulu! Sherly!"
Keduanya menoleh bersamaan.
Arvin berjalan menghampiri sambil membawa nampan berisi semangkuk mi dan segelas jus jeruk. Langkahnya sedikit terburu-buru karena berusaha menjaga agar minumannya tidak tumpah.
"Akhirnya ketemu juga," katanya setelah sampai di depan meja. "Boleh gabung?"
"Tentu."
jawab Lulu sambil menggeser kursinya sedikit.
Arvin langsung duduk sambil mengembuskan napas lega.
"Antrean hari ini panjang banget."
"Memang ramai."
balas Sherly.
"Mungkin semua lapar setelah pelajaran pertama."
Arvin mengangguk mantap.
"Aku juga begitu."
"Tadi niatnya cuma beli minum."
"Entah bagaimana akhirnya bawa mi juga."
Sherly tertawa.
"Itu bukan entah bagaimana."
"Itu namanya lapar."
"Iya sih."
Arvin ikut tertawa kecil sebelum mulai makan.
Obrolan mereka mengalir ke berbagai hal. Mulai dari tugas yang mulai diberikan guru, pertandingan basket antarkelas yang akan diadakan bulan depan, sampai rencana kegiatan sekolah menjelang akhir semester.
Di sela percakapan, Arvin tiba-tiba memandang Lulu.
"Eh, ngomong-ngomong..."
"Kamu masih sering ke Arcane Brew?"
Pertanyaan itu membuat Sherly langsung tersenyum tipis seolah sudah menunggu topik tersebut muncul.
"Masih."
jawab Lulu.
"Walaupun enggak setiap hari."
"Enak, ya?"
tanya Arvin.
"Aku beberapa kali lewat depan tokonya, tapi belum pernah masuk."
Lulu berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Kalau menurutku... bukan cuma kopinya yang enak."
Arvin terlihat penasaran.
"Terus?"
Lulu tersenyum kecil.
"Suasananya."
"Kalau sudah duduk di sana, rasanya enggak buru-buru pengin pulang."
Arvin mengangguk pelan sambil mendengarkan.
"Berarti memang nyaman."
"Iya."
Sherly menambahkan sambil menyeruput tehnya.
"Aku belum pernah ke sana, tapi akhir-akhir ini Lulu sering cerita."
"Kalau dia sampai cerita berkali-kali, berarti memang ada sesuatu yang bikin betah."
Lulu hanya tersenyum mendengar ucapan itu.
Ia mencoba memikirkan apa sebenarnya yang membuatnya ingin kembali. Kopinya memang enak. Rotinya juga. Suasananya tenang. Namun ketika semua itu dibandingkan satu per satu, rasanya masih ada sesuatu yang sulit dijelaskan.
Mungkin bukan hanya tempatnya.
Mungkin juga bukan hanya menu yang disajikan.
Yang paling ia ingat justru percakapan-percakapan sederhana yang selalu terjadi setiap kali ia datang. Cara Adrian menyapa pelanggan seolah sudah lama mengenal mereka, Mira yang tidak pernah terlihat terburu-buru meskipun kafe sedang ramai, dan Rian yang hampir selalu hadir dengan sikap tenangnya, membuat suasana di sana terasa mudah untuk dinikmati.
Tanpa disadari, Arcane Brew mulai memiliki wajah-wajah yang ia kenal, bukan lagi sekadar sebuah bangunan yang menjual kopi.
Bel tanda berakhirnya waktu istirahat terdengar menggema di seluruh gedung sekolah. Siswa-siswi yang memenuhi kantin mulai beranjak kembali ke kelas masing-masing.
Arvin segera menghabiskan minuman terakhirnya lalu berdiri sambil membawa nampan.
"Ayo."
"Kalau telat lagi, nanti Pak Hendra langsung hafal muka kita."
Sherly terkekeh pelan.
"Itu karena kamu memang sering telat."
"Jangan dibongkar di depan Lulu."
balas Arvin sambil tertawa.
Mereka bertiga berjalan kembali menuju gedung kelas bersama arus siswa lainnya. Di sepanjang koridor, percakapan ringan masih terus berlanjut, sementara rutinitas hari Senin perlahan kembali mengambil alih. Tanpa disadari Lulu, kebiasaan kecil yang mulai tumbuh dalam dirinya kini semakin jelas; setiap kali seseorang menyebut Arcane Brew, tempat itu tidak lagi terasa seperti tujuan yang jauh, melainkan bagian dari hari-hari yang perlahan sedang ia bangun.
Pelajaran setelah jam istirahat berlangsung lebih santai dibanding biasanya.
Guru Bahasa Indonesia membagi murid menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan sebuah cerpen yang akan dipresentasikan minggu depan. Suasana kelas kembali dipenuhi suara percakapan, tetapi kali ini bukan obrolan ringan seperti saat istirahat, melainkan diskusi yang sesekali diselingi tawa. Lulu, Sherly, dan dua teman sekelompok lainnya berkumpul di salah satu sudut kelas. Masing-masing membuka buku sambil mulai membahas pembagian tugas. Lulu menawarkan diri menyusun kerangka presentasi, sementara Sherly memilih mengerjakan bagian analisis tokoh karena menurutnya bagian itu lebih menarik dibanding harus berbicara di depan kelas.
"Aku memang lebih enak nulis daripada presentasi," ujar Sherly sambil tersenyum kecil. "Kalau disuruh ngomong di depan kelas lima menit, rasanya seperti setengah jam."
Lulu tertawa pelan. "Padahal kalau lagi cerita, kamu bisa nggak berhenti."
"Apa bedanya?"
"Kalau ngobrol sama teman enggak dinilai."
Mereka kembali tertawa sebelum melanjutkan diskusi. Pembagian tugas selesai lebih cepat dari perkiraan sehingga sisa waktu digunakan untuk mulai membaca cerpen yang akan dianalisis. Lulu sesekali menuliskan catatan kecil di pinggir halaman, sementara teman-temannya bertukar pendapat mengenai karakter utama dalam cerita tersebut.
Guru yang berkeliling dari kelompok ke kelompok berhenti di meja mereka.
"Sudah selesai pembagian tugasnya?"
"Sudah, Pak," jawab Lulu sambil menyerahkan lembar pembagian tugas yang baru mereka tulis.
Guru membaca sekilas, lalu mengangguk puas.
"Bagus. Kalau bisa jangan dikerjakan malam sebelum presentasi."
"Siap, Pak."
Setelah guru melanjutkan langkahnya ke kelompok lain, Sherly berbisik pelan.
"Kalimat terakhir itu kayaknya khusus buat beberapa orang."
Lulu menahan tawa.
"Termasuk kamu?"
Sherly pura-pura berpikir.
"Aku merasa disindir, tapi enggak punya bukti."
Pelajaran berakhir dengan suasana yang ringan. Ketika bel pergantian jam berbunyi, para siswa kembali mengembalikan meja ke posisi semula. Satu demi satu guru datang dan pergi hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul dua siang. Bel pulang terdengar menggema di seluruh sekolah, disambut suara riuh siswa yang mulai berkemas.
Lulu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas sambil memastikan tidak ada lembar tugas yang tertinggal di laci meja. Kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak SMP. Ia tidak suka menemukan kertas yang terlupa ketika sudah sampai di rumah.
Sherly menunggu di samping mejanya.
"Langsung pulang?"
Lulu menggeleng pelan.
"Kayaknya mampir sebentar."
Sherly tersenyum seolah sudah mengetahui jawabannya.
"Arcane Brew?"
"Iya."
"Aku kepikiran mau pakai kartu yang kemarin."
Sherly mengangguk sambil mengaitkan tasnya ke bahu.
"Pas juga."
"Hari ini aku harus langsung pulang. Ibu minta bantu belanja."
"Besok cerita lagi, ya."
Lulu tertawa kecil.
"Memangnya setiap habis dari sana harus laporan?"
"Bukan laporan."
Sherly mengangkat telunjuknya sambil tersenyum jahil.
"Aku cuma penasaran."
"Soalnya setiap kali kamu pulang dari sana, selalu ada cerita baru."
Lulu sempat terdiam sesaat.
Kalimat itu membuatnya menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Sherly benar. Beberapa minggu terakhir, hampir setiap kali mereka bertemu, selalu ada hal baru yang ia ceritakan tentang Arcane Brew. Kadang tentang pelanggan yang lucu, kadang tentang Adrian yang terlalu santai menghadapi keadaan, kadang tentang Mira yang mengajarinya membedakan jenis kopi, dan beberapa kali tentang Rian yang selalu berhasil membuat suasana terasa tenang hanya dengan beberapa kalimat sederhana.
Tanpa sadar, tempat itu mulai mengisi ruang dalam percakapan sehari-harinya.
"Aku baru sadar juga."
ucap Lulu sambil tersenyum tipis.
"Kan?"
Sherly menepuk pelan lengan sahabatnya.
"Berarti memang sudah jadi tempat favorit."
Mereka berjalan bersama hingga gerbang sekolah. Di sana jalan mereka berpisah. Sherly menuju halte di sisi timur bersama beberapa teman lain, sementara Lulu memilih berjalan menuju jalan utama yang mengarah ke pemberhentian bus.
Udara siang masih cukup hangat, tetapi embusan angin sesekali membuat langkah terasa nyaman. Deretan pepohonan di sepanjang trotoar bergoyang perlahan, membentuk bayangan yang bergerak mengikuti sinar matahari. Beberapa toko mulai ramai didatangi pelanggan, sementara suara kendaraan bercampur dengan percakapan orang-orang yang baru menyelesaikan aktivitas mereka.
Bus yang ditunggu tidak membutuhkan waktu lama untuk datang. Lulu naik, memilih kursi di dekat jendela, lalu meletakkan tas di pangkuannya. Kendaraan itu bergerak perlahan meninggalkan kawasan sekolah, melewati persimpangan yang sudah begitu akrab baginya.
Beberapa belas menit kemudian, bus mulai memasuki kawasan yang semakin dikenalnya. Dari balik kaca jendela, Lulu melihat papan nama toko-toko yang sering ia lewati. Ketika bus berhenti di halte berikutnya, pandangannya tanpa sadar tertuju ke seberang jalan.
Di antara deretan bangunan yang berdiri di sana,
sebuah papan kayu dengan tulisan ‘Arcane Brew’ terlihat jelas diterpa cahaya matahari sore.
Sudut bibir Lulu terangkat membentuk senyum kecil.
Tanpa perlu berpikir panjang, ia menekan tombol pemberhentian sebelum bus kembali melaju.
Hari itu, langkahnya kembali mengarah ke tempat yang perlahan berubah menjadi bagian dari rutinitasnya.
Pintu kayu Arcane Brew terbuka perlahan ketika Lulu mendorongnya. Denting lonceng kecil yang menggantung di atas kusen langsung terdengar, diikuti hembusan udara sejuk yang membawa aroma kopi, roti yang baru dipanggang, dan sedikit wangi kayu yang sudah begitu akrab di hidungnya.
Suasana sore itu lebih tenang dibanding akhir pekan kemarin. Hampir seluruh meja masih terisi, tetapi tidak ada antrean panjang di depan kasir. Beberapa pelanggan terlihat bekerja dengan laptop, dua mahasiswa sedang berdiskusi sambil membuka buku catatan, sementara di dekat jendela seorang pria paruh baya menikmati secangkir kopi sembari membaca koran.
Begitu melangkah masuk, Lulu menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Bukan karena tata letak kafe berubah.
Bukan pula karena jumlah pelanggan.
Perasaan yang muncul dalam dirinya terasa jauh lebih ringan dibanding saat pertama kali datang ke tempat ini beberapa minggu lalu.
Dulu ia selalu berhenti sejenak di dekat pintu, memperhatikan keadaan sekitar sebelum melangkah lebih jauh. Kini ia berjalan dengan langkah yang jauh lebih santai, seolah tubuhnya sudah mengenali tempat ini tanpa perlu berpikir.
Belum sempat ia mencapai meja kasir, suara yang sudah dikenalnya lebih dulu menyapanya.
"Selamat datang."
Rian baru saja selesai menata beberapa cangkir bersih di rak belakang. Begitu melihat Lulu, senyum tipis langsung muncul di wajahnya.
"Sepulang sekolah?"
"Iya."
jawab Lulu sambil tersenyum balik.
"Baru selesai."
Rian mengangguk pelan.
"Kelihatan capek."
"Sedikit."
"Tapi masih sempat mampir."
"Aku memang kepikiran ke sini dari tadi siang."
Kalimat itu keluar begitu saja. Baru setelah mengucapkannya Lulu menyadari apa yang sebenarnya ia katakan.
Rian tampak tersenyum kecil.
"Berarti hari ini kami yang beruntung."
Lulu terkekeh pelan.
"Kenapa begitu?"
"Soalnya berarti Arcane Brew berhasil menang dari rasa ingin langsung pulang."
Jawaban itu membuat Lulu ikut tersenyum lebih lebar.
"Mungkin memang begitu."
Dari arah dapur terdengar suara Adrian.
"Rian, susu yang baru datang taruh—"
Kalimatnya terputus ketika ia melihat Lulu berdiri di depan kasir.
"Lho."
"Anak rajin datang lagi."
Adrian berjalan keluar sambil masih membawa satu kotak susu segar di kedua tangannya.
"Aku baru bilang ke Mira, hari ini kayaknya bakal sepi."
"Eh, ternyata pelanggan langganan datang."