Chapter 3 - Episode 2
Pagi berikutnya datang dengan langit yang lebih cerah dibanding beberapa hari terakhir. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela tirai kamar Lulu, membangunkannya beberapa menit sebelum alarm berbunyi.
Ia mematikan alarm bahkan sebelum nada keduanya terdengar.
"Sudah bangun?"
suara ibunya terdengar dari luar kamar.
"Iya, Bu."
Hari itu dimulai seperti hari-hari sekolah lainnya.
Seragam yang sudah disetrika sejak malam dikenakan dengan rapi. Rambut panjangnya diikat sederhana. Setelah memastikan semua buku pelajaran masuk ke dalam tas, Lulu turun menuju ruang makan.
Ayah sudah lebih dulu duduk sambil membaca berita di ponselnya.
"Selamat pagi."
"Pagi."
jawab Lulu.
Di atas meja telah tersedia roti yang dibelinya kemarin sore, lengkap dengan telur dadar hangat yang baru selesai dimasak ibunya.
"Lumayan ya."
kata Ayah.
"Roti kemarin jadi kepakai."
Lulu tersenyum kecil.
"Iya."
Mereka menikmati sarapan sambil berbincang ringan mengenai rencana hari itu. Tidak ada pembicaraan yang berat. Hanya obrolan sederhana yang membuat suasana rumah terasa hangat.
Sesaat sebelum berangkat, ibunya menghampiri sambil merapikan sedikit kerah seragam Lulu.
"Belakangan ini kamu kelihatan lebih semangat berangkat sekolah."
Lulu terkekeh pelan.
"Kelihatan banget ya?"
"Ibu sampai sadar."
Ayah ikut mengangguk dari ruang tamu.
"Berubah sedikit."
"Bagus."
"Tetap dipertahankan."
Lulu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Perubahan itu memang ada.
Ia sendiri mulai merasakannya.
Bukan karena sekolah tiba-tiba menjadi jauh lebih menyenangkan.
Melainkan karena setiap hari kini terasa memiliki sesuatu yang bisa dinantikan setelah semua kegiatan selesai.
Bahkan pikiran sederhana seperti, 'Nanti sore mau mampir sebentar,' ternyata mampu membuat hari terasa lebih ringan.
Ia segera mengusir pikiran itu sambil mengenakan sepatu.
"Bu, Yah, aku berangkat."
"Hati-hati."
"Semangat."
Lulu melangkah keluar rumah menuju halte bus.
Udara pagi masih terasa sejuk. Jalanan mulai ramai oleh para pekerja dan pelajar yang memiliki tujuan masing-masing. Di dalam bus, ia kembali memilih kursi dekat jendela.
Pemandangan kota bergerak perlahan di hadapannya.
Toko-toko mulai membuka pintu.
Pedagang kaki lima sibuk menata dagangan.
Beberapa pengendara motor berhenti di lampu merah sambil menikmati kopi dalam gelas kertas.
Lulu memperhatikan semuanya dengan tenang.
Tanpa sadar, senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
Hari itu memang terlihat biasa.
Namun justru hari-hari yang biasa seperti inilah yang belakangan mulai ia sukai.
Sesampainya di sekolah, Sherly sudah lebih dulu berdiri di depan kelas.
"Wah."
"Akhirnya datang juga."
"Lagi senyum-senyum sendiri?"
Lulu langsung menggeleng.
"Nggak."
Sherly menyipitkan mata.
"Aku hafal."
"Kamu lagi mikirin sesuatu."
"Bukan."
"Hmm..."
Sherly sengaja memperhatikan wajah Lulu beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum jahil.
"Arcane Brew?"
Lulu spontan tertawa kecil.
"Kenapa semua orang langsung kepikiran ke sana?"
"Soalnya gampang ditebak."
Keduanya pun masuk ke kelas bersama ketika bel pertama mulai berbunyi, tanpa menyadari bahwa hari yang tampak biasa itu akan membawa sebuah pertemuan kecil yang perlahan membuka sisi lain dari kehidupan Rian di luar Arcane Brew.
Bel pertama berbunyi tepat ketika wali kelas memasuki ruangan.
"Selamat pagi."
"Pagi, Bu."
Seluruh siswa berdiri serempak sebelum kembali duduk setelah dipersilakan.
Pelajaran pertama berlangsung seperti biasa. Guru Bahasa Indonesia menjelaskan materi mengenai teks argumentasi sambil sesekali menunjuk beberapa siswa untuk memberikan contoh. Lulu mencatat poin-poin penting di buku tulisnya, sementara Sherly di sebelahnya beberapa kali berusaha menahan kantuk.
Saat jam kedua dimulai, suasana kelas mulai lebih hidup. Beberapa siswa aktif bertanya, sementara yang lain sibuk berdiskusi dalam kelompok kecil.
Lulu menikmati ritme belajar seperti ini.
Tidak terlalu sibuk.
Tidak terlalu santai.
Semuanya berjalan dengan tempo yang nyaman.
Bel istirahat akhirnya berbunyi.
Suasana koridor langsung berubah ramai. Kursi bergeser, pintu kelas terbuka, dan para siswa berhamburan keluar menuju kantin atau halaman sekolah.
"Ayo."
Sherly berdiri sambil membawa dompet kecilnya.
"Hari ini aku lapar."
"Kemarin juga begitu."
balas Lulu sambil ikut berdiri.
"Kemarin beda."
"Hari ini lebih lapar."
Lulu hanya tertawa kecil.
Mereka berjalan menyusuri koridor menuju kantin. Di sepanjang jalan, beberapa teman sekelas menyapa mereka. Lulu membalas dengan senyum sederhana sebelum kembali melanjutkan langkah.
Begitu memasuki kantin, aroma makanan hangat langsung memenuhi udara.
"Nasi goreng habis."
gumam Sherly setelah melihat salah satu stan.
"Lagi-lagi."
"Lumayan cepat habis."
"Mau bakso?"
"Boleh."
Mereka mengantre sambil mengobrol ringan mengenai tugas yang harus dikumpulkan minggu depan.
Ketika sedang menunggu pesanan selesai, terdengar suara yang cukup familiar dari belakang.
"Eh."
"Kalian di sini."
Lulu menoleh.
Arvin berjalan menghampiri sambil membawa sebotol air mineral.
"Sendirian?"
tanya Sherly.
"Iya."
"Anak-anak futsal masih latihan."
"Aku kabur duluan."
Sherly menggeleng geli.
"Berani juga."
"Daripada nggak kebagian makan."
jawab Arvin santai.
Mereka akhirnya duduk di meja yang sama setelah makanan datang.
Obrolan mengalir dari pelajaran, guru yang memberikan tugas mendadak, hingga pertandingan basket antarkelas yang akan diadakan bulan depan.
"Tadi pagi aku lihat pengumumannya."
kata Arvin.
"Kelas kita ikut."
Sherly langsung menunjuk Lulu.
"Nah."
"Itu pemain cadangan kita."
"Aku?"
Lulu tertawa.
"Aku nggak bisa basket."
"Makanya cadangan."
Semua tertawa bersamaan.
Percakapan itu terputus ketika salah satu guru olahraga lewat sambil membawa beberapa bola basket menuju lapangan.
Arvin memperhatikan beliau sebentar sebelum kembali menatap Lulu.
"Ngomong-ngomong..."
"Kamu masih sering ke Arcane Brew?"
Sherly langsung menyeringai.
"Tuh kan."
"Aku bilang juga."
"Semua orang sekarang nanyanya itu."
Lulu hanya menghela napas kecil sambil tersenyum.
"Iya."
"Masih."
"Sering?"
"Kadang habis sekolah."
Arvin mengangguk pelan.
"Aku penasaran sebenarnya."
"Penasaran sama kopinya?"
"Bukan."
"Sama tempatnya."
Sherly langsung menyela.
"Kalau tempatnya sih enak."
"Tenang."
"Nggak berisik."
"Kamu pernah ke sana?"
tanya Lulu.
"Belum."
"Aku cuma dengar dari kamu."
jawab Sherly.
"Dan..."
Ia melirik Arvin.
"...sekarang dari dia juga."
Arvin tersenyum kecil.
"Beberapa anak kelas sebelah juga pernah cerita."
"Katanya pelayanan di sana ramah."
Lulu mengangguk pelan.
"Memang."
"Tapi menurutku..."
Ia berhenti sejenak mencari kata yang tepat.
"...yang bikin nyaman bukan cuma pelayanannya."
"Karyawan di sana hafal pelanggan?"
tebak Arvin.
"Sedikit."
jawab Lulu.
"Mereka ingat hal-hal kecil."
"Misalnya?"
Lulu teringat kejadian kemarin sore.
"Rian ingat kalau aku nggak terlalu suka minuman yang terlalu manis."
Sherly mengangkat alis.
"Serius?"
"Iya."
"Aku sendiri malah baru sadar."
Arvin terlihat sedikit terkejut.
"Berarti dia memang memperhatikan ya."
"Bukan cuma aku."
kata Lulu.
"Dia juga hafal pelanggan lain."
"Katanya kalau sering bertemu orang yang sama, lama-lama jadi ingat kebiasaan mereka."
Sherly tersenyum kecil.
"Itu bagus sih."
"Rasanya pasti beda kalau datang ke tempat yang orang-orangnya benar-benar mengenal pelanggan."
Lulu mengangguk pelan.
"Itu yang aku rasakan."
Ia berhenti beberapa detik sebelum melanjutkan.
"Setiap datang ke sana..."
"...rasanya seperti nggak perlu menjadi orang lain."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Bahkan Lulu sendiri sedikit terkejut mendengarnya.
Sherly dan Arvin saling berpandangan sesaat.