Chapter 3 - Episode 3
Hari Sabtu selalu memiliki suasana yang berbeda.
Lulu terbangun sedikit lebih siang dibanding hari sekolah. Cahaya matahari sudah memenuhi kamar ketika ia membuka mata, sementara aroma sarapan dari dapur perlahan mengusir sisa kantuknya.
"Bangun juga."
sapa ibunya ketika Lulu memasuki ruang makan.
"Hari ini nggak sekolah."
Lulu tersenyum kecil. "Iya."
"Makanya baru bangun."
Di meja makan, Ayah sudah selesai membaca koran pagi dan sedang menikmati secangkir teh hangat.
"Ada rencana hari ini?" tanyanya.
Lulu menuangkan susu ke dalam gelasnya sebelum menjawab.
"Nanti siang mau keluar sebentar."
"Ke toko buku?" tebak Ayah.
Lulu menggeleng pelan. "Ke Arcane Brew."
Ayah dan Ibu saling berpandangan singkat, lalu tersenyum tanpa berkata apa pun.
Melihat reaksi kedua orang tuanya, Lulu langsung menyadari sesuatu.
"Ayah sama Ibu kenapa?"
Ibunya menahan tawa kecil. "Nggak apa-apa."
Lulu mengembuskan napas pelan sambil ikut tersenyum.
"Memangnya sesering itu ya?"
Ayah mengangguk ringan.
"Kalau tempat itu membuatmu nyaman, nggak ada yang salah."
"Tapi jangan lupa pulang."
"Ayah."
Lulu tertawa kecil. "Memangnya aku mau pindah ke sana?"
"Belum tentu." balas Ayah dengan wajah datar.
"Ibu." bisik Lulu pelan.
"Ayah mulai ikut bercanda." jawab ibunya sambil tertawa.
Suasana meja makan dipenuhi tawa ringan.
Beberapa bulan lalu, percakapan seperti ini masih jarang terjadi. Kini, tanpa disadari, rumah mereka pun terasa sedikit lebih hangat.
Menjelang pukul sebelas siang, Lulu bersiap keluar.
Hari itu ia mengenakan kaus putih sederhana yang dipadukan dengan cardigan krem tipis dan rok selutut berwarna cokelat muda. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, hanya dijepit sederhana di salah satu sisi.
Ia tidak sedang pergi ke acara khusus.
Namun untuk pertama kalinya, ia sempat berdiri beberapa detik di depan cermin sebelum keluar kamar.
"Biasa saja kok..." gumamnya pelan.
Ia mengambil tas selempangnya, berpamitan kepada kedua orang tuanya, lalu berjalan menuju halte.
Perjalanan menuju Arcane Brew terasa lebih santai dibanding hari-hari sekolah. Bus tidak terlalu penuh. Banyak keluarga yang turun di pusat perbelanjaan, sementara beberapa anak kecil tampak sibuk menunjuk berbagai toko yang mereka lewati.
Sekitar dua puluh menit kemudian, bus berhenti di halte yang sudah sangat dikenalnya.
Begitu turun, Lulu langsung melihat papan kayu bertuliskan Arcane Brew di seberang jalan.
Ia tersenyum kecil.
Entah sejak kapan, langkahnya menuju tempat itu terasa begitu alami.
Seolah tubuhnya sudah hafal arah yang harus dituju.
Denting lonceng kembali menyambut kedatangannya.
"Selamat datang."
Suara yang kali ini menyapa bukan berasal dari Rian maupun Adrian.
Melainkan dari seorang perempuan muda yang berdiri di balik kasir.
Rambutnya dikuncir pendek, mengenakan celemek Arcane Brew, dengan senyum yang ramah namun masih terlihat sedikit gugup.
Lulu berhenti sejenak.
"Eh..."
Perempuan itu ikut tampak bingung.
"Maaf..."
"Saya baru mulai kerja minggu ini."
"Saya kira tadi pelanggan baru."
Lulu tersenyum hangat.
"Nggak apa-apa."
"Tapi aku memang belum pernah lihat Kakak."
Perempuan itu mengangguk.
"Namaku Siska."
"Part time."
"Cuma Sabtu dan Minggu."
"Lulu."
"Senang kenal."
"Senang kenal juga."
Suasana canggung itu langsung mencair.
Saat itulah Adrian muncul dari arah dapur sambil membawa sekotak pastry yang baru selesai dipanggang.
"Lho."
"Kalian sudah kenalan?"
"Siska, ini Lulu."
"Salah satu pelanggan favorit kita."
Lulu langsung menggeleng cepat.
"Jangan bilang begitu."
"Kenapa?"
Adrian meletakkan kotak tersebut di atas meja.
"Soalnya nanti Kak Siska nggak perlu bingung."
"Kalau lihat dia datang, tinggal anggap teman."
Siska tertawa kecil.
"Pantes."
"Mas Adrian tadi bilang ada beberapa pelanggan yang wajahnya harus langsung dihafal."
"Dan aku salah satunya?"
"Tepat."
jawab Adrian santai.
"Masih ada beberapa lagi."
"Pak Budi."
"Pak Dimas."
"Bu Rina."
"Kalau mereka datang..."
"...berarti hari berjalan normal."
Kalimat terakhir itu membuat Lulu sedikit penasaran.
"Memangnya mereka sesering itu datang?"
"Sering."
Suara tenang Rian terdengar dari balik bar.
Ia baru saja selesai menimbang biji kopi sebelum berjalan mendekat.
"Selamat siang."
"Siang, Kak."
"Datang lebih awal hari ini."
"Iya."
"Sabtu libur."
Rian mengangguk pelan.
"Bagus."
"Kalau begitu kamu mungkin akan bertemu lebih banyak pelanggan tetap."
Lulu memiringkan kepala.
"Memangnya hari Sabtu beda?"
"Sabtu..."
Rian melirik ke arah meja-meja yang mulai terisi perlahan.
"...punya orang-orangnya sendiri."
Belum sempat Lulu bertanya lebih jauh, pintu kembali terbuka.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun masuk sambil membawa laptop dan tas kamera.
"Seperti biasa, Rian."
ucapnya bahkan sebelum sampai ke kasir.
"Sudah saya siapkan."
jawab Rian.
Pria itu tersenyum.
"Luar biasa."
"Kalau suatu hari aku lupa namaku sendiri, kayaknya kamu masih ingat."
Adrian langsung tertawa.
"Itu namanya sudah level pelanggan tetap."
Pria tersebut membalas tawa sebelum berjalan menuju meja di pojok dekat stop kontak, membuka laptop, lalu mulai bekerja seolah tempat itu memang kantor keduanya.
Lulu memperhatikannya dengan rasa penasaran yang semakin besar.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka.
Kali ini seorang ibu muda masuk sambil menggandeng anak perempuan kecil yang mungkin baru berusia lima tahun.
Anak itu langsung melambai ke arah Adrian.
"Kak Adrian!"
Adrian membalas dengan lambaian yang sama antusiasnya.
"Wah."
"Putri datang."
Anak kecil bernama Putri itu langsung berlari kecil menghampiri etalase pastry.
"Hari ini rotinya apa?"
Lulu berkedip pelan.
Ia mulai menyadari sesuatu.
Orang-orang yang datang ke Arcane Brew ternyata bukan sekadar pelanggan.
Mereka saling mengenal.
Mereka saling mengingat.
Mereka datang bukan hanya untuk membeli kopi.
Mereka datang karena di tempat ini, ada orang-orang yang akan menyambut mereka dengan senyum yang sama setiap minggu.
Dan untuk pertama kalinya, Lulu mulai melihat Arcane Brew bukan sebagai sebuah kafe.
Melainkan sebuah komunitas kecil yang tumbuh perlahan melalui kebiasaan, pertemuan, dan orang-orang yang selalu memilih untuk kembali.
Denting lonceng di atas pintu kembali terdengar.
Seorang pria paruh baya melangkah masuk sambil menenteng tas kamera kulit yang sudah tampak usang. Kemeja lengan panjang yang dikenakannya digulung hingga siku, sementara topi berwarna krem masih bertengger di kepalanya meski cuaca tidak terlalu terik.
Begitu melihat sosok itu, Adrian langsung mengangkat tangan.
"Siang, Pak Budi."
Pak Budi membalas lambaian itu dengan senyum lebar.
"Masih belum bosan lihat saya?"
"Kalau Bapak nggak datang seminggu saja, kami malah bingung."
Adrian tertawa kecil. "Takut kameranya pindah ke kafe sebelah."
"Belum ada yang bisa ngalahin kopi di sini." balas Pak Budi sambil berjalan mendekati kasir.
Rian bahkan belum sempat membuka mulut ketika tangannya sudah mulai mengambil biji kopi dari wadah kopi.
Pak Budi memperhatikannya sambil menggeleng pelan. "Kamu ini bahaya."
"Apa lagi sekarang, Pak?"
"Belum pesan sudah dibuat."
"Flat white, satu gula, suhu lebih hangat sedikit."
jawab Rian tenang.
Pak Budi hanya tertawa.
"Persis."
Lulu memperhatikan pemandangan itu dengan kagum.
"Kak Rian benar-benar hafal..."
gumamnya pelan.
"Masih sedikit."
jawab Rian sambil mulai menggiling kopi.
"Sedikit?"
Adrian langsung menyela.
"Pak Budi datang pertama kali hampir empat tahun lalu."
"Lalu sejak itu pesanannya nggak pernah berubah."
Pak Budi mengangkat telunjuknya.
"Pernah berubah."
"Kapan?"
"Dua minggu."
Semua menoleh kepadanya.
"Waktu dokter nyuruh saya ngurangin gula."
Suasana langsung dipenuhi tawa.
"Tapi habis itu balik lagi." lanjut Pak Budi sambil terkekeh.
"Dokternya menyerah?" tanya Adrian.
"Saya yang menyerah."
Belum lama Pak Budi duduk di meja favoritnya dekat rak buku, pintu kembali terbuka.
"Permisi."
Seorang pria muda dengan ransel besar memasuki kafe. Rambutnya sedikit berantakan, sementara beberapa gulungan kertas desain menyembul dari dalam tasnya.
"Mas Fajar."
sapa Siska, kali ini lebih percaya diri.
Fajar tampak sedikit terkejut.
"Wah, sekarang sudah hafal nama saya?"
"Mas Adrian kasih daftar pelanggan tetap."
jawab Siska sambil tersenyum malu.
Adrian yang sedang menata pastry langsung mengangkat kedua tangan.
"Aku cuma kasih contekan."
"Supaya nggak panik."
Fajar tertawa.
"Berarti aku resmi pelanggan tetap sekarang."
"Sudah dari dulu."
balas Adrian.
"Mas datang seminggu empat kali."
"Kalau dihitung-hitung, meja pojok itu hampir jadi kantor pribadi."
Fajar melirik ke arah meja dekat jendela.
Meja itu memang masih kosong.
Tanpa perlu bertanya, ia langsung menuju ke sana.
Ia mengeluarkan laptop, penggaris logam, dan beberapa lembar gambar bangunan yang dipenuhi garis-garis tipis.
Lulu memperhatikan dengan rasa penasaran.
"Dia kerja di sini?"
bisiknya kepada Rian.
"Arsitek."
jawab Rian singkat.
"Kalau sedang mengejar tenggat, hampir selalu datang."
"Kenapa memilih di sini?"
Rian menuangkan susu yang sudah selesai dikukus ke dalam cangkir.
"Katanya lebih mudah berpikir."
"Hanya karena kopi?"
"Bukan."
Rian menggeleng pelan.
"Karena suasananya."
Kalimat itu membuat Lulu ikut memandang ke sekeliling.
Tidak ada musik yang terlalu keras.
Tidak ada pelanggan yang berbicara berlebihan.
Suara mesin kopi sesekali terdengar, bercampur dentingan sendok yang menyentuh cangkir, halaman buku yang dibalik, dan percakapan kecil yang saling menjaga volume.
Semuanya terdengar... hidup.
Namun tetap tenang.
Lima belas menit kemudian, pintu kembali terbuka.
Seorang ibu muda masuk sambil menggandeng tangan anak perempuan berusia sekitar lima tahun.
Begitu melihat Adrian, anak kecil itu langsung melepaskan tangan ibunya.
"Kak Adrian!"
Adrian spontan membungkukkan badan.
"Lho, Putri!"
"Akhirnya datang juga."
Putri berlari kecil menghampiri etalase roti.
"Hari ini ada roti coklat?"
"Ada."
"Yang keju juga ada?"
"Juga ada."
Putri mengerutkan dahi.
"Kalau dua-duanya enak gimana?"
"Itu namanya masalah besar."
jawab Adrian dengan wajah serius.
Putri ikut memasang wajah berpikir.
"Hmm..."
"Aku pilih yang mana ya..."
Lulu sampai menahan senyum melihat kesungguhan mereka berdua membahas roti seolah sedang mengambil keputusan penting.
Akhirnya Putri menunjuk roti coklat.
"Yang ini."
"Pilihan bagus."
kata Adrian.
"Tapi minggu depan gantian yang keju."
"Janji?"
"Janji."
Putri mengangguk puas sebelum kembali menghampiri ibunya.
Ibu Putri tersenyum kepada Adrian.
"Terima kasih ya."
"Sama-sama."
"Putri selalu semangat kalau diajak ke sini."
"Katanya mau ketemu Kak Adrian."
Adrian mengusap tengkuknya sambil tersenyum malu.
"Wah..."
"Itu tekanan besar buat saya."
Lulu menyadari sesuatu.
Sejak ia datang hampir satu jam yang lalu, tidak ada satu pun pelanggan yang terlihat asing dengan orang-orang di balik bar.
Mereka datang.
Disambut dengan nama.
Ditanya kabarnya.
Dibuatkan minuman favorit mereka bahkan sebelum selesai memesan.
Tidak ada percakapan yang dibuat-buat.
Tidak ada keramahan yang terdengar seperti kewajiban.
Semuanya mengalir begitu saja, seperti teman lama yang kebetulan bertemu lagi.
"Aneh ya..."
Gumam Lulu pelan.
Rian yang sedang mengelap meja bar menoleh.
"Kenapa?"
"Aku baru sadar..."
Lulu memandang ke arah Pak Budi yang sedang memeriksa hasil foto di kameranya, lalu ke arah Fajar yang sibuk menggambar, kemudian kepada Putri yang tertawa bersama ibunya.
"...setiap orang yang datang ke sini seperti sudah punya tempatnya masing-masing."
Rian mengikuti arah pandang Lulu.
Beberapa detik berlalu sebelum ia tersenyum tipis.
"Karena mereka memang punya."
Jawaban itu sederhana.
Namun entah mengapa, membuat hati Lulu terasa hangat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat Arcane Brew sebagai sebuah kafe yang nyaman.
Ia mulai melihatnya sebagai tempat yang perlahan membentuk kehidupan kecilnya sendiri.
Sebuah tempat yang tidak hanya menyajikan kopi.
Tetapi juga menyimpan cerita dari orang-orang yang selalu memilih untuk kembali.
"Kalau begitu..."
Adrian menepuk pelan meja kasir.
"...sekarang giliran Lulu."
Lulu yang masih menikmati latte-nya mengangkat kepala.
"Giliranku apa?"
"Perkenalan."
"Perkenalan?"
Adrian mengangguk mantap.
"Kamu kan sudah sering datang."
"Berarti sudah waktunya dikenalkan sama penghuni tetap Arcane Brew."
Lulu langsung menggeleng kecil.
"Enggak usah segala dikenalkan..."
"Harus."
potong Adrian cepat.
"Nanti kalau ketemu terus malah canggung."
Rian yang sedang menyusun cangkir hanya tersenyum tipis mendengar percakapan mereka.
Adrian berjalan lebih dulu menuju meja dekat rak buku.
"Pak Budi."
Pak Budi menurunkan kameranya.
"Iya?"
"Kenalin."
"Ini Lulu."
"Lulu, ini Pak Budi."
"Fotografer yang fotonya sekarang dipajang di sana."
Adrian menunjuk bingkai foto yang baru dipasang beberapa hari lalu.
Pak Budi berdiri perlahan lalu mengulurkan tangan.
"Senang bertemu."
"Lulu."
"Lulu, Pak."
"Senang bertemu juga."
"Mas Adrian sering cerita soal kamu."
Lulu berkedip.
"Cerita?"
"Iya."
Pak Budi tertawa pelan.
"Katanya ada pelanggan SMA yang selalu memperhatikan cara bikin kopi, tapi terlalu malu buat banyak bertanya."
Lulu spontan menoleh ke arah Adrian.
"Kak Adrian!"
"Apa?"
"Itu enggak usah diceritain..."
"Lucu soalnya."
Lulu hanya bisa mengembuskan napas pasrah.
Pak Budi ikut tertawa melihat reaksi keduanya.
"Enggak apa."
"Rasa penasaran itu bagus."
"Dulu saya juga begitu waktu pertama kali belajar fotografi."
"Bedanya..."
Ia mengangkat kamera yang tergantung di lehernya.
"...saya lebih sering membongkar kamera daripada memotret."
"Rusak terus?"
tanya Lulu.
"Sering."
"Tapi dari situ jadi belajar."
Lulu mengangguk pelan.
Entah mengapa, setiap pelanggan yang ditemuinya hari itu selalu memiliki cerita sederhana yang menyenangkan untuk didengar.
Belum lama mereka berbincang, suara dari meja dekat jendela terdengar.
"Mas Rian."
Fajar mengangkat tangannya.
"Boleh minta pendapat sebentar?"
"Boleh."
Rian menghampiri meja Fajar.
Di atas meja terbentang gambar denah sebuah rumah dua lantai.
"Aku bingung."
kata Fajar.
"Ruang keluarga lebih enak menghadap taman depan atau belakang?"
Rian memperhatikan gambar itu beberapa saat.
"Belakang."
"Kenapa?"
"Lebih tenang."
Fajar mengangguk perlahan.
"Alasannya?"
"Kalau depan..."
Rian menunjuk bagian denah.
"...orang akan sering lewat."
"Lalu?"
"Kalau belakang..."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"...rumah punya ruang untuk bernapas."
Fajar terdiam.
Beberapa detik kemudian ia langsung mengambil pensil dan menghapus sebagian gambar.
"Nah."
"Ini dia."
"Aku dari tadi cari jawaban sesederhana itu."
Lulu yang berdiri di samping Adrian tampak heran.
"Kak Rian ngerti gambar rumah juga?"
Adrian terkekeh.
"Enggak."
"Lho?"
"Dia cuma sering denger Mas Fajar cerita."
Fajar ikut tersenyum.
"Mas Rian memang bukan arsitek."
"Tapi dia pendengar yang bagus."
"Kadang orang cuma butuh sudut pandang baru."
Rian menggeleng kecil.
"Aku cuma jawab sesuai yang kupikir."
"Justru itu."
balas Fajar.
"Makanya membantu."
Tak lama kemudian, lonceng pintu kembali berbunyi.
"Selamat siang."
Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun masuk sambil membawa tas belanja kain.
Rambutnya yang mulai memutih disanggul rapi, sementara wajahnya dihiasi senyum lembut yang langsung membuat suasana terasa akrab.
"Bu Rina."
sapa Mira yang baru keluar dari ruang belakang.
"Wah, akhirnya datang."
"Kalau enggak belanja di pasar dulu, saya dimarahi suami."
jawab perempuan itu sambil tertawa kecil.
"Apa seperti biasa?"
tanya Siska.
Bu Rina tampak berpikir sejenak.
"Hmm..."
"Lupa."
Adrian langsung menyela.
"Enggak usah mikir."
"Lemon tea hangat."
"Terus banana cake."
Bu Rina menunjuk Adrian sambil tersenyum.
"Nah."
"Itu."
"Untung ada kamu."
Lulu menahan tawa.
"Kak Adrian juga hafal?"
"Hafal sedikit."
jawab Adrian santai.
"Kalau pelanggan yang sering datang, lama-lama ingat sendiri."
Bu Rina memilih duduk di meja yang berada tidak jauh dari jendela.
Beberapa menit kemudian, Putri yang baru selesai makan roti berlari kecil menghampirinya.
"Nenek Rina!"
Bu Rina langsung membuka kedua tangannya.
"Putri."
"Sudah besar lagi."
"Aku sekarang sudah bisa baca."
"Wah."
"Hebat."
"Kalau begitu lain kali Nenek bawakan buku cerita."
"Janji?"
"Janji."
Lulu memperhatikan pemandangan itu dengan kagum.
Ternyata mereka saling mengenal.
Bahkan pelanggan dengan pelanggan.
Arcane Brew bukan hanya tempat orang bertemu dengan kopi.
Melainkan tempat hubungan-hubungan kecil terus tumbuh setiap minggunya.
Tidak ada yang dibuat-buat.
Tidak ada acara khusus.
Hanya orang-orang yang datang di waktu yang hampir sama, duduk di kursi yang hampir sama, lalu perlahan mengenal satu sama lain.
Lulu menatap sekeliling ruangan.
Pak Budi kembali sibuk memotret cahaya yang masuk melalui jendela.
Fajar sedang menggambar sambil sesekali menyeruput kopinya.
Putri memperlihatkan gambar buatannya kepada Bu Rina dengan penuh semangat.
Di balik bar, Adrian tertawa karena Siska salah menyusun cangkir, sementara Mira membantu membereskannya.
Rian tetap bekerja seperti biasa, sesekali mengangkat kepala untuk memastikan setiap pelanggan mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Untuk pertama kalinya, Lulu menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Orang-orang datang ke Arcane Brew bukan sekadar untuk menikmati minuman.
Mereka datang karena tahu, ketika pintu itu terbuka dan lonceng kecil itu berdenting, akan selalu ada wajah-wajah yang menyambut mereka seperti teman lama.
Dan perlahan, tanpa pernah ia sadari sejak awal, salah satu wajah yang mulai menjadi bagian dari pemandangan itu... adalah dirinya sendiri.
Suasana siang di Arcane Brew semakin ramai.
Meja-meja yang sebelumnya kosong kini hampir seluruhnya terisi. Suara percakapan mulai saling bertumpuk, namun tidak pernah cukup keras hingga mengganggu. Sesekali terdengar suara mesin espresso, dentingan cangkir yang diletakkan di atas tatakan kayu, dan tawa kecil dari sudut ruangan.
Lulu duduk di tempat biasanya sambil menikmati latte yang mulai mendingin.
Tanpa sadar, pandangannya terus mengikuti aktivitas di balik bar.
Ia mulai melihat pola yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ia perhatikan.
Saat pelanggan baru masuk, Adrian selalu menjadi orang pertama yang menyapa.
Rian akan memperhatikan dari kejauhan, mengingat siapa yang datang dan apa yang kemungkinan mereka pesan.
Sementara Mira mengatur ritme seluruh kafe, memastikan semuanya tetap berjalan rapi meski suasana sedang sibuk.
Setiap orang memiliki perannya sendiri.
Tidak pernah saling berebut.
Tidak pernah saling menyuruh.
Seolah semuanya sudah memahami apa yang harus dilakukan.
Bel pintu kembali berbunyi.
Seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun masuk dengan langkah pelan sambil membawa sebuah buku bersampul cokelat yang tampak sudah sering dibuka.
Rian langsung mengangkat kepala.
"Selamat siang, Pak Dimas."
Pria itu tersenyum ramah.
"Siang."
"Sudah penuh ya."
"Meja Bapak masih kosong."
Rian menunjuk kursi di dekat rak buku.
Pak Dimas mengangguk.
"Terima kasih."
Ia duduk di tempat yang ditunjukkan tanpa melihat ke arah meja lain, lalu meletakkan bukunya dengan hati-hati.