Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #56

Episode 54 : Wajah Baru di Sudut Ruang

Chapter 3 - Episode 4 

Bel pertama masih sekitar lima belas menit lagi ketika Lulu menutup pintu lokernya. Di koridor, suara langkah kaki dan percakapan para siswa saling bercampur. Beberapa orang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah di atas ambang jendela, ada yang berlari kecil menuju kelas karena takut terlambat, sementara aroma roti dari kantin masih terbawa sampai ke lantai dua.

"Lulu!". Suara yang dikenalnya membuat ia menoleh.

Sherly datang dengan langkah cepat sambil mengangkat dua kotak susu dingin.

"Aku sempat mikir kamu belum datang."

Lulu tertawa kecil.

"Datang kok. Cuma tadi mampir perpustakaan sebentar buat balikin buku."

"Bagus, berarti susu ini nggak sia-sia."

Sherly langsung menyodorkan salah satunya.

"Buat aku?"

"Iya, masa buat satpam."

Lulu menerima kotak susu itu sambil terkekeh.

"Terima kasih."

"Mama tadi pagi beli satu dus. Katanya biar aku rajin minum. Kalau semuanya kubawa sendiri, tasku isinya susu semua."

"Jadi aku dijadikan tempat penitipan?"

"Lebih tepatnya partner minum."

Mereka mulai berjalan menuju kelas. Langkah keduanya mengikuti arus siswa yang memenuhi koridor. Sesekali mereka harus bergeser memberi jalan kepada kakak kelas yang membawa tumpukan modul praktikum.

Sherly menusukkan sedotan ke kotak susunya, lalu melirik Lulu dari samping.

"Jadi... gimana Sabtu kemarin?"

Lulu mengangkat alis.

"Yang mana?"

"Ya Arcane Brew."

"Kamu pulangnya sore banget, kan?"

"Oh..."

Lulu tersenyum kecil, seolah baru mengingat betapa cepat waktu berlalu di sana.

"Iya. Aku juga baru sadar pas lihat jam."

Sherly langsung tertarik.

"Biasanya kamu nggak betah lama-lama di luar. Memangnya ada apa?"

Lulu berpikir beberapa detik.

"Aku sebenarnya bingung jelasinnya."

"Kenapa?"

"Soalnya nggak ada kejadian besar."

"Terus?"

"Tapi rasanya... menyenangkan."

Sherly tertawa pelan.

"Itu penjelasan paling Lulu yang pernah kudengar."

"Maksudnya?"

"Orang lain kalau cerita akhir pekan biasanya, 'Aku ke sini', 'Aku beli ini', 'Aku ketemu itu'."

Sherly menggerakkan tangannya sambil menghitung satu per satu.

"Kamu malah bilang enggak ada apa-apa, tapi menyenangkan."

Lulu ikut tertawa.

"Soalnya memang begitu."

Ia melanjutkan ceritanya sambil tetap berjalan.Bel pertama masih sekitar lima belas menit lagi ketika Lulu menutup pintu lokernya. Di koridor, suara langkah kaki dan percakapan para siswa saling bercampur. Beberapa orang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah di atas ambang jendela, ada yang berlari kecil menuju kelas karena takut terlambat, sementara aroma roti dari kantin masih terbawa sampai ke lantai dua.

"Lulu!"

Suara yang dikenalnya membuat ia menoleh.

Sherly datang dengan langkah cepat sambil mengangkat dua kotak susu dingin.

"Aku sempat mikir kamu belum datang."

Lulu tertawa kecil.

"Datang kok. Cuma tadi mampir perpustakaan sebentar buat balikin buku."

"Bagus, berarti susu ini nggak sia-sia."

Sherly langsung menyodorkan salah satunya.

"Buat aku?"

"Iya, masa buat satpam."

Lulu menerima kotak susu itu sambil terkekeh.

"Terima kasih."

"Mama tadi pagi beli satu dus. Katanya biar aku rajin minum. Kalau semuanya kubawa sendiri, tasku isinya susu semua."

"Jadi aku dijadikan tempat penitipan?"

"Lebih tepatnya partner minum."

Mereka mulai berjalan menuju kelas. Langkah keduanya mengikuti arus siswa yang memenuhi koridor. Sesekali mereka harus bergeser memberi jalan kepada kakak kelas yang membawa tumpukan modul praktikum.

Sherly menusukkan sedotan ke kotak susunya, lalu melirik Lulu dari samping.

"Jadi... gimana Sabtu kemarin?"

Lulu mengangkat alis.

"Yang mana?"

"Ya Arcane Brew."

"Kamu pulangnya sore banget, kan?"

"Oh..."

Lulu tersenyum kecil, seolah baru mengingat betapa cepat waktu berlalu di sana.

"Iya. Aku juga baru sadar pas lihat jam."

Sherly langsung tertarik.

"Biasanya kamu nggak betah lama-lama di luar. Memangnya ada apa?"

Lulu berpikir beberapa detik.

"Aku sebenarnya bingung jelasinnya."

"Kenapa?"

"Soalnya nggak ada kejadian besar."

"Terus?"

"Tapi rasanya... menyenangkan."

Sherly tertawa pelan.

"Itu penjelasan paling Lulu yang pernah kudengar."

"Maksudnya?"

"Orang lain kalau cerita akhir pekan biasanya, 'Aku ke sini', 'Aku beli ini', 'Aku ketemu itu'."

Sherly menggerakkan tangannya sambil menghitung satu per satu.

"Kamu malah bilang enggak ada apa-apa, tapi menyenangkan."

Lulu ikut tertawa.

"Soalnya memang begitu."

Ia melanjutkan ceritanya sambil tetap berjalan.

Tentang Pak Budi yang selalu membawa kamera ke mana-mana dan masih sempat bercanda setiap kali datang.

Tentang Fajar yang hampir setiap akhir pekan mengerjakan gambar desain rumah di meja dekat jendela.

Tentang Putri yang menganggap memilih roti sebagai keputusan paling penting hari itu.

Sampai cerita tentang seorang nenek yang datang hanya untuk menikmati secangkir teh karena merasa Arcane Brew membuatnya tidak merasa sendirian.

Sherly mendengarkan tanpa menyela. Sesekali ia mengangguk, sesekali tersenyum sendiri membayangkan orang-orang yang diceritakan Lulu.

"Aneh ya."

"Apa?"

"Aku belum pernah ketemu mereka."

Sherly menyesap sedikit susunya.

"Tapi rasanya aku sudah bisa ngebayangin wajah mereka satu-satu."

"Mungkin karena mereka memang gampang diingat."

"Bukan."

Sherly menggeleng.

"Soalnya kamu ceritanya hidup banget."

Lulu memandang sahabatnya sebentar.

"Serius?"

"Iya."

Sherly tertawa kecil.

"Biasanya kalau kamu cerita soal sekolah, paling cuma dua menit."

"'Hari ini ada kuis.'"

"'Nilainya lumayan.'"

"'Udah.'"

"Tapi sekarang..."

Ia menatap Lulu dengan senyum yang sedikit usil.

"...aku baru sadar kamu ngomong hampir sepuluh menit tanpa berhenti."

Lulu langsung menutup wajahnya sebentar menggunakan kotak susu yang masih dipegang.

"Sebanyak itu?"

"Iya."

Sherly mengangguk mantap.

"Dan yang lebih lucu lagi..."

"Apa?"

"Kamu nggak sadar."

Lulu hanya bisa menghembuskan napas sambil tertawa malu.

"Mungkin karena memang seru."

"Nah."

Sherly menunjuk Lulu menggunakan sedotannya.

"Itu dia."

"Akhirnya kamu sendiri yang ngomong."

Lulu menggeleng kecil.

"Aku bukan bilang tempatnya seru."

"Lalu?"

"Orang-orangnya."

Jawaban itu keluar begitu saja.

Beberapa langkah kemudian Lulu baru menyadari kalimat yang baru saja ia ucapkan.

Ia kembali mengingat wajah-wajah yang ditemuinya dua hari lalu.

Pak Budi yang selalu datang membawa cerita baru.

Fajar yang sering meminta pendapat Rian tentang desain rumahnya.

Bu Rina yang disambut seperti keluarga.

Putri yang menitipkan gambar buatannya sebelum pulang.

Dan orang-orang lain yang saling mengenal hanya karena mereka terus memilih datang ke tempat yang sama.

Sherly melihat perubahan kecil di wajah Lulu, lalu tersenyum tanpa menggoda lagi.

"Aku jadi penasaran."

"Sama siapa?"

"Semuanya."

"Sabtu depan jadi, ya."

"Kita ke sana rame-rame."

Lulu Mengangguk.

"Boleh."

"Kayaknya mereka juga bakal senang."

"Kamu yakin?"

"Iya."

"Arcane Brew itu aneh."

"Kenapa aneh?"

"Setelah beberapa kali datang..."

Lulu memandang ke luar jendela koridor yang menghadap halaman sekolah.

"...rasanya seperti pulang ke tempat yang orang-orangnya memang menunggu kita datang."

Sherly tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum kecil sambil mendorong pelan bahu Lulu.

"Kalau terus begini..."

"Apa?"

"Aku mulai iri sama sebuah kafe."

Lulu tertawa lepas.

"Tolong jangan saingan sama tempat ngopi."

"Aku nggak saingan."

Sherly membalas tawanya.

"Aku cuma penasaran, tempat seperti apa yang bisa bikin sahabatku berubah jadi lebih banyak cerita."

Bel masuk berbunyi tepat ketika mereka tiba di depan kelas.

Percakapan itu pun terpotong begitu saja.

Namun senyum yang masih tersisa di wajah Lulu tidak ikut menghilang.

Ia baru menyadari satu hal.

Selama perjalanan menuju kelas tadi, ia sama sekali tidak sedang menceritakan kopi, menu baru, atau suasana Arcane Brew.

Yang ia ceritakan sejak awal hanyalah orang-orang yang ada di dalamnya.

Dan entah sejak kapan, mereka mulai menempati ruang kecil dalam kesehariannya.

Begitu bel berhenti berbunyi, suara kursi yang bergeser mulai memenuhi kelas. Beberapa siswa masih melanjutkan percakapan mereka dari koridor, sementara yang lain buru-buru membuka buku pelajaran ketika guru pertama masuk.

Lulu meletakkan kotak susu yang tinggal setengah di samping bukunya.

Sherly masih terlihat ingin melanjutkan pembicaraan tadi, tetapi guru sudah berdiri di depan kelas.

"Nanti lanjut."

bisiknya.

Lulu menahan senyum.

"Iya."

Pelajaran berjalan seperti biasa. Guru menjelaskan materi di depan kelas sementara Lulu mencatat beberapa bagian penting. Sesekali Sherly menyodorkan kertas kecil berisi komentar mengenai soal yang menurutnya terlalu sulit, lalu Lulu membalas dengan jawaban singkat sebelum keduanya kembali memperhatikan pelajaran.

Menjelang akhir jam kedua, guru meminta seluruh siswa mengerjakan beberapa soal secara berpasangan.

Lulu dan Sherly langsung bekerja bersama.

"Nomor empat kamu dapat berapa?"

tanya Sherly sambil membandingkan hasil perhitungannya.

"Delapan belas."

"Serius?"

"Iya."

Sherly melihat pekerjaannya sendiri lalu mengerutkan dahi.

"Aku dapat dua puluh empat."

Lulu mengambil buku Sherly dan melihat langkah perhitungannya.

"Di sini."

Ia menunjuk satu baris.

"Kamu tadi pakai angka yang ini dua kali."

Sherly memperhatikan sebentar, lalu wajahnya langsung berubah.

"Astaga."

"Kenapa?"

"Aku tahu sekarang."

"Makanya jangan buru-buru."

Sherly menghapus jawabannya sambil tertawa kecil.

"Kalau enggak ada kamu, aku sudah yakin jawabanku benar."

"Kamu memang terlalu percaya diri."

"Harus."

"Kalau nggak percaya diri, siapa yang mau percaya?"

Lulu tertawa pelan.

Percakapan kecil itu berlangsung begitu saja sampai guru meminta semua pasangan mengumpulkan pekerjaan.

Ketika kelas kembali tenang, wali kelas mereka masuk membawa sebuah map biru.

Ia meletakkannya di meja sebelum memandang seluruh siswa.

"Sebentar sebelum pelajaran berikutnya dimulai. Ada informasi dari akademi yang perlu kalian ketahui."

Beberapa siswa langsung memperhatikan.

"Kalian mungkin sudah mendengar dari pengumuman pagi tadi. Mulai minggu depan, sekolah kita akan menerima lima siswa dari Akademi Lumen dalam program pertukaran belajar."

Beberapa suara kecil terdengar dari belakang.

"Lima orang?"

"Selama berapa lama?"

"Katanya dua minggu."

Wali kelas mengangguk.

"Dua minggu. Selama periode tersebut, mereka akan mengikuti beberapa pelajaran bersama kalian. Karena jumlahnya hanya lima orang, mereka akan ditempatkan di beberapa kelas berbeda."

Sherly langsung mencondongkan tubuh ke arah Lulu.

"Berarti mungkin ada yang masuk kelas kita."

Lulu Mengangguk.

"Kayaknya."

Wali kelas membuka map di tangannya.

"Untuk kelas kita, akan ada satu siswa yang bergabung."

Kelas langsung lebih ramai.

"Namanya siapa, Bu?"

"Dia akan datang hari Senin depan?"

"Sudah tahu orangnya?"

Beberapa pertanyaan muncul hampir bersamaan.

Wali kelas mengangkat tangannya agar semuanya tenang.

"Satu-satu. Namanya akan saya berikan nanti setelah data peserta selesai diserahkan oleh pihak Akademi Lumen. Yang perlu kalian tahu sekarang, dia akan mengikuti jadwal kelas seperti biasa selama dua minggu."

Sherly berbisik,

"Sayang banget."

Lulu menoleh.

"Kenapa?"

"Padahal kalau tahu namanya sekarang, bisa cari tahu."

"Mau cari tahu apa?"

"Entahlah."

Sherly tertawa kecil.

"Minimal tahu orangnya seperti apa."

"Kamu penasaran?"

"Ya jelas."

Ia menatap Lulu sejenak.

"Kamu enggak?"

Lulu berpikir sebentar.

"Sedikit."

"Sedikit?"

"Ya."

"Kalau ada orang baru datang, pasti penasaran."

Sherly mengangguk puas.

"Nah, berarti kamu juga."

"Jangan dibesar-besarkan."

"Aku cuma memastikan."

Guru kemudian melanjutkan penjelasan mengenai kegiatan pertukaran tersebut. Para siswa diminta membantu jika peserta dari Akademi Lumen mengalami kesulitan memahami ruangan, jadwal, atau kebiasaan akademi.

Tidak ada tugas khusus.

Tidak ada acara penyambutan besar.

Hanya dua minggu belajar bersama seperti siswa lainnya.

Namun setelah pengumuman selesai, kelas tetap dipenuhi percakapan mengenai siapa kira-kira siswa yang akan datang.

"Kalau dari Lumen, pasti jago Harmoni Mana."

"Belum tentu."

Lihat selengkapnya