Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #57

Episode 55 : Naura

Chapter 3 – Episode 5

Senin pagi, Lulu baru selesai menyimpan botol minumnya ketika Sherly datang dan langsung mengambil kursi di sebelahnya. Tasnya bahkan belum diletakkan dengan benar saat ia melihat kursi kosong beberapa meja dari mereka, kursi yang sejak akhir pekan sudah disiapkan untuk peserta pertukaran dari Akademi Lumen.

"Belum datang, ya?" Sherly akhirnya menaruh tas di lantai dan mulai mengeluarkan buku pelajaran. "Aku kira kalau jadi anak pertukaran harus datang paling pagi karena ada pengarahan atau semacamnya."

"Katanya kumpul dulu di ruang administrasi," jawab Lulu. "Mungkin nanti masuk bersama wali kelas."

Sherly mengangguk sambil merapikan buku di mejanya, tetapi matanya kembali menuju pintu begitu mendengar langkah seseorang dari koridor. Ternyata hanya dua teman sekelas mereka yang baru datang. Lulu melihat reaksinya dan tertawa kecil. "Kamu dari tadi lihat pintu terus. Kemarin katanya mau bersikap biasa saja.", "Aku cuma penasaran aja."

"Karena memang masih penasaran." Sherly menyandarkan punggung ke kursi dan menatap Lulu dengan senyum kecil. "Kamu enak, sudah ketemu duluan. Aku cuma tahu namanya, sekolahnya, sama fakta kalau dia menganggap kantin sebagai informasi penting."

"Informasi terakhir itu justru yang paling kamu suka.", "Tentu. Berarti prioritas hidupnya jelas."

Lulu menggeleng sambil tersenyum, lalu kembali memeriksa catatan yang akan digunakan untuk pelajaran pertama. Percakapan mereka segera bercampur dengan suara siswa lain yang mulai memenuhi kelas. Beberapa orang membicarakan tugas akhir pekan, sementara yang lain masih membahas peserta pertukaran setelah nama Naura diumumkan pada akhir pekan lalu. Lulu beberapa kali mendengar nama Akademi Lumen disebut dari meja belakang, tetapi rasa penasarannya sudah jauh berkurang setelah pertemuan di Arcane Brew. Baginya, Naura sekarang bukan lagi sekadar siswa dari akademi lain. Ia sudah mengenal cara gadis itu berbicara, tahu bahwa ia mudah tertawa, dan kemungkinan besar akan menanyakan letak kantin sebelum bertanya tentang laboratorium.

Arvin muncul beberapa menit sebelum bel berbunyi dengan rambut yang masih sedikit berantakan. Ia menjatuhkan tas ke kursinya, duduk, lalu memandang Sherly yang tampak terlalu siap untuk ukuran pagi hari.

"Kamu kelihatan mencurigakan."

Sherly langsung menoleh. "Kenapa?"

"Biasanya jam segini kamu masih mengeluh ngantuk."

"Aku tetap ngantuk."

"Enggak kelihatan."

Lulu menahan tawa sambil menutup bukunya. "Dia menunggu Naura."

Arvin baru teringat nama itu setelah beberapa detik. "Oh, anak pertukaran."

Sherly menunjuk Lulu. "Dan ternyata Lulu sudah ketemu duluan."

Arvin memandang Lulu dengan bingung. "Kapan?"

"Jumat sore di Arcane Brew. Kebetulan dia ada di sana."

"Serius? Kecil juga dunia."

"Awalnya aku juga enggak tahu dia peserta pertukaran. Aku cuma kenal seragam Akademi Lumen, terus akhirnya kami ngobrol."

Arvin menarik kursinya sedikit mendekat agar tidak perlu berbicara terlalu keras di tengah kelas yang semakin ramai. "Orangnya gimana?"

"Ramah. Kayaknya gampang beradaptasi juga, cuma dia belum pernah masuk Akademi Harmoni Mana sebelumnya."

Sherly segera menyela, "Dan dia sangat peduli soal kualitas kantin."

Arvin menatap Sherly beberapa detik. "Kenapa itu terdengar seperti informasi terpenting?"

"Karena memang penting."

"Sudahlah, jangan ditanya," kata Lulu sambil tertawa.

Bel pagi berbunyi sebelum Arvin sempat membalas. Percakapan di kelas perlahan berhenti ketika beberapa siswa kembali ke tempat duduk masing-masing, kemudian wali kelas masuk membawa map dan diikuti seorang gadis yang langsung dikenali Lulu.

Naura datang dengan seragam Akademi Lumen yang sama seperti saat mereka bertemu di Arcane Brew. Rambut gelap sebahunya sudah dirapikan, dan sebuah tas disampirkan di bahu kanan. Ia sempat mengamati kelas ketika melangkah masuk, lalu menemukan Lulu di antara deretan meja.

Wajahnya langsung berubah lebih santai.

Lulu mengangkat tangan sedikit sebagai sapaan. Naura membalas dengan senyum yang cukup jelas hingga Sherly langsung melirik Lulu.

"Oh, kalian memang sudah akrab."

"Baru kenal," bisik Lulu.

"Kelihatannya enggak seperti baru kenal."

Wali kelas berdiri di depan papan dan menunggu sampai semua siswa memperhatikan. "Sebelum pelajaran dimulai, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, selama dua minggu ke depan kelas kita akan kedatangan peserta dari program pertukaran Akademi Lumen. Silakan perkenalkan diri terlebih dahulu."

Naura maju setengah langkah. Ia terlihat sedikit gugup ketika pertama kali memandang seluruh kelas, tetapi tidak sampai membuat suaranya terdengar kaku.

"Halo, namaku Naura Adelia. Aku dari Akademi Lumen, kelas sebelas juga. Dua minggu ke depan aku akan ikut beberapa pelajaran dan kegiatan di sini." Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum. "Aku masih belum hafal gedungnya, jadi kalau nanti kalian lihat aku masuk koridor yang salah, tolong panggil sebelum aku semakin jauh."

Beberapa siswa tertawa kecil, dan suasana kelas yang semula menunggu perkenalan formal langsung menjadi lebih ringan.

Wali kelas ikut tersenyum. "Tenang saja, kemungkinan tersesat di hari pertama memang cukup besar. Nanti ada yang membantu menunjukkan ruangannya."

Naura mengangguk. "Nah, itu yang saya harapkan, Bu."

Tawa kembali terdengar dari beberapa meja.

Lulu melihat Sherly yang sudah tersenyum lebar di sebelahnya. Ia tidak perlu bertanya untuk tahu apa yang sedang dipikirkan sahabatnya.

"Kamu benar," bisik Sherly.

"Tentang apa?"

"Kayaknya aku bakal cocok sama dia."

"Kalian belum bicara."

"Makanya nanti."

Wali kelas menunjukkan kursi kosong yang sudah disediakan. Kebetulan posisinya hanya satu baris dari Lulu dan Sherly, sehingga Naura melewati meja mereka ketika menuju tempat duduk. Saat berada di samping Lulu, ia berhenti sebentar.

"Ternyata benar satu kelas."

Lulu tersenyum. "Aku sudah tahu dari Jumat."

Naura langsung menatapnya. "Kamu enggak bilang."

"Kan kamu sudah pulang."

"Kamu punya kesempatan kirim pesan."

"Kita bahkan belum tukar nomor."

Naura hendak menjawab, tetapi wali kelas sudah meminta mereka bersiap untuk pelajaran pertama. Ia akhirnya menahan tawa dan melanjutkan menuju kursinya. "Nanti kita selesaikan."

Sherly mengikuti Naura dengan pandangan sebelum mendekatkan wajahnya ke Lulu. "Aku suka cara dia protes."

"Kamu jangan ikut-ikutan."

"Aku belum melakukan apa-apa."

"Itu yang mengkhawatirkan."

Sherly tertawa, lalu membuka bukunya ketika pelajaran dimulai.

Kehadiran Naura pada awalnya menarik cukup banyak perhatian. Beberapa siswa masih sesekali melirik ketika guru menyebut perbedaan materi antara Akademi Harmoni Mana dan Akademi Lumen, terutama karena sistem pembelajaran kedua sekolah memiliki penekanan yang sedikit berbeda. Namun setelah dua puluh menit, kelas kembali berjalan seperti biasa. Naura mencatat materi, bertanya ketika ada istilah yang belum pernah ia gunakan di sekolahnya, dan sesekali meminjam catatan siswa di sebelahnya untuk mencocokkan urutan pembahasan.

Saat guru memberikan latihan singkat, Lulu sempat melihat Naura membaca satu soal cukup lama. Gadis itu kemudian menoleh ke arahnya dan menunjuk sebuah istilah di lembar latihan.

"Lu, yang ini maksudnya klasifikasi berdasarkan respons Energy Mana atau berdasarkan sumber?"

Lulu memiringkan lembar miliknya agar Naura bisa melihat bagian yang sama. "Respons Energy Mana. Kalau berdasarkan sumber, biasanya ada keterangan jenis resonansinya juga."

"Oh, pantes." Naura mencoret jawaban yang baru setengah ditulis. "Di tempatku istilahnya beda, jadi aku kira bagian ini membahas asal energinya."

Guru yang sedang berjalan melewati meja mereka mendengar percakapan itu dan berhenti. Naura langsung menjelaskan perbedaan istilah yang biasa digunakan di Akademi Lumen, kemudian guru mengambil kesempatan tersebut untuk menjelaskan kepada kelas bahwa beberapa akademi memang menggunakan nomenklatur berbeda meski prinsip dasarnya sama.

Pembahasan singkat itu justru membuat beberapa siswa mulai bertanya kepada Naura mengenai sistem belajar di sekolahnya. Naura menjawab sebisanya, sesekali meminta guru meluruskan jika penjelasannya kurang tepat, sehingga rasa canggung yang biasanya muncul ketika ada orang baru perlahan menghilang melalui pelajaran itu sendiri.

Ketika bel istirahat akhirnya berbunyi, Sherly bahkan belum sempat berdiri ketika Naura sudah datang ke meja Lulu.

"Baik, sekarang soal janji hari Jumat."

Lulu menutup bukunya. "Aku ingat."

Sherly yang duduk di sebelahnya langsung tertarik. "Janji apa?"

Naura menoleh kepadanya. Untuk pertama kalinya keduanya saling berhadapan secara langsung.

Lulu berdiri dan mulai memperkenalkan mereka. "Naura, ini Sherly. Yang kuceritakan kemarin."

Mata Naura langsung sedikit membesar. "Oh, yang bisa sepuluh menit pilih makanan?"

Sherly menoleh sangat perlahan kepada Lulu.

Lulu langsung menahan tawa.

"Kamu cerita bagian itu?"

"Aku cuma memberi peringatan."

"Lu."

Naura sudah tertawa sebelum Sherly sempat menyelesaikan protesnya. "Tenang, aku enggak akan menghakimi. Aku sendiri kemarin sampai mencatat stan mana yang makanannya cepat habis."

Sherly terdiam sebentar, lalu wajahnya berubah serius. "Kamu sampai mencatat?"

Naura mengangguk. "Informasi penting."

Sherly berdiri dan mengulurkan tangan. "Oke. Kita bakal cocok."

Naura menerima tangannya sambil tertawa. "Aku juga mulai merasa begitu."

Arvin yang baru menghampiri mereka berhenti di samping meja Lulu. "Kenapa rasanya seperti aku baru menyaksikan pembentukan kelompok berbahaya?"

Lulu menunjuknya. "Naura, ini Arvin."

Naura menoleh kepada Arvin dan mengangguk ramah. "Halo."

"Hai. Selamat datang di kelas kami." Arvin menarik tali tasnya ke bahu sebelum menambahkan, "Aku cuma mau kasih satu peringatan. Jangan biarkan Sherly menentukan waktu berangkat ke kantin."

Sherly langsung protes. "Kenapa semua orang menyerang aku pagi ini?"

"Karena kalau kamu bilang 'sebentar', artinya bisa lima menit."

"Itu fitnah."

Lulu dan Arvin hampir bersamaan menjawab, "Bukan."

Naura tertawa melihat mereka, lalu ikut berjalan ketika Lulu mengajak semuanya keluar kelas. Koridor sudah dipenuhi siswa yang menuju kantin dan halaman tengah, sehingga Lulu memilih jalur yang sedikit lebih panjang agar Naura bisa sekalian mengenali bagian gedung yang paling sering digunakan.

"Kalau dari kelas kita, sebenarnya kantin bisa lewat tangga sebelah sana," jelas Lulu sambil menunjuk persimpangan koridor, "tapi jalur ini nanti tembus ke perpustakaan juga. Jadi kalau kamu selesai dari ruang teori, lebih gampang lewat sini."

Naura memperhatikan beberapa papan penunjuk ruangan. "Sekarang aku ngerti kenapa kamu dulu bisa salah tangga. Dari bawah bentuk lorongnya hampir sama."

"Nah, kan? Aku bukan satu-satunya yang merasa begitu."

Sherly berjalan di sisi Naura. "Jangan percaya penuh sama Lulu soal navigasi. Dia sudah pernah nyasar."

"Itu waktu kelas sepuluh."

"Sejarah tetap sejarah."

Lulu menatap sahabatnya. "Tadi siapa yang mau membantu menyambut anak baru?"

"Aku membantu. Ini bagian dari informasi keselamatan."

Naura tertawa lagi. "Aku justru senang sudah tahu. Kalau nanti kita sama-sama nyasar, setidaknya aku enggak sendirian."

"Aku sekarang sudah hafal."

"Katanya."

"Naura."

Kali ini Sherly ikut tertawa bersama mereka.

Mereka akhirnya sampai di kantin yang sudah mulai ramai. Naura sempat berhenti di pintu masuk dan melihat deretan stan di dalam, kemudian mengeluarkan buku catatan kecil dari saku tasnya.

Sherly langsung menatap benda itu.

"Jangan bilang..."

Naura membuka halaman yang ditulisnya di Arcane Brew. "Aku sudah punya daftar."

Sherly menatap Lulu dengan ekspresi yang membuat Lulu langsung tahu apa yang akan keluar dari mulutnya.

"Lu, aku serius. Kenapa kamu baru mengenalkan dia sekarang?"

"Kalian baru bisa ketemu hari ini."

"Harusnya Jumat kamu tahan dia sampai aku datang."

Naura tertawa sambil membaca catatannya. "Katanya mi ayam antreannya panjang."

Sherly langsung menunjuk salah satu stan. "Benar, tapi kalau kita masuk antrean sekarang masih aman. Nasi goreng juga bagus, cuma biasanya mulai habis kalau sudah lewat setengah jam."

Naura menutup buku catatannya dengan puas. "Informasi Lulu terverifikasi."

"Sudah kubilang."

Arvin yang sejak tadi mengikuti mereka menggeleng. "Aku enggak percaya kalian membuat laporan soal kantin."

"Ini namanya persiapan," jawab Sherly.

Lulu tersenyum melihat keduanya sudah berjalan menuju antrean sambil membahas pilihan makan siang. Bahkan belum satu jam sejak Naura resmi masuk ke kelas mereka, kekhawatirannya tentang menjadi orang asing mulai kehilangan tempat di antara percakapan sederhana, candaan, dan keputusan mengenai apa yang akan mereka makan.

Lulu menyusul bersama Arvin, lalu mengambil posisi di belakang Sherly. Dari sana ia bisa mendengar Naura bertanya apakah kantin menyediakan minuman dengan kadar Energy Mana rendah untuk siswa yang sensitif terhadap minuman infus, dan Sherly langsung menunjuk stan minuman di ujung ruangan.

Percakapan mereka bergerak begitu saja, mudah dan biasa.

Bagi Lulu, justru bagian itulah yang terasa penting. Naura tidak perlu diperlakukan seperti tamu selama dua minggu. Ia hanya membutuhkan ruang untuk ikut masuk ke dalam keseharian mereka.

Ketika akhirnya mereka mendapatkan satu meja kosong untuk berempat, Naura meletakkan nampannya dan duduk sambil memandang makanan yang baru dibelinya.

"Oke, satu hal sudah selesai."

Sherly duduk di hadapannya. "Apa?"

"Nyari kelas aman. Kantin juga aman." Naura mengambil sendoknya, lalu menatap Lulu dengan senyum santai. "Sekarang tinggal cari tahu dua minggu di sini bakal seperti apa."

Lulu ikut duduk di samping Sherly. "Baru beberapa jam sudah bikin daftar lagi?"

"Enggak. Yang ini enggak perlu dicatat."

"Kenapa?"

Naura membuka bungkus sendok sambil menjawab, "Kalau semuanya dicatat dari awal, buat apa ikut pertukaran? Mending aku baca brosur sekolah kalian di rumah."

Sherly mengangguk setuju. "Nah, aku suka jawaban itu."

Arvin menarik kursi terakhir dan duduk. "Kalian baru kenal lima menit dan sudah saling mendukung."

"Lebih baik daripada saling serang," balas Sherly.

"Siapa yang menyerang?"

"Kamu tadi."

"Itu informasi keselamatan."

Naura tertawa mendengar Arvin menggunakan alasan yang sama seperti Sherly sebelumnya, sedangkan Lulu akhirnya menyerah mencoba mengikuti siapa yang sedang membela siapa. Ia mengambil sendok dan mulai makan bersama mereka.

Hari pertama Naura di Akademi Harmoni Mana baru berjalan setengah hari.

Namun kursi keempat di meja itu sudah tidak terasa seperti kursi untuk seorang tamu.

Dan bagi Lulu, itu sudah menjadi awal yang cukup baik.

Makan siang berjalan lebih lama dari yang Lulu perkirakan karena Naura selalu menemukan hal baru untuk ditanyakan setiap kali pembicaraan mereka hampir berpindah topik. Setelah memastikan mi ayam kantin memang sesuai dengan rekomendasi Sherly, ia mulai bertanya tentang guru yang akan mengajar setelah istirahat, kegiatan sekolah yang biasanya berlangsung menjelang akhir pekan, sampai aturan penggunaan ruang latihan yang sempat mereka lewati tadi. Sherly menjawab bagian yang diketahuinya dengan antusias, sementara Arvin beberapa kali harus meluruskan informasi ketika penjelasan Sherly mulai bercampur dengan pendapat pribadinya.

"Pokoknya kalau Pak Reza sudah masuk kelas sambil bawa banyak kertas, siap-siap saja," kata Sherly sambil menghabiskan minumannya.

Naura yang sedang makan berhenti sebentar. "Siap-siap apa?"

"Tugas."

Arvin langsung menggeleng. "Jangan ditakut-takuti. Minggu lalu beliau bawa banyak kertas karena membagikan hasil latihan."

"Itu tetap kertas."

"Masalahnya bukan jumlah kertasnya."

Naura tertawa melihat keduanya. "Aku baru beberapa jam di sini dan sudah dapat dua versi informasi."

Lulu yang duduk di samping Sherly menunjuk Arvin dengan sendoknya. "Kalau soal pelajaran, dengarkan Arvin. Kalau soal makanan, baru dengarkan Sherly."

Sherly menatapnya tidak percaya. "Aku juga bisa dipercaya soal pelajaran."

"Bisa, tapi kamu suka menambahkan komentar."

"Supaya informasinya enggak membosankan."

Naura mengangguk seolah menemukan jawaban yang masuk akal. "Kalau begitu aku dengarkan keduanya, nanti kusaring sendiri."

"Nah, itu paling aman," jawab Arvin.

Obrolan mereka berlanjut sampai kantin mulai sedikit lengang. Naura akhirnya mengetahui bahwa Arvin mengikuti latihan futsal beberapa kali seminggu, sementara Sherly langsung bercerita tentang beberapa kegiatan sekolah yang pernah ia coba sebelum bosan dan berpindah ke hal lain. Ketika giliran Lulu ditanya, ia sempat berpikir karena kesehariannya belakangan memang lebih banyak terbagi antara sekolah, rumah, dan Arcane Brew.

"Aku enggak ikut kegiatan rutin sebanyak mereka," jawab Lulu sambil merapikan tisu bekas di atas nampannya. "Biasanya setelah sekolah langsung pulang atau mampir ke suatu tempat."

Sherly langsung tersenyum. "Suatu tempat."

Naura menangkap maksudnya. "Arcane Brew?"

Lulu mengangguk. "Iya, belakangan cukup sering."

"Dia bilang 'cukup sering'," Sherly menyela sambil menatap Naura. "Padahal hari Jumat kemarin dia awalnya mau pulang, terus akhirnya turun dari bus cuma karena lewat depan Arcane Brew."

Naura tertawa. "Kamu sampai turun?"

"Bus memang berhenti di dekat sana."

"Itu bukan jawaban."

Lulu menatap keduanya bergantian. "Kenapa sekarang kalian kompak menyerang aku?"

"Kami cuma mengumpulkan informasi," jawab Naura santai.

Sherly langsung menunjuknya. "Nah. Aku suka istilah itu."

Arvin menyandarkan punggungnya ke kursi. "Baru beberapa jam dan kalian sudah jadi masalah."

"Kamu iri karena enggak diajak," balas Sherly.

"Aku justru bersyukur."

Lulu akhirnya ikut tertawa. Melihat Sherly dan Naura berbicara seolah sudah mengenal cukup lama membuat kekhawatirannya mengenai hari pertama peserta pertukaran itu terasa berlebihan. Naura memang membutuhkan sedikit bantuan mengenali lingkungan sekolah, tetapi untuk urusan berbaur dengan orang lain, ia mampu menemukan tempatnya sendiri dengan cukup cepat.

Bel peringatan berbunyi dari gedung utama dan membuat mereka mulai membereskan meja. Naura hampir membawa nampannya ke arah yang salah sebelum Sherly memanggil dan menunjukkan tempat pengembalian peralatan makan. Setelah itu mereka kembali menuju kelas melalui jalur yang sama, hanya saja kali ini Naura beberapa kali mencoba menyebutkan ruangan yang mereka lewati untuk menguji ingatannya sendiri.

"Perpustakaan di kiri setelah tangga, lalu kalau lurus sampai ujung ketemu gedung teori," katanya sambil menunjuk.

"Benar," jawab Lulu.

"Laboratorium?"

"Kalau dari sini belok kanan setelah halaman tengah."

Naura mengangguk. "Oke. Mulai kebayang."

Sherly berjalan di sisi lainnya. "Besok kamu sudah bisa jalan sendiri."

"Jangan terlalu percaya diri dulu. Aku baru hafal jalur ke kantin."

"Yang penting justru itu."

Arvin yang berjalan di belakang mereka tertawa. "Prioritas kalian konsisten."

Mereka kembali ke kelas beberapa menit sebelum guru berikutnya datang. Naura mengambil tempatnya, lalu membuka jadwal yang diberikan sekolah. Pelajaran setelah istirahat adalah praktik dasar pengukuran respons Energy Mana, sebuah materi yang ternyata cukup familiar baginya meski peralatan yang digunakan Akademi Harmoni Mana berbeda dengan perangkat di Akademi Lumen.

Guru membawa beberapa unit pengukur ke meja depan dan meminta siswa membentuk kelompok kecil. Lulu biasanya bekerja bersama Sherly dan dua teman lain, tetapi kali ini guru meminta Naura bergabung dengan kelompok mereka agar lebih mudah menyesuaikan diri dengan prosedur yang digunakan di akademi.

Naura memindahkan kursinya mendekat. "Nah, akhirnya bagian yang aku lumayan kenal."

Sherly mengambil salah satu lembar prosedur. "Di tempatmu alatnya sama?"

"Bentuknya beda, tapi fungsinya mirip." Naura menunjuk sensor kecil pada perangkat di tengah meja. "Kalau di Lumen bagian ini langsung menyatu dengan pembacanya. Di sini dipisah, ya?"

Lulu mengangguk sambil menghubungkan kabel sensor sesuai petunjuk. "Supaya modulnya bisa diganti. Kalau pengukurannya butuh sensitivitas berbeda, sensornya tinggal diganti tanpa harus pakai alat lain."

"Oh, itu praktis juga."

Guru mulai menjelaskan prosedur dari depan kelas. Lulu mengikuti setiap langkah sambil memastikan sambungan alat sudah tepat, sementara Sherly mencatat angka awal yang muncul pada layar. Naura lebih banyak mengamati pada percobaan pertama, lalu meminta izin mencoba sendiri ketika giliran kedua dimulai.

Ia meletakkan telapak tangan di atas bidang sensor dan menunggu pembacaan selesai. Garis tipis berwarna pucat muncul pada permukaan alat, bergerak mengikuti perubahan respons Energy Mana sebelum angka akhirnya berhenti pada nilai tertentu.

Sherly melihat hasilnya. "Lumayan tinggi."

"Memang biasanya segitu," jawab Naura. "Di Lumen hasil terakhirku juga hampir sama."

Lulu memeriksa angka di lembar referensi. "Masih dalam rentang normal untuk tipe resonansimu."

Naura menoleh kepadanya. "Kamu hafal tabelnya?"

"Enggak semuanya. Bagian itu kemarin keluar di latihan."

Sherly langsung menatap Lulu. "Dan dia bilang enggak semuanya."

"Aku memang cuma ingat beberapa."

"Beberapa versi Lulu itu beda dengan beberapa versi manusia biasa."

Naura tertawa, lalu menarik lembar referensi lebih dekat. "Bagus. Berarti kalau aku bingung nanti ada tempat tanya."

"Kamu juga bisa tanya guru."

"Tentu. Tapi guru enggak duduk di sebelahku."

Lulu tersenyum dan kembali memeriksa alat.

Ketika giliran Sherly tiba, hasil pembacaannya sempat berubah karena posisi tangannya bergeser sebelum proses selesai. Naura langsung menyadari penyebabnya dan membantu mengatur ulang sensor, membuat percobaan kedua berjalan lebih lancar. Setelah itu giliran Lulu.

Ia sudah melakukan latihan serupa beberapa kali sebelumnya, sehingga tidak ada alasan baginya untuk merasa berbeda. Lulu menempelkan telapak tangan pada bidang sensor dan menunggu garis pembacaan muncul.

Cahaya tipis mengikuti sisi perangkat.

Angkanya bergerak.

Lulu memperhatikan layar sambil menunggu nilai akhirnya berhenti.

Satu angka muncul, berubah sedikit, lalu menetap.

Sherly mencatat hasil tersebut tanpa komentar. Nilainya masih berada di sekitar hasil latihan sebelumnya, hanya berbeda sedikit dan tetap masuk dalam rentang yang mereka harapkan.

Naura melihat angka itu, kemudian membaca tabel di sebelahnya.

"Resonansimu tipe responsif?"

Lulu mengangguk. "Kurang lebih begitu."

"Menarik."

Naura membandingkan angka Lulu dengan hasil miliknya sendiri. "Di Lumen kami jarang pakai klasifikasi ini secara langsung. Biasanya respons seperti punyamu dibaca bersama variasi manifestasi."

Kata terakhir membuat Lulu berhenti menuliskan hasil pengukuran.

"Manifestasi?"

"Iya. Kalau Energy Mana seseorang punya bentuk respons fisik yang konsisten, datanya biasanya dibaca berpasangan." Naura masih melihat tabel sehingga belum menyadari perubahan kecil pada perhatian Lulu. "Misalnya ada yang muncul sebagai perubahan suhu, cahaya, pola kristalisasi, atau respons tumbuhan. Macam-macam."

Sherly menoleh kepada Lulu.

Tatapan mereka bertemu sebentar.

Naura akhirnya menyadarinya. "Kenapa?"

Lulu menaruh pena di atas lembar kerja. "Enggak apa-apa. Aku cuma belum pernah dengar sistem pembacaan seperti itu."

"Memang enggak semua akademi pakai." Naura menarik buku catatannya dan membuka halaman kosong. "Kalau kamu mau, nanti aku tunjukkan contoh tabelnya. Aku masih punya salinan materi semester lalu di tablet."

Lulu tertarik, tetapi sebelum sempat bertanya lebih jauh guru meminta seluruh kelompok melanjutkan percobaan berikutnya. Pembicaraan itu pun berhenti dan mereka kembali mengerjakan tugas, meski istilah yang baru disebut Naura tetap berada dalam pikiran Lulu.

Respons tumbuhan.

Bunga yang beberapa kali muncul berkaitan dengan dirinya langsung terlintas di kepalanya, tetapi ia memilih menyelesaikan latihan lebih dulu. Naura mungkin hanya sedang menjelaskan contoh umum dari sistem pembelajaran Akademi Lumen. Tidak ada alasan untuk menghubungkan semuanya terlalu cepat.

Setelah praktik selesai, Naura membantu mengembalikan alat ke meja depan. Lulu dan Sherly merapikan lembar kerja mereka, lalu Sherly mendekat ketika Naura sedang berbicara dengan guru.

"Kamu kepikiran bunga itu, kan?"

Lulu menatapnya. "Sedikit."

"Aku juga."

"Naura mungkin tahu sesuatu."

"Bisa jadi." Sherly memasukkan bukunya ke tas. "Tapi enggak perlu langsung ditanya sekarang. Dia baru hari pertama."

Lulu mengangguk. "Aku juga mikir begitu."

Sherly tersenyum kecil. "Lagipula kalau memang dia punya materi tentang itu, nanti tinggal lihat. Lebih gampang daripada kita menebak-nebak."

Jawaban itu cukup bagi Lulu. Ia menyimpan lembar praktik dan kembali ke tempat duduk ketika Naura selesai berbicara dengan guru.

Pelajaran terakhir hari itu berjalan tanpa hal yang berarti. Ketika bel pulang berbunyi, sebagian siswa langsung keluar sementara beberapa lainnya masih menyelesaikan catatan. Naura berdiri di samping mejanya sambil memeriksa ponsel.

"Aku harus nunggu sekitar satu jam."

Lulu yang sedang memasukkan buku ke tas menoleh. "Dijemput?"

Naura mengangguk. "Kakakku masih ada urusan. Katanya baru bisa ke sini sekitar jam empat."

Sherly yang mendengar dari sebelah langsung bertanya, "Mau nunggu di perpustakaan?"

"Bisa sih. Tapi aku juga lapar lagi."

Arvin, yang baru saja lewat menuju pintu, berhenti. "Kalian baru makan beberapa jam lalu."

Naura menatapnya dengan tenang. "Beberapa jam itu cukup lama."

Sherly langsung mengangguk setuju. "Aku semakin yakin kita cocok."

Arvin menggeleng dan melanjutkan langkah. "Aku latihan dulu. Sampai besok."

Naura melambaikan tangan. "Sampai besok."

Setelah Arvin pergi, Lulu memasang tas di bahunya. Ia sebenarnya berencana langsung pulang hari itu karena masih memiliki tugas, tetapi kemudian teringat bahwa Arcane Brew hanya membutuhkan satu perjalanan bus dari sekolah dan Naura sudah mengenal tempat itu.

"Kamu mau nunggu di Arcane Brew?"

Naura langsung mengangkat kepala. "Boleh juga."

Sherly memandang Lulu. "Kalian mau ke sana?"

"Iya. Daripada Naura sendirian satu jam di sekolah."

Sherly berpikir sebentar, lalu memeriksa ponselnya. "Aku sebenarnya bisa ikut sebentar. Dijemputnya masih sekitar satu setengah jam lagi."

Naura tersenyum. "Nah, sekalian. Aku kemarin belum selesai baca bukuku."

Sherly meraih tasnya. "Dan aku belum pernah ke sana."

Lulu berhenti.

Ia menatap Sherly beberapa detik.

Sherly balas menatapnya. "Kenapa?"

"Kamu serius?"

"Iya. Selama ini kamu cuma cerita. Aku belum pernah ikut."

Lulu baru menyadari bahwa itu memang benar. Sherly sudah mendengar cukup banyak tentang Arcane Brew, tentang Rian, Adrian, Mira, dan beberapa pelanggan yang mulai dikenalnya, tetapi belum pernah benar-benar datang bersama Lulu.

Naura melihat keduanya bergantian. "Sepertinya aku baru masuk ke sesuatu."

Lihat selengkapnya