Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #58

Episode 56 : Bunga Diperhatikan

Chapter 3 – Episode 6

Pagi berikutnya, Lulu baru selesai mengganti sepatu ketika ponselnya bergetar di dalam tas. Ia berdiri di dekat deretan loker sambil memberi jalan kepada siswa lain yang mulai memenuhi koridor, lalu membuka pesan dari Mira yang dikirim beberapa menit sebelumnya.

Tanaman kecil milik Putri kini berada di dekat jendela Arcane Brew.

Tunas yang kemarin baru terbuka sedikit sudah menjadi bunga kecil berwarna putih pucat dengan bagian tengah kekuningan.

Di bawah foto itu, Mira menulis bahwa Putri sudah melihatnya pagi tadi dan langsung memindahkan tanaman tersebut ke pot baru.

Lulu memperbesar fotonya sebentar sebelum membuka catatan manifestasi yang dibuat dua malam lalu. Ia menambahkan perkembangan terbaru di bawah entri kemarin, tetapi berhenti ketika hendak menuliskan kemungkinan penyebabnya. Tanaman itu memang sudah memiliki tunas sebelum Lulu menemukannya. Cahaya dari jendela, waktu berbunga, kondisi tanaman setelah dipindahkan, bahkan perawatan Putri jauh lebih masuk akal untuk dipertimbangkan lebih dulu daripada menghubungkannya dengan Energy Mana miliknya.

Ia akhirnya menulis satu kalimat pendek.

Bunga mekar pagi berikutnya. Kemungkinan proses alami masih besar.

"Lihat apa?"

Sherly datang dari arah tangga sambil membawa kotak susu yang belum dibuka. Ia berhenti di samping Lulu dan langsung mengenali foto di layar. "Oh, yang kemarin kamu ceritakan di grup. Sudah mekar?"

Lulu menunjukkan foto itu dengan lebih jelas. "Kak Mira kirim pagi ini. Aku masukin ke catatan, tapi kayaknya yang ini memang tanaman biasa. Dari kemarin tunasnya sudah ada."

"Bagus, berarti sekarang kamu enggak langsung menyalahkan diri sendiri setiap lihat bunga." Sherly membuka sedotan susunya sambil berjalan bersama Lulu menuju kelas. "Dulu kalau ada kelopak tumbuh dekat kamu, ekspresimu langsung kayak habis menemukan masalah baru."

Lulu memasukkan ponsel ke saku rok. "Aku juga baru sadar selama ini reaksiku memang begitu. Padahal belum tentu semuanya ada hubungannya sama aku."

Sherly menyeruput susunya, lalu menunjuk Lulu dengan kotak kecil itu. "Nah, itu jauh lebih masuk akal. Dicatat boleh, tapi jangan sampai semua tanaman di kota masuk penelitianmu. Kita bisa lulus duluan sebelum tabelnya selesai."

"Memangnya aku kelihatan bakal mencatat semua tanaman?"

"Dua minggu lalu? Mungkin enggak. Sekarang kamu sudah punya tabel."

Lulu tertawa sambil mendorong pintu kelas. "Tabelnya juga baru beberapa baris."

Naura sudah berada di tempat duduknya dan sedang membandingkan jadwal pelajaran dengan sebuah buku tipis dari Akademi Lumen. Begitu mendengar kata tabel, ia langsung mengangkat kepala. "Tabel bunga?"

Sherly meletakkan tas di kursinya. "Lihat, sekarang dia bahkan punya konsultan."

"Aku yang menyuruh dia mencatat, jadi secara teknis aku bertanggung jawab." Naura menerima ponsel yang disodorkan Lulu dan memperhatikan foto tanaman dari Arcane Brew. "Cantik. Tapi kalau kemarin sudah ada tunas, aku juga enggak bakal buru-buru memasukkannya sebagai manifestasi."

"Itu juga yang kupikirkan." Lulu duduk dan mengeluarkan buku pelajaran pertama. "Makanya aku tulis kemungkinan alami masih besar."

Naura mengembalikan ponselnya. "Simpan saja datanya. Catatan yang ternyata biasa juga berguna. Kalau cuma menyimpan kejadian yang kelihatan cocok, nanti hasilnya malah menipu."

Sherly menarik kursinya mendekat sambil menunjuk Naura. "Ini yang aku suka. Kalau Lulu mulai terlalu serius, sekarang ada orang lain yang bisa menjelaskan pakai bahasa ilmiah kenapa dia harus santai."

"Aku enggak bilang harus santai."

"Jangan rusak pujianku."

Naura tertawa dan kembali membuka bukunya. "Baiklah. Versi tidak ilmiahnya: catat dulu, jangan panik."

"Nah, itu baru enak."

Lulu mendengarkan keduanya sambil menyiapkan alat tulis. Hanya dalam tiga hari, Naura sudah menemukan tempatnya sendiri di antara percakapan mereka. Sherly tidak lagi memperlakukannya seperti siswa baru yang perlu ditemani, dan Naura juga sudah cukup nyaman untuk menyela atau membalas candaan tanpa menunggu Lulu menjadi penghubung.

Arvin datang beberapa menit kemudian dan berhenti di samping meja mereka ketika mendengar Sherly masih membicarakan tanaman. "Kalian pagi-pagi sudah bahas bunga lagi?"

Sherly memutar kursinya sedikit. "Bukan kami. Lulu sekarang sedang melakukan penelitian pribadi."

"Aku cuma mencatat," protes Lulu sambil menutup aplikasi di ponselnya.

Arvin meletakkan tas di kursinya sendiri. "Kalau nanti butuh subjek pembanding, rumahku punya tiga pot yang hampir mati. Kalau bisa bikin hidup lagi, ibuku pasti senang."

Naura langsung tertawa, sementara Lulu mengambil penghapus kecil dari kotak pensil dan melemparkannya pelan ke meja Arvin. "Aku bukan pupuk."

Arvin menangkap penghapus itu sebelum jatuh. "Aku cuma menawarkan kesempatan penelitian."

Sherly mengambil kembali penghapus Lulu dari tangannya. "Jangan kasih dia tanaman mati. Nanti kalau benar-benar hidup, kita malah punya masalah baru."

"Kalau hidup, berarti bagus."

"Buat ibumu, iya. Buat kita, diskusinya tambah panjang."

Naura menahan tawa sambil membuka halaman yang akan digunakan untuk pelajaran pertama. "Aku baru tiga hari di sini dan sudah ngerti kenapa percakapan kalian bisa pindah dari penelitian ke pupuk dalam satu menit."

"Biasakan saja," kata Lulu sambil menerima kembali penghapusnya dari Sherly. "Kalau ada Arvin, biasanya memang begini."

Arvin duduk sambil memasang ekspresi keberatan. "Kenapa jadi aku?"

Bel masuk menghentikan kesempatan Sherly untuk menjawab. Guru mereka tiba beberapa saat kemudian, dan percakapan mengenai bunga menghilang di antara buku yang dibuka, tugas yang dikumpulkan, serta materi pagi yang langsung memenuhi papan.

Menjelang istirahat pertama, Lulu hampir lupa pada foto dari Mira. Pelajaran berlangsung seperti biasa sampai guru praktik mereka masuk membawa pengumuman mengenai perubahan jadwal penggunaan laboratorium. Salah satu kelas lain membutuhkan ruang utama untuk evaluasi, sehingga sesi mereka dipindahkan ke laboratorium kedua dengan peralatan yang lebih sederhana.

Naura tampak cukup senang mendengarnya karena belum pernah melihat laboratorium tersebut. Sherly justru mengeluh pelan karena ruang kedua berada di gedung belakang dan perjalanan ke sana memakan sebagian waktu istirahat.

Mereka akhirnya berangkat bersama kelas setelah guru selesai menjelaskan tugas. Laboratorium kedua lebih kecil, dengan meja panjang yang digunakan berpasangan dan beberapa perangkat pengukur Energy Mana portabel tersimpan di lemari samping. Tanaman percobaan berjajar di dekat dinding karena ruangan itu juga digunakan untuk materi respons biologis tingkat dasar.

Begitu melihat deretan pot tersebut, Sherly langsung melirik Lulu.

Lulu menangkap tatapannya. "Jangan."

Sherly menahan senyum. "Aku belum ngomong."

Naura yang berjalan di belakang mereka ikut memahami maksudnya dan menepuk lengan Sherly pelan. "Biarkan dia hidup tenang selama lima menit."

"Kalian berdua sekarang malah kompak."

"Ini demi kepentingan penelitian."

Lulu memilih meja di tengah sebelum percakapan mereka semakin jauh. Guru membagi siswa berpasangan untuk latihan stabilisasi output, sementara Naura ditempatkan bersama seorang siswi lain agar ia dapat mencoba perangkat yang berbeda dari milik Akademi Lumen. Sherly berpasangan dengan Lulu seperti biasa.

Latihan mereka sederhana. Satu orang menjaga output Energy Mana pada tingkat rendah selama tiga puluh detik, sementara pasangannya mencatat perubahan pada indikator. Setelah itu mereka bertukar posisi. Tidak ada manifestasi, target khusus, ataupun penggunaan sihir yang kompleks.

Sherly menyelesaikan gilirannya lebih dulu. Indikator sempat naik pada beberapa detik pertama sebelum stabil di bagian tengah. Ketika Lulu mengambil posisi, ia menempatkan kedua tangan di dekat sensor dan mengikuti instruksi guru untuk menjaga aliran tetap rendah.

Cahaya tipis pada indikator naik perlahan.

Sherly mencatat angka pertama, lalu membandingkannya dengan detik berikutnya. "Lebih stabil dari latihan minggu lalu. Jangan dinaikkan lagi, segini sudah pas."

Lulu mempertahankan alirannya. "Aku juga lebih gampang menahannya sekarang. Biasanya bagian awal suka naik sendiri."

"Berarti latihanmu ada hasilnya. Aku kira selama ini kita cuma datang ke laboratorium buat bikin tangan pegal."

Lulu hampir tertawa dan indikator sempat bergerak sedikit.

Sherly langsung menunjuk layar. "Nah, jangan ketawa dulu. Aku enggak mau mengulang dari awal gara-gara mulutku sendiri."

"Kamu yang bikin aku ketawa."

"Makanya aku menyesal."

Waktu tiga puluh detik selesai dan indikator kembali turun. Lulu melepaskan tangannya dari sensor, lalu membantu Sherly mencatat hasil akhir. Mereka baru saja menyelesaikan tabel ketika Naura datang membawa lembar pengamatannya sendiri.

"Sensor kalian lebih sensitif di bagian awal." Naura meletakkan lembar itu di sisi meja agar Lulu bisa melihat perbedaannya. "Di Lumen, perubahan sekecil ini biasanya masih digabung ke satu rentang."

Sherly membandingkan kedua tabel. "Aku lebih suka yang digabung. Angkanya lebih sedikit."

"Itu bukan alasan akademis."

"Makanya aku enggak masuk tim pengembangan alat."

Lulu tertawa sambil merapikan lembar mereka. Di dekat meja, salah satu tanaman percobaan memiliki beberapa daun kecil yang bergerak karena udara dari ventilasi. Ia memperhatikannya sebentar, lalu kembali memasukkan alat tulis ke kotak.

Tidak terjadi apa-apa.

Anehnya, justru itu yang membuat Lulu lebih tenang.

Ia baru menggunakan Energy Mana cukup lama dan berada hanya beberapa meter dari deretan tanaman. Kalau bunga selalu muncul hanya karena kekuatannya berada dekat tumbuhan, seharusnya ada perubahan yang mudah dilihat. Kenyataannya semua tanaman tetap sama.

Naura rupanya menangkap arah perhatiannya. Ia tidak langsung membicarakannya di depan siswa lain. Setelah guru memberi waktu beberapa menit untuk merapikan meja, Naura mendekat sambil membantu mengumpulkan lembar hasil.

"Bagus, kan?"

Lulu memahami maksudnya dan memasukkan sensor kembali ke kotak. "Iya. Setidaknya sekarang aku tahu pakai Energy Mana saja belum tentu bikin sesuatu terjadi."

Naura menumpuk lembar mereka bersama miliknya. "Satu kemungkinan berkurang. Itu sudah kemajuan."

Sherly ikut membawa kotak alat menuju meja depan. "Aku lebih suka penelitian yang hasilnya justru enggak ada kejadian aneh. Jauh lebih tenang."

Lulu mengambil dua kabel yang tertinggal sebelum menyusul mereka. "Aku juga."

Arvin kebetulan lewat membawa sensor kelompoknya dan mendengar bagian terakhir. "Kalian ngomongin tanaman?"

Sherly langsung mengambil sensor dari tangannya dan menaruhnya bersama perangkat lain. "Jangan mulai lagi soal tiga pot di rumahmu."

"Aku bahkan belum bilang apa-apa."

"Bagus. Pertahankan."

Arvin tertawa sambil membantu menutup kotak perangkat. Naura berdiri di samping mereka dengan lembar hasil di tangan, sementara Lulu menyerahkan kabel terakhir kepada guru. Tidak ada yang membahas bunga lagi setelah itu karena kelas berikutnya sudah menunggu dan mereka masih harus berjalan kembali ke gedung utama.

Namun hasil latihan sederhana tersebut tetap tersimpan di pikiran Lulu.

Bunga tidak muncul.

Energy Mana tetap stabil.

Tanaman di ruangan itu tidak berubah.

Untuk pertama kalinya sejak mulai mencatat, sebuah kejadian biasa terasa sama bergunanya dengan kejadian yang selama ini membuatnya penasaran.

Saat istirahat makan siang, Lulu menambahkan satu baris baru ke catatannya.

Laboratorium sekolah. Energy Mana digunakan secara sadar selama latihan. Kondisi stabil. Tidak ada perubahan pada tanaman di sekitar.

Ia baru menyimpan ponsel ketika pesan dari Mira masuk lagi.

Kali ini bukan foto bunga.

Mira: Putri bilang makasih karena kemarin kamu bantu mindahin tanamannya. Katanya bunga itu memang biasanya mekar kalau sudah dapat cahaya cukup.

Lulu membaca pesan itu sambil tersenyum. Penjelasannya sederhana dan sesuai dengan apa yang sudah ia duga.

Sherly yang duduk di sebelahnya sedang membuka bekal ketika Lulu menunjukkan pesan tersebut. "Nah, satu kasus selesai. Matahari menang."

Naura ikut membaca dari seberang meja. "Bagus. Jangan hapus catatannya."

"Aku enggak akan hapus." Lulu memasukkan ponselnya kembali ke tas. "Justru aku mau tandai sebagai kemungkinan alami."

Arvin membuka botol minumnya sambil memandang mereka bertiga. "Aku merasa sudah ketinggalan jauh dari penelitian ini."

Sherly langsung menyodorkan kotak makan kepadanya. "Enggak usah dikejar. Tugasmu sekarang makan."

Arvin mengambil satu potong dari lauk yang ditawarkan. "Nah, kalau bidangnya ini aku bisa bantu."

Naura ikut membuka bekalnya dan tertawa. "Akhirnya kita menemukan spesialisasinya."

Percakapan berpindah begitu saja ke makanan, jadwal sore, dan tugas yang harus mereka selesaikan. Lulu ikut membahas semuanya tanpa terus memikirkan bunga di Arcane Brew.

Catatannya tetap tersimpan di dalam ponsel.

Bukan lagi sebagai daftar hal yang membuatnya takut.

Untuk sementara, catatan itu mulai menjadi cara sederhana untuk membedakan mana yang benar-benar perlu ia pahami dan mana yang selama ini hanya terlalu cepat ia hubungkan dengan dirinya sendiri.

Dan perubahan kecil itu membuat hari-harinya terasa sedikit lebih mudah dijalani.

Jam pelajaran terakhir selesai lebih cepat karena guru hanya meminta kelas mengumpulkan hasil latihan sebelum pulang. Begitu guru keluar, suara kursi bergeser langsung memenuhi ruangan. Beberapa siswa bergegas menuju pintu, sementara yang lain masih menyelesaikan catatan atau membicarakan rencana sore mereka.

Naura belum ikut berdiri. Ia sedang memeriksa jadwal di ponselnya ketika Sherly menghampiri meja Lulu sambil membawa dua buku yang tadi dipinjamnya.

"Hari ini aku harus langsung pulang lagi. Mama sudah pesan dari pagi, jadi aku enggak punya ruang buat pura-pura lupa." Sherly meletakkan salah satu buku di meja Lulu, lalu melirik Naura yang masih sibuk dengan ponselnya. "Kamu bagaimana, Naura? Kakakmu jemput lagi?"

Naura menggeleng sambil memasukkan ponsel ke tas. "Hari ini aku pulang sendiri. Kakakku ada kegiatan sampai malam, jadi aku bebas selama enggak tiba-tiba menghilang ke kota lain."

"Bagus. Berarti sekarang kita tahu batasnya masih satu kota." Lulu menutup resleting tasnya, lalu berdiri. "Aku sendiri mau langsung pulang. Kemarin sudah mampir ke Arcane Brew, jadi hari ini harus beresin beberapa hal di rumah."

Naura mengambil tasnya dan ikut berjalan bersama mereka keluar kelas. "Aku juga enggak mau ke mana-mana. Hari ketiga di sekolah baru ternyata lebih capek daripada yang kukira. Bukan karena pelajarannya, tapi karena setiap hari ada nama baru yang harus diingat."

Sherly langsung tertawa sambil menunjuk beberapa siswa yang berjalan lebih dulu di koridor. "Kalau yang kelas kita masih gampang. Tunggu sampai ada anak kelas lain menyapa kamu, terus kamu harus memilih antara mengaku lupa atau pura-pura ingat."

"Aku sudah mengalami itu tadi pagi. Ada yang menyapaku dekat tangga, aku balas senyum sambil berharap dia enggak lanjut ngobrol."

Lulu menahan tawa. "Siapa?"

"Kalau aku tahu namanya, masalahnya sudah selesai."

Sherly tertawa lebih keras. "Nah, selamat datang di kehidupan sekolah."

Mereka menuruni tangga bersama arus siswa lain. Naura sudah jauh lebih jarang memperhatikan papan penunjuk ruangan. Ketika sampai di lantai bawah, ia bahkan lebih dulu mengambil jalur menuju gerbang sebelum Sherly sempat mengingatkan.

Lulu melihatnya dan tersenyum. "Sudah hafal sekarang."

"Jalur kelas ke gerbang, kelas ke kantin, sama kelas ke laboratorium sudah aman. Sisanya masih wilayah berbahaya."

"Perpustakaan?"

"Aman kalau berangkat dari kelas. Kalau dari gedung belakang, aku belum berani janji."

Sherly berjalan di sisi Naura sambil mengangguk seolah sedang menilai kemajuan murid. "Hari ketiga sudah lumayan. Jumat nanti kita lepas sendiri."

Naura menoleh kepadanya. "Aku peserta pertukaran, bukan anak magang."

"Metodenya sama. Awalnya ditemani, lama-lama dilepas."

Lulu menyela sebelum keduanya menemukan perbandingan yang lebih aneh. "Besok ada kelas di gedung seni juga. Naura belum pernah ke sana."

Sherly langsung mengubah rencananya. "Oke, pelepasan ditunda."

Naura tertawa. "Terima kasih atas kebijaksanaannya."

Mereka sampai di halaman depan ketika mobil yang menjemput Sherly sudah terlihat di dekat gerbang. Sherly buru-buru berpamitan dan mengingatkan Naura agar tidak mengikuti Lulu kalau tiba-tiba berubah pikiran dan turun dari bus di Arcane Brew.

"Aku hari ini benar-benar pulang," protes Lulu.

Sherly berjalan mundur menuju mobil. "Aku cuma mengingatkan berdasarkan riwayat."

"Pergi sana."

Sherly tertawa sambil melambaikan tangan. "Sampai besok!"

Setelah Sherly pergi, Lulu dan Naura melanjutkan perjalanan menuju halte. Cuaca sore cukup cerah, dan jalan di depan akademi mulai dipenuhi kendaraan siswa yang pulang. Mereka menemukan tempat duduk kosong di ujung halte dan meletakkan tas di antara keduanya.

Naura mengeluarkan botol minum. "Aku baru sadar sesuatu."

Lulu menatapnya. "Apa?"

"Selama tiga hari aku di sini, hampir semua orang yang kukenal punya kesan pertama yang beda dari perkiraanku." Naura membuka tutup botol dan minum sebentar sebelum melanjutkan. "Sherly awalnya kukira bakal susah diikuti karena energinya banyak banget. Ternyata kalau lagi serius dia malah paling cepat sadar kalau ada orang yang enggak nyaman."

Lulu tersenyum kecil. "Dia memang begitu. Mulutnya duluan, tapi biasanya dia tahu kapan harus berhenti."

"Arvin juga. Pertama lihat aku kira pendiam, ternyata kalau sudah mulai debat soal sesuatu malah panjang."

"Terutama kalau dia yakin benar."

"Nah. Kamu juga beda."

Lulu yang tadi sedang melihat jalan kembali menoleh. "Aku kenapa?"

Naura tidak langsung menjawab. Ia memutar botol minumnya pelan sambil mencari kata yang pas. "Waktu ketemu di Arcane Brew, aku kira kamu tipe yang gampang kenal sama orang. Soalnya baru beberapa menit sudah ngajak ngobrol dan langsung menawarkan bantuan buat hari pertama."

Lulu tertawa kecil. "Padahal?"

"Setelah lihat di sekolah, ternyata kamu enggak selalu begitu. Kamu ramah, tapi lebih sering nunggu situasinya dulu. Kalau enggak perlu bicara, kamu juga bisa diam lama."

Lulu tidak merasa penilaian itu salah. "Aku memang enggak terlalu gampang mulai ngobrol sama orang baru. Waktu ketemu kamu mungkin karena aku sudah tahu kamu bakal datang ke sekolah."

"Berarti aku beruntung pakai seragam Akademi Lumen hari itu."

"Kalau kamu pakai baju biasa, mungkin kita enggak kenalan."

Naura tertawa. "Gila juga. Satu seragam menentukan dua minggu hidupku."

Bus yang mereka tunggu belum terlihat, sehingga percakapan terus berjalan. Naura mulai bercerita tentang teman-temannya di Akademi Lumen yang awalnya khawatir ia akan terlalu sibuk selama program pertukaran. Beberapa dari mereka bahkan sudah meminta laporan mengenai perbedaan fasilitas dan pelajaran, tetapi Naura mengaku belum mengirim apa pun selain foto makan siang.

"Jadi yang mereka dapat baru mi ayam?"

"Dan foto laboratorium."

"Setidaknya ada unsur akademisnya."

"Laboratoriumnya ada di belakang foto minuman."

Lulu tertawa. "Itu enggak dihitung."

Naura ikut tertawa sebelum akhirnya menyimpan botolnya. "Aku memang mau menikmati dulu. Kalau setiap hari sibuk membandingkan mana yang lebih bagus antara sekolahku dan sekolah kalian, dua minggu ini malah terasa seperti tugas."

Lulu mengangguk. Ia menyukai cara Naura memandang program tersebut. Gadis itu tertarik pada perbedaan, tetapi tidak datang untuk menilai segala sesuatu. Ia cukup mudah menerima bahwa beberapa hal di Akademi Harmoni Mana bekerja berbeda dan tidak selalu membutuhkan pemenang.

Bus mereka akhirnya muncul dari ujung jalan. Mereka berdiri, tetapi ketika kendaraan mendekat, Naura melihat nomor rutenya dan berhenti.

"Yang ini bukan punyaku. Kamu naik?"

Lulu memeriksa nomor di bagian depan. "Iya."

Naura mengangkat tangan kecil. "Kalau begitu sampai besok. Aku tunggu bus berikutnya."

Lulu sudah hendak berjalan menuju pintu ketika teringat sesuatu. "Kalau bingung rutenya, jangan asal naik."

"Aku sudah cek tiga kali."

"Bagus."

Naura memasang ekspresi seolah tersinggung. "Kepercayaanmu rendah sekali."

"Kamu kemarin hampir salah masuk ruang guru."

"Itu satu kali."

Lulu tertawa sambil naik ke bus. "Sampai besok, Naura."

"Sampai besok!"

Lulu mendapatkan kursi dekat jendela. Saat bus meninggalkan halte, ia sempat melihat Naura kembali duduk sambil membuka ponselnya. Beberapa detik kemudian ponsel Lulu ikut bergetar.

Pesan dari Naura muncul di grup mereka.

Naura: Lulu sudah pergi. Sekarang tidak ada yang bisa mencegahku naik bus sembarangan.

Sherly langsung membalas meski beberapa menit lalu sudah dijemput.

Sherly: Aku telepon kakakmu.

Naura: Pengkhianatan tercepat hari ini.

Lulu tertawa sendiri sebelum membalas bahwa Naura harus mengirim foto nomor bus sebelum naik. Percakapan itu terus berjalan beberapa halte sampai Sherly mulai mengirim gambar-gambar stiker yang sama sekali tidak membantu.

Ketika bus mendekati jalan Arcane Brew, Lulu secara otomatis mengangkat pandangan dari ponselnya.

Bangunan itu terlihat dari seberang jalan.

Papan namanya muncul sebentar di antara kendaraan yang lewat. Dari dalam bus, Lulu bisa melihat beberapa pelanggan duduk dekat jendela. Seseorang bergerak di belakang bar, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk memastikan apakah itu Rian atau Adrian.

Bus memperlambat laju ketika mendekati halte.

Lulu tetap duduk.

Pintu terbuka, dua penumpang turun, kemudian tiga orang naik. Setelah beberapa detik pintu kembali tertutup dan bus melanjutkan perjalanan.

Lulu memperhatikan Arcane Brew menghilang di belakangnya tanpa merasa harus mencari alasan untuk turun.

Anehnya, keputusan itu tidak membuat tempat tersebut terasa lebih jauh.

Ia tahu besok atau lusa dirinya mungkin akan datang lagi. Mira mungkin mengirim cerita tentang pelanggan, Adrian bisa saja menemukan bahan baru untuk mengganggunya, dan Rian kemungkinan tetap berada di balik bar membuat minuman seperti biasanya.

Arcane Brew tidak membutuhkan kehadirannya setiap hari agar tetap menjadi tempat yang ingin ia datangi.

Pemikiran itu membuat Lulu kembali membuka ponsel dengan perasaan ringan.

Naura baru saja mengirim foto sebuah bus.

Naura: Ini benar, kan?

Sherly: Kok tanya kami? Aku bahkan enggak tahu rumahmu di mana.

Lulu melihat nomor rutenya dan langsung mengenali jalur yang tadi dijelaskan Naura.

Lulu: Benar. Naik saja. Turun setelah pusat olahraga, kan?

Naura: Iya.

Sherly: Hebat. Tiga hari di sini sudah punya layanan navigasi pribadi.

Naura: Aku memilih teman dengan penuh perhitungan.

Lulu: Kemarin katanya pertemanan kita dimulai karena kantin.

Lihat selengkapnya