Chapter 3 – Episode 7
Lulu tiba di depan toko buku beberapa menit sebelum pukul setengah sebelas.
Sherly sudah berdiri dekat pintu masuk sambil memegang dua botol minuman dingin.
Begitu melihat Lulu datang dari ujung trotoar, Sherly langsung memperhatikan jam di ponselnya, lalu memandang Lulu lagi dengan wajah sebal.
“Kok kamu malah datang cepat?”
Lulu menghampirinya sambil ikut memeriksa waktu. “Masih tujuh menit lagi.”
“Makanya. Aku dari tadi nunggu sendirian.”
“Siapa suruh datang kepagian?”
Sherly menyerahkan salah satu botol kepadanya. “Aku kira jalanan bakal lebih ramai. Ternyata lancar.”
Lulu menerima minumannya. “Terima kasih.”
“Jangan senang dulu. Itu kubeli karena tadi panas dan aku bosan nunggu.”
“Berarti tetap buat aku.”
Sherly mendecakkan lidah kecil, tetapi tidak mengambil kembali botolnya. “Iya, iya.”
Lulu baru membuka tutup minuman ketika Sherly melihat ke arah jalan lagi. Naura belum tampak di antara orang-orang yang berjalan menuju deretan pertokoan.
“Kalau Naura datangnya lewat setengah sebelas, aku ngomel beneran,” kata Sherly.
“Kamu tadi juga mau ngomel ke aku.”
“Beda. Kamu teman lama. Dia masih punya masa toleransi.”
Suara Naura terdengar dari belakang sebelum Lulu sempat membalas. “Aku baru datang sudah dengar soal masa toleransi.”
Sherly segera berbalik.
Naura menghampiri mereka sambil membawa tas kecil di bahu dan kantong kertas dari toko roti. Napasnya sedikit lebih cepat, tetapi ia masih punya beberapa menit sebelum waktu pertemuan mereka.
Sherly langsung memeriksa jam. “Aman. Empat menit lagi.”
Naura melihat ponselnya sendiri. “Aku tadi sempat salah turun satu halte.”
Lulu yang hendak minum langsung menurunkan botolnya. “Kok bisa?”
“Busnya penuh. Aku lihat banyak orang turun, kupikir sudah dekat sini.” Naura membuka kantong rotinya dan memeriksa isinya yang sedikit penyok. “Begitu turun baru sadar gedung di seberang bukan toko buku.”
Sherly menatapnya beberapa detik sebelum tertawa. “Baru kemarin Lulu bilang jangan asal ikut orang turun.”
“Aku bukan ikut orang. Aku salah menilai situasi.”
“Itu versi rapi dari ikut orang.”
Naura mengambil satu roti kecil dari kantongnya. “Makanya aku beli ini waktu jalan dari halte. Buat memperbaiki suasana hati.”
Lulu melihat kantong kertasnya. “Kamu sudah sarapan?”
“Sudah.”
Sherly ikut mengintip. “Terus itu?”
Naura menggigit rotinya dengan tenang. “Sarapan tidak membatalkan roti.”
Sherly langsung mengulurkan tangan. “Kalau begitu aku juga mau memperbaiki suasana hati.”
Naura menjauhkan kantongnya sedikit. “Kamu tadi menertawakan aku.”
“Justru karena aku peduli.”
“Logikanya jelek.”
Namun Naura tetap menyerahkan satu roti kecil kepadanya. Sherly langsung tersenyum puas dan berjalan lebih dulu menuju pintu toko buku.
Lulu mengikuti sambil menatap Naura. “Kamu ternyata gampang luluh.”
“Bukan. Kalau enggak dikasih, dia bakal lihat kantongku terus.”
“Aku dengar,” sahut Sherly dari depan.
“Memang biar dengar.”
Mereka masuk bersama.
Udara sejuk dari pendingin ruangan langsung terasa ketika pintu otomatis tertutup di belakang mereka. Lantai pertama cukup ramai karena akhir pekan. Beberapa keluarga sedang memilih perlengkapan sekolah, anak-anak berkumpul di bagian buku bergambar, dan deretan kasir sudah memiliki antrean pendek meski belum siang.
Sherly langsung memperlambat langkah ketika melewati rak alat tulis.
Lulu yang sudah mengenalnya cukup lama tidak ikut berhenti. “Kita baru masuk.”
“Aku cuma lihat.”
Naura yang berjalan di samping Lulu ikut memperhatikan Sherly mengambil satu pena dari rak.
“Kalau sudah dipegang, masih termasuk cuma lihat?”
Sherly membaca tulisan di kemasannya. “Aku belum beli.”
Lulu berhenti beberapa langkah di depan. “Kemarin kamu bilang cuma butuh pena.”
“Iya.”
Sherly mengambil pena kedua.
Naura melihat dua benda di tangannya. “Sekarang kebutuhannya bertambah?”
Sherly membandingkan ujung keduanya. “Yang satu tintanya cepat kering. Yang satu katanya lebih halus.”
Lulu menunjuk pena yang biasa dipakai Sherly dan terselip di saku luar tasnya. “Pena kamu masih ada.”
Sherly langsung menutupi saku tersebut dengan telapak tangan. “Jangan bawa fakta yang merusak suasana.”
Naura tertawa kecil. “Aku mulai paham kenapa Lulu tadi langsung jalan terus.”
Mereka akhirnya menghabiskan hampir lima belas menit di bagian alat tulis meski Sherly terus mengatakan dirinya hanya ingin melihat sebentar. Ketika berpindah ke rak berikutnya, sebuah keranjang kecil sudah ada di tangannya dengan dua pena, satu buku catatan tipis, dan pembatas buku berbentuk kucing.
Lulu melihat isi keranjang itu. “Yang kucing buat apa?”
Sherly memegang pembatas bukunya. “Lucu.”
“Itu saja?”
“Iya. Memangnya harus ada alasan lain?”
Naura langsung mengangguk setuju. “Yang ini aku bela.”
Lulu tertawa. “Ya sudah. Aku kalah jumlah.”
Mereka berpindah ke bagian buku dengan lebih santai. Naura beberapa kali berhenti untuk membaca papan kategori karena belum pernah datang ke toko tersebut, sementara Sherly sudah berjalan seperti tahu semua jalur meski dua kali salah masuk rak yang dicari.
Di lantai dua, Naura menemukan bagian buku tentang sejarah kota dan langsung tertarik pada salah satu rak. Ia menarik buku tipis mengenai perubahan distrik lama, membuka beberapa halaman, lalu duduk sebentar di bangku kecil dekat rak.
Sherly yang tadi ingin segera naik ke lantai tiga ikut berhenti. “Kamu suka buku begini?”
Naura masih membaca salah satu halaman. “Aku suka lihat bagaimana suatu tempat berubah. Apalagi kalau cuma tinggal dua minggu di kota ini. Kalau cuma lihat gedung yang ada sekarang, rasanya setengah cerita hilang.”
Sherly melihat sampul buku di tangannya. “Aku kalau ke tempat baru malah biasanya cari makanan dulu.”
Naura menutup bukunya sebentar. “Aku juga.”
“Mana yang lebih dulu?”
“Tergantung lapar atau enggak.”
Sherly tertawa. “Nah, itu jawaban yang aku percaya.”
Lulu yang sejak tadi melihat rak sebelah menemukan sebuah buku mengenai respons biologis terhadap Energy Mana. Judulnya membuatnya berhenti karena beberapa bab di daftar isi membahas tanaman, sensitivitas lingkungan, dan respons terhadap aliran Energy Mana.
Ia membacanya cukup lama sampai Naura menghampiri.
“Ketemu sesuatu?”
Lulu memiringkan buku agar Naura bisa melihat daftar isinya. “Ada bagian tentang tanaman. Aku pikir mungkin nyambung sama catatanku.”
Naura membaca beberapa judul bab. “Ini buku umum, ya?”
“Iya. Itu yang bikin aku ragu.”
Sherly datang sambil membawa buku sejarah milik Naura. “Ragu beli?”
Lulu mengangguk. “Yang kubutuhkan cuma sedikit bagian. Kalau sisanya materi yang sudah pernah dipelajari di kelas, sayang juga.”
Sherly mengambil buku tersebut sebentar dan langsung melihat harga di belakang. “Kalau segini, aku juga pikir dua kali.”
Lulu tertawa. “Kamu tadi beli pembatas buku berbentuk kucing tanpa pikir dua kali.”
“Itu beda. Kucingnya jelas berguna.”
“Sebagai apa?”
“Sebagai kucing.”
Naura menahan tawa sambil mengambil kembali buku sejarahnya. “Aku enggak mau ikut campur bagian ini.”
Lulu kembali melihat beberapa halaman. Setelah membaca ringkasan salah satu bab, ia memasukkan buku itu ke tempat semula.
Sherly langsung memperhatikannya. “Enggak jadi?”
“Enggak. Materinya terlalu umum.”
“Tumben.”
Lulu menatapnya. “Kenapa tumben?”
“Biasanya kalau sudah penasaran begini, kamu bakal beli terus dibaca malamnya.”
Lulu memandang rak sebentar sebelum menjawab. “Sekarang aku juga bisa cari dulu apa yang memang dibutuhkan. Kalau bukunya enggak cocok, ya enggak perlu dipaksakan.”
Naura memasukkan buku sejarah yang hendak dibelinya ke keranjang sendiri. “Bagus. Soalnya kalau semua yang berhubungan sama bunga kamu bawa pulang, kamar kamu nanti isinya buku sama tanaman.”
“Ibu kemarin malah bilang satu pot tanaman biasa masih boleh.”
Sherly langsung tertarik. “Serius?”
“Iya, tapi tanaman biasa.”
“Kenapa ditekankan?”
Lulu tertawa. “Karena Ibu tahu masalahnya.”
Percakapan itu berhenti ketika Sherly melihat papan menuju lantai tiga dan kembali mengingat tujuan awalnya.
“Ayo naik. Aku dari tadi sebenarnya mau lihat novel.”
Naura menatap keranjang Sherly yang sudah hampir setengah penuh. “Aku mulai takut sama kata lihat kalau kamu yang bilang.”
“Jangan belajar hal buruk dari Lulu.”
“Justru aku belajar dari pengamatan langsung.”
Lulu berjalan di belakang mereka sambil tersenyum. Sherly sudah mulai protes kepada Naura sebelum mereka mencapai eskalator, sedangkan Naura membalas dengan wajah tenang yang justru membuat Sherly semakin banyak bicara.
Di lantai tiga, suasananya lebih sepi. Sherly langsung menemukan rak seri novel yang sedang dibacanya dan tidak lagi memperhatikan siapa pun selama beberapa menit. Ia mengambil satu buku, lalu buku berikutnya, kemudian berdiri cukup lama sambil membaca bagian belakang keduanya.
Naura dan Lulu berada di rak sebelah ketika Sherly datang membawa tiga buku.
“Aku ada masalah.”
Lulu melihat tumpukan di tangannya. “Kamu mau semuanya.”
Sherly langsung menatapnya. “Kok tahu?”
“Kelihatan.”
Naura mengambil salah satu buku dan membaca sinopsisnya. “Kalau beli tiga, selesai bacanya kapan?”
Sherly berpikir sebentar. “Kalau akhir pekan ini rajin, satu.”
“Berarti dua lainnya jadi beban moral.”
“Jangan kasih nama jelek ke buku yang belum kubeli.”
Lulu mengambil buku paling bawah. “Yang ini kamu sudah pernah bilang enggak terlalu tertarik.”
“Itu sebelum aku lihat sampul barunya.”
“Kamu mau beli karena sampul?”
“Kadang orang boleh punya kelemahan.”
Naura menyerahkan kembali buku yang tadi dibacanya. “Yang ini kedengarannya paling cocok sama seleramu. Kalau aku yang pilih, ambil ini dulu.”
Sherly menatap dua buku lain di tangannya. “Tapi yang ini volumenya tinggal satu di rak.”
Lulu tertawa. “Nah, sekarang keluar alasan sebenarnya.”
“Aku takut minggu depan habis.”
“Kalau beli dua saja?”
Sherly mempertimbangkannya cukup lama sebelum mengembalikan satu buku ke rak. “Oke. Dua. Kalau yang satunya nanti benar-benar habis, berarti bukan jodoh.”
Naura menatap Lulu. “Cepat juga dia berdamai.”
Sherly langsung menunjuknya dengan buku di tangan. “Jangan bikin aku berubah pikiran.”
Mereka akhirnya menuju kasir setelah hampir satu setengah jam berada di dalam toko. Sherly keluar dengan dua novel, dua pena, satu buku catatan, dan pembatas kucing. Naura membeli buku sejarah kota serta beberapa kartu pos yang ditemukannya dekat kasir. Lulu hanya membawa satu novel yang menarik perhatiannya sejak lantai tiga.
Begitu keluar dari toko, Sherly melihat kantong belanja Lulu yang paling kecil. “Hari ini kamu paling hemat.”
“Aku memang cuma mau jalan.”
Naura mengangkat kantong kartu posnya. “Aku juga tadi awalnya cuma mau jalan.”
Sherly melihat kantong milik Naura, lalu kantongnya sendiri. “Kenapa aku yang paling parah?”
Lulu menatap keranjang belanja yang kini berpindah menjadi dua kantong penuh di tangan Sherly. “Karena dari awal kamu memang paling gampang tergoda.”
Sherly hendak membantah, tetapi berhenti ketika matanya menangkap kedai makan di seberang jalan.
“Sudah, bahas itu nanti. Aku lapar.”
Naura langsung mengikuti arah pandangnya. “Aku juga.”
Lulu menahan tawa. “Tadi kamu makan roti.”
“Itu sudah lama.”
“Belum dua jam.”
Naura memegang perutnya. “Tubuhku punya pendapat lain.”
Sherly langsung menunjuk ke arah penyeberangan. “Akhirnya ada orang yang ngerti.”
Lulu berjalan mengikuti keduanya. “Kalian kalau urusan makan memang cepat kompak.”
“Karena ini topik penting,” kata Naura sambil menunggu lampu penyeberangan berubah.
Tempat makan yang mereka pilih sederhana dan cukup ramai. Mereka mendapatkan meja dekat jendela, meletakkan kantong belanja di bawah kursi, lalu membuka menu. Sherly yang tadi paling lapar justru menjadi orang terakhir menentukan pilihan karena dua makanan terlihat sama menarik.
Naura tidak menunggu. Ia sudah memanggil pelayan ketika Sherly masih membaca menu.
“Eh, aku belum selesai.”
“Kamu tadi bilang lapar.”
“Justru karena lapar aku enggak mau salah pilih.”
Lulu sudah menutup menunya. “Pesan yang pertama tadi.”
Sherly melihatnya. “Kalau yang kedua ternyata lebih enak?”
“Kamu bisa coba lain kali.”
Sherly menatap menu lagi, masih tidak puas.
Naura sudah tertawa. “Kamu bisa beli dua novel karena takut kehabisan, tapi makan siang malah takut salah satu lebih enak.”
“Itu keputusan yang beda.”
“Aku tahu. Yang ini bahkan lebih berat buat kamu.”
Sherly akhirnya memilih menu pertama sambil menggerutu bahwa mereka berdua tidak membantu sama sekali.
Setelah pesanan masuk, Naura mengeluarkan kartu pos yang baru dibelinya. Ia memilih satu bergambar pusat kota lama dan mulai menulis di bagian belakang.
Lulu memperhatikannya. “Mau dikirim ke siapa?”
“Teman lama. Kami dulu satu kamar waktu program musim panas.” Naura menulis beberapa baris lagi sebelum memperlihatkan bagian gambar. “Dia suka minta kartu kalau aku pergi ke tempat yang belum pernah dia datangi.”
Sherly mengambil satu kartu lain dari tumpukan kecil. “Kamu masih benar-benar kirim lewat pos?”
“Iya. Lebih menyenangkan daripada cuma kirim foto.”
“Padahal fotonya sampai dalam dua detik.”
“Itu gunanya pesan. Kartu beda.” Naura memasukkan kartu yang selesai ditulis ke dalam tas. “Kalau sudah sampai, biasanya orang simpan.”
Sherly masih memandangi kartu yang dipegangnya. “Kalau aku kirim ke sepupuku yang tinggal dua kecamatan dari sini, aneh enggak?”
Naura tertawa. “Sedikit.”
“Bagus. Berarti aku kirim.”
Lulu ikut mengambil satu kartu ketika Naura mendorong tumpukan itu ke tengah meja. Gambar di depannya menampilkan jalan kota dengan deretan bangunan tua dan pepohonan di kedua sisi. Ia menyukai warnanya, tetapi belum tahu akan diberikan kepada siapa.
Sherly langsung mencoba membaca wajahnya. “Kamu mau kirim ke siapa?”
“Belum tahu.”
“Terus diambil?”
Lulu membalik kartunya agar Sherly tidak terus melihat. “Boleh disimpan juga, kan?”
Naura mengangguk. “Boleh. Aku sering simpan satu dari tiap tempat.”
Sherly bersandar kembali ke kursinya. “Aku kira Lulu sudah punya tujuan rahasia.”
Lulu menatapnya. “Tujuan rahasia apaan?”
Sherly tertawa. “Nah, gampang terpancing.”
Lulu hampir membalas ketika makanan mereka datang. Topik kartu pos langsung hilang begitu Naura lebih tertarik pada piringnya sendiri dan Sherly mulai menyesal tidak memilih menu kedua.
Lulu baru menggigit makanannya ketika Sherly melihat piring Naura.
“Aku boleh coba sedikit?”
Naura langsung memindahkan piringnya menjauh. “Tadi kamu yang paling lama milih.”
“Aku cuma mau tahu rasanya.”
“Makanya tadi pesan ini.”
Sherly menatap Lulu minta dukungan.
Lulu justru melanjutkan makan. “Jangan lihat aku. Aku sudah bilang pesan yang pertama.”
Sherly akhirnya menyerah. “Kalian jahat hari ini.”
Beberapa detik kemudian Naura memotong sedikit makanannya dan memindahkannya ke piring Sherly.
Sherly langsung tersenyum. “Aku tahu kamu baik.”
Naura menunjuk potongan kecil itu. “Cuma satu.”
“Iya.”
“Jangan nanti minta lagi.”
Sherly langsung mencicipinya, berhenti sebentar, lalu menatap menu yang sudah dibawa pergi pelayan.
Naura langsung tahu jawabannya. “Lebih enak?”
Sherly menelan makanannya dengan wajah sebal. “Jangan dibahas.”
Lulu tertawa sampai harus meletakkan sendoknya.
Naura ikut tertawa sambil menarik piringnya lebih dekat. “Makanya lain kali jangan terlalu lama mikir.”
Sherly menatap Lulu. “Ini gara-gara kamu bilang pesan yang pertama.”
“Kamu sendiri yang pilih.”
“Teman itu harusnya mendukung.”
“Aku tadi mendukung supaya kamu enggak kelaparan.”
Sherly akhirnya ikut tertawa juga, dan pembicaraan mereka beralih ke taman yang akan dikunjungi setelah makan.
Mereka sampai di taman kota menjelang siang. Naura beberapa kali berhenti di perjalanan karena tertarik pada bangunan yang pernah dilihatnya di buku sejarah tadi, membuat Sherly yang awalnya ingin cepat sampai akhirnya ikut membandingkan gambar lama dengan bangunan yang masih berdiri sekarang.
“Yang ini ternyata benar-benar masih ada,” kata Naura sambil menunjukkan salah satu halaman kepada Lulu. “Bagian depannya berubah, tapi jendelanya sama.”
Sherly melihat bangunan di seberang. “Aku sering lewat sini dan enggak pernah kepikiran kalau tempat itu sudah tua.”
“Makanya aku suka buku begini.”
Sherly memasukkan tangannya ke saku rok. “Oke, aku mulai ngerti.”
Naura langsung menoleh. “Mau pinjam bukunya?”
“Belum sampai situ.”
Lulu tertawa. “Jangan terlalu berharap.”
Setibanya di taman, Naura langsung mengeluarkan ponselnya. Ia mengambil beberapa foto bunga di dekat pintu masuk, papan nama taman, kemudian meminta Sherly berdiri sebentar di bawah pepohonan.
Sherly langsung merapikan rambutnya. “Kalau mau foto, bilang dari awal.”
“Tadi juga bilang.”
“Aku belum siap.”
Naura menurunkan ponselnya. “Ini bukan foto wisuda.”
Lulu tertawa melihat Sherly yang masih memeriksa rambut melalui kamera depan. “Sudah bagus.”
Sherly akhirnya berdiri di tempat semula. “Kalau jelek, jangan kirim siapa-siapa.”
“Aku kirim ke grup dulu.”
“Itu tetap orang lain.”
Naura mengambil beberapa foto, lalu menarik Lulu untuk ikut berdiri bersama Sherly. Setelah beberapa kali mencoba sendiri, mereka akhirnya meminta seorang pengunjung lain memotret mereka bertiga.
Hasilnya sederhana. Sherly berdiri paling dekat ke kamera dengan senyum lebar, Naura masih memegang kantong kecil toko buku, dan Lulu berada di antara mereka sambil tertawa karena Sherly baru saja mengeluh cahaya matahari terlalu terang.
Naura langsung mengirim foto itu ke grup.
Lulu membukanya sambil berjalan bersama mereka menuju bagian taman yang lebih teduh.
Ia memperhatikan foto tersebut beberapa detik lebih lama daripada biasanya.
Bukan karena ada sesuatu yang aneh.
Ia justru menyukai bagaimana foto itu terlihat biasa.
Sherly yang selalu sulit berdiri tenang ketika difoto. Naura yang baru beberapa hari mereka kenal tetapi sudah berdiri di sana seperti memang bagian dari rencana akhir pekan mereka. Lulu sendiri tidak sedang memeriksa rambut, bahu, ataupun sekeliling tubuhnya untuk memastikan tidak ada bunga yang muncul.
Ia hanya tertawa.
Sherly yang berjalan di sampingnya melihat Lulu masih membuka foto. “Bagus, kan?”
Lulu menyimpan ponselnya. “Bagus.”
“Yang kirim ke grup jangan dihapus. Aku jarang dapat foto yang rambutku enggak berantakan.”
Naura langsung menyela dari sisi lain. “Tadi kamu sendiri yang merapikannya hampir semenit.”
“Makanya hasilnya bagus.”
Lulu tertawa. “Setidaknya sekarang kita tahu usahanya berhasil.”
Sherly menepuk lengan Lulu pelan. “Nah, itu baru teman.”
Naura memandang keduanya sambil tertawa, lalu berjalan lebih dulu ketika menemukan jalur menuju taman bunga.
Lulu mengikuti mereka.
Hari itu masih panjang. Mereka belum tahu akan menghabiskan berapa lama di taman, makan apa sebelum pulang, atau apakah rencana mereka akan berubah lagi sebelum sore.
Untuk sementara, Lulu tidak ingin menjadikan apa pun sebagai catatan.
Ia hanya ingin ikut berjalan bersama dua orang yang sudah mulai menemukan cara masing-masing untuk memenuhi hari Sabtunya.
Jalur menuju taman bunga berada sedikit lebih jauh dari pintu utama. Naura berjalan paling depan sambil membaca papan penunjuk yang dipasang di persimpangan jalan setapak, sementara Sherly mengikuti di belakangnya dengan langkah santai sambil sesekali membuka foto-foto yang baru mereka ambil.
“Kalau jalannya muter jauh, aku protes,” kata Sherly sambil memperhatikan peta kecil di layar ponselnya.
Naura masih membaca papan. “Lima menit jalan.”
“Versi kamu atau versi papan?”
“Versi papan.”
“Kalau begitu aku percaya papan.”
Naura menoleh sebentar. “Terima kasih. Aku merasa sangat dihargai.”
Lulu tertawa dan berjalan di antara keduanya. “Kemarin kamu salah turun halte. Wajar kalau tingkat kepercayaannya belum pulih.”
“Sekali. Aku salah sekali.”
Sherly menyimpan ponselnya. “Satu kesalahan sudah cukup buat masuk catatan.”
Naura menggeleng, tetapi beberapa langkah kemudian ia berhenti lagi ketika menemukan jalur yang menurut papan lebih dekat.
“Lewat sini.”
Sherly langsung mencurigainya. “Tadi katanya lurus.”
“Ini jalan pintas.”
“Dari mana tahu?”
Naura menunjuk papan kecil di dekat semak. “Ada tulisannya.”
Sherly memicingkan mata untuk membacanya dari jauh. “Oh. Ya sudah, lanjut.”
Lulu melihat keduanya bergantian. “Cepat juga berubah pikiran.”
“Karena ada bukti.”
“Jadi kalau Naura ngomong sendiri enggak dipercaya, tapi papan taman dipercaya?”
Sherly menjawab santai, “Papan taman belum pernah salah turun halte.”
Naura langsung berhenti dan menatap Sherly. “Kamu bakal bawa itu sampai kapan?”
“Minimal sampai Senin.”
“Baik. Senin aku cari kesalahanmu.”
“Silakan. Aku orangnya bersih.”
Lulu langsung tertawa. “Jangan terlalu percaya diri.”
Sherly menoleh kepadanya. “Kamu harusnya dukung aku.”
“Kenapa?”
“Karena kita sudah kenal lebih lama.”
“Justru karena sudah kenal lebih lama.”
Naura tertawa lebih keras sampai harus memperlambat langkah. Sherly akhirnya ikut tertawa sendiri sambil menggeleng.
Jalan pintas yang dipilih Naura ternyata benar. Beberapa menit kemudian mereka sampai di area taman bunga yang dipenuhi petak-petak tanaman rendah dengan warna berbeda. Jalannya lebih sempit daripada bagian taman utama, sehingga pengunjung berjalan perlahan sambil memberi ruang kepada orang yang berhenti mengambil foto.
Naura langsung melihat sekeliling dengan lebih serius daripada ketika mereka pertama masuk taman.
“Bagus banget.”
Sherly memperhatikan deretan bunga di sisi kiri. “Aku kira cuma satu area kecil.”
Lulu ikut berjalan lebih pelan. Beberapa jenis bunga ditanam berdasarkan warna, sementara bagian lain dibiarkan bercampur agar terlihat lebih alami. Ada papan kecil di depan tiap petak yang mencantumkan nama tanaman, kebutuhan cahaya, dan waktu berbunga.
Naura berhenti di depan satu petak bunga berwarna ungu pucat dan membaca papan informasinya. “Ini yang tadi ada di kartu pos.”
Sherly ikut melihat. “Yang gambarnya dekat danau?”
“Iya. Aku kira cuma ilustrasi.”
Lulu berdiri di samping mereka. “Kayaknya memang salah satu bunga yang sering dipakai buat gambar kota.”
Naura mengambil ponsel, lalu memotret bunganya beberapa kali. Kali ini ia tidak langsung beralih ke tanaman lain. Ia membaca nama bunganya, memeriksa bentuk daun, kemudian mengambil satu foto papan informasi.
Sherly memperhatikannya beberapa detik. “Kamu kalau sudah suka sesuatu ternyata bisa serius banget.”
Naura masih memeriksa hasil foto. “Aku memang dari awal serius.”
“Enggak, maksudku serius yang sampai fotoin papan.”
“Supaya nanti enggak lupa namanya.”
Sherly mengangkat ponselnya sendiri dan mengambil foto cepat dari bunga yang sama. “Aku cukup simpan gambarnya.”
“Nanti kalau ada yang tanya namanya?”
“Aku bilang bunga ungu.”
Naura menatapnya. “Aku menyerah.”
Lulu tertawa sambil melanjutkan langkah. “Dia memang begitu. Kalau enggak penting buat dia, namanya sering disederhanakan.”
Sherly langsung mengikuti. “Yang penting tahu bendanya.”
“Kalau guru minta nama spesies?”
“Itu beda. Kalau ada nilai, aku belajar.”
Naura memandang Lulu. “Aku suka kejujurannya.”
“Jangan dipuji. Nanti dia makin yakin.”
Sherly justru mengangguk puas. “Sudah terlambat.”
Mereka melanjutkan berjalan hingga menemukan bangku kosong di bawah pohon. Sherly langsung duduk dan membuka kantong belanja toko buku, memastikan semua barangnya masih ada.
Naura duduk di ujung bangku sambil memeriksa kartu pos yang tadi ia beli. “Aku jadi pengin cari kartu yang gambarnya bunga tadi.”
Sherly mengambil pembatas buku kucing dari dalam kantong. “Tadi di toko kayaknya ada.”
“Kamu ingat?”
“Ada rak dekat kasir. Aku lihat sekilas.”
Naura menatapnya seolah baru menemukan sisi lain Sherly. “Kamu ternyata ingat detail juga.”
“Kalau bentuknya lucu, aku ingat.”
“Pantas.”
Lulu duduk di antara mereka sambil memegang botol minuman yang tinggal sedikit. “Kalau nanti balik ke sana, jangan sampai Sherly beli sesuatu lagi.”
Sherly langsung menyimpan pembatas bukunya. “Aku cuma nemenin.”
Naura tertawa. “Kalimat itu berbahaya kalau dari kamu.”
“Kenapa kalian sekarang kompak menyerang aku?”
Lulu menjawab santai, “Karena gampang.”
Sherly langsung mendorong bahu Lulu pelan. “Menyebalkan.”
Lulu tertawa dan hampir menumpahkan sisa minumannya. Ia buru-buru menutup botol lebih rapat sebelum memasukkannya ke tas.
Beberapa menit mereka duduk tanpa terburu-buru melanjutkan perjalanan. Naura mulai membuka buku sejarah kota yang baru dibelinya, lalu mencari halaman tentang taman tersebut. Sherly awalnya tidak tertarik, tetapi ketika Naura menunjukkan foto lama area yang sama, ia langsung mengambil buku itu.
“Ini tempat yang tadi kita lewati?”
“Harusnya, iya.”
Sherly membandingkan foto hitam putih dengan jalur di depan mereka. “Dulu kosong banget.”
“Bagian ini baru dikembangkan jadi taman publik beberapa tahun setelah foto itu.”
Lulu mendekat sedikit agar bisa ikut melihat. Di foto lama itu hanya ada jalan tanah, beberapa pohon besar, dan bangunan rendah di kejauhan. Bentuk lahannya masih sama, tetapi hampir semua yang mereka lihat sekarang belum ada.
Sherly menutup sebagian halaman dengan jarinya. “Yang ini masih ada, kan?”
Naura mengikuti arah jarinya. “Kayaknya itu gedung yang tadi kita lewati sebelum masuk.”
“Yang dekat gerbang?”
“Iya.”
Sherly memandang ke arah luar area taman bunga seolah mencoba melihatnya dari posisi mereka. “Aku sering lewat sini dari kecil, tapi enggak pernah mikir tempatnya berubah sejauh ini.”
Naura menerima kembali bukunya. “Makanya aku suka lihat foto lama. Kadang tempat yang kita anggap biasa sebenarnya sudah berubah banyak.”
Lulu memperhatikan foto itu sedikit lebih lama sebelum Naura menutup bukunya. Kalimat tersebut sederhana, tetapi membuatnya teringat pada Arcane Brew.
Beberapa minggu lalu, tempat itu hanya sebuah kafe yang ia datangi karena penasaran.
Sekarang Sherly sudah dua kali datang, Naura sudah tahu letaknya, dan mereka bahkan sempat membicarakan kemungkinan mampir lagi tanpa Lulu yang mengusulkan lebih dulu.
Perubahannya kecil, tetapi kalau dibandingkan dengan awal, rasanya sudah cukup jauh.
Sherly menyandarkan punggung ke bangku. “Naura, kamu nanti kalau sudah balik ke Lumen bakal cerita apa dulu?”
Naura memasukkan buku ke dalam tas. “Ke siapa?”
“Temanmu. Keluarga. Siapa saja.”
Naura berpikir sebentar. “Mungkin hal-hal kecil dulu. Kantin kalian, kelas praktik, bus yang bikin aku salah turun, terus kalian.”
Sherly langsung menunjuk dirinya sendiri. “Nah, yang terakhir harus bagus.”
“Aku belum janji.”
“Kalau cerita jelek, kami enggak bisa membela diri.”