Chapter 3 – Episode 8
Senin pagi sekitar pukul 07.05, halaman sekolah masih dipenuhi siswa yang baru datang ketika Lulu melihat Naura berdiri dekat papan pengumuman kelas sambil memegang selembar kertas yang sudah dilipat dua.
Sherly berada di sampingnya dengan tas masih tergantung di satu bahu dan wajah yang jelas belum puas dengan sesuatu.
Begitu Lulu mendekat, Sherly langsung mengangkat tangan. “Akhirnya. Coba bilang ke Naura kalau jadwal begini nyebelin.”
Naura tidak menoleh. Ia masih membaca kertas di tangannya. “Aku belum bilang apa-apa.”
“Justru itu. Kamu terlalu tenang.”
Lulu berhenti di samping mereka dan melihat bagian atas kertas yang memuat jadwal program pertukaran untuk minggu terakhir. “Sudah dibagikan?”
Naura menyerahkannya. “Tadi guru pendamping kasih sebelum masuk kelas.”
Sherly ikut mendekat sampai hampir menutupi bahu Lulu. “Lihat hari Kamis.”
Lulu membaca bagian yang ditunjuk. Kegiatan kelas biasa di hari Kamis diganti dengan kunjungan akademik ke salah satu fasilitas penelitian milik Akademi Lumen yang berada di kota mereka. Jadwalnya dimulai pagi dan baru selesai sekitar pukul 16.30 sore.
“Pulangnya memang lebih sore,” kata Lulu sambil mengembalikan kertas itu.
Sherly langsung memandang Naura. “Nah. Berarti Kamis kita enggak bisa ke mana-mana.”
Naura melipat kertasnya lagi. “Aku juga enggak pernah bilang mau ke mana-mana hari Kamis.”
“Masalahnya bukan Kamis. Kalau kegiatan sampai sore, Jumat kamu pasti capek.”
Naura baru kali ini terlihat sedikit terganggu. “Aku belum capek, Sher.”
“Aku tahu. Tapi kalau Kamis pulang hampir jam lima, terus Jumat sekolah seperti biasa, Sabtu kita mau jalan lagi. Itu sudah padat.”
Lulu menahan senyum kecil. Sherly yang kemarin paling sering mengeluh soal kakinya sekarang justru menjadi orang pertama yang menghitung tenaga Naura untuk satu minggu ke depan.
Naura rupanya memikirkan hal yang sama. Ia menatap Sherly beberapa detik sebelum menyelipkan jadwal itu ke dalam map. “Kemarin siapa yang bilang mau tidur seharian Minggu?”
“Itu karena Sabtu aku jalan dari pagi.”
“Berarti kamu tahu rasanya capek.”
Sherly langsung mendecakkan lidah. “Aku lagi ngomongin kamu.”
“Makanya lucu.”
Lulu akhirnya tertawa. “Kalian baru ketemu lima menit sudah mulai.”
Sherly menoleh padanya. “Aku serius.”
“Kelihatan.”
“Kalau Sabtu nanti jadi, jangan terlalu pagi.”
Naura langsung memanfaatkan kesempatan itu. “Nah, sekarang rencananya mulai berubah.”
Sherly tidak merasa bersalah sedikit pun. “Ya bagus. Kemarin kita ketemu setengah sebelas dan tetap sampai sore. Minggu depan jam sebelas juga cukup.”
Lulu menggeser tasnya agar tidak terkena siswa lain yang lewat. “Kita belum tahu Sabtu bisa atau enggak.”
“Makanya aku belum menentukan tempat.”
Naura menatap Sherly dengan wajah seolah baru mendengar sesuatu yang cukup mengganggu. “Tapi jamnya sudah ditentukan.”
Sherly terdiam satu detik, lalu mengangkat dagu. “Aku cuma kasih batas aman.”
Lulu tertawa kecil. “Bedanya tipis.”
Sherly baru hendak membalas ketika bel pertama berbunyi dari dalam gedung. Siswa-siswa yang masih berada di koridor mulai bergerak masuk, memaksa mereka bertiga menghentikan percakapan dan ikut menuju kelas.
Sekitar pukul 07.20 pagi, wali kelas masuk bersama guru pendamping program pertukaran. Jadwal minggu terakhir Naura dibahas singkat sebelum pelajaran dimulai. Tidak banyak yang berubah selain kunjungan hari Kamis dan satu sesi penutupan program pada Jumat siang.
Ketika guru menyebut sesi penutupan, Sherly yang duduk dua meja dari Lulu langsung menoleh ke arah Naura.
Naura menangkap tatapan itu dan menggeleng kecil, seperti sudah tahu apa yang akan dikatakan Sherly nanti.
Lulu kembali membuka buku pelajarannya.
Baru hari Senin, tetapi kata minggu terakhir sekarang terasa jauh lebih nyata karena sudah tercetak di atas jadwal.
Pelajaran berjalan seperti biasa sampai waktu istirahat pertama sekitar pukul 09.35 pagi. Begitu guru meninggalkan kelas, Sherly langsung memindahkan kursinya lebih dekat ke meja Naura.
“Kamu Jumat langsung pulang setelah acara penutupan?”
Naura sedang memasukkan buku ke tas. “Enggak tahu. Guru pendamping belum kasih detail.”
Sherly langsung menyandarkan dagu di atas tangan. “Kalau langsung pulang, jelek banget.”
Naura menatapnya. “Kenapa jelek?”
“Karena berarti hari terakhir kamu di sekolah cuma acara, foto, terus selesai.”
“Program pertukarannya memang harus selesai.”
Sherly terlihat semakin tidak puas. “Aku tahu. Tapi rasanya terlalu cepat.”
Naura tidak langsung menjawab. Ia menutup tasnya lalu berdiri. “Aku baru satu minggu di sini dan kamu sudah protes soal akhir.”
Sherly ikut berdiri. “Karena satu minggunya cepat.”
Kali ini Naura tidak punya balasan cepat. Ia hanya mengambil botol minumnya lalu berjalan keluar kelas bersama Sherly.
Lulu menyusul beberapa langkah di belakang.
Di kantin, mereka menemukan Arvin sudah duduk di meja yang biasa mereka pakai. Dua gelas minuman ada di depannya, satu hampir habis dan satu lagi masih penuh.
Sherly langsung berhenti. “Kamu minum dua?”
Arvin melihat gelas di depannya. “Yang satu punya temanku. Dia pergi beli makanan.”
Naura duduk sambil meletakkan tas di kursi kosong. “Aku kira kamu mulai latihan minum cepat.”
Arvin tertawa kecil. “Buat apa?”
Sherly ikut duduk. “Jangan tanya. Nanti Naura bikin teori.”
“Aku enggak bikin teori.”
“Kemarin semua jawaban kamu punya penjelasan.”
Naura mengambil tisu dari dispenser meja. “Karena kamu yang banyak masalah.”
Arvin langsung melihat Lulu, lalu kembali ke Sherly. “Aku kayaknya datang di tengah sesuatu.”
Lulu duduk di sisi meja. “Mereka baru mulai lagi.”
Sherly langsung menunjuk Naura. “Dia hari Kamis ada kunjungan sampai sore.”
Arvin mengangguk pelan. “Oh, yang jadwal pertukaran itu?”
Naura menatapnya. “Kamu tahu?”
“Guru kelas sebelah tadi ngomong di koridor. Katanya beberapa siswa pendamping juga ikut.”
Sherly langsung tertarik. “Siapa?”
Arvin mengangkat bahu. “Belum diumumin.”
Naura membuka botol minumannya. “Kalau ada siswa sekolah ini yang ikut, berarti enggak semuanya orang Lumen.”
“Harusnya begitu,” kata Arvin. “Kunjungan akademiknya kan kerja sama dua sekolah.”
Sherly mulai terlihat lebih senang. “Nah, kalau kita bisa ikut, lumayan.”
Lulu menatapnya. “Kamu tadi bilang jadwalnya nyebelin.”
“Kalau aku ikut, beda.”
Naura langsung tertawa. “Aku mulai ngerti cara pikir kamu. Semua hal buruk jadi bagus kalau kamu bisa masuk.”
Sherly mengangguk santai. “Kalau ada kesempatan, kenapa enggak?”
Arvin mengambil kembali gelasnya. “Tapi kayaknya yang dipilih cuma beberapa orang dari kelas tertentu.”
Sherly langsung kehilangan sebagian semangatnya. “Nah, ini baru informasi yang enggak aku suka.”
Lulu menahan senyum dan membuka kotak makan.
Percakapan mereka berpindah ke kemungkinan siapa saja yang akan dipilih untuk kunjungan Kamis. Arvin sempat mendengar nama beberapa siswa dari kelas lain, tetapi belum ada daftar resmi. Lulu tidak terlalu memikirkannya. Kalau memang ada siswa dari kelas mereka yang ikut, guru pasti memberi tahu sebelum hari Kamis.
Naura justru terlihat lebih tertarik pada bagian fasilitas penelitian.
“Aku sebenarnya belum pernah ke cabang sini,” katanya sambil membuka bekal. “Di Lumen, fasilitas pusatnya lebih besar. Yang di kota ini katanya fokus ke aplikasi Energi Mana untuk lingkungan.”
Lulu berhenti sebentar saat mendengar itu.
Sherly langsung menangkap reaksinya. “Jangan langsung mikir bunga.”
Lulu menatapnya. “Aku belum bilang apa-apa.”
“Wajahmu sudah.”
Naura ikut melihat Lulu, tetapi tidak mengejar topiknya. “Kalau nanti ada bagian tanaman, aku foto informasi yang boleh difoto.”
Lulu mengangguk. “Kalau memang ada. Tapi enggak usah cari khusus.”
Sherly terlihat sedikit terkejut dengan jawaban itu. “Tumben kamu enggak langsung tertarik.”
“Aku tertarik. Tapi bukan berarti semuanya harus dicari sekarang.”
Naura tersenyum kecil. “Nah, ini yang kemarin aku bilang.”
Sherly mengangkat tangan. “Oke, aku akui. Ada perkembangan.”
Lulu menatapnya. “Kenapa nadanya kayak guru?”
“Karena aku bangga.”
“Jangan aneh.”
Arvin yang sejak tadi makan akhirnya ikut tertawa. “Aku enggak tahu konteks lengkapnya, tapi kedengarannya memang aneh.”
Sherly langsung menoleh kepadanya. “Nah, kamu jangan ikut.”
Arvin mengangkat kedua tangan sebentar lalu kembali makan.
Sekitar pukul 12.10 siang, setelah pelajaran sebelum makan siang selesai, daftar siswa pendamping untuk kunjungan Kamis akhirnya diumumkan.
Nama Lulu ada di urutan ketiga.
Ia membaca pengumuman yang ditempel dekat pintu kelas dua kali untuk memastikan.
Sherly yang berdiri di belakangnya langsung menepuk bahunya. “Nah. Jadi.”
Lulu masih melihat daftar itu. “Kenapa aku?”
“Karena kamu bagus di pelajaran Energi Mana?”
“Ada banyak yang nilainya bagus.”
Naura muncul dari sisi kanan sambil membawa map. Begitu melihat nama Lulu, wajahnya langsung berubah lebih cerah. “Bagus. Berarti aku enggak sendirian.”
Sherly langsung menatap daftar lagi. “Aku enggak ada.”
Nada suaranya kali ini benar-benar kesal, bukan bercanda.
Lulu menoleh. “Kamu mau ikut banget?”
“Sekarang iya.”
“Pagi tadi kamu bilang jadwalnya nyebelin.”
“Itu sebelum aku tahu kamu ikut.”
Naura langsung tertawa. “Tadi juga sudah aku bilang.”
Sherly menatap dua nama lain di daftar lalu mengembuskan napas pendek. “Kenapa Arvin juga enggak masuk?”
Arvin yang kebetulan baru keluar kelas mendengar namanya. “Aku apa?”
Sherly menunjuk pengumuman. “Kita berdua enggak ikut.”
Arvin membaca daftar dengan santai. “Ya sudah.”
Sherly menatapnya tidak percaya. “Kok ya sudah?”
“Aku enggak terlalu pengin.”
“Ini fasilitas penelitian.”
“Iya.”
“Bisa lihat alat-alat.”
“Iya.”
“Dan kamu tetap enggak pengin?”
Arvin berpikir sebentar. “Kalau dikasih pilihan antara itu sama pulang lebih cepat, aku pilih pulang.”
Naura langsung tertawa.
Sherly menutup wajah sebentar. “Aku salah cari teman buat protes.”
Lulu ikut tertawa sambil mengambil foto pengumuman agar tidak lupa jadwal tambahan yang tertulis di bawah nama mereka.
Kunjungan dimulai pukul 08.00 pagi dan diperkirakan selesai sekitar pukul 16.30 sore. Peserta harus datang ke sekolah sebelum pukul 07.15 pagi.
Sherly yang tadi masih sebal langsung melihat bagian itu. “Oke, satu hal aku syukuri.”
Lulu menatapnya. “Apa?”
“Kalian harus datang lebih pagi.”
Naura langsung menyikut lengannya pelan. “Nah, sekarang senang karena enggak ikut.”
“Sedikit.”
Arvin tertawa. “Cepat juga sembuhnya.”
Sherly menatapnya. “Kamu jangan sok tahu.”
Sore harinya sekitar pukul 15.20, ketika kegiatan sekolah selesai, Lulu dan Naura berjalan bersama menuju gerbang. Sherly harus tinggal sebentar karena ada urusan kelas, sedangkan Arvin sudah pulang lebih dulu.
Naura memegang map berisi jadwal kunjungan Kamis sambil berjalan santai. “Aku senang kamu ikut.”
Lulu menatapnya. “Karena jadi ada teman?”
“Karena kalau aku bingung nanti bisa tanya kamu.”
Lulu tertawa kecil. “Kalau aku juga bingung?”
Naura langsung menjawab, “Ya kita bingung bareng.”
Jawaban itu membuat Lulu tertawa lebih lepas.
Mereka berhenti dekat persimpangan menuju halte. Naura harus mengambil jalur berbeda hari itu karena kakaknya meminta ia mampir membeli sesuatu sebelum pulang.
Sebelum berpisah, Naura mengangkat mapnya sedikit. “Kamis jangan telat.”
Lulu langsung menatapnya. “Yang salah turun halte siapa kemarin?”
Naura mendecakkan lidah. “Aku serius.”
“Aku juga.”
Naura akhirnya tertawa sendiri. “Sampai besok, Lu.”
“Sampai besok.”
Lulu melanjutkan perjalanan menuju halte.
Kunjungan Kamis awalnya hanya perubahan kecil dalam jadwal minggu terakhir Naura. Sekarang Lulu ikut masuk ke dalamnya.
Dan untuk beberapa hari ke depan, rencana mereka tidak lagi hanya soal bagaimana menghabiskan Sabtu berikutnya. Ada satu hari penuh yang akan mereka jalani bersama di tempat yang belum pernah Lulu kunjungi. Sekitar pukul 15.35 sore, Lulu baru sampai di halte ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Sherly muncul di grup mereka.
Sherly: Kalian ninggalin aku.
Beberapa detik kemudian, Naura membalas dengan foto jalan dari tempatnya berdiri. Di sudut foto terlihat kantong belanja kecil yang tadi hendak dibawanya pulang.
Naura: Aku juga sudah jauh.
Sherly: Pengkhianat semua.
Lulu tersenyum sambil duduk di kursi halte.
Lulu: Katanya cuma sebentar.
Sherly: Ternyata gurunya ngajak ngomong lagi.
Naura: Salah siapa tadi bilang “sebentar aja, kalian duluan.”
Sherly: Harusnya kalian tahu itu basa-basi.
Lulu langsung mengetik balasan.
Lulu: Kamu ngomongnya sambil ngusir.
Sherly: Biar kalian enggak nunggu.
Naura: Berhasil.
Sherly: Kalian nyebelin.
Lulu tertawa sendiri. Bus yang ditunggunya masih sekitar enam menit lagi, jadi ia membiarkan ponsel tetap terbuka. Tidak lama kemudian Sherly mengirim pesan baru.
Sherly: Kamis kalian foto yang banyak.
Naura: Tadi katanya jadwalnya nyebelin.
Sherly: Aku enggak ikut. Sekarang aku berhak minta oleh-oleh.
Lulu: Dari fasilitas penelitian?
Sherly: Apa pun yang gratis.
Naura: Kalau dapat brosur aku bawain.
Sherly: Jangan brosur.
Lulu menyimpan ponselnya ketika bus mulai terlihat dari ujung jalan. Percakapan itu masih berlanjut di grup, tetapi ia sudah bisa menebak Sherly akan menghabiskan beberapa menit berikutnya berusaha menjelaskan jenis oleh-oleh yang dianggap layak dari tempat penelitian.
Hari Selasa berjalan lebih biasa. Naura mengikuti kelas seperti minggu sebelumnya, Sherly sudah berhenti mengeluhkan daftar peserta kunjungan, dan Lulu hampir tidak memikirkan kegiatan Kamis sampai sekitar pukul 13.15 siang ketika seorang guru memanggil seluruh siswa pendamping ke laboratorium sekolah.
Lulu datang bersama dua siswa dari kelas lain. Naura tidak ikut karena pengarahan itu hanya untuk siswa sekolah mereka.
Di atas meja depan sudah tersedia map tipis berisi jadwal, aturan kunjungan, serta pembagian kelompok. Guru menjelaskan bahwa tugas mereka sederhana. Mereka menemani siswa pertukaran selama kegiatan, mengikuti arahan staf fasilitas, dan membantu bila ada perbedaan prosedur antara sekolah mereka dengan Akademi Lumen.
Lulu membaca pembagian kelompok dan menemukan namanya satu kelompok dengan Naura.
Ia tidak terlalu terkejut.
Nama dua siswa lain juga tercantum di bawah mereka.
Salah satu guru menunjuk bagian terakhir lembar jadwal. “Area rumah kaca termasuk dalam rute kunjungan, tetapi aksesnya tergantung kegiatan penelitian hari itu. Kalau sedang dipakai, kalian hanya melihat dari koridor observasi.”
Perhatian Lulu tertahan pada kata rumah kaca.
Di bawahnya tertulis bidang penelitian: respons tanaman terhadap lingkungan dengan kepadatan Energi Mana berbeda.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Buku yang tidak jadi dibelinya pada Sabtu lalu langsung teringat, begitu juga catatan kecil yang beberapa hari terakhir ia simpan di dalam tas sekolah.
Namun ketika guru melanjutkan penjelasan, Lulu kembali mengikuti pengarahan. Rumah kaca hanya salah satu dari beberapa area yang akan mereka kunjungi. Ada laboratorium pengukuran, ruang demonstrasi, pusat data lingkungan, dan sesi diskusi sebelum mereka pulang.
Ia tidak punya alasan untuk memperlakukan satu bagian seolah lebih penting daripada yang lain.
Sekitar pukul 13.45 siang, pengarahan selesai. Lulu baru keluar dari laboratorium ketika Sherly sudah menunggunya di ujung koridor bersama Naura.
Sherly langsung menghampiri begitu melihat map di tangan Lulu. “Lama banget. Aku hampir pulang duluan.”
Lulu menyerahkan map itu ketika Sherly mengulurkan tangan. “Baru setengah jam.”
“Setengah jam itu lama kalau nunggu.”
Naura ikut mendekat untuk membaca jadwal dari sisi Sherly. “Aku sekelompok sama Lulu?”
“Kayaknya memang sengaja dibagi begitu.”
Sherly menemukan bagian rumah kaca lebih dulu. Jarinya berhenti di atas tulisan tersebut, lalu ia langsung menatap Lulu. “Nah.”
Lulu sudah tahu maksudnya. “Aku lihat.”
“Tanaman.”
“Iya, Sher.”
Naura mengambil map dari tangan Sherly sebelum kertasnya terlipat. “Jangan mulai bikin Lulu penasaran dari sekarang.”
Sherly justru terlihat heran. “Aku cuma bilang tanaman.”
“Wajahmu enggak cuma bilang tanaman.”
Lulu tertawa kecil. “Kalian sekarang bisa debat dari ekspresi orang.”
Sherly mengambil kembali tasnya dari lantai. “Aku cuma tahu dia pasti tertarik.”
“Aku memang tertarik,” kata Lulu sambil menerima map dari Naura. “Tapi kalau rumah kacanya ditutup, ya sudah.”
Sherly menatapnya sejenak, seolah menunggu tambahan yang tidak muncul. “Kamu benar-benar bisa bilang ‘ya sudah’ sekarang.”
Lulu memasukkan map ke tas. “Memangnya harus bagaimana?”
“Dulu mungkin kamu bakal cari tahu dulu kenapa ditutup, kapan bukanya, bisa datang lagi atau enggak.”
Lulu hendak membantah, tetapi urung. Gambaran itu terlalu dekat dengan kebiasaannya sendiri.
Naura menarik tali tas ke bahunya. “Bagus dong. Kamis tinggal datang dan lihat apa yang memang bisa dilihat.”
Sherly mengangguk, lalu mengarahkan telunjuknya kepada Naura. “Tapi brosur tetap enggak termasuk oleh-oleh.”
Naura langsung mengembuskan napas kesal. “Masih dipikirin?”
“Jelas.”
“Kamu mau apa dari laboratorium?”
“Entahlah. Makanya kalian lihat nanti.”
Lulu mulai berjalan menuju tangga. “Kalau dapat stiker fasilitas?”
Sherly menyusul di sebelahnya. “Nah, itu masih boleh.”
Naura ikut dari belakang. “Tadi katanya apa pun yang gratis.”
“Aku sudah mempersempit kriteria.”
“Repot banget ditinggal sehari.”
Sherly menoleh kepada Naura sambil berjalan mundur dua langkah. “Makanya jangan senang dulu pergi berdua.”
Naura langsung menunjuk tangga di belakang Sherly. “Jalan yang benar dulu sebelum jatuh.”
Sherly buru-buru berbalik. “Aku tahu.”
Lulu menahan tawa. “Baru ngomong soal ditinggal sehari, sudah hampir ninggalin harga diri di tangga.”
Sherly berhenti di anak tangga pertama dan menatap Lulu dengan wajah kesal. “Kamu sekarang ikut-ikutan Naura.”
Naura tersenyum puas. “Cepat belajar.”
Sherly mendecakkan lidah lalu turun lebih dulu.
Rabu sekitar pukul 10.00 pagi, kunjungan Kamis sudah hampir tidak menjadi topik utama mereka. Sherly lebih sibuk mengeluhkan tugas yang harus dikumpulkan Jumat, Naura sedang mengejar catatan satu materi yang berbeda urutan dengan Akademi Lumen, dan Lulu membantu mencocokkan halaman buku mereka saat istirahat.
Arvin datang membawa minuman dan meletakkan tasnya di kursi kosong.
“Kalian belum makan?”
Sherly masih menyalin satu bagian catatan. “Nanti.”
Arvin langsung mengambil buku Sherly dan menggesernya sedikit menjauh dari kotak makan yang belum dibuka. “Dari tadi bilang nanti.”
Sherly meraih kembali bukunya. “Tinggal sedikit.”
“Lima menit lalu juga sedikit.”
Naura tertawa sambil menutup bukunya sendiri. “Nah, sekarang ada yang lebih cerewet.”
Sherly akhirnya membuka kotak makan dengan wajah sebal. “Semua orang hari ini ngatur aku.”
Arvin duduk sambil membuka bungkus rotinya. “Karena kalau enggak diingatkan, kamu baru makan pas bel masuk.”
“Sekali.”
Lulu langsung menatap Sherly.
Sherly berhenti mengambil sendok. “Dua kali.”
Naura mulai tertawa.
“Sudah, makan saja,” kata Sherly sebelum siapa pun sempat menambah jumlahnya.
Percakapan berpindah ke tugas Jumat. Arvin ternyata belum menyelesaikan bagian terakhir, membuat Sherly yang tadi dipaksa makan langsung punya sasaran baru.
“Terus kamu tadi nyuruh aku berhenti ngerjain?”
Arvin menggigit rotinya. “Aku sudah makan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Yang penting aku enggak kelaparan sambil ngerjain.”
Sherly menatapnya dengan kesal lalu kembali menyuap makanannya. “Besok aku enggak ada buat ngingetin.”
Arvin terlihat santai. “Aku bisa hidup satu hari.”
Naura langsung tertawa. “Kedengarannya meyakinkan sekali.”
Lulu ikut tersenyum sambil membereskan catatan Naura. Kehadiran Naura di meja mereka sekarang tidak lagi membutuhkan penyesuaian. Ia bisa mengejek Sherly, meminta catatan kepada Lulu, atau menanggapi Arvin tanpa menunggu percakapan diarahkan kepadanya.
Satu minggu lalu, mereka masih menjelaskan banyak hal kepadanya.
Sekarang Naura sudah tahu sendiri kapan Sherly perlu dihentikan, kapan Arvin sedang bercanda, dan kapan Lulu lebih suka menyelesaikan sesuatu dulu sebelum ikut bicara.
Sekitar pukul 15.10 sore, saat pelajaran berakhir, Lulu baru memasukkan buku terakhir ke tas ketika Sherly mendekati mejanya.
“Besok jam berapa bangun?”
Lulu memasang resleting tas. “Mungkin setengah enam.”
Sherly langsung meringis. “Aku batal iri.”
Naura yang sedang membereskan mejanya menoleh. “Aku harus berangkat lebih pagi dari tempat kakakku.”
Sherly semakin puas dengan nasibnya sendiri. “Bagus. Besok pagi aku masih bisa tidur.”
Lulu berdiri sambil menyampirkan tas. “Kemarin kamu paling kesal enggak ikut.”
“Orang boleh berubah setelah tahu harus datang sebelum jam tujuh lewat lima belas.”
Naura mengambil map kunjungannya. “Aku simpan kalimat ini. Besok kalau tempatnya bagus, jangan minta foto.”
Sherly langsung mengikuti mereka keluar kelas. “Eh, foto tetap kirim.”
“Katanya enggak iri.”
“Aku enggak iri bangunnya. Tempatnya beda.”
Lulu tertawa. “Kamu enak banget pilih bagian yang disukai.”
“Memang harus begitu.”
Mereka berpisah di gerbang beberapa menit kemudian. Sherly masih sempat mengingatkan Naura agar tidak salah naik kendaraan pagi-pagi, lalu langsung kabur ke arah halte sebelum Naura sempat membalas panjang.
Kamis pagi pukul 06.50, Lulu sudah berada di halaman sekolah.
Udara masih terasa dingin, dan jumlah siswa jauh lebih sedikit dibandingkan hari biasa. Sebuah bus sudah menunggu dekat gerbang samping. Beberapa guru berdiri di dekat pintunya sambil memeriksa daftar peserta.
Lulu baru selesai menunjukkan kartu siswa ketika seseorang menyentuh ringan sisi tasnya.
Naura berdiri di belakang dengan dua roti dalam kantong kertas.
“Aku enggak salah turun.”
Lulu langsung tertawa. “Aku belum bilang apa-apa.”
Naura menyerahkan satu roti kepadanya. “Buat jaga-jaga sebelum kamu sempat.”
Lulu menerimanya sambil masih tertawa. “Terima kasih.”
“Aku belajar dari Sabtu.”
“Belajar bawa makanan?”
“Belajar kalau jalan pagi bikin lapar.”
Mereka masuk ke bus bersama dan mendapatkan dua kursi di bagian tengah. Naura langsung memilih sisi jendela, kali ini sebelum siapa pun bisa mengambilnya.
Lulu duduk di sebelahnya sambil membuka kantong roti. “Sekarang cepat.”
“Sabtu aku kalah sama Sherly. Hari ini enggak ada Sherly.”
Ponsel Lulu bergetar hampir bersamaan dengan ucapan itu.
Pesan baru masuk dari Sherly.
Sherly: Sudah berangkat?
Lulu memperlihatkan layar kepada Naura.
Naura langsung mengambil ponselnya sendiri.
Naura: Belum. Dan aku dapat kursi jendela.
Balasan Sherly muncul kurang dari semenit.
Sherly: Aku baru bangun.
Naura menunjukkan layar kepada Lulu dengan wajah puas. “Nah. Sekarang aku yang menang.”
Lulu tertawa sambil menyimpan ponselnya.
Sekitar pukul 07.10 pagi, seluruh peserta sudah berada di dalam bus. Guru mulai memeriksa nama satu per satu, sementara Naura menghabiskan rotinya sambil melihat keluar jendela.
Lulu membuka map kunjungan untuk memastikan urutan kegiatan.
Rumah kaca masih tercantum di sana.
Namun ia menutup map setelah sekali membaca dan memasukkannya kembali ke tas.
Bus mulai bergerak sekitar pukul 07.20 pagi.
Naura langsung menempelkan punggung ke kursi. “Kalau aku ketiduran, bangunin.”
Lulu menatapnya. “Nanti Sherly senang kalau tahu.”
Naura langsung duduk lebih tegak. “Lupakan. Aku enggak tidur.”
Lulu tertawa.
Perjalanan menuju fasilitas penelitian diperkirakan memakan waktu sekitar empat puluh menit. Naura mulai sibuk melihat jalan, guru di depan menjelaskan aturan kedatangan, dan beberapa siswa di belakang masih mengobrol pelan.
Untuk saat ini, Lulu lebih tertarik menikmati perjalanan daripada menebak apa yang akan mereka temukan di sana. Sekitar pukul 07.55 pagi, bus memasuki kawasan fasilitas penelitian. Naura yang sejak tadi memperhatikan jalan langsung mendekat ke jendela ketika deretan bangunan utama terlihat di balik pagar.
Kompleks itu lebih luas daripada yang Lulu bayangkan. Bangunan utama berdiri di tengah dengan dinding kaca pada beberapa sisinya, sementara dua gedung yang lebih rendah terhubung melalui koridor tertutup. Di bagian belakang terlihat atap rumah kaca yang memanjang di antara pepohonan.
Naura langsung menyentuh lengan Lulu. “Itu rumah kacanya, ya?”
“Kayaknya.”
“Besar juga.”
Lulu mengikuti arah pandangnya. Dari bus, bagian dalamnya belum terlihat karena sebagian kaca tertutup pantulan langit pagi.
Naura kembali duduk. “Kalau Sherly ikut, sekarang pasti sudah foto dari bus.”
Lulu tertawa kecil. “Terus fotonya miring.”
“Terus dia bilang nanti ambil lagi.”
Ponsel Naura bergetar. Ia membaca pesan yang masuk lalu langsung menunjukkan layar kepada Lulu.
Sherly: Kalian sudah sampai?
Naura mengambil foto jendela bus. Pantulan wajahnya sendiri ikut masuk cukup jelas.
“Jangan kirim itu,” kata Lulu.
Naura memeriksa hasilnya. “Kenapa?”
“Yang kelihatan malah kamu.”