Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #10

Episode 9 : Bunga yang Mekar Pada Festival Sekolah [Extended]

Chapter 1 - Episode 9

Suara riuh festival kembali menyambut Lulu begitu ia melangkah melewati gerbang belakang sekolah.

Hanya beberapa belas menit ia meninggalkan area itu, tetapi suasananya seolah tidak pernah berubah. Musik dari panggung utama masih mengalun memenuhi halaman sekolah, diselingi suara pembawa acara yang sesekali terdengar melalui pengeras suara. Di sisi lain, deretan stan makanan tetap dipadati pengunjung. Aroma ayam bakar, takoyaki, dan minuman hangat bercampur menjadi satu, mengikuti angin sore yang berembus pelan di antara pepohonan.

Lulu berhenti sejenak di balik keramaian.

Pandangan matanya menyapu halaman sekolah yang masih dipenuhi para siswa, guru, alumni, hingga orang tua yang datang menikmati festival tahunan itu. Semua orang terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Ada yang tertawa sambil membawa kantong belanja, ada yang mengantre makanan, ada pula yang berfoto di depan dekorasi yang dibuat panitia sejak beberapa minggu terakhir.

Pemandangan itu sama seperti sebelum ia pergi.

Yang berbeda hanyalah dirinya.

Tanpa sadar, jemarinya terangkat menyentuh pita yang mengikat rambut pirangnya.

Bunga kecil itu masih berada di sana.

Kelopaknya belum menghilang.

Namun saat ujung jarinya menyentuh pita tersebut, dadanya tidak lagi dipenuhi kepanikan seperti beberapa saat sebelumnya. Ia masih bisa merasakan keberadaan bunga itu, tetapi rasa takut yang sejak pagi terus menghimpit pikirannya perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tenang.

Ucapan Rian masih terngiang jelas di benaknya.

"Kamu tidak harus memaksakan dirimu untuk selalu baik-baik saja."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Bahkan mungkin terlalu sederhana untuk menjadi solusi.

Namun entah mengapa, setiap kali mengingatnya, napas Lulu terasa lebih ringan.

Ia mengembuskannya perlahan, membiarkan udara sore memenuhi paru-parunya sebelum akhirnya kembali melangkah memasuki keramaian.

"Ketua OSIS akhirnya muncul!"

Suara yang terdengar cukup keras itu membuat beberapa kepala spontan menoleh.

Sherly berlari kecil dari arah stan bazar sambil memeluk setumpuk kupon yang hampir terjatuh dari tangannya. Wajahnya terlihat lega begitu berhasil menghentikan langkah di depan Lulu.

"Syukurlah kamu balik juga."

Sherly mengatur napasnya sebentar sebelum kembali melanjutkan dengan nada yang setengah mengeluh.

"Dari tadi semua orang nyariin kamu. Aku sampai mikir kamu benar-benar menghilang."

Lulu tersenyum meminta maaf.

"Maaf. Tadi keluar sebentar."

Sherly mengangkat sebelah alisnya.

"Aku tahu kamu keluar sebentar."

Ia menunjuk jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Masalahnya, 'sebentar' versimu itu cukup lama buat bikin panitia kelabakan."

Lulu terkekeh pelan.

"Separah itu?"

Sherly menghela napas dramatis.

"Coba saja lihat grup panitia."

"Ada yang nanya kamu di mana."

"Ada yang nyari kunci ruang OSIS."

"Ada yang bingung soal jadwal lomba."

"Lalu semuanya berakhir dengan kalimat yang sama."

Sherly menatap Lulu sambil tersenyum geli.

"Tanya Lulu."

Mendengar itu, Lulu tidak bisa menahan tawanya.

Tawa kecil yang spontan keluar begitu saja.

Bukan senyum sopan yang biasa ia tunjukkan kepada orang lain.

Bukan pula tawa yang dibuat agar suasana tidak canggung.

Melainkan tawa yang benar-benar muncul karena ia merasa lucu.

Sherly memperhatikan ekspresi itu selama beberapa detik.

"Aneh."

gumamnya.

Lulu memiringkan kepalanya.

"Apa?"

"Kamu."

Sherly menyipitkan matanya seolah sedang memastikan sesuatu.

"Waktu sebelum keluar tadi, wajahmu tegang sekali."

Ia menunjuk pelan ke arah Lulu.

"Sekarang malah kelihatan jauh lebih santai."

Lulu sempat terdiam.

Ia tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Tidak mungkin menjelaskan tentang bunga yang tumbuh di rambutnya.

Apalagi tentang kedai kopi kecil yang baru saja ia datangi.

Karena itu, ia hanya tersenyum kecil.

"Mungkin aku memang butuh keluar sebentar."

Sherly mengangguk pelan.

"Berarti lain kali bilang saja."

Ia menyenggol pelan lengan Lulu.

"Ketua OSIS juga manusia."

"Kamu boleh istirahat."

Kalimat itu membuat Lulu sedikit terkejut.

Sejak dipercaya menjadi ketua OSIS, hampir semua orang datang kepadanya untuk meminta bantuan atau menanyakan sesuatu. Jarang ada yang benar-benar bertanya apakah ia baik-baik saja atau tidak.

Lulu menatap Sherly beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum lebih hangat.

"Terima kasih."

Sherly terlihat sedikit salah tingkah.

"Lho?"

"Kenapa jadi serius?"

"Aku cuma ngomong apa adanya."

"Justru itu."

jawab Lulu pelan.

"Aku senang mendengarnya."

Sherly terkekeh kecil, lalu mengibaskan tangannya seolah ingin mengakhiri suasana yang mulai terlalu emosional.

"Sudah, sudah."

katanya sambil mengambil napas panjang.

"Festivalnya belum selesai."

"Kalau ketua OSIS sudah kembali, berarti aku bisa menyerahkan semua masalah kepadamu lagi."

Lulu tertawa pelan.

"Nah, itu baru Sherly yang kukenal."

"Memangnya tadi siapa?"

"Versi yang terlalu perhatian."

Sherly pura-pura mendecak.

"Kapok."

"Besok-besok aku biarin saja."

Lulu menggeleng sambil masih tersenyum.

"Jangan."

"Hmm?"

"Aku lebih suka yang tadi."

Sherly sempat terdiam, lalu terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala.

"Sejak keluar tadi..."

gumamnya pelan.

"...rasanya kamu benar-benar berubah."

Lulu tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengalihkan pandangannya ke arah halaman festival yang masih ramai oleh suara tawa dan percakapan para pengunjung.

Mungkin dirinya memang belum berubah sepenuhnya.

Rasa takut itu masih ada.

Bunga itu juga masih mekar di balik pita rambutnya.

Namun untuk pertama kalinya sejak semuanya bermula, Lulu merasa ia mampu kembali melangkah tanpa terus-menerus menoleh kepada rasa takut yang mengikutinya.

Dan sore itu, di tengah festival yang masih berlangsung, langkah pertamanya terasa jauh lebih ringan daripada sebelumnya.

Sherly benar.

Begitu Lulu kembali ke tengah area festival, satu per satu panitia langsung menghampirinya.

Bukan karena keadaan sedang kacau.

Justru sebaliknya. Festival berjalan cukup lancar, hanya saja setiap keputusan kecil tetap berakhir di meja ketua panitia.

"Lulu, spanduk lomba fotografi agak miring."

"Lulu, hadiah juara dua sudah datang."

"Lulu, guru pembimbing minta daftar peserta."

"Lulu, kabel tambahan disimpan di mana?"

Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti.

Beberapa jam yang lalu, keadaan seperti ini hampir membuat napasnya terasa sesak. Ia akan berusaha menjawab semuanya secepat mungkin, takut jika sedikit saja terlambat, seluruh festival ikut berantakan.

Kini, tanpa disadari, langkahnya justru melambat.

Ia berhenti di depan panitia dokumentasi yang sedang kebingungan mencari daftar peserta.

"Sudah dicek map biru?"

tanyanya.

Seorang siswa menggeleng.

"Belum, Kak."

"Coba lihat rak paling atas di ruang OSIS. Tadi pagi aku taruh di sana supaya tidak tercampur."

"Baik, Kak."

Siswa itu langsung berlari kecil menuju gedung utama.

Lulu tidak ikut terburu-buru.

Ia hanya memperhatikan beberapa saat sebelum kembali berjalan menuju panggung utama.

Di tengah perjalanan, seorang guru menghentikan langkahnya.

"Lulu."

"Iya, Bu?"

Guru pembimbing OSIS itu tersenyum ramah.

"Festivalnya ramai."

"Anak-anak bekerja dengan baik."

Lulu ikut tersenyum.

"Semuanya saling membantu, Bu."

"Itu memang tugas panitia."

Guru tersebut menggeleng pelan.

"Bukan."

Beliau memandang keramaian festival di depan mereka.

"Panitia memang bekerja."

"Tapi membuat semua orang mau bekerja sama, itu berbeda."

Lulu tidak segera menjawab.

Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi membuatnya berpikir sejenak.

"Terima kasih, Bu."

Guru itu menepuk pelan bahunya.

"Kamu juga jangan lupa istirahat."

Setelah guru tersebut berjalan menuju area panggung, Lulu masih berdiri beberapa detik.

Aneh.

Hari itu sudah dua kali orang mengatakan hal yang sama kepadanya.

Sherly mengingatkannya untuk beristirahat.

Sekarang guru pembimbingnya pun mengatakan hal serupa.

Padahal selama ini hampir tidak pernah ada yang membahas hal tersebut.

"Lulu!"

Suara lain kembali memanggilnya.

Kali ini datang dari arah stan permainan.

Seorang panitia laki-laki berlari kecil sambil membawa kotak berisi kupon undian.

"Kotak cadangan sudah ketemu."

katanya sambil mengatur napas.

"Tapi isi kuponnya kurang."

Lulu melirik ke arah kotak itu.

"Kurang berapa?"

"Mungkin sekitar lima puluh lembar."

Lulu berpikir sejenak.

"Tidak usah dicetak lagi."

"Lho?"

"Gabungkan saja dengan kupon hadiah hiburan."

jelas Lulu sambil membuka isi kotak tersebut.

"Nomornya masih berurutan."

"Nanti tinggal diumumkan sebelum pengundian dimulai supaya peserta tahu."

Panitia itu tampak berpikir beberapa detik.

"Iya juga."

katanya sambil tersenyum lega.

"Aku malah kepikiran harus cetak ulang."

"Kalau masih bisa diselesaikan dengan cara yang lebih sederhana, tidak perlu membuat pekerjaan baru."

Panitia itu mengangguk berkali-kali.

"Siap."

"Terima kasih, Lulu."

Setelah ia pergi, Sherly yang sedari tadi memperhatikan dari belakang hanya tersenyum kecil.

"Kamu tahu tidak?"

Lulu menoleh.

"Apa?"

"Tadi itu."

Sherly menunjuk ke arah panitia yang baru saja pergi.

"Kalau beberapa jam yang lalu, kamu pasti langsung ikut bantu menghitung semua kuponnya."

Lulu berkedip pelan.

"Iya, ya?"

"Iya."

Sherly mengangguk mantap.

"Sekarang kamu malah menyuruh dia menyelesaikannya sendiri."

Lulu memikirkan ucapan itu.

Baru kali ini ia menyadari perubahan kecil tersebut.

Biasanya ia memang terbiasa turun tangan untuk hampir semua hal.

Bukan karena tidak percaya kepada panitia lain.

Ia hanya takut ada yang terlewat.

Namun kali ini berbeda.

Ia mulai percaya bahwa orang lain juga mampu menyelesaikan tugas mereka.

Tanpa harus selalu menunggu dirinya.

"Ternyata..."

gumam Lulu pelan.

"...aku memang terlalu sering mengambil semuanya sendiri."

Sherly tersenyum hangat.

"Akhirnya sadar juga."

"Capek, kan?"

Lulu mengembuskan napas pelan sebelum tersenyum kecil.

"Iya."

"Sedikit."

"Sedikit?"

Sherly tertawa kecil.

"Menurutku banyak."

Lulu ikut tertawa.

"Mungkin memang banyak."

Untuk pertama kalinya hari itu, ia mengakui sesuatu yang selama ini selalu berusaha disembunyikannya.

Ia memang lelah.

Bukan karena festival.

Bukan karena menjadi ketua OSIS.

Melainkan karena terlalu lama merasa harus mampu menyelesaikan semuanya seorang diri.

"Lulu!"

Suara pembawa acara terdengar dari sisi panggung.

"Kita siap mulai lomba duet. Bisa minta konfirmasi urutan tampil?"

Lulu mengangguk.

"Sebentar."

Ia mengambil clipboard dari tangan Sherly, memeriksa kembali daftar peserta, lalu berjalan menuju belakang panggung dengan langkah yang tenang.

Sherly memperhatikan punggung sahabatnya itu hingga perlahan menghilang di balik tirai.

Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

Entah apa yang terjadi selama Lulu keluar dari sekolah.

Namun satu hal yang pasti.

Sorot mata yang tadi dipenuhi kegelisahan kini berubah menjadi jauh lebih lembut.

Dan untuk pertama kalinya sejak festival dimulai pagi tadi, Sherly merasa sahabatnya itu benar-benar kembali. Area belakang panggung jauh lebih sibuk dibanding bagian depan festival.

Beberapa peserta lomba duet tampak mengulang lirik lagu mereka untuk terakhir kalinya. Ada yang sibuk merapikan seragam, ada yang menggenggam mikrofon dengan wajah tegang, sementara panitia perlengkapan mondar-mandir memastikan seluruh kabel dan pengeras suara telah terpasang dengan benar.

Lulu melangkah memasuki area itu sambil memeluk clipboard di dadanya. Beberapa panitia yang melihatnya langsung menghampiri tanpa ragu.

"Lulu, urutan tampilnya tetap seperti ini?"

tanya seorang siswa sambil menunjuk daftar peserta.

Lulu membaca sekilas lembar yang disodorkan kepadanya, kemudian mengangguk.

"Iya. Peserta nomor empat tadi sudah konfirmasi kalau mereka siap. Jadi tidak ada perubahan lagi."

"Baik."

Panitia itu mengembuskan napas lega.

"Syukurlah."

Belum sempat ia berbalik, seorang siswi lain datang menghampiri dengan wajah sedikit panik.

"Lulu, stand-by room penuh."

"Anak-anak yang tampil berikutnya jadi bingung harus menunggu di mana."

Lulu menoleh ke arah ruang kelas yang digunakan sebagai ruang tunggu.

Pintu kelas memang terbuka, tetapi ruangan itu tampak dipenuhi peserta beserta teman-temannya.

Ia berpikir beberapa detik.

"Lorong sebelah perpustakaan masih kosong?"

Siswi itu mencoba mengingat.

"Sepertinya masih."

"Kalau begitu pindahkan peserta berikutnya ke sana."

"Lorongnya lebih tenang."

"Mereka juga bisa latihan sebentar tanpa mengganggu peserta yang sedang menunggu giliran."

Wajah siswi itu langsung berubah lega.

"Iya juga."

"Aku enggak kepikiran."

Lulu tersenyum kecil.

"Kalau ada yang bingung, bilang saja itu keputusan panitia."

"Siap."

Siswi itu segera berlari meninggalkan belakang panggung.

Lulu kembali melihat daftar peserta di tangannya.

Satu demi satu masalah yang muncul ternyata dapat diselesaikan lebih mudah daripada yang ia bayangkan.

Beberapa di antaranya bahkan selesai hanya dengan satu keputusan sederhana.

Hal itu membuatnya tersenyum tipis.

Barangkali selama ini ia memang terlalu sering mempersulit dirinya sendiri.

"Lulu."

Suara berat seorang guru menghentikan lamunannya.

Pak Arif, guru seni musik yang bertugas sebagai juri lomba duet, berjalan menghampirinya sambil membawa map berisi lembar penilaian.

"Semua peserta sudah siap?"

"Sudah, Pak."

jawab Lulu sopan.

"Tinggal menunggu peserta yang sedang tampil sekarang selesai."

Pak Arif membuka mapnya sebentar, memastikan seluruh lembar penilaian telah tersusun sesuai urutan peserta.

"Kerja bagus."

ucapnya sambil mengangguk pelan.

"Dari pagi sampai sekarang jadwalnya hampir tidak meleset."

Lulu tersenyum kecil.

"Masih banyak dibantu panitia yang lain, Pak."

"Itu memang seharusnya."

Pak Arif menutup mapnya kembali.

"Ketua yang baik bukan orang yang mengerjakan semuanya sendiri."

Beliau memandang Lulu dengan senyum yang tenang.

"Ketua yang baik tahu kapan harus mempercayai timnya."

Kalimat itu membuat Lulu kembali terdiam.

Hari itu sudah menjadi orang ketiga yang mengatakan hal serupa.

Sherly.

Guru pembimbing OSIS.

Sekarang Pak Arif.

Entah mengapa, semua ucapan itu terasa saling terhubung.

Selama ini ia selalu menganggap rasa tanggung jawab berarti memikul seluruh beban sendirian.

Padahal mungkin, tanggung jawab juga berarti percaya bahwa orang lain mampu berjalan bersamanya.

"Terima kasih, Pak."

ucap Lulu tulus.

Pak Arif hanya mengangguk kecil sebelum berjalan menuju kursi juri.

"Lima menit lagi kita mulai."

Lulu kembali memusatkan perhatiannya pada daftar peserta.

Ia memanggil satu per satu nama yang akan tampil berikutnya, memastikan seluruh perlengkapan mereka sudah siap.

Di sela-sela kesibukan itu, ia melihat seorang siswi kelas sepuluh berdiri sendirian di dekat tangga belakang panggung.

Gadis itu memegang mikrofon dengan kedua tangan, sementara pandangannya terus mengarah ke lantai.

Jemarinya tampak sedikit gemetar.

Lulu menghampirinya perlahan.

"Namamu Siska, ya?"

Siswi itu mengangkat wajahnya dengan sedikit terkejut.

"I... iya, Kak."

"Kamu peserta nomor lima?"

Siswi itu mengangguk pelan.

Lulu tersenyum hangat.

"Gugup?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat gadis tersebut tertawa kecil karena merasa ketahuan.

"Sedikit."

jawabnya lirih.

"Ini pertama kalinya aku tampil di depan banyak orang."

Lulu memandang ke arah panggung yang masih dipenuhi tepuk tangan penonton.

Beberapa minggu sebelumnya, mungkin ia akan langsung memberi berbagai nasihat agar adik kelasnya lebih percaya diri.

Namun kali ini, ia memilih duduk di samping gadis itu.

"Aku juga sering gugup."

ucap Lulu pelan.

Siska langsung menoleh dengan wajah tidak percaya.

"Kak Lulu?"

"Iya."

Lulu tersenyum kecil.

"Bedanya saja, orang lain jarang menyadarinya."

Siska memperhatikan wajah Lulu beberapa saat.

"Tapi Kakak kelihatan selalu tenang."

"Kelihatannya saja."

balas Lulu sambil terkekeh pelan.

"Aku juga sering takut melakukan kesalahan."

"Terus..."

Siska menggenggam mikrofon sedikit lebih erat.

"...gimana caranya supaya enggak gugup?"

Lulu tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu mengingatkannya pada dirinya sendiri beberapa puluh menit yang lalu, saat ia duduk di Arcane Brew dengan pikiran yang hampir dipenuhi kepanikan.

Ia tersenyum tipis.

"Mungkin..."

ucapnya perlahan.

"...bukan rasa gugupnya yang harus dihilangkan."

Siska mendengarkan dengan saksama.

"Kita cukup tetap melangkah meski masih merasa gugup."

Lulu menatap panggung di depan mereka.

"Karena setelah langkah pertama, biasanya langkah berikutnya akan terasa sedikit lebih mudah."

Siska mengikuti arah pandangnya.

Beberapa detik kemudian, gadis itu menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan.

Wajahnya memang belum sepenuhnya tenang.

Namun senyum kecil mulai muncul di sudut bibirnya.

"Terima kasih, Kak."

ucapnya tulus.

Lulu membalas senyumnya.

"Sama-sama."

Tanpa disadari, kalimat yang baru saja ia ucapkan kepada adik kelasnya sebenarnya juga sedang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya sejak bunga itu mekar di rambutnya, Lulu merasa ia mulai benar-benar mempercayai kata-kata tersebut.

Tepuk tangan penonton memenuhi halaman sekolah begitu penampilan peserta terakhir berakhir.

Lampu panggung berganti warna mengikuti musik penutup, sementara pembawa acara melangkah ke tengah panggung untuk memberi jeda sebelum penampilan berikutnya dimulai.

Lulu mengembuskan napas pelan.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia benar-benar merasa seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana.

Beberapa panitia yang tadi mondar-mandir kini mulai terlihat lebih santai. Ada yang memanfaatkan waktu untuk mengambil minum, ada pula yang duduk sebentar di kursi belakang panggung sambil mengusap keringat di dahinya.

"Lulu."

Pak Arif menghampirinya sambil menutup map penilaian.

"Bagian lomba duet sudah selesai."

Beliau menyerahkan beberapa lembar hasil penilaian kepada Lulu.

"Tolong simpan dulu. Nanti setelah semua lomba selesai baru diumumkan."

"Baik, Pak."

Lulu menerima map tersebut dengan hati-hati.

"Saya simpan di ruang OSIS."

Pak Arif mengangguk.

"Terima kasih."

Beliau sempat melangkah beberapa meter sebelum kembali menoleh.

"Oh ya."

"Lain kali, kalau mulai terlihat lelah, jangan dipaksakan."

Lulu sedikit terkejut mendengar kalimat itu.

Pak Arif hanya tersenyum kecil.

"Ketua panitia boleh istirahat."

"Festival tidak akan berhenti hanya karena kamu duduk lima menit."

Beliau kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang guru.

Lulu masih memandangi punggung gurunya hingga menghilang di balik keramaian.

Hari itu, kalimat tentang beristirahat seolah terus datang dari berbagai arah.

Mungkin selama ini dirinya memang terlalu pandai menyembunyikan rasa lelah.

Atau justru semua orang sudah menyadarinya sejak lama.

Hanya dirinya yang tidak pernah mau mengakuinya.

"Lulu!"

Sherly kembali muncul sambil membawa dua botol air mineral dingin.

Tanpa banyak bicara, ia langsung menyodorkan salah satunya.

"Nih."

Lulu menerimanya.

"Makasih."

Sherly membuka tutup botol miliknya sendiri sebelum meneguk beberapa kali.

"Kalau dipikir-pikir..."

katanya sambil mengusap embun yang menempel di botol.

"...hari ini kita sudah muter sekolah berapa kali, ya?"

Lulu tertawa kecil.

"Mungkin lebih banyak daripada waktu pelajaran olahraga."

"Nah, kan."

Sherly menggeleng sambil tersenyum.

"Besok kakiku pasti protes."

Mereka berjalan perlahan meninggalkan area belakang panggung menuju halaman utama.

Festival masih ramai.

Beberapa pengunjung mulai memadati stan makanan karena waktu makan sore sudah semakin dekat.

Di sisi lain, suara tawa terdengar dari area permainan tradisional yang sejak siang tidak pernah sepi.

Lulu memperhatikan semuanya sambil terus melangkah.

Pemandangan itu terasa begitu hidup.

Selama berminggu-minggu ia dan seluruh panitia bekerja hingga sore untuk mempersiapkan festival ini.

Lihat selengkapnya