Manakala Bulan Berbicara

Shanen Patricia Angelica
Chapter #2

Mimpi Sukasih

Jakarta, 1983

Helena Sukasih, adalah nama yang diberikan Ibu dan Bapak kepadanya. Maksud dan tujuan mereka jelas, yakni agar anak sulung mereka bisa menjadi terang yang membawa kasih bagi mereka yang mengenalnya.

Sukasih, yang lebih sering dipanggil Kasih oleh orang-orang terdekatnya, selalu mempercayai bahwa nama adalah doa yang melekat sepanjang hayat.

Namanya kemudian ia jadikan teladan dalam setiap tindak-tanduknya. Sejak dulu Sukasih selalu menjadi orang pertama yang menawarkan satu-satunya roti miliknya kepada temannya yang kelaparan, tak peduli bahwa ia sendiri akan pulang dengan perut keroncongan.

Lalu tatkala ia dewasa, kebiasaan kecil itu telah menjadi pakaiannya sehari-hari.

Di tempat kerjanya, di sebuah Bar bernama Kelana, ia terkenal lebih senang membelikan orang makan daripada dirinya sendiri.

Seperti yang terjadi malam ini sesaat sebelum ia tampil.

Sukasih membawakan sebuah nasi bungkus untuk salah satu pelayan yang baru saja bercerai dari suaminya.

“Jangan lupa makan!” Ujar Sukasih kepada Epin, si pelayan yang tergugu saat menerima bungkusan nasi darinya.

“Loh, ya, Mbak, kamu dong yang harusnya makan,” Epin mengangkat bungkus nasinya itu.

Sukasih mengedikkan bahu sambil tersenyum, “kayak baru kenal aku sehari saja kamu.”

Ia lantas kembali melenggang sambil merapikan gaun merahnya saat telah mendekati panggung. Senyumnya diedarkan kepada setiap orang yang berpapasan dengannya selagi menuju ke panggung.

Tepat pukul tujuh malam, lampu di hadapannya mulai redup. Asap rokok dan wewangian manis mulai memenuhi ruangan.

Suasana sudah mulai riuh pengunjung. Meja-meja di hadapannya mulai penuh diduduki pengunjung. Mereka semua tampil necis, rata-rata memakai jas atau terusan mentereng karena hari ini adalah malam minggu. Banyak dari mereka berpasang-pasangan. Satu-dua ada yang saling menyentuh pipi, mencium tangan, bahkan ada yang diam-diam bercumbu ketika lampu mulai redup.

“Berikutnya, mari kita sambut Helena Sukasih….”

Sukasih menarik napas panjang. Dalam keheningan, ia berdoa.

Tuhan, tolong bantu aku ya hari ini. Amin.

Malam ini, ia akan menyanyikan sebuah lagu dari penyanyi sohor yang baru saja rilis. Lagu itu mesti ia nyanyikan atas permintaan manajernya di Bar Kelana, Mas Guntur, yang hari-harinya tak lepas dari album-album si penyanyi itu.

Pada suatu malam Mas Guntur bahkan memberinya ultimatum yang membuat dada Sukasih makin tak keruan menyambut malam ini.

“Kalau jelek, kamu cuma tampil seminggu sekali, ya Kasih,” ucap Mas Guntur pada hari itu. “Tapi, kalau bagus, hidupmu aman di sini.”

Bagaimana ia bisa tidak gentar, bila belum apa-apa saja sudah ada ultimatum yang mengancamnya?

Meski begitu, Sukasih tetap tidak menyerah. Ia menaiki undakan panggung sembari memegangi sisi bawah gaunnya. Pandangannya merayapi seisi bar malam itu. Para pengunjung memperhatikannya dengan takzim, walau tak sedikit pula memilih untuk mengobrol atau sekadar bengong menatap lampu-lampu.

Begitu Sukasih tiba di belakang mikrofon. Gema yang terdengar hanya sesaat itu membuatnya terkejut. Hilang sudah ketenangan yang ia jaga sedari tadi.

Kini ia kembali gemetar, bukan karena bar cukup penuh kala penampilannya malam ini. Melainkan, ultimatum Mas Guntur itu tak pernah senyap dari kepalanya.

Bagaimana jika nyanyiannya jelek?

Bagaimana jika pengunjung justru tidak senang?

Bagaimana jika ia gagal?

“Kasih! Fokus!” Mas Guntur memanggilnya pelan dari pinggir panggung.

Lalu, Sukasih memberi aba-aba kepada pemain musik agar musik segera dimainkan.

Bait pertama lagu itu Sukasih lantunkan sambil memejamkan mata. Nada demi nada dinyanyikannya dengan lembut. Riuh penonton berangsur reda. Hampir semua mata dari mereka menatapnya di panggung.

Ketika itu, rasanya seperti ada yang menggedor dari dalam dadanya.

Duk…

Duk…

Duk…

Sukasih kembali memejamkan matanya. Kehangatan menyusur di setiap inti tubuhnya. Entah mengapa ia merasa doanya dijawab lewat nada-nada sempurna yang ia nyanyikan hingga lagu itu selesai. 

Pada akhir lagu, Sukasih merasa pipinya basah sebagian. Ia mengusap kedua matanya hanya untuk menyingkirkan air mata yang mestinya tidak boleh turun pada malam ini.

Seusai lagu, Sukasih memberi hormat kepada para pengunjung, kepada Mas Guntur yang kini memegang saputangan sambil mengacungkan ibu jarinya. Dengan wajah yang sangat semringah, Mas Guntur bertepuk tangan dengan sangat keras.

Apakah ini berarti ia berhasil? Sukasih membalas dengan tersenyum kepada orang-orang yang bertepuk tangan.

BRUK!

Tiba-tiba saja di hadapannya semua orang menjadi riuh. Pintu Bar Kelana terbuka begitu saja. Nampak seseorang berhasil menerobos masuk melewati banyak satpam yang berjaga di depan.

Sukasih menyipitkan matanya, berusaha melihat apa yang terjadi.

Dari kejauhan, ia bisa sedikit melihat tubuh kecil seorang wanita meliuk di antara para satpam dan pengunjung. Tentu saja, banyak pengunjung yang gusar bahkan sampai keluar dari Bar Kelana.

“Kasih, bujuk mereka supaya tetap tinggal!” Ujar Mas Guntur sebelum ia mengejar wanita itu.

Namun, alih-alih menuruti Mas Guntur, Sukasih justru ikut turun dari panggung. Sayup-sayup, ia mendengar suara wanita mungil itu berupaya melawan satpam.

“Aku mau ketemu, Mbakyu-ku!” Ucap wanita itu dari kejauhan.

“Mbakyu!”

“Mbakyu!”

Mbakyu? Panggilan itu terakhir kali terdengar di telinganya kurang lebih delapan tahun lalu.

Sebelum seluruh hidupnya dihancurkan dalam semalam.

Lihat selengkapnya