Manakala Bulan Berbicara

Shanen Patricia Angelica
Chapter #3

Damian Nera, Itu Namaku!

Namanya adalah Damian Nera.

Namun, Jakarta mengubah namanya menjadi Diman. Katanya agar tak terdengar terlalu asing, tapi apakah salah jika menjadi asing di tempat yang baru? Diman masih tak bisa mengerti itu.

Di kampungnya dulu, di Ende, ia adalah seorang remaja laki-laki yang gemar menunggangi kuda hitamnya di sepanjang pesisir pantai.

 Ia memberi nama kuda hitam itu, Jek.

Nama itu sebetulnya berasal dari kata Jack, tepatnya Jack Nicholson, pemain film yang pernah ia baca namanya di salah satu surat kabar bekas. 

Keren bukan?

Namun, lantaran tak ingin dibilang kebarat-baratan oleh orang di desanya, ia dengan berat hati mengubah pelafalan Jack menjadi Jek agar mudah disebut.

Jek.

Bersama Jek, Diman menghabiskan waktu seperti orang yang lupa arah pulang setiap harinya. Jika tidak ada lonceng gereja yang terdengar, Diman sudah pasti masih melongo melihat cakrawala yang tengah berubah menjadi lembayung sebelum berganti menjadi kegelapan yang pekat. 

Diman sejujurnya sangat menghindari kegelapan yang pekat. Ia selalu teringat akan ucapan Papa yang pernah memarahinya karena pulang saat gelap.

“Banyak yang jahat bisa muncul sesaat mereka tidak terlihat,” kata Papa. “Batasmu hanya sampai bunyi lonceng gereja terdengar.”

Ketika dimarahi Papa, Diman hanya bisa diam karena ia tahu, itu bukan bualan semata. 

Terlebih jika Papa sampai berkata, “selebihnya, kau yang tanggung sendiri.”

Diman tentu tak mau menanggung malapetaka itu seorang diri.

Siapa juga yang mau?

Karena ucapan itu, Diman menjadi anak laki-laki yang penurut. Banyak orang mendoakannya agar bisa melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Mereka bilang Jakarta sendiri memiliki segalanya yang dibutuhkan orang-orang. Setidaknya di sana ada listrik, sepeda motor yang lalu lalang, dan tentu saja, di sana itu, pusatnya uang berputar.

Namun, peduli apa tentang listrik, sepeda motor atau uang apalah itu bila ia punya Jek di sini?

Baginya, kehidupan bebas bersama Jek di tempat ini adalah segalanya yang pernah ia minta kepada Tuhan. Diman tidak rela menukar pemandangan cakrawala menjelang malam itu dengan listrik yang nanti juga datang sendiri ke desanya. Ia pula tidak sudi mengganti Jek dengan sepeda motor yang suka ditunggangi para aparat saat patroli di desanya.

Ia hanya ingin selamanya hidup di sini bersama Jek, juga Papa, Mama dan Kakak. 

Namun, sekuat-kuatnya manusia mendekap harapan, tidak ada satu pun dari mereka yang mampu mengelak dari kehendak Tuhan.  

Terjadilah kepadaku menurut kehendak-Mu.

Maka, tibalah hari yang tak pernah Diman bayangkan.

 Tepat pada tanggal 25 Desember pukul 20.48. Banyak orang masih larut dalam sukacita Natal sepanjang hari itu ketika tanah di bawah mereka berguncang hebat.

Kegelapan yang ditakuti olehnya berubah wujud menjadi retakan tanah yang mulai menenggelamkan belasan rumah di desanya. Kala itu, Diman bersama Papa yang baru kembali dari kediaman Bung Alex di kampung seberang langsung tunggang-langgang mencari Mama dan kakak Diman, Natalia.

Bersama orang-orang yang panik setengah mati, Diman terpisah dari Papa. Kakinya berlari menembus kerumunan orang dari arah yang berlawanan. Mereka banyak yang pergi untuk mencari tanah lapang, tetapi tidak dengan Diman. Ia melawan kegentarannya demi bisa menemukan Mama dan Natalia.

Rumah tetangganya banyak yang telah rata dengan tanah. Beberapa rumah bahkan terlihat tenggelam hingga menyisakan kuncup atapnya saja. Kandang sapi, ayam telah tak jelas rupanya.

Pikirannya mulai kalut ketika ia banyak menemukan mayat sapi bergelimpangan. Ayam-ayam tetangga banyak yang hanya tinggal badan. 

Lalu, bagaimana dengan Jek?

Diman masih berlari, walaupun tersandung berulang kali hingga sampailah ia di dekat rumahnya.

Lihat selengkapnya