Di tengah tempat penuh cahaya ini, aku tidak menduga akan melihat sesuatu yang hidup dan mengelilingiku.
Banyak hal yang mulai merasuk ke dalam diriku. Pola-pola yang bergerak itu ternyata membentuk suatu rupa. Mereka punya nama, bisa bernyanyi, menunggangi rupa lain yang ternyata bernama Jek dan banyak lainnya.
Aku baru tahu mereka adalah manusia dan kuda!
Ya, rupa lain yang bernama Jek itu adalah kuda.
Aku baru tahu setelah melihat mereka semua hadir di tengah-tengah tempat ini.
Dan, kalau bukan karena orang bernama Diman itu, aku takkan tahu kalau manusia itu ternyata suka mengisap sesuatu yang dibakar.
Kini, jauh dari gang sempit yang sempat kulihat, di tempat yang aku sendiri tak tahu apa, sekelilingku kembali kosong. Seperti sebelumnya, hanya ada cahaya putih yang membentang tanpa ujung.
Semuanya berganti tenang dan hangat.
“Mereka itu siapa?”
Pertanyaanku menggantung di udara tanpa dijawab oleh-Nya.
Ya, beginilah Ia. Kadang menjawab, kadang diam, kadang membuatku berpikir bahwa Dia meninggalkanku di tempat ini.
Terkadang juga saat Dia diam, aku mengira Dia telah meninggalkanku. Namun, ternyata tidak. Aku masih bisa merasakan hadir-Nya di sekitarku, walau tipis…sangat tipis untuk bisa kulihat dan kurasakan.
“Siapa mereka sebetulnya?” Sedari tadi aku menahan diri, tetapi kali ini aku tak bisa menyimpan kebingunganku yang berlarut-larut.
“Nanti juga kau bertemu mereka.”
Suara itu! Ia menjawabku lagi.
“Kau yang mempertemukan mereka?”
“Oh, tentu.”