Manakala Bulan Berbicara

Shanen Patricia Angelica
Chapter #5

Duri di Sudut Malam

Petang itu, Sukasih sedang asyik melihat iklan lowongan kerja di koran. Tubuhnya duduk melengkung di depan pintu indekosnya sambil menandai iklan yang sekiranya masih cocok untuknya.

Rata-rata iklan lowongan kerja itu memiliki kriteria yang baginya tidak masuk akal. 

Berpenampilan menarik? Tinggi badan minimal 160 cm? Berat badan maksimal 55 kg?

Yang benar saja? Pikir Sukasih. 

Sukasih yang hampir tujuh tahun merintis karier sebagai penyanyi bar tentu tidak memiliki itu semua, kecuali rambut bergelombang yang menarik.

Untuk itu, ia boleh percaya diri bila rambut yang menarik bisa menjadi kriteria.

Gang saat itu cukup bersih. Belum ada jemuran yang tergantung di balkon. Got pun sedang tidak bau-bau amat. Banyak anak kecil yang sedang berlarian. Mereka membawa bola kasti untuk bermain di lapangan. Ada juga yang kebut-kebutan naik sepeda.

Petang yang seperti ini sebetulnya jarang Sukasih alami karena biasanya pukul tiga sore dia sudah harus tiba di Bar Kelana dan beberapa bar lain sebelum bar itu.

Sukasih tiba-tiba berhenti menandai koran.

Dia rindu pada mimpinya. 

Jika saat itu adiknya tidak datang, mungkin saat ini sudah lain cerita. Mungkin ia masih tampil di Bar Kelana. Mungkin Mas Guntur akan memperkenalkannya kepada banyak produser musik atau pemilik-pemilik bar lain yang punya banyak uang.

Mungkin juga ia bisa rekaman sungguhan.

Mungkin.

Mungkin.

Dan, mungkin.

Ia tidak akan mengais recehan lagi untuk membayar cicilan utangnya kepada Bung Alex. 

Ia juga pasti bisa punya lagu sendiri.

Mungkin saja akan diberi judul Duri di Sudut Malam.

Lalu, entah dari mana, sebuah lirik berikut melodinya menyelinap di bibir Sukasih

Seuntai kata merobek malam, bagai duri di balik bibirmu.”

“Mbakyu?”

Suara Susan mengempas semua bait yang ada di kepalanya. 

“Aduh, San!” Sukasih memegang dadanya. “Mbakyu, kaget loh!”

Susan, adiknya, nampak baru saja bangun petang ini. Ia masih duduk di kasur Sukasih. Rambutnya digelung ke dalam asal-asalan. Kantung matanya masih bengkak, tak peduli sudah berapa lama ia tertidur sejak tinggal di sini. 

“Mbakyu,” panggilan Susan kali ini rasanya begitu dalam. “Apa kabar?”

Napas Sukasih langsung terasa berat.

Apa kabar?

Kapan terakhir kali ada orang yang menanyakan kabarnya?

Apa yang harus ia jawab?

Aku tidak baik-baik saja?

Sukasih melipat korannya dan hendak kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. “Seperti yang kamu lihat, San. Aku baik.”

Susan yang semula hanya diam, tiba-tiba kembali bersuara, “Mbak, marah sama aku, ya?”

Mendengar itu, Sukasih langsung mengibaskan tangan seperti ingin mengusir pikiran buruk adiknya. “Yo, ndak begitu!”

Ia bergegas menuju deretan laci di sudut kamar, lalu mengambil dua bungkus mi instan dan sepasang telur dari dalamnya. “Wes tak bikin mi dulu.” Dari depan laci, ia melangkah ke dekat kompor dan mengambil penggorengan dari gantungan paku.

Sukasih menuang air, lalu menyalakan kompor seperti biasa. Detik berikutnya, suara kelontang logam yang beradu mengisi ruang hening di antara mereka. Tangannya dengan sigap memasukkan mi ke dalam air yang belum terlalu mendidih.

Sukasih masih menerka-nerka, apakah bijak bila menanyakan hal itu sekarang? 

 “Kamu ke mana saja?” 

Namun, tanpa seizin si empunya, mulut Sukasih main melontarkan saja pertanyaan yang mendiami kepalanya sedari kemarin.

Susan diam di tempat. Ia cuma berdiri sambil terus memandangi Sukasih yang kerepotan membuat mi rebus.

“San, maaf,” dari depan kompor, Sukasih menoleh ke arah Susan. “Aku ndak maksud…”

Wajah Susan sudah merah merekah. Air telah membanjiri pipinya, meski tangisnya sendiri tidak terdengar.

“Susan?” Panggilnya sekali lagi.

“Aku minta maaf…” kata Susan lirih. Lalu, ia bersujud bagai hamba yang memohon ampun kepada tuannya. “Aku bodoh, Mbak.”

Lihat selengkapnya