Matahari pagi itu rasanya menyingsing lebih cepat dari biasanya. Diman yang separuh sadar merasa seperti dibombardir rentetan peluru saat pintu kamarnya diketuk bertubi-tubi
Duk!
Duk!
Duk!
Kamar Diman di rumah Bung Alex berada di sudut paling belakang. Kata Bung Alex, penghuni sebelumnya waktu itu menghilang tiba-tiba, sebelum ditemukan telah membusuk di dalam gorong-gorong.
Saat pertama kali ia mendengar cerita itu, Diman sampai sulit untuk tidur.
Namun, setelah berminggu-minggu tinggal di rumah ini, ia justru sadar bahwa cerita itu bukanlah yang paling menyeramkan. Ia justru merasa orang-orang yang masih hidup di sinilah yang lebih menyeramkan.
Mereka semua tak segan menempuh kekerasan untuk hal-hal sekecil apapun. Ibaratnya, kekerasan itu telah menyatu ke dalam nadi mereka, mewujud dalam tiap tindak tanduk mereka sampai kadang berujung pada kepalan tangan, tendangan keras atau teriakan seperti sekarang.
“DIMAN!”
Diman menarik napas panjang setelah lama mendiamkan pintu itu terguncang dari luar.
Tiga…Diman menghitung mundur sampai ia siap bangkit dari kasurnya.
Dua…
Satu…
Sialan!
Diman menghela napas panjang sebelum ia bangun dari kasur. Awalnya ia sempat duduk dahulu, tapi suara ketukan pintu di depan berubah menjadi tendangan keras.
Pada saat itulah Diman tahu, sebaiknya ia tidak mencari perkara di sini.
“Diman!” Bung Alex berteriak ketika pintu sudah terbuka. Alisnya yang tebal berkerut-kerut seperti sengaja agar Diman jeri.
Di tangannya, Bung Alex menggenggam segulung uang yang beberapa waktu lalu Diman berikan kepadanya.
Uang dari wanita di indekos yang berkata: jangan berisik, di dalam ada adikku.
Tak sampai sedetik kemudian, lembar-lembar uang itu sudah berhamburan di depan wajah Diman. Beberapa lembar bahkan mengenai matanya sampai terasa perih.
“Kenapa kau cuma bawa uang segini, hei!” Bentak Bung Alex.
Diman menahan diri untuk tidak mengusap mata, walau jadinya pandangannya mengabur karena air mata. Ia mengedipkan matanya sesekali. Air matanya menetes sampai mengenai uang di bawah kakinya.
Pelan-pelan, ia pun mengangkat kepala.
“Itu—dia cuma punya segitu memang,” jawab Diman ragu-ragu, suaranya kecil dan bergetar.
Diman menatap mata pamannya sebentar. Bung Alex balas menatapnya. Kali ini tajam, terasa dingin dan mencekam.
“Kenapa cuma segitu?!”
Itu jelas bukan pertanyaan karena setelahnya, tangan Bung Alex sudah terayun dan langsung melibas wajah Diman.
Tubuh Diman langsung kejur. Ia merasakan panas menjalar dari kepalanya, lalu mengelilingi pipi sampai telinganya berdengung. Sementara di depannya, Bung Alex berdiri sambil ancang-ancang. Kedua kakinya dilebarkan sebahu, tangannya sudah siap mengepal, tapi berhasil ditahan oleh Bang Samo.
“Kau pergi ke rumah wanita itu lagi, Diman!” Kata Bung Alex setengah terengah. “Ambil semua uangnya dan kalau gagal, biar kuminta Samo lagi yang urus dia.”
“Sebab kau tidak becus jadi orang!” lanjutnya, seolah ia tak puas sudah memaki Diman habis-habisan. “Dengar ya, sekali lagi!”
Rahangnya kemudian dicengkeram Bung Alex. “Kau harus tega kalau menagih! Ambil apapun yang kau bisa, termasuk kalau perlu nyawa mereka juga! Paham?
Diman menunduk saja karena baginya sia-sia melawan omongan pamannya itu. Bung Alex punya uang, punya kuasa dan punya alasan untuk melakukan kekerasan di rumah ini. Melawan dia sama dengan menggali kubur sendiri.
Setelah itu, Bung Alex hanya mengisyaratkan kepada Bang Samo dan para bawahannya untuk membereskan uang di kaki Diman. Lalu, tanpa berkata apa-apa ia mencengkeram leher baju Diman dan melempar tubuh keponakannya itu keluar kamar.
***
Langkah kaki Diman terasa lebih berat ketika ia tahu pekerjaannya kali ini bukan hanya perihal dirinya, tetapi juga orang lain. Sayangnya, orang lain itu adalah wanita yang wajahnya belakangan ini mendiami ruang kosong di dalam kepalanya.
Untuk sesaat, ia tak memahami kenapa baru sekali ini perasaannya tidak keruan hanya karena seorang wanita.
Kepalanya jadi terlalu sibuk mengulangi adegan saat ia bertemu dengan wanita itu. Aroma yang menyeruak dari kamar itu, sisa amisnya ikan goreng yang sempat tercium olehnya, kini menempel di langit-langit pikirannya.
Diman jadinya berjalan dengan sedikit limbung. Jantungnya mulai berdebar kencang. Suara-suara di sekitarnya jadi tenggelam oleh entah apa yang ia rasakan. Ia tahu jalanan menuju gang itu penuh dengan pedagang yang menjajakan makanan. Namun, secara tak sadar ia menepis semua tawaran pedagang-pedagang itu.
Sampai...
Ia melewati warung makan yang memajang tumpukan ikan goreng. Langkahnya pun langsung terhenti.
Ikan…
Entah mengapa, ia merasa bahwa ingatannya tentang aroma ikan goreng dari kamar kos si wanita itu adalah hal penting. Ia jadinya berdiri di depan etalase warung makan itu, seperti anak kecil yang mematung saat melihat sesuatu yang menarik matanya.
Sontak Diman merogoh kantongnya, berharap ada sisa-sisa pundi yang ia bawa dari kampungnya.
Diman menaruh satu keping koin di telapak tangannya. Sementara tangannya yang bebas masih mencari sisa koin di saku sebelah.
Mata Diman berusaha tak mengarah ke si penjual yang mulai tak sabaran.
Sabar…pasti ada lima puluh lagi—
BUK!
Sesuatu—bukan, ini seseorang.
Seseorang menabraknya sampai ia tersungkur di tengah jalan. Tubuhnya setengah rebah mengenai aspal, sementara koin di tangannya sudah pasti terhempas entah ke mana.
Diman menarik napas dalam-dalam. Biar bagaimana juga, dia tidak ingin marah. Kota ini bukan rumahnya, ia hanya bertamu. Tak baik jika tamu menghardik tuan rumahnya.
Terlebih saat ia mendongak, tuan rumahnya itu adalah seorang wanita muda yang sedang terburu-buru.
“Maaf, Mas,” ucap perempuan itu sambil membungkuk gelisah. “Aku ndak sengaja.”
Suaranya nyaris tidak terdengar, begitu pelan dan rapuh. Meski wajahnya terlihat mendung dan matanya sembab, ia masih berusaha tersenyum kepada Diman.
Diman mengernyit. Ada sesuatu yang terasa familier dari wanita ini. Entah wajahnya atau aroma dari tubuhnya yang sekilas sampai ke hidungnya. Diman sedikit lama memperhatikan wanita itu hingga ia melihat wanita itu penuh dengan memar.
Namun, Diman jadinya terdiam cukup lama sampai perempuan itu melenggang pergi dari hadapannya.
Betisnya...wajahnya...memar itu.
Ada apa dengan dia? Haruskah ia ikuti?
Diman lantas tersadar bahwa bukankah menjadi aneh bila seorang lelaki asing berperawakan seperti dirinya mengikuti seorang perempuan?
Diman mengusap wajahnya untuk menghilangkan pikiran tentang wanita itu dari kepalanya.