Beberapa jam yang lalu, Sukasih mengakhiri malam dengan menuntaskan lirik Duri di Sudut Malam. Sukasih tahu harapannya untuk bisa bernyanyi lagi nyaris mustahil. Mas Guntur yang dikenalnya adalah pemegang kunci dari setiap pertunjukan di bar yang ada di Jakarta.
Namun, perseteruan diantara mereka sebelumnya, tentu telah membuat semua pintu pertunjukan itu tertutup rapat baginya. Ia telah kehilangan harapan untuk mimpinya sendiri.
Oleh karenanya, Sukasih dengan terpaksa bersiap untuk pergi ke rumah orang kaya yang sudi mempekerjakannya sebagai asisten rumah tangga. Air matanya tak sengaja luruh saat ia menyelipkan kertas berisi lirik Duri di Sudut Malam ke dalam dompetnya.
Setidaknya, kehadiran lirik lagu itu masih membuatnya teringat akan siapa dirinya dahulu.
Ia, Helena Sukasih adalah seorang penyanyi yang suatu hari nanti, pasti bisa bernyanyi lagi.
Sukasih tanpa sengaja justru menangis di belakang pintu, memunggungi Susan yang tadi sempat bangun.
“Mbak Kasih,” Susan dari belakang punggungnya memegangi bahu Sukasih. “Aku nanti cari kerja juga.”
Sukasih hanya sanggup membalas Susan dengan gelengan kepala. Biar bagaimana pun, kondisi Susan masih belum stabil. Guratan luka di tubuhnya saja masih banyak yang terlihat, apalagi yang masih tersisa di dalam jiwanya?
Sukasih tak mungkin membiarkan adiknya bekerja ketika pada malam-malam tertentu Susan masih terlihat menangis tanpa suara.
“Kamu masih harus istirahat, San,” Sukasih membalas sambil memegang bahu Susan.
Susan menggeleng, kemudian pergi ke area laci di dekat tempat tidur mereka. Ia membuka laci itu dan mengambil beberapa kaset pita milik Sukasih yang telah berdebu.
Di sampul kaset itu, tampak tulisan tangan Sukasih. Beberapa diberi catatan kecil: 1st Take, ulang reff, good. Kaset-kaset bekas latihan yang dulu diberikan Mas Guntur itu mendadak membuat dadanya sesak.
“Kamu itu harusnya masih nyanyi, Mbak,” cetus adiknya sambil memberikan kaset-kaset itu. “Aku saja yang hari ini pergi ke rumah orang kaya itu.”
Sukasih sebetulnya ingin marah. Kaset-kaset itu sengaja ia sembunyikan jauh-jauh agar luka hatinya bisa lekas mengering. Namun, melihat sorot mata Susan yang penuh harapan, Sukasih hanya bisa tersenyum tipis sambil menerima kaset-kaset itu.
“Yah, San. Semua hal dalam hidup itu ada masanya,” ucapnya. “Ada masa untuk mengejar mimpi, tapi ada juga masa ketika mimpi itu harus mengalah dulu biar kita tetap bisa makan.”
“Tapi, aku ndak rela, Mbak!” Susan kali ini merengek seperti ketika mereka masih berusia belasan tahun. “Aku yang kabur ninggalin Mbakyu. Aku juga yang bikin Ibu sama Bapak sampai mati. Sekarang aku datang lagi malah bikin Mbakyu kehilangan pekerjaan.”
“Kamu ojo bilang begitu, San,” Sukasih menyeka pipi adiknya yang kembali basah oleh tangisnya. “Yang terpenting kan, Mbakyu bisa lihat kamu lagi. Kita bisa ngobrol lagi kayak dulu. Itu sudah cuk—-”
BRAK!
Pintu di belakang Sukasih bergetar seperti ada benda yang menghantamnya dari luar.
“Mbakyu!” Rona pada wajah Susan berangsur memudar. Tubuhnya sendiri tampak sengaja ia hempas ke tembok. Susan terlihat mengepalkan kedua tangannya, sebuah gestur yang langsung bisa terbaca oleh Sukasih.
Adiknya itu sedang ketakutan.
“Buka pintunya, Kasih!”
Suara yang sudah lama tak didengarnya muncul kembali seperti sebuah peluru yang juga membuat Sukasih takut.
Namun, melebihi ketakutannya, Sukasih justru bertanya-tanya, mengapa orang itu datang kembali?
DUK! DUK! DUK!
Kepalan tangan yang selalu Sukasih hafal saban kedatangannya, memukul-mukul pintu hingga bergetar. Sementara itu, Susan tampak kalah oleh suara-suara itu.
Tubuhnya menggelosor dan kini ia memeluk kedua lututnya.
“Mbak Kasih aku takut…” rintihnya lirih. Kedua tangan Susan terkepal di depan dadanya. Terdengar, ia mulai merapal doa sambil memejamkan mata, “Bapa kami yang ada di surga dimuliakanlah nama-Mu…”
“Bah!” Bentak lelaki di balik pintu itu. “Kau kukasih hati malah minta kudobrak pintu ini, ya!”
Sukasih menghampiri Susan, kemudian berjongkok di sebelahnya, “kamu ke kamar mandi, jangan lupa kunci pintu. Biar Mbakyu urus orang ini.”
Susan menengadah, matanya telah basah oleh genangan air yang kadung tumpah ruah, “di–dia siapa? Bukan—bukan orang suruhan Mas Herman, kan?”
“Bukan,” Sukasih menggeleng. “Aku kenal dia.”
Maka saat itu, Susan merangkak untuk sampai bisa ke kamar mandi. Saat pintu ditutup dan terdengar suara pintu telah dikunci, Sukasih baru memberanikan diri menyongsong lelaki yang berada di luar.
Di depan pintu yang masih ditendangi oleh laki-laki itu, Sukasih terdiam sejenak. Ia kali ini memejamkan mata seperti Susan, “Tuhan, tolong aku. Satu kali lagi.”