Manakala Bulan Berbicara

Shanen Patricia Angelica
Chapter #8

Mimpi yang Kembali

Pada suatu petang, Sukasih kembali dengan langkah yang berat. Bukan karena ia lelah melakukan pekerjaan barunya selama seharian penuh. 

Sukasih hanya tak bisa berhenti memikirkan gaun merah miliknya.

Satu-satunya gaun yang ia pakai untuk bernyanyi selama ini. Gaun yang ia beli dari bayaran pertamanya di Bar Kelana. Mungkin bagi banyak orang, gaun hanyalah benda mati yang ketika hilang masih bisa dibeli lagi.

Namun, tidak dengan Sukasih.

Baginya, gaun itu adalah bukti bahwa ia pernah sedekat itu dengan mimpinya.

Kini setelah gaun itu dirampas, mimpi itu rasanya semakin membubung tinggi hingga sulit ia rengkuh kembali.

Tak terasa, air matanya berjatuhan hingga mengenai kaki.

Di depan gang menuju indekos, Sukasih menghapus air mata. Rasanya ia tak sudi jika air mata itu terlihat oleh orang lain. Tidak dengan Susan, tidak dengan siapa pun.

“Mbak Kasih!”

Dari kejauhan, Sukasih baru sadar bila Susan telah membukakan pintu untuknya. Adiknya berlari-lari kecil sambil membawa sebuah amplop cokelat.

“Mbak, aku tuh menunggu kamu dari tadi loh.”

Persis di tengah-tengah gang itu, Susan menghalangi jalannya. Tangan Susan menyodorkan amplop yang berlogo seperti bunga teratai yang menyerupai gelas anggur. Di bawahnya terdapat tulisan ‘Kelana Bar & Lounge’.

Mata Sukasih melebar. 

Surat dari Bar Kelana?

“Ini apa loh, San?” Sukasih menerima amplop itu dengan sedikit gemetar.

Susan mengedikkan bahunya, “aku ora paham,” katanya. “Pokoke tadi ada laki-laki datang ke sini. Katanya ini surat dari Mas Gundala.”

“Gundala?” Dahi Sukasih langsung mengerut.

Susan menepis udara, “entahlah, pokoke depannya itu Gun!” ia berkata seraya menggaruk pelipisnya. “Gunadi, Gunawan, Gunawarman—”

Mata Sukasih membulat seketika. 

“Guntur?”

“Nah, itu!” Wajah Susan langsung berbinar. “Dia siapa, Mbak?”

Sukasih kembali menekuri amplop cokelat di tangannya. Degup jantungnya mendadak jadi tak beraturan.

“Dia mantan manajer aku,” Sukasih menjawabnya pelan. “Di Bar Kelana.”

“Wah!” Susan mendadak jadi bersemangat. Ia berjingkat seperti balita yang kegirangan. “Ayo, Mbak dibuka! Cepat…cepat.”

Dengan gerakan teramat pelan, Sukasih menyobek ujung amplop tersebut. Ia lalu mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dua.

Seraya memejamkan mata, Sukasih membuka lipatan itu dan menemukan sebaris kalimat yang ditulis dengan tulisan tangan yang familier:

Kasih,

malam ini tolong datang ke bar, ya. Anak-anak kangen.

— Guntur.

Selepas membaca surat itu, Sukasih hanya memikirkan satu hal:

apakah mimpinya bisa kembali?

***

Bar Kelana tampak sedikit lengang. Di halaman depannya, hanya ada dua mobil yang parkir. Tak biasanya parkirannya begitu sepi seperti sekarang. Padahal harusnya, ada penyanyi yang sudah bersiap untuk naik panggung. 

Sukasih buru-buru mengecek jam tangannya, barangkali ia keliru memperkirakan.

Ternyata sudah memasuki pukul 18.15 yang artinya 45 menit lagi sebelum penyanyi entah siapalah itu tampil membawakan lagu. 

“Aneh, San. Jam segini mestinya sudah ramai,” bisik Sukasih kepada Susan yang sedang menggandengnya. “Jangan-jangan aku ditipu, San.”

Susan mendecak pelan sambil memutar bola mata.

“Mbak, ndak semua hal akan berakhir buruk,” cetusnya. “Burung-burung di langit saja dipelihara Tuhan. Apalagi Mbakyu, toh?”

Yowes,” Sukasih menghela napasnya. “Tuhan pelihara burung, harusnya Dia pelihara aku juga.”

Sambil meremas bahu Susan, ia menarik napas dalam-dalam.

Ingat burung…Tuhan pelihara.

Aku juga.

Semua pasti aman.

Sukasih pun berjalan menuju mulut Bar Kelana.

Begitu ia melangkah masuk, dirinya langsung disapa oleh segala rupa aroma yang telah lama tidak ia hirup. Aroma masam anggur dan asap rokok yang biasa menemaninya tampil, kini menari menyusupi rongga hidungnya.

Tanpa sadar, Sukasih tersenyum.

Lalu, dari kejauhan, ia melihat jambul yang begitu dikenalnya.

Mas Guntur.

Mata mereka bersirobok. Dengan segera, ia mempercepat langkahnya untuk sampai ke depan panggung. Lampu sorot baru saja dinyalakan dan seketika memenuhi plafon di area penonton. Dalam keremangan yang ia rindukan, mulutnya tanpa sengaja memanggil nama pria itu.

“Mas Guntur,” suaranya lirih seperti orang yang menahan tangisnya sekian lama. “Maafkan semua kesalahanku ya, Mas..”

Tepat ketika mereka telah berhadapan. Mas Guntur sempat diam sejenak. Tak lama senyum tipis terukir di mulutnya.

“Ya, Kasih. Maafmu, aku terima,” ucapnya seraya merentangkan kedua tangannya. “Maafkan aku juga, ya. Waktu itu aku kelewatan.”

Ia pun merangkul Sukasih untuk beberapa saat.

Sukasih mengangguk saja. Mulutnya tak bisa lagi berkata-kata. 

Lihat selengkapnya