Diman baru membuka matanya ketika sinar matahari telah memenuhi sudut-sudut kamarnya di dalam Bar Kelana. Dirinya masih menatap langit-langit untuk sekian lamanya. Entah berapa lama ia tak pernah tidur nyenyak seperti kemarin malam.
Rasanya kini, dia jadi begitu enggan untuk beranjak dari tikarnya.
Bila waktu bisa terulang, mungkin Diman hanya ingin kembali pada malam kemarin.
Ketika pertama kalinya ia bisa berdua bersama Sukasih.
Ia juga tak pernah lupa cara Sukasih memandangnya sepanjang ia bercerita. Sesekali bibir Sukasih membulat, sesekali pula dahinya mengernyit. Tak jarang Sukasih menyela dengan suara lembutnya ketika ia menceritakan perlakuan Bung Alex kepadanya hingga berujung pada penyekapan beberapa hari lalu.
“Sekarang kaki kamu bagaimana?” Sukasih bertanya sambil terus memperhatikan betis Diman yang masih berbalut perban.
Diman menggoyang-goyangkan kakinya. Ia bersyukur, kini lukanya sudah cukup mengering sejak Mas Guntur membawanya ke rumah sakit, meski ia harus menerima sebelas jahitan dan entah berapa banyak suntikan antibiotik.
“Yah, jauh lebih baik,” balas Diman sambil tersenyum.
“Hmm,” Sukasih memutar bangkunya. Jemarinya sesekali menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. “Aku mau tanya sesuatu.”
Diman tersenyum tipis. Entah mengapa, ia menyukai Sukasih yang tengah gugup seperti ini. “Boleh,” jawabnya.
“Buat apa peduli sama aku?”
“Buat apa?” Diman mengernyit.
Diman tak mengerti pertanyaan Sukasih. Pertanyaan 'buat apa?' terdengar asing di telinganya, seolah semua kebaikan yang dilakukan mestilah mendapat balasan. Padahal, Diman hanya ingin Sukasih bernyanyi lagi,
atau, mudahnya…
Ia ingin Sukasih bahagia kembali.
“Iya,” kata Sukasih dengan penekanan. “Kenapa kamu peduli?”
“Ya—” Diman menggaruk kepalanya.
Ia baru sadar bahwa selama dirinya melakukan banyak hal sampai pada malam ia berhasil meyakinkan Mas Guntur, ia tidak memiliki alasan selain ingin melihat wajah Sukasih tersenyum.
Wanita itu juga yang belakangan ini menguasai hampir seluruh isi kepalanya.
“Aku cuma rasa memang harus melakukan semua ini,” katanya. “Tolong, jangan tanya lebih lagi karena aku sendiri tidak tahu jawabannya, Kasih.”
“Baiklah,” gumam Sukasih. Wajahnya telah berpaling ke arah lantai selagi ia beranjak dari kursi. “Kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya. Aku harus pulang, Susan menunggu dari tadi.”
“Aku antar,” Diman spontan meraih pergelangan tangan Sukasih. Untuk sesaat, ia merasakan darahnya menghangat dan mengalir sedemikian deras hingga jantungnya ingin copot.
Ia buru-buru melepaskan tangannya sambil tak henti-hentinya menyumpahi dirinya atas apa yang ia lakukan.
“Maaf,” ucap Diman. Kepalanya terkulai saking malunya ia di hadapan wanita itu.
Sukasih terlihat menelan ludahnya. Kedua sisi pipinya menjadi merah semu. Sekali lagi, Diman melihat Sukasih menyelipkan anak rambut yang sebenarnya tak seberapa mengganggu.
“Lebih baik kamu jangan keluar-keluar dulu,” kata Sukasih. Kali ini suaranya terdengar goyah bahkan sampai berkali-kali berdeham. “Takutnya mereka semua cari kamu.”