Kejadian pada malam kemarin terdengar jelas seperti suatu ancaman bagi mereka. Suara letusannya teramat keras sampai tak ada satu pun pegawai maupun pengunjung yang berani pulang. Mereka lebih memilih tidur berdesakan di Bar Kelana, memenuhi tiap sudut sekalipun tanpa alas tidur yang nyaman.
Selama semalaman itu pula, Diman memilih tidak tidur di kamarnya. Ia bersama Mas Guntur dan beberapa lelaki lain berjaga bergantian untuk memastikan tidak ada yang terjadi setelah suara letusan itu.
Selama berjaga, Diman sesekali melirik ke arah Sukasih dan adiknya yang memilih tidur di dekat panggung. Keduanya saling berpelukan, seolah masing-masing tubuh mereka dapat menjadi tameng apabila sesuatu yang buruk terjadi di sana. Senyum Diman berulang kali tercipta tiap melihat Sukasih berubah posisi saat memeluk adiknya.
Saat pagi tiba, Diman diminta Mas Guntur untuk mengecek bagian depan Bar Kelana. Pada saat yang sama, Sukasih telah lebih dahulu bangun daripada Susan dan beberapa pengunjung lain.
“Diman,” panggil Sukasih. “Aku boleh ikut?”
Diman awalnya sempat ragu, ia bahkan sampai melirik ke arah Mas Guntur yang sedang merapikan meja bersama pegawai lain.
“Ya, sudah,” katanya kepada Sukasih.
Setidaknya, ia percaya bila pagi tidak banyak menyimpan sesuatu yang jahat seperti ketika malam.
Ketika keduanya baru sampai beberapa langkah melewati gerbang parkiran Bar Kelana, mereka melihat ada kerumunan yang memenuhi selokan di depan toko karpet.
“Ada apa itu?” Gumam Sukasih.
Diman menggeleng sementara matanya masih terpaku pada kerumunan itu. Aroma tak sedap pun santer menusuk hidungnya.
Dari kejauhan kerumunan di depan terdengar mendengungkan sesuatu yang bagi Diman jelas bukan kabar baik. Semakin mereka mendekat, semakin jelas arah pembicaraan mereka.
“Preman, ya?”
“Entahlah, tapi dia punya tato.”
“Kemarin ada juga mayat begini di Kali Angke.”
Kerumunan di depannya perlahan membuka jalan.
Diman mulai melihat sebuah tubuh laki-laki setengah telanjang tersangkut di dalam selokan kecil. Leher pria itu berlubang seperti bekas dilewati sesuatu yang mematikan. Air got mengalir pelan melewati tubuh besar itu.
Dada Diman mendadak sesak. Luka di betisnya kembali terasa berdenyut, walaupun sudah mengering sejak berhari-hari lalu.
Seketika ingatannya dibawa kembali pada hari pertamanya di Jakarta. Cerita tentang penghuni kamar sebelumnya di rumah Bung Alex yang ditemukan dengan kondisi serupa mulai terngiang di kepalanya.
Dulu ia pikir itu hanya kesialan semata, sampai ia melihat dengan jelas sebuah gambar kepala harimau memenuhi kulit dada orang itu.
Sialnya, tato itu tampak familier.
“Bang Samo?” Sukasih berbisik sambil menatapnya
Diman menelan ludah, bulir-bulir keringat yang jatuh dari dahinya jadi sebesar biji jagung. Tubuhnya sempat gontai sampai Sukasih membantu untuk menyangganya.
“Diman?”
“Itu…” Suaranya menjadi parau karena cairan asam tiada henti memenuhi mulutnya. “Bang Samo.”
Perut Diman tiba-tiba saja bergejolak hebat. Ia buru-buru berbalik, mendorong beberapa orang, lalu menyeberang ke depan Bar Kelana.
“Huek!”
***
Sejak kejadian itu, selama berbulan-bulan dunia Diman riuh oleh berita-berita tentang orang mati. Takdir seolah sengaja menyeretnya kembali pada luka lama yang ia tinggalkan di Ende.
Ia tidak pernah suka mendengar kata ‘kematian’, ‘mayat’ atau ‘orang hilang’. Namun, belakangan ini, kata-kata tersebut justru semakin sering ia temukan pada setiap jengkal kehidupanya.
Di dalam Bar Kelana, orang-orang selalu menyiarkan kabar kematian yang mereka temukan di koran. Ada yang dalam kondisi babak belur, setengah bengkak bahkan kehilangan bola mata. Mas Guntur juga sering memintanya masuk ke ruangan hanya untuk menunjukkan kabar penemuan mayat terbaru di Jakarta, Jawa Tengah dan banyak daerah lainnya.
Pada suatu waktu, Mas Guntur bahkan pernah berkata kepadanya, “kamu mesti hati-hati nih, Man.”
Diman tahu alasan Mas Guntur berkata demikian. Jelas ia takkan sembarangan memberi Diman peringatan seperti ini. Apalagi setelah Diman mengaku mengenal identitas mayat Bang Samo, Mas Guntur menjadi semakin protektif kepadanya.
Ternyata, bosnya itu juga masih ingat cerita tentang Bung Alex dan para kroninya yang sempat ia ceritakan saat kali pertama ia datang ke sini.
Penagih utang,