“Bagaimana menurutmu?”
Suara-Nya kembali setelah lama membiarkanku tenggelam dalam kehidupan semu dua orang itu.
Aku selalu tertegun manakala mereka bertemu.
Pertemuan yang sederhana, dilakukan sembari menatap bulan. Mata Sukasih berkilau ketika ia menengadah. Aku merasa seperti Sukasih sedang menatapku dari bawah sana, sekalipun aku bukanlah bulan yang sangat ia kagumi.
Lalu, Diman, pria yang sebelumnya jarang tersenyum, pada akhirnya berhasil menemukan tawanya tatkala ia bisa memikirkan masa depan. Pada akhir penglihatanku itu, aku bahkan bisa mendengar isi hatinya yang hanya menggumamkan satu nama:
Sukasih.
Aku penasaran akan beberapa hal ini:
Apa yang terjadi pada mereka berdua?
Mengapa bisa kurasakan dada mereka berdetak seirama?
Lalu, bagaimana pula menjelaskan desir hangat yang tiba-tiba menjalar pada wujudku tatkala Sukasih menyentuh Diman?
Seolah mendengar suara hatiku, tiba-tiba Ia muncul kembali dalam wujud cahaya-Nya yang memenuhi seluruh ruangan putih ini. “Itu adalah sebagian dari kasih,” ujarnya.
“Kasih itu apa?” Jawabku.