Manakala Bulan Berbicara

Shanen Patricia Angelica
Chapter #12

Tawa dalam Lara

Jakarta, 1984

Malam itu selalu sama dengan malam-malam sebelumnya yang lebih dahulu berlalu. 

Bar Kelana masih dipenuhi oleh riuh gelak tawa para pengunjung. Sorot lampu temaram memantulkan cahaya ke arah meja-meja kayu yang hampir tak menyisakan ruang kosong. Epin meliuk cekat diantara celah meja tersebut. Senyumnya terukir tiada henti.

Keramaian ini tidak lagi membuat Sukasih jeri. Ia melenggang sedemikian santainya saat menaiki anak tangga di panggung. Senyumnya mengembang dan ia arahkan ke seluruh penjuru ruangan, menyapa setiap insan yang menunggu penampilannya.

Di salah satu sudut gelap, ia mendapati Diman sedang berdiri. Lelaki itu kelihatan kikuk. Sedari tadi, Sukasih memperhatikan Diman senang menepuk-nepuk kantung celananya. Lalu, di sisi kanan panggung, pandangannya menemui Mas Guntur yang duduk bersisian dengan Susan. Keduanya tersenyum, Mas Guntur bahkan mengeluarkan isyarat andalannya: dua jempol. 

Sukasih akhirnya berhenti di depan mikrofon.

Matanya terpejam barang sesaat. Malam ini untuk pertama kalinya ia akan tampil berbeda. Bukan dengan lagu-lagu beken dari para penyanyi lain, bukan juga Duri di Sudut Malam yang hampir selalu ia nyanyikan pada setiap penampilannya. 

Malam ini, sebuah lagu telah lahir dengan sempurna. Setiap liriknya Sukasih rajut dalam diam sambil hanya membayangkan satu nama. 

Diman.

Selama menulisnya, bayangan tentang pria itu selalu menetap sampai baris terakhirnya berhasil ia tulis. Tentang rumah yang rata dengan tanah, kehilangan demi kehilangan yang merayapi dadanya, hingga kehadiran Tuhan yang baginya hanyalah dongeng yang semu.

“Hai,” Sukasih membuka penampilannya pada malam itu. “Lagu ini—”

Ia sengaja menjeda sambil mengulurkan tangan kepada pemain gitar. Jemarinya bergerak-gerak sampai pemain gitar itu sadar bahwa ia sedang memberi isyarat. 

Pemain gitar tertawa, lalu menyampirkan gitarnya ke bahu Sukasih.  

Sukasih ikut tertawa pelan. Ia mengangguk singkat sebagai ucapan terima kasih. Jemarinya lantas meraba pelan badan gitar akustik itu. 

“Lagu ini, Tawa dalam Lara—” ia kembali mengulangi ucapannya. Sambil tersenyum kecil, jemari kirinya membentuk akor pertama untuk lagu itu. Kemudian, jemari kanannya mulai memetik melodi pembuka lagunya. “Untuk kamu.”

Petikan gitar mulai mengalun lembut ke seisi ruangan. Sukasih melantunkan bait pertama lagu barunya. Suara lembutnya berpadu sempurna dengan irama pembuka yang telah ia ciptakan selama beberapa bulan ini.

Kau melangkah tanpa suara,

bayanganmu hadir di bawah rembulan

Jarinya sempat tergelincir di atas senar, menciptakan nada yang baginya sangat tidak sempurna. Peluh Sukasih mengucur deras, dirinya gemetar sebentar.

Sempat pula ia lupa lirik sampai sengaja ia gantikan dengan siulan agar pengunjung menyangka itu hanyalah bagian dari pertunjukannya semata. Pada sela-sela siulannya, wajahnya tanpa sadar menoleh ke suatu sudut.

Tempat laki-laki itu berada.

Tak ia sangka, lelaki itu membalas tatapnya bahkan dengan senyuman dan lambaian tangan singkat.

Sukasih membalas senyumannya saat jeda instrumen. Lirik yang semula bagai menguap begitu saja, perlahan bisa ia lihat menggantung di udara.

ku tak tahu berapa lama kau menahan lara,

lalu berpura seolah kau sedang tertawa.” 

Jemarinya kembali menemukan irama. Setiap bait yang lantunkan telah terdengar semakin mantap. Rasa gugupnya lenyap tak bersisa. Ia mengamati wajah-wajah yang ternyata ikut pula bersenandung. Mata mereka tak lepas dari dirinya dan entah mengapa, itu membuatnya terasa penuh.

Bait demi bait pun berlalu. 

Petikan gitarnya mulai melembut mendekati ujung lagu. Lalu, tatkala ia menyanyikan bait terakhir lagunya, ia melihat para pengunjung seolah menahan napas.

Kau tetap tertawa kala duka menyapa….”

Satu petikan terakhir mengakhiri melodi Tawa dalam Lara.

Sukasih menyadari banyak pengunjung yang menyeka air mata. Pandangannya saat itu langsung mencari sosok yang membuatnya menciptakan lagu ini.

Ke mana lagi dia?

Matanya tak lama langsung berpapasan dengan Mas Guntur, “Diman, ya?” Suaranya teramat kecil, tapi Sukasih bisa membaca gerak mulutnya.

Sukasih mengangguk.

“Tempat biasa,” Mas Guntur berbisik lagi.

***

Malam itu, Mas Guntur meminta Sukasih selesai lebih cepat. Anehnya, tak ada pula satu pun komentar dari pengunjung saat Sukasih memberi salam penutup. Mereka pada akhirnya tetap menikmati alunan instrumen saat pemain musik mengambil alih.

Di samping panggung, Sukasih sempat menemui Susan sejenak, “San, ini aku mau dipecat lagi, ya? Kok, aku disuruh selesai cepat, ya?”

Susan yang sedari tadi senyum-senyum sendiri sambil memainkan kuku, mendadak memutar bola matanya. “Loh, Mbakyu, kamu itu apa-apa mikirnya negatif terus,” dia menepuk bahu Sukasih cukup keras. “Sudah sana kamu ke belakang dulu. Nanti aku nyusul.”

Sukasih pada akhirnya tetap menuruti perkataan adiknya dan pergi ke belakang Bar Kelana, tempat ia biasa melihat bulan. 

Langkahnya menyusuri lorong sempit di sebelah panggungnya, melewati ruangan ganti hingga ruangan kerja Mas Guntur. Suara musik di belakangnya perlahan memudar tergantikan oleh derap langkahnya.

Pintu besi ia dorong cukup kuat. Keriut engselnya terdengar nyaring. Tak lama, desir angin menyapa wajahnya, aroma tanah yang agak apak menguar sampai ke rongga hidungnya.

Lihat selengkapnya