Manakala Bulan Berbicara

Shanen Patricia Angelica
Chapter #13

Ada yang Hadir dalam Sunyi

Minggu pagi ketika semua orang bersemangat melangkah memasuki gereja, Diman justru menuntun Sukasih yang berjalan agak lambat. Langkah istrinya itu bahkan kerap tertinggal oleh Susan. Padahal selama ini, justru Diman yang sering tertinggal di belakang.

“Kamu yakinkah tidak mau ke dokter saja?” Bisik Diman pelan saat mereka memasuki gerbang gereja.

Sukasih menelan ludah sambil memejamkan matanya sesekali, “tidak usah,” katanya ketus. “Aku cuma kurang tidur.”

Sesungguhnya Diman selalu ingin marah tiap kali Sukasih berbohong akan apa yang ia rasakan. Sudah jelas selama dua minggu belakangan Sukasih terlihat tidak seperti biasanya. Wajahnya kerap kali murung dan mendadak memucat. Langkahnya juga bisa tiba-tiba gontai bahkan kehilangan keseimbangan. 

Diman berdecak sebal, “sudah dua minggu begini, kok masih dibilang kurang tidur,” celetuknya. “Nanti pulang kita naik bajaj sajalah.”

“Iya, iya,” Sukasih mengangguk pelan. “Kamu cerewet sekali deh sekarang.”

Bibir Sukasih mengerucut kesal. Diman tahu bahwa belakangan ini tiada semenit pun ia luput bertanya tentang kondisi istrinya. Tiap kali ada kesempatan bertemu di Bar Kelana, Diman selalu memastikan Sukasih sudah makan, tidak pusing saat tersorot lampu di panggung, bahkan ia dengan sabar membantu Sukasih menghapus bedak dan gincunya usai pertunjukan.

Setelah misa selesai pada hari itu, para jemaat masih banyak yang berbincang di halaman gereja. Susan sempat berbincang sejenak dengan orang-orang sekretariat sebelum kembali menghampiri Diman dan Sukasih yang duduk di kursi panjang.

“Aku panggil bajaj lewat dulu, ya,” Diman berdiri sesaat melihat Susan menghampiri.

Namun, Sukasih justru menahan lengan Diman, “aku mau kamu di sini saja.”

“Hai, Mas!” Susan datang menyapa mereka. Pada awalnya ia tampak riang, tetapi senyumnya langsung luntur sesaat melihat Sukasih. “Lho, Mbakyu kok, pucat banget?”

“Tanyalah sendiri sama orangnya,” Diman berkata agak ketus. “Sudah dua minggu sakit, tapi masih juga tidak mau pergi ke dokter. Cobalah kamu jadi aku, San. Tidakkah pusing kamu punya kepala?"

Susan perlahan mengusap punggung Sukasih. Matanya terpaku pada tangan kakaknya yang meremas-remas lengan Diman. Tak lama dahinya mengerut seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.

“Mbakyu,” Susan memanggil Sukasih. “Kamu mual ndak?”

Sukasih mengangguk, masih sambil diam.

“Mas, kamu pernah nanya ndak sama Mbakyu kapan terakhir dia datang bulan?” Susan tiba-tiba menoleh ke arahnya.

Pertanyaan itu membuat Diman langsung memucat. Ini yang luput darinya. Datang bulan…kapan terakhir kali Sukasih memintanya membeli pembalut? Sebulan lalu? Tidak. 

Dua bulan lalu?

Oh, Tuhan.

Tak lama, Diman bangkit. Tanpa basa-basi lagi ia langsung menggenggam tangan istrinya, “kita naik bajaj—” Diman menelan ludah sebentar sambil menatap Sukasih yang ternyata sedang menatapnya juga. 

“Terus—ke bidan, ya?”

Saat itu, Sukasih tidak membantah. Dia pasrah saja saat Diman menyetop bajaj yang melintas di depan gereja.

“Bajaj!”

Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya ke Jakarta, Diman berteriak sekeras mungkin.

***

“Bu Bidan pasti bercanda, toh?”

Bidan di hadapan mereka hanya tersenyum sambil mencopot kacamatanya.

“Bercanda apa, sih Pak Diman?” Bu Bidan menaruh kacamatanya di samping buku catatan. “Urusan nyawa. masa saya main-main.”

“Su–sudah berapa bulan?” Suara Sukasih terdengar parau.

Telunjuk Bu Bidan mengetuk-ngetuk buku catatannya. Ia kemudian tersenyum. “Sekitar satu bulan lebih, ya Bu,” jawab bidan itu dengan lembut. “Karena ini masih sangat muda, Pak Diman tolong pastikan Ibu Kasih istirahatnya cukup, ya. Jangan capek-capek—”

“Tenang Bu Bidan. Mulai sekarang, biar aku yang mengerjakan semua urusan rumah,” kata Diman bersemangat. “Masak ikan juga…eh jangan, ikannya beli saja. Takut nanti tidak enak, kasihan kalau dia rasa ikannya gosong.”

Sukasih terkekeh kecil. Ia lantas mengelus bahu suaminya dan tersenyum kepada Diman. “Anaknya juga masih sebesar biji kacang. Masa sudah bisa tahu rasanya ikan.”

“Tahu dong,” katanya. “Kan, ibunya suka betul ikan goreng.”

Diman tiba-tiba saja diam. Namun, tangannya tetap menggenggam Sukasih. “Hmm—” 

“Kenapa?”

“Aku mau traktir kamu dan Susan makan enak,” cetusnya. “Nanti Bu Bidan ada gilirannya, ya.”

Bu Bidan tampak terkejut, tetapi kemudian ikut tertawa karena ucapan Diman.

“Man, tapi nanti uangnya—”

“Peduli betul soal uang,” ujarnya. “Masa ada yang datang tidak kita sambut?”

***

Sore harinya, mereka bertiga sudah duduk mengelilingi meja di sebuah restoran rekomendasi Mas Guntur. Diman yang duduk bersisian dengan Sukasih tidak henti-hentinya melirik perut istrinya. Sesekali telapak tangannya mampir untuk sekadar menyentuh perut Sukasih. Beberapa kali pula, Susan jadi tergelitik melihat tingkah Diman yang tak biasanya seperti ini.

Tak lama sejak duduk, seorang pelayan datang sambil membawa dua piring ikan gurami kipas.

Mata Sukasih dan Susan memelotot pada saat yang bersamaan.

“Diman?” Panggil Sukasih. “Kita cuma bertiga.”

“Berempat, Kasih,” jawabnya santai, kemudian tatapannya beralih ke Susan. “Ikannya kurang apa tidak, San?”

Susan menelan ludah, tangannya terlihat jadi gemetar saat memegang garpu. “Mas, ini beli dua buat siapa? Satu pun cukup loh untuk kita.”

“Sssttt—tidak baik kamu seperti itu,” katanya sambil menaruh telunjuknya di bibir. “Nanti kalau dia dengar, lalu sedih bagaimana?”

Lihat selengkapnya