“Diman? Kenapa kamu tiduran di sana?” Aku memanggil-manggil Diman. Namun, ia tetap tidak bergerak.
Aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa berada di sini? Padahal, beberapa waktu lalu aku hanyalah penonton dari ruang putih yang sangat jauh dari mereka, bahkan sangat jauh dari bulan yang sering mereka pandangi.
Entah bagaimana caranya, kini aku berada di sisi Diman, yang masih tengkurap di pinggir jalan. Di sebelah tubuhnya, sesuatu yang kuketahui bernama tape recorder terlihat masih memutar kaset pita di dalamnya. Tanpa kusadari, ada cairan merah yang mengalir dari tubuh Diman dan perlahan mengenai tape recorder itu.
“Malam-malam kumerenungi…dua insan yang saling membenci.”
Perlahan, suara dari kaset pita itu terdengar memberat dan mulai berdengung. Nyanyian Sukasih terdengar putus-putus, hingga akhirnya tenggelam ketika cairan merah itu menggenang di sekelilingnya.
Aku bergerak mendekati tape recorder itu. Ternyata di sebelahnya terdapat lima kaset pita lain yang juga terkena genangan cairan merah. Sementara itu, tak jauh dari genangan merah itu, dua kaset lain terlempar hingga ke tengah jalan. Keduanya masih terbungkus plastik bening karena baru ia beli dari toko itu.
Aku menghampiri salah satu kaset itu. Di sana rupanya terdapat tulisan: Suara Anakku. Sementara, kaset yang satu lagi bertuliskan Suara Istriku. Aku tidak mengerti apa maksud dari keduanya, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang jatuh dari diriku.
Sesuatu itu berupa tetesan, mirip seperti cairan merah dari tubuh Diman, tetapi lebih encer dan berwarna bening. Aku pun mendekati tubuh Diman, lalu beralih ke wajahnya.
Mata Diman telah menutup. Namun, aku bisa melihat dari sudut matanya, ada juga cairan bening serupa yang perlahan menuruni pipinya sebelum pada akhirnya jatuh ke jalanan.
“Dia kenapa?”
Aku bertanya kepada-Nya karena barangkali Ia ada di sini,
“Ia telah mencapai garis akhirnya,” Suara-Nya kembali muncul. Kali ini terdengar agak jauh seperti Ia tengah berada di pucuk sesuatu yang tinggi dan berwarna hijau di atas sana. “Tanpa ia sadari.”
“Mengapa bisa begitu?” Tanyaku. “Bukankah dia belum memberikan benda itu kepada Sukasih.”
Hening sesaat.
“Halo,” aku memanggil-Nya kembali. “Bagaimana dengan kaset-kaset itu? 'Suara Anakku' dan 'Suara Istriku', apa maksudnya itu?”
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba saja sesuatu berwarna hijau melayang di hadapanku. Benda itu bergerak pelan mengikuti embusan angin tenang sebelum akhirnya jatuh di tubuh Diman.
Benda itu sangat tipis dan di permukaannya terdapat garis-garis kecil bercabang. Aku mengarahkan penglihatanku ke arah atas. Sesuatu menjulang tinggi di atas sana. Mirip seperti yang sering aku lihat dalam kehidupan Sukasih dan Diman, tetapi yang satu ini jauh lebih besar. Saking besarnya, aku tidak sadar bila aku telah berpindah tempat.
Jalanan yang kulihat sebelumnya telah lenyap. Tubuh Diman telah menghilang, begitupun genangan cairan merah dan jalan tempat di mana kaset-kaset itu berserakan.
Kini aku dikelilingi hamparan hijau yang membentang tanpa ujung. Angin berembus pelan, membuat sesuatu berwarna hijau itu kembali berjatuhan. Salah satunya melayang di depanku dan tanpa kusadari, aku mengikuti arah benda itu pergi.
Beberapa kali benda itu memutari sesuatu yang menjulang tinggi. Permukaannya berwarna cokelat dan agak kasar. Di atasnya kulihat ada ratusan hewan kecil yang bergerak beriringan.