Cahaya,
suara,
aroma aneh.
Sekelilingku mendadak penuh dengan hal-hal asing itu.
Di sini, aku juga merasa basah.
Sesuatu yang lembut perlahan memegangku, lalu ia mengangkatku hingga aku sedikit lebih dekat dengan cahaya. Udara di sekitarku mendadak berbeda. Tidak ada lagi hangat yang biasa kurasakan saat Ia hadir di dekatku. Semuanya kini terasa menusuk.
Penglihatanku kini sesekali menutup sebelum kembali terbuka dan terus berulang. Semuanya menjadi tidak sejelas yang sebelumnya kulihat. Segala hal terasa kabur hingga yang terlihat hanyalah kilatan bayangan yang bergerak ke sana dan kemari.
Di sini pula aku tak bisa bergerak seperti sebelumnya. Aku hanya mampu menggeliat di dalam sesuatu yang tak pernah kukenali itu. Sesuatu yang terus mencengkeramku dengan kuat.
Memang itu tidak menyakitiku, tetapi aku tidak suka rasanya.
Semua kilatan aneh ini, suara yang kerap membuat sesuatu dalam diriku berdenyut kencang, terasa sangat menyakitkan.
Entah mengapa, rasanya aku ingin kembali saja ke ruangan putih itu, tempat di mana Ia berada.
Halo!
Aku berusaha memanggil-Nya kembali, tetapi suaraku jadi berbeda. Aku tidak lagi berbicara seperti aku kepada-Nya dahulu.
Kau di mana?
Suaraku semakin keras sampai aku sendiri terkejut. Aku pun kembali menggeliat. Ketika itu aku baru sadar bahwa aku memiliki dua benda kecil yang bergerak-gerak menutupi penglihatanku. Aku terus memperhatikannya.
Benda ini seperti…aku kenal.
Keduanya kecil dan pendek. Aku juga baru mengerti jika aku bisa menggerakannya, meskipun gerakannya masih tak beraturan.
Aku berusaha menggapai apa saja yang berada di dekatku.
Ketika itu aku menyentuh sesuatu yang lembut, lalu aku mencoba menariknya. Tak lama, sebuah suara lain yang tak pernah kudengar sebelumnya, mengelilingi diriku.
“Anaknya laki-laki, ya,” ujar suara itu. “Ibu sudah memiliki nama untuknya?”
Tiada jawaban.
Perlahan aku bisa melihat wajah orang itu. Jarak kami begitu dekat sampai aku bisa merasakan udara panas keluar dari dirinya. Tak lama, cengkeraman itu terlepas dariku. Sebagai gantinya, sesuatu yang lembut langsung menopangku dari bawah dan membawaku jauh lebih dekat pada dirinya.
“Bu?”
Ia masih tidak menjawab.
Apa ada yang salah?
Lalu, aku merasa telah berpindah ke dalam pelukan orang lain. Namun, aku tahu pelukan itu bukan berasal darinya yang menolak menjawab pertanyaan orang itu.
“Namanya Atma,” kata suara lirih yang lain.
Selama sesaat, sekelilingku hening.
“Atma Nera,” ia melanjutkan dengan suara tertahan.
***
Saat hari pertama kehadiranku, tubuhku pernah ditaruh di bagian depan tubuh sosok yang kutahu dipanggil Ibu itu. Aku terus menggeliat, berusaha mendekati tumpukan daging, tempat di mana kutahu ada cairan hangat yang bisa memenuhi perutku.
Kulit kami memang saling bersentuhan, tapi aku tidak menemukan hangat seperti yang sebelum-sebelumnya selalu melingkupiku. Ia bahkan tidak berusaha memegangiku. Aku dibiarkan merayap sendiri sebelum kemudian sesuatu mendorongku sampai aku jatuh terguling.
Aku terjepit di antara kulit yang basah dan kain halus di bawahku. Ruang gerakku jadi menyempit. Udara hangat membungkus tubuhku sampai aku tak bisa menghirup apapun. Aku kepanasan dan suara aneh dari dalam diriku kembali terdengar.
Kali ini lengkingannya sangat nyaring sampai aku sendiri terkejut. Pada saat yang bersamaan, seseorang meraihku dari celah tubuh Ibu.
Dia menopang tubuhku, lalu udara hangat berembus ke arahku. Tubuhku ia ayunkan perlahan-lahan, maju dan mundur, terus menerus hingga penglihatanku menggelap total.
Lambat laun aku menyadari kebiasaan itu terjadi setiap kali aku mengeluarkan suara aneh. Biasanya pula selalu ada sesuatu yang tidak aku sukai terlebih dahulu. Terkadang bisa karena aku mendengar perutku mengeluarkan bebunyian aneh, udara di sekitarku mendadak terlalu panas, atau bagian tubuh bawahku telah basah.
Pada suatu waktu, entah berapa lama sejak aku ada di sini, wanita yang biasa menggendongku itu terlihat sibuk. Tubuhku yang berada di kotak kecil sesekali melihatnya tengah memasukkan banyak kain ke dalam wadah besar. Terkadang ia mendatangi Ibu yang hingga kini masih saja diam sejak kedatanganku.
Samar-samar aku mendengar wanita yang sibuk itu berkata kepadanya, “Mbakyu, hari ini kita ke tempat baru, ya,” bisiknya sangat pelan, tapi entah mengapa aku bisa mendengarnya.
Ada satu hal yang sejujurnya sulit kumengerti. Ada orang yang memanggil sosok diam itu sebagai ‘Ibu’, tetapi mengapa wanita yang sibuk ini memanggilnya dengan ‘Mbakyu’? Bukankah mereka sedang bicara dengan orang yang sama?
Aku tidak tahu apa yang benar.
Mungkin, aku akan memanggilnya dengan panggilan pertama yang kudengar.
Ibu.
Aku memandangi langit-langit tempat itu. Warnanya juga putih, bahkan terdapat sedikit cahaya kekuningan yang tampak datang dari luar. Beberapa saat kemudian, wajah wanita yang sibuk itu kembali muncul, menutupi cahaya kekuningan yang sedari tadi aku perhatikan.
“Atma, kita pulang, ya,” katanya sebelum aku merasakan tubuhku terangkat dan segera berada di dalam pelukannya.
Kini wanita itu bergerak. Rambutnya yang terjulur sesekali mengenai wajahku sampai rasanya sangat gatal. Beberapa kali jadinya aku ingin bersin, tetapi kemudian aku mendengar wanita itu bercakap dengan seseorang, yang lantas membuatku ingin mendengarkannya sampai lupa untuk bersin.