Kini aku sudah banyak menyaksikan pergantian antara cahaya dan kegelapan. Belakangan ini aku mengerti dari Susan jika cahaya itu bernama pagi dan kegelapan itu bernama malam.
Aku tidak menyukai malam. Biasanya saat malam, Susan bergegas mengangkatku untuk masuk lagi ke ruang tempat aku biasa tertidur yang Susan sebut kamar. Tak lama setelah aku berada di alas lembutnya, Susan buru-buru meninggalkanku untuk menutup semua pintu disusul bunyi gemeretak besi.
Setiap malam datang, Susan juga menjadi agak berbeda. Ia tak lagi banyak bersuara. Senyum yang biasa hadir di wajahnya luntur tergantikan raut datar yang membuatku tak nyaman. Belum lagi saat ia tiba-tiba menyelimuti tubuh kami berdua dan mendekapku erat-erat.
Ketakutan Susan yang kerap kali menjalar kepadaku membuatku jadi sering takut untuk memejamkan mata.
Namun, tiap kali cahaya itu kembali, Susan seperti terlahir menjadi sosok yang baru. Ia kembali berenergi, sering melimpahiku dengan ciuman yang menyenangkan, dan terkadang kembali berisik.
Seperti yang terjadi pada pagi ini. Ia bangun jauh lebih awal untuk pergi ke belakang, ruangan yang bernama dapur. Ia mendudukanku terlebih dahulu di ruang depan kamar kami. Alas dudukku di sini agak kasar saat mengenai kulit pahaku.
Namun, aku tidak lagi mudah terganggu karena kini ruang gerakku sudah semakin luas. Punggungku sudah cukup kuat untuk menopang tubuhku saat tanganku memainkan benda kotak yang bisa digerakkan dengan mudah. Ketika tiba saatnya mandi, barulah aku menangis karena aku tidak suka basah-basahan.
Dan, pagi ini anehnya, setelah aku dipaksa mandi sambil menangis, ia berkata kami harus memakai baju bagus. Aku tak mengerti maksud baju bagus itu sendiri, tapi yang pasti aku merasakan aroma yang berbeda saat ia memakaikan baju bagus itu kepadaku.
Ia kemudian menggendongku tegak, punggungku bersandar di dadanya. Jemarinya yang lincah buru-buru menyampirkan kain berwarna cokelat di tubuhku dan mengikatnya di leher. Saat itu, aku mencium aroma manis seperti susu yang kerap ia berikan kepadaku. Namun, sedikit-sedikit juga aku mencium aroma aneh yang mirip dengan aroma di dapur. Aku lagi-lagi tidak masalah dengan hal itu.
Seperti biasanya, Susan selalu berhenti di depan kamar Ibu. Ia bersiap untuk mengetuk, tapi pada saat yang bersamaan pintu itu terbuka dari dalam.
Aku terkejut.
Untuk pertama kalinya, aku melihat wajah Ibu sejelas ini.
Kami bertatapan selama beberapa saat. Wajah Ibu ternyata seputih patung yang biasa kulihat di tempat berisik yang hampir selalu aku datangi itu bersama Susan.
Namun, berbeda dari patung yang berwajah tenang seperti Susan sehari-hari, wajah Ibu sama sekali tidak menunjukkan ketenangan yang sama. Alisnya justru menekuk tajam disertai dahi yang berkerut dalam. Matanya penuh kilatan yang membuatku tak nyaman hingga aku memilih untuk memalingkan wajah.
Ketika itu Ibu langsung menutup pintu keras-keras. Aku terkejut hingga terasa ada yang memukuli bagian dalam dadaku. Aku tidak suka perasaan seperti ini. Untungnya, pada saat yang sama, Susan menepuk-nepuk punggungku sebelum aku menangis dan suara aneh itu keluar.
Tak lama kemudian, ia menjejalkan mulutku dengan susu sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku pun kembali ditelan kegelapan, yang kali ini jelas bernama tidur bukan malam.
***
Aku senang ketika memasuki waktu tidur. Rasanya seperti aku mengulang kembali kehidupanku di ruang putih yang penuh dengan perjalanan ajaib itu.
Waktu tidur tak jarang membuatku melihat banyak hal yang sesungguhnya tak terjadi ketika aku digendong Susan. Semua hal itu tentunya berbeda dari yang kami lakukan setiap hari. Kadang-kadang aku melihat benda kotak yang suka aku mainkan itu menjadi sangat besar.
Atau Bu Diana, yang suka meminta tolong kepada Susan, menjadi bulat seperti sesuatu yang suka ditiup orang, lalu melayang.
Entahlah, pada waktu tidur aku bahkan tak jarang melihat cahaya yang teramat kurindukan. Bila dahulu aku bisa mendengarnya berbicara, sekarang cahaya itu hanya melayang tanpa suara.
Aku merindukan-Nya.
Dalam perjalanan ajaib hari ini, aku tiba-tiba saja dibangunkan oleh dentang nyaring yang sesungguhnya cukup akrab bagiku. Tempat berisik yang setiap hari aku dan Susan kunjungi, berada di samping sumber suara itu. Dentangnya selalu terdengar saat cahaya di luar sedang terang-terangnya ataupun ketika kegelapan mulai mengambil alih.
Susan bergerak memasuki tempat itu, tapi baru saja beberapa langkah ia menyadari aku sudah terbangun.
“Atma, kamu mau susu lagi, Nak?” Tanyanya lembut.
Aku menggeleng karena merasa itu harus dilakukan.
Aku tahu kalau susu itu kembali memenuhi perutku, aku bisa kentut berkali-kali dan aku tidak ingin itu terjadi.
Tanpa kuduga, Susan justru tergelak sampai ada beberapa orang yang menoleh kepada kami.
Mereka semua mengenakan baju bagus seperti yang kami kenakan. Aroma yang menguar di sekitar kami juga cukup aku sukai. Baunya seperti ketika aku sedang dimandikan oleh Susan. Beberapa dari mereka melambaikan tangan kepadaku, tapi aku lupa membalas mereka karena Susan langsung memasuki tempat itu.
Tempat itu penuh dengan mereka yang berbaju bagus seperti yang tadi melambaikan tangan kepadaku. Semuanya duduk rapi di suatu benda panjang berwarna cokelat. Tepat di pintu masuk, Susan berhenti sejenak untuk mencelupkan jarinya di wadah kecil dekat dinding. Ia pun merendahkan tubuh pelan-pelan sampai pandanganku ikut merosot, dan kembali melangkah lebih dalam.
Kami duduk berderet di salah satu barisnya. Di depan sana, sebuah patung menempel di benda kecokelatan yang menyilang. Patung itu seperti orang yang sedih dan sakit sekali sampai aku tak sanggup menatapnya lama-lama.