Jakarta, 1988
Saat ini tubuhku sudah tumbuh lebih besar dan kuat. Kakiku sudah bisa berjalan ke mana pun tanpa takut terjatuh.
Aku mulai tahu banyak hal dari sering mendengar Susan berbicara kepada seseorang, maupun kepadaku. Ia masih selalu membawaku ke tempat berisik yang kata Susan adalah kantornya.
Sejak saat itu aku menyebut tempat berisik itu, kantornya Susan.
Di kantornya Susan, aku tahu orang yang sebelumnya bernama Romo, memiliki nama juga di belakangnya yaitu Yosef. Jadi, aku memanggilnya Romo Yosef, sesekali menjadi Romo Ocep saat ia mengajakku bercanda.
Di tempat itu juga, aku bebas melangkah ke sana kemari, bahkan tak jarang aku masuk ke tempat tinggal romo dan suster di bagian belakang kantornya Susan. Sementara itu, aku sudah tahu tempat yang sering kami datangi dengan baju bagus adalah gereja.
Pada hari-hari tertentu, kami masih sering pergi ke gereja untuk melihat Romo Yosef di depan dengan baju putihnya. Aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan, tapi setiap kali kami datang, Susan sudah pasti mengajakku berlutut dan memejamkan mata.
Pada saat itu Susan selalu bilang kepadaku, “ayo, kamu berdoa, biar Tuhan Yesus dengar.”
Ketika itu aku baru tahu jika yang dimaksud Tuhan Yesus adalah patung yang tampak kesakitan di belakang Romo Yosef. Namun, bukankah kalau aku berdoa di sini, sementara Dia di sana, suaraku tidak akan bisa Ia dengar?
Terlebih lagi, terkadang orang-orang di sekelilingku itu bernyanyi, termasuk juga Susan dan Romo Yosef di depan. Bukankah Ia jadi makin sulit mendengar doaku?
Lalu, saat sore, biasanya kami selalu kembali ke rumah. Susan selalu berlari saat pulang dari kantornya. Entah mengapa, belakangan ini larinya jadi semakin cepat.
Ketika aku sudah sampai di depan rumah, aku selalu berjalan masuk sendiri, meski terkadang langkahku jadi lengket karena tanah. Susan di belakangku langsung mengunci pagar dan langsung berjalan cepat ke arahku.
Di rumah, Susan selalu menyapa Ibu yang biasa duduk di kursi dekat jendela. Tangannya memegang sebuah kertas dan pulpen.
Dan ketika menyambut kami—maksudnya, menyambut Susan, Ibu menaruh kertas dan pulpen itu di meja
Pada hari-hari tertentu di rumah, Susan akan membiarkanku berjalan berkeliling. Karena itulah aku jadi tahu jika aroma yang sering membuat perutku berbunyi berasal dari sini. Namun, jika di sana sedang ada Ibu, ia akan selalu memanggil Susan agar membawaku menjauh.
“San, dia ke sini!”
atau, “San, tolong pindahkan dia.”
Pada awalnya Susan bertanya alasannya kepada Ibu, tapi lambat laun ia hanya menurutinya dan kembali menggendongku seperti biasa.
Aku bingung, sangat bingung.
Mengapa banyak orang di gereja yang suka saat aku menghampiri mereka? Sementara, sosok yang sedari pertama melihatku justru tak suka jika aku ada di dekatnya?
Aku sungguh ingin bertanya kepada Susan, tetapi lidahku hanya mampu menyebut “kenapa?”
Susan tidak pernah menjawab pertanyaan kenapa-ku itu.
Tempat lainnya yang paling kusuka dari rumah ini adalah bagian kosong di depan kamarku yang digelar karpet berwarna merah. Di sana, Susan senang mengajakku bermain saat ia tidak pergi ke kantornya..
Sering pula, kami bermain ‘muka jelek’ di sana. Susan biasanya akan menutup wajah dengan kain gendongannya. Lalu, ia akan mengatakan:
“Ciluk…”
dan aku akan menjawabnya dengan, “BA!”
Suaraku harus nyaring agar Susan menampilkan wajah jeleknya dengan sungguh-sungguh. Kadang mulutnya mengerucut sampai menyatu dengan hidung. Kadang ia menekan hidungnya dengan telunjuk sampai mirip hewan bernama babi. Kadang juga bola hitam di matanya melihat ke arah yang berbeda.
Dan anehnya, semakin jelek muka Susan, tawaku menjadi makin keras.
Namun, entah mengapa belakangan ini Susan mulai jarang mengajakku bermain. Padahal, ia beberapa kali tidak mengajakku pergi ke kantornya.
Kini ia lebih banyak menghabiskan waktu duduk di kursi dekat jendela.
Tangannya selalu memegang untaian benda bulat-bulat yang awalnya kukira adalah mainan, padahal bukan. Aku pun sempat menanyakan hal itu kepada Susan pada suatu sore.
“Itu mainan baru?”
Susan saat itu tertawa dan langsung membalasku, “ini rosario, Atma. Untuk doa.”
Barulah aku tahu bahwa aku tidak semestinya macam-macam dengan benda itu.
Saat berdoa dengan benda itu, mulutnya selalu bergerak pelan, suaranya seperti orang yang tengah berbisik. Sesekali ia berhenti, untuk menyingkap tirai sebelum melanjutkan berdoa lagi.
Ibu juga mulai sering mengajak Susan berbicara tiap kali ia telah selesai dengan benda bernama rosario itu.
Beberapa kali aku bisa menangkap obrolan mereka karena biasanya aku dibiarkan bermain di karpet yang luas itu.
“Itu mirip saja mungkin, San,” kata Ibu sembari duduk di kursi lain. Tangannya menaruh benda pipih berisi sesuatu kekuningan yang beraroma harum di meja kecil depan mereka.
“Ndak mungkin aku keliru, Mbak,” Susan menjawabnya dengan cara yang tak biasa. “Aku hafal gerak-gerik dia. Lagipula, belakangan ini aku jadi makin sering lihat dia di gereja loh, Mbak.”
Ibu mengembuskan napas keras-keras, “ya, tapi…alasannya apa?” Tanyanya pelan. “Sudah hampir lima tahun kamu tinggal sama aku. Banyak hal sudah berubah. Buat apa dia mencari kamu baru sekarang?”
Susan melengos, “entah, Mbak,” tatapannya jatuh ke benda pipih di meja. “Dua tahun lalu, waktu pertama kali aku betulan lihat dia, dia bahkan tidak sadar ada aku. Tapi, sekarang… kenapa dia jadi sering misa di sana?”
“Dia misa sendiri?”
Susan menggeleng, “ndak, ada ceweknya, tapi—baru sepertinya.”
“Nikah lagi?” Balas Ibu.
“Mana bisa!” Susan memekik. “Aku kan, masih hidup, Mbak.”
Susan kemudian terdiam cukup lama. Mulutnya kulihat bergerak pelan sembari menatap untaian benda bulat di tangannya. “Dia bakal lakuin apa aja kalau dia pengin sesuatu.”