Susan?
Orang itu tahu nama Susan?
Aku mendongak ke wajahnya. Rambut pendeknya berkilauan dan disisir ke belakang. Namun, wajahnya tampak aneh. Ia tidak tersenyum, tetapi juga tidak seperti wajah Susan ketika marah.
Matanya memandangi Susan dengan cara yang aneh. Ia tidak berkedip, tidak melirik pula ke arah lain seakan yang hanya ia inginkan hanyalah Susan.
Susan pelan-pelan mengangkat tubuhku dan kembali menggendongku seperti biasanya. Aku menoleh ke belakang untuk melihat wajah Susan.
Mata Susan kini membesar seperti ketika ia melihat ke luar jendela. Bibirnya terbuka sedikit. Kurasakan ada getaran yang merambat dari dadanya ke tubuhku, tapi tak ada kata yang keluar darinya.
“Selama ini….” orang itu mulai berbicara. “Kamu di sini?’
Susan tidak menjawab. Dia hanya mulai melangkah mundur.
Orang itu masih memandangi Susan dengan cara yang sama sampai pada akhirnya, ia berjalan ke arah kami. Susan bergerak lebih cepat. Ia tidak lagi berjalan mundur, melainkan berlari ke arah berlawanan.
Kami bergerak menyusuri sisi gelap gereja itu. Di sepanjang tempat ini, tidak ada lampu. Hanya ada tumpukan benda-benda tak terpakai di sisi kirinya. Sementara, di sebelah ada rumput-rumput hijau seperti di halaman sebelumnya.
Di sini juga banyak pohon. Daunnya bergoyang terkena angin hingga mengeluarkan bebunyian aneh. Dari balik rumput-rumput tinggi, aku mendengar suara-suara yang tidak kukenali. Aku mencoba mencari pemilik suara itu, tetapi Susan berjalan lebih cepat dari yang kukira.
“Susan!”
Aku menoleh ke belakang. Ternyata orang itu masih ada di sana.
Susan membenahi posisiku dalam gendongannya. Lengannya semakin erat memelukku. Mungkin terlalu erat sampai aku bisa merasakan yang lengannya basah dan lengket.
“Susan berhenti dulu!” Suara orang itu terdengar makin keras.
Tubuhku terasa makin berguncang di pelukan Susan. Pandanganku bergoyang-goyang hingga semuanya kembali mengabur. Ada rasa tidak enak di dalam perutku. Rasanya seperti ketika aku minum susu terlalu banyak. Mataku kemudian sempat terpejam sebelum tubuhku tiba-tiba basah oleh sisa susu yang kuminum.
“Atma…” ia berkata lirih.
Langkahnya terhenti tepat ketika kami berada di pintu lain gereja. Mengapa aku tahu ini pintu lain? Karena Susan sering membawaku melalui pintu ini setiap kali aku menangis atau berisik di dalam.
“Kita harus bicara, Susan!”
Susan tak menjawab ucapannya. Ia merogoh isi tasnya, selembar kain putih, lalu ia sapukan ke mulut, bibir, sampai bajuku. Kulihat tangannya semakin berguncang saat ia mengambil selembar lagi kain itu.
Namun, belum sempat ia membersihkan cairan putih yang menempel di bajunya, orang itu sudah mencengkeram tangannya.
“Tidak mau!” Susan berteriak. “Lepasin!”
PLAK!
Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Tangan besar laki-laki itu terayun kencang sampai mengenai wajah Susan. Dari pinggir bibirnya terlihat cairan merah---
Tunggu…aku seperti pernah melihat cairan merah seperti ini.
Kini, cairan itu menetes dari bibir Susan. Jariku mencoba menggapainya, tapi Susan menarik kepalanya. Ia langsung menutupi wajahku dengan lengannya seakan tak ingin aku melihat semuanya.
Tubuh Susan kurasakan tiba-tiba terangkat. Ternyata, orang itu yang menarik pakaian Susan dari belakang sampai ia berdiri.
“Ke mana saja kamu selama ini?”
Susan pun langsung terjatuh tatkala tangan orang itu melemparnya ke arah pepohonan. Kami tersungkur ke tengah-tengah pohon yang diberi wadah keras. Susan menutupi wajahku sekali lagi dengan lengannya, tapi daun-daun panjang tetap ada yang mengenai wajahku.
Tangan itu kembali menarik Susan sampai ia berdiri. Saat itulah, aku melihat ada cairan merah yang menetes di tanganku. Entahlah, aku tak tahu itu berasal dari mana karena bukankah tadi Susan yang mengeluarkan cairan ini?
Namun, ketika aku masih bingung dari mana asalnya cairan ini, Susan telah menjerit tepat di samping telingaku.
“Atma, kamu berdarah!”
Apa itu berdarah?
Lalu, dari belakangku terdengar suara pintu yang terbuka keras-keras.
“Astaga, Tuhan Yesus!” Suara nyaring Oma Grace mengejutkanku. “Aduh! Maafkan Oma, Atma.”
Susan langsung berbalik ke arah Oma Grace. Ia ternyata datang bersama Romo Yosef yang berpakaian serba putih seperti ketika kami datang memakai baju bagus.
Beberapa orang juga terlihat mengikuti mereka.
Orang yang menarik tangan Susan langsung diam. Pandangannya melihat ke arah beberapa orang yang mengikuti mereka.
“Kamu…” bisik orang itu. Tangannya menunjuk ke arah dalam pintu itu. “Dengar dulu penjelasanku!”
Di dalam, seseorang yang rambutnya sepanjang Susan menutup mulutnya. Matanya membelalak lebar ke arah kami dan berkata, “apa-apaan kamu, Mas?”
Oma Grace melangkah cepat-cepat. Ia menghalangi orang itu ketika matanya kembali mengarah pada Susan.
“Kita ke sekretariat dulu, ya,” kata Oma Grace tegas. Lengannya merangkul bahu Susan yang masih gemetar. “Di sana ada kotak obat kan, San?”
Susan mengangguk sambil menangis.
Aku kemudian melihat Romo Yosef mendekati orang itu.
“Mas… Herman, kan?” Bisik Romo Yosef kepada orang itu. “Boleh ikut saya sebentar?”
Herman…akhirnya aku mengetahui nama orang yang membuat Susan kesakitan hingga mengeluarkan darah.
Herman sempat diam saja saat Romo memanggilnya. Matanya kulihat masih menyasar pada Susan. Tangannya terkepal seperti setiap kali aku kesal saat mainanku terselip di kolong alas tidurku.
Romo Yosef melangkah semakin dekat ke depan tubuh Herman.
“Tolong, ikut saya sebentar, Mas Herman,” kata Romo Yosef tanpa tersenyum. Wajahnya begitu berbeda dari biasanya.
Susan bergerak perlahan. Rambut panjangnya mengenai dahiku yang dibasahi cairan merah itu. Aku tak suka karena itu membuatku gatal. Tanganku jadinya tak sengaja menepuk sisi yang basah itu.
“SAKIT!”
Aku menjerit keras. Dahiku terasa sangat sakit. Tanganku langsung penuh dengan cairan merah itu.