Manakala Bulan Berbicara

Shanen Patricia Angelica
Chapter #19

Kasihku

Saat cahaya mengenai tubuhku, aku tahu hari ini akan berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Aku terbangun karena ada suara lembut yang masuk telingaku. Suara itu berupa nyanyian yang sangat pelan seperti yang kerap aku dengar di gereja saat Romo berdiri di depan. Nyanyian itu berlangsung lama sampai mataku betul-betul terbuka dan aku melihat ada sosok yang duduk di tepi alas tidurku.

Dia membelakangiku dan tampak tak sadar ada aku di belakangnya.

Nyanyiannya terdengar makin kencang hingga aku bisa mendengar sepotong-sepotong kata yang ia nyanyikan.

Kasihku, lihatlah bulan itu…” orang itu memainkan telunjuknya di alas tidurku. 

Lambat laun ketika mataku telah terbuka sepenuhnya, aku mulai mengenali sosok itu.

Ia bukanlah Susan, melainkan Ibu.

“Ibu?” Mataku menyipit ke arahnya. 

Ibu menoleh, senyumnya langsung menyambutku. “Halo,” katanya. “Sudah bangun rupanya.”

“Loh,” aku meregangkan tubuhku sebelum duduk di alas tidurku. “Mama Bulik?”

“Susan ke kantornya,” jawab Ibu. “Mau urus pindahan.”

“Pindahan apa, Ibu?”

“Pindahan tempat kerja,” balas Ibu dengan lembut. “Tempat tinggal kita nanti juga pindah.”

Aku merangkak mendekati Ibu. Berbeda dengan Susan yang biasanya langsung merentangkan tangan untuk menyambutku, tubuh Ibu justru menegang. Ia tak bergerak selama beberapa saat ketika aku sudah benar-benar sampai di depannnya.

“Maaf, Ibu,” kataku karena Ibu seperti tidak nyaman.

Wajah tegangnya sangat mirip seperti ketika Susan melihat orang aneh beberapa waktu lalu.

Ibu pun menggeleng sambil tersenyum, “kamu sudah bisa makan ikan belum, ya?”

“Ikan?” Tanyaku. “Belum pernah.”

Seingatku, Susan tidak pernah mengajakku makan ikan. Sayur sop paling sering, sesekali ayam goreng dan bakmi dengan daging ayam yang kami makan di gereja.

Kalau ikan, mengapa ya, Susan tidak pernah memberiku ikan?

“Tapi, aku makan bakmi,” jawabku cepat-cepat.

Ibu tersenyum, “berarti kamu sudah bisa makan ikan,” katanya. “Yuk, ke dapur. Aku bikin ikan goreng kesukaan Papa kamu.”

Senyum Ibu perlahan memudar setelah mengucapkan kata Papa. Ada apa dengan kata itu baginya? Aku juga sering mendengar kata itu diucapkan oleh orang-orang di gereja, pernah juga dari Romo Yosef. 

Biasanya memang ada perasaan aneh yang tiba-tiba kurasakan.

Perasaannya seperti aku kehilangan mainanku, mungkin kehilangan mainan yang satu-satunya kupunya.

Aku tidak pernah tahu kalau kata itu juga bisa membuat senyum Ibu menghilang.

“Papa?” Aku bertanya kepada Ibu. “Siapa Papa?”

Ibu merentangkan kedua tangannya tanpa menjawab pertanyaanku. Aku menghampiri tubuhnya. Ia langsung mendekapku erat begitu aku sampai di depan tubuhnya.

Dagunya menempel di kepalaku. Aku berada cukup lama dalam dekapannya sampai ia kembali berkata.

“Papa kamu,” suaranya terdengar memberat. “Dia adalah orang yang ingin mengajari kamu naik kuda. Namun, dia keburu dijemput Bapa ke surga.”

Kalau begitu aku sekarang mengerti, kenapa Bapa terdengar sangat mirip dengan Papa. Mereka berdua kini berada di tempat yang sama.

Apakah di sana Bapa juga akan mengajari Papa naik kuda?

“Di surga Papa naik kuda sama Bapa?” Aku spontan mengatakan apa yang ada di kepalaku sampai tak sengaja membuat itu tertawa.

Ibu mengangguk, “iya, dan itu bikin Papa sangat bahagia di sana.” 

***

Ikan buatan Ibu sangat enak.

Ibu bilang ikan ini digoreng jadi saat aku makan, terdengar bunyi ‘kres…kres’. Pantas saja jika Papa suka makanan ini.

Selama aku makan tadi, Ibu sibuk memisahkan daging ikan dari tulangnya. Katanya kalau makan tulang, mulut aku bisa berdarah. Namun, yang membuat aku bingung, mengapa Ibu bisa makan ikan tanpa dijadikan serpihan kecil seperti milikku?

Bukankah tulang itu juga bisa membuat mulut Ibu berdarah?

Tapi, ya sudahlah, aku tak mau pusing dengan itu.

Usai makan, Ibu kembali berdiri dari kursinya. Tatapan matanya terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi serupa patung yang menyeramkan. Kini, dia adalah ibu yang sangat baik dan menyenangkan.

Tangannya terulur kepadaku, “yuk, ikut aku,” katanya.

“Mau main?”

Ibu menggeleng, “lebih dari main.”

Lihat selengkapnya