Manakala Bulan Berbicara

Shanen Patricia Angelica
Chapter #20

Aku Takut, Ibu

Langit telah gelap saat aku dan Ibu tiba di jalan tak jauh dari rumah kami. Aku berada dalam gendongan Ibu sejak keluar dari bajaj beberapa saat yang lalu.

Bajaj…benda oranye yang sangat sempit dan suaranya berisik itu. 

Entah kenapa, baik Susan maupun Ibu ternyata suka sekali naik bajaj. Aku hanya mengikuti mereka saja, walaupun aku penasaran rasanya naik kuda. 

Mengapa tak ada dari mereka yang suka naik kuda seperti Papa?

 Ibu tadi juga berkata kepadaku, katanya kalau sudah lebih besar, aku boleh naik salah satu kuda di tempat itu.

“Benar, ya, Bu?” Aku berkata saat teringat janji Ibu di tempat itu.

“Benar apa, Atma?” Suara Ibu terdengar agak putus-putus saat berjalan sambil menggendongku.

Aku melihat wajah Ibu. Keringat memenuhi dahi sampai lehernya. “Itu–” ucapku. “Yang kuda itu.”

“Iya, Atma, nanti kamu boleh kok, belajar naik kuda,” jawab Ibu. “Sementara ini, kamu belajar nyanyi dulu, ya sama Ibu.”

“Kenapa harus nanti Ibu?” Kataku. “Tadi banyak yang kayak aku naik kuda.”

Ibu tersenyum kepadaku, “Ibu kumpulkan uang dulu untuk bayar orang yang ajari kamu, ya.”

Aku mengernyit ke arahnya, “kan, ada Papa, Bu?”

Kali ini Ibu tidak menjawab pertanyaanku.

Kaki Ibu berhenti tepat ketika kami sebentar lagi sampai ke depan rumah. Dari sini aku sudah bisa melihat rumah kami, tapi siapa itu yang berdiri di depan rumahku?

Mengapa ada orang bertubuh besar yang melihat ke arah rumahku? Dia memakai jaket kulit yang biasa kulihat dipakai para pengendara motor? Tapi, di mana motornya?

Ibu langsung menatapku, dan tangannya memelukku agak lebih kencang. “Ehm…kita ke gereja, ya. Jemput Mama Bulik.”

“Iya, Ibu.”

***

Entah kenapa, baik Ibu maupun Susan, sepertinya senang menggendongku sambil berlari.

Aku tidak tahu sudah berapa kali dibawa berlari hanya untuk pergi ke tempat yang sangat dekat dengan rumahku. Orang-orang pun banyak yang berjalan santai saat ke gereja. Biasanya, Susan mendahului mereka seakan ada yang mengejarnya dari belakang.

Kerap kali aku jadi sedih kalau ada yang menawarkan makan bakmi, lalu ditolak Susan karena ia ingin segera pulang.

Ya, aku takut mengakui ini, tapi aku sangat suka bakmi. 

Susan tidak boleh sampai tahu tentang hal ini karena aku sebenarnya dilarang makan bakmi sering-sering.

Dan, malam ini, saat aku melewati tempat bakmi itu, ternyata sudah tutup. Ibu buru-buru memasuki halaman gereja, lalu menuju kantornya Susan yang masih terang.

Sepertinya banyak yang belum pulang.

Saat memasuki ruangan kantor, Susan masih di mejanya bersama Romo Yosef.

Keduanya menoleh ke arah kami, Romo Yosef pun langsung berdiri. 

“Mbakyu, kenapa?”

Ibu menurunkanku dari gendongannya. Napasnya terdengar berisik, Romo Yosef langsung memberikan kursi untuk Ibu.

“Itu…” katanya paa sela-sela napas. “Ada laki-laki di depan rumah!” 

Romo Yosef langsung menatap Susan, “San, itu loh maksud saya,” ujarnya. “Kamu harus segera pindah. Herman itu orang berbahaya.”

“Tapi berkas kepindahan saya kan baru diurus sekarang, Romo,” Susan menyela ucapan Romo Yosef. 

“Itu urusan gampang,” katanya. “Yang penting besok kalian pindah dulu ke kontrakannya Ibu Susi.”

Tatapan Romo Yosef berpindah dari Susan, Ibu dan terakhir mendarat padaku. “Sementara waktu, kalian boleh tinggal di sini dulu. Kamar tamu masih kosong–”

“Jangan,” Susan menyahut. “Saya tidak mau melibatkan gereja, Romo. Saya takut ada yang terluka lagi.”

Romo Yosef tertunduk, kepalanya menggeleng pelan. “Justru itu, Susan. Kami semua juga tidak ingin kalian terluka.”

Susan menggeleng, “kalau kami harus pindah besok, artinya kami harus beres-beres malam ini. Saya tidak mungkin meninggalkan rumah Ibu Elisa dengan kondisi berantakan.”

“Begini saja, deh,” Romo Yosef menghela napas. “Saya antar kalian pulang saja bagaimana? Nanti saya bantu cek apakah ada yang mencurigakan di sana.”

Susan tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah Ibu. Mereka berdua terdiam cukup lama sampai pada akhirnya keduanya mengangguk.

“Maaf, Romo Yosef, tapi apakah itu akan merepotkan Romo?” Tanya Ibu, tubuhnya sedikit membungkuk saat berbicara.

“Aman saja, Kasih,” jawab Romo Yosef. “Toh, saya juga tidak tenang kalau tetap membiarkan kalian pulang sendiri.”

Susan menghela napas panjang, “kalau begitu,” katanya. “Baiklah, Romo. Terima kasih banyak sekali lagi.

***

Perjalanan kembali ke rumah terasa sangat berbeda dari yang biasanya kulakukan bersama Susan. Kami berjalan beriringan menyusuri trotoar yang terang oleh cahaya lampu.

Romo Yosef berjalan di depan sambil berdoa dengan rosario miliknya. Ia tak banyak bicara sejak kami keluar dari gereja. Lantaran itu juga, tak ada satu pun dari kami yang berniat bersuara. 

Aku berada dalam gendongan Ibu yang terasa begitu hangat. Satu tangan Ibu sesekali menggenggam tangan Susan di sampingnya. Kepala Susan sedari tadi menunduk saja sampai aku khawatir ia tidur di jalan. 

Saat kami tiba di depan rumah, ternyata orang aneh itu sudah tidak ada. Kepala Susan kembali mendongak. Ia melihat ke arah kami semua sebelum membuka pintu.

Namun, tepat pada saat kami seharusnya masuk ke dalam, Ibu malah membawaku ke sisi depan rumah. Ia menurunkanku dari gendongannya, lalu wajahnya menengadah ke langit.

Di sana terlihat bulan telah bulat sempurna. Sambil tersenyum, Ibu membuat tanda salib di dadanya. “Tuhan,” ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya. “Tolong jaga kami malam ini. Amin.”

Ibu melihatku sejenak. Senyumnya mengembang tipis. Jarinya yang bebas menyibak rambutku untuk membuat tanda salib di dahiku.

“Kamu aman, Atma.”

Aku mengangguk, walaupun aku tak mengerti apa tujuannya.

Kami pun segera memasuki rumah.

Pintu di belakangku segera Susan tutup. 

“Malam ini kalian siapkan baju dulu saja,” ujar Romo Yosef. “Saya cek area depan dulu.”

“Romo, sepertinya Romo langsung pulang saja,” ucap Susan. “Sudah malam, saya takut ganggu waktu istirahat, Romo.”

Romo Yosef terkekeh, ia mengibaskan tangannya. “Kamu ini bagaimana, sih, San? Saya kan, baru akan pulang kalau kalian sudah benar-benar aman.”

Namun, Susan masih terlihat ragu.

“Romo, tapi—”

“Sudah, ya, San,” kata Romo Yosef sambil tersenyum. “Saya keluar dulu. Kamu jangan lupa kunci pintu dan jendela. Nanti kalau sudah aman, saya ketuk pintu sekali saja, ya.”

Aku memandangi wajah mereka semua. Ucapan Romo Yosef begitu sulit kupahami. Mengapa ia harus keluar hanya untuk mengetuk pintu? Bukankah saat ini ia sudah ada di dalam?

Susan mengangguk. Mulutnya terkatup rapat. Dengan perlahan, dia melangkah ke arah pintu, “Romo, hati-hati.”

Ia membuka pintu hingga cukup untuk Romo Yosef lewati. Angin malam berembus masuk sampai aku sedikit merasa dingin. Lalu, sebelum pintu tertutup, aku melihat tubuh Romo Yosef sekilas berjalan ke arah kiri rumah. 

Susan segera mengunci pintu sampai terdengar bunyi ‘klik’ dua kali. Dia kemudian berjalan ke arah kami dengan wajah yang sangat tegang. Mata Susan tak lepas memandang Ibu dan aku.

Tiba-tiba, terdengar jeritan dari luar.

Susan mendelik ke arah kami. “Romo!”

Tanpa berpikir panjang, Susan langsung berlari ke arah pintu. Ibu lantas berdiri dan mengejarnya. Aku yang tadi berada di sebelah Ibu mendadak sendirian. 

“San, jangan!” Sebelum tepat Susan membuka pintu, Ibu telah lebih dulu menarik tangan Susan. 

Lihat selengkapnya