Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #1

Jiwa Seorang Pengasih

Malam selalu punya cara tersendiri untuk memeluk sunyi. Ketenangan yang menyusup ke dalam kamar ini terasa ganjil, dilapisi selembar gundah yang tipis, namun teramat likat.

Di luar, suara angin laut dari arah Pantai Ulee Lheue samar-samar mengetuk kaca jendela yang buram, meninggalkan selentingan derit pelan pada engsel pintu kayu yang sudah memudar warnanya. Aku tersandar di sudut tempat tidur, membiarkan pendaran lampu temaram berwarna kuning menyoroti kamarku dengan magis.

Ada kehangatan yang menyeruak di udara setiap kali aku memandangi dinding-dinding rumah panggung khas Aceh ini. Desember ini, hawa dingin Kota Banda Aceh terasa berbeda. Angin yang bertiup dari pesisir Selat Malaka membawa aroma garam yang pekat, menembus celah-celah papan rumah, mengelus kulitku yang mendadak meremang. Namun, malam ini, pikiran dan anganku justru melompat jauh ke belakang, menerobos sekat waktu, merentasi ingatan delapan tahun yang lalu saat aku masih seorang bocah tanggung.

Kenangan itu meletup kembali dengan begitu jernih. Saat itu aku masih duduk di kelas 1 SMP. Sebuah masa di mana ingatan itu tertuju pada sebuah siang yang terik di halaman sekolah, tidak jauh dari kemegahan kubah hitam Masjid Raya Baiturrahman. Aku memperhatikan kawan sekelasku bernama Ahmad. Dia sedang bersusah payah melerai adiknya yang saat itu sedang berkelahi dengan teman sekelasnya. Mereka berebut buah mangga golek yang terjatuh dari pohon di samping sekolah.

Suasana yang awalnya bising oleh teriakan anak-anak mendadak senyap di mataku ketika Ahmad melangkah maju. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, Ahmad membujuk sang adik yang menangis tersedu-sedu karena tidak dapat memiliki buah mangga golek yang sangat diinginkannya itu. Masih terngiang dengan teramat jelas di telingaku, setiap untaian kata yang keluar dari bibir Ahmad saat membujuk adiknya dengan penuh kesabaran.

"Abang janji, sampai rumah nanti Abang akan pergi ke sawah memancing belut, terus akan Abang jual hasilnya pada orang di kampung. Uangnya akan Abang belikan mangga golek yang buaaanyak untuk Adek. Sudah ya... jangan nangis lagi, nanti hilang lho gantengnya..."

Lihat selengkapnya