Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #2

Saudara di Alam Maya

Waktu terus bergulir membawa takdirnya sendiri, dan cara Tuhan menjawab rintihan hati ini sering kali melompati batasan nalar yang kasat mata. Ruang tunggu yang sunyi di dalam dadaku—ruang kosong yang bertahun-tahun merindukan kehadiran seorang adik—ternyata tidak diisi oleh pertalian darah yang lahir dari rahim ibuku. Melalui sebuah wujud alam maya yang tengah digandrungi banyak orang di era digital, doa-doa malamku yang mengharapkan hadirnya seorang saudara seolah menemukan jalannya untuk mewujud menjadi kenyataan.

Semuanya bermula dari sebuah malam di pertengahan tahun yang tenang. Pendaran layar komputer tabung di sebuah warung internet di sudut Banda Aceh memantulkan wajahku yang lelah setelah seharian beraktivitas. Jari-jemariku berselancar tanpa arah di beranda media sosial yang masih terasa baru bagi kami saat itu. Di sanalah, di tengah jutaan akun yang bertebaran di seluruh penjuru dunia, mataku mendadak terpaku pada sebuah profil. Nama yang tertera di sana adalah Muhamad Irfan.

Ada rasa terkejut yang mendadak hadir di dadaku ketika pertama kali melihat pasfoto yang terpajang di sana. Jantungku berdebar heran, dipaksa menghadapi sebuah kenyataan visual yang sungguh di luar dugaan. Aku tertegun, hingga harus mengucek mata berulang kali demi memastikan bahwa apa yang kusaksikan bukanlah sejenis fatamorgana atau sekadar pantulan bayanganku sendiri di kaca monitor yang kusam.

Wajah pemuda di dalam foto itu teramat serupa dengan wajahku. Garis rahangnya, bentuk hidungnya, bahkan sorot matanya saat menatap kamera benar-benar mirip dengan apa yang selalu kulihat di cermin setiap pagi. Orang-orang di dunia nyata pun sering kali bilang kalau wajah anak itu denganku bagai pinang dibelah dua. Setelah kuamati dengan saksama lewat lembar-lembar foto digital yang ia unggah di jagat maya, ada benarnya juga. Kemiripan kami begitu mutlak, cenderung tampak seperti saudara kembar yang sengaja dipisahkan jarak dan waktu.

Ketakjuban ini pun tidak hanya milikku sendiri. Ketika hubungan pertemanan sesama lelaki mulai kujalin melalui sapaan akrab di dunia digital, Irfan pun mendapatkan komentar yang persis sama dari kawan-kawan sekolah dan lingkungan bermainnya di Bogor. Teman-temannya sempat mengira foto-foto kirimanku adalah foto masa kecil atau foto saudara kandung laki-laki Irfan yang selama ini dirahasiakan oleh keluarganya.

Itulah awal mula bagaimana tali persaudaraan kami berdua mulai saling bertautan. Aku yang berusia dua tahun lebih tua dari Irfan—seorang pemuda Aceh yang sejak lama mendambakan peran seorang abang—merasa takdir sedang mengarahkanku untuk membimbing anak itu. Lewat ruang obrolan chat room yang sederhana, kami mulai bertukar cerita tentang keseharian layaknya dua orang sahabat. Mulai dari dinginnya Kota Bogor yang selalu Irfan ceritakan dengan penuh semangat, hingga tentang kehangatan pesisir Tanah Rencong tempatku bertumpu.

Lihat selengkapnya