Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #3

Siasat Seminggu

Rencana besar itu akhirnya bukan lagi sekadar angan-angan yang mengambang di langit kamar. Segala sesuatunya sudah kusiapkan dengan teramat matang, termasuk selembar tiket pesawat promo yang sudah aku booking semenjak seminggu yang lalu. Di atas kertas digital itu, tertera dengan jelas tanggal keberangkatanku: 19 Desember. Aku tidak bisa lagi menolak keinginan hatiku yang begitu besar untuk berjumpa langsung dengan adik semata wayangku. Di sanalah, di Kota Bogor yang sejuk, aku ingin mencurahkan seluruh bentuk perhatian dan kasih sayang seorang kakak yang sudah terlampau lama menahan kangen akibat sekat jarak yang membentang ribuan kilometer.

Namun, benakku yang kadang dipenuhi ide-ide jahil mulai merancang sebuah skenario kecil. Aku tidak ingin pertemuan pertama kami berjalan biasa saja. Aku ingin kedatanganku ke tanah kelahirannya menjadi sebuah kejutan besar yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup.

Sebuah ide usil mendadak melintas di kepalaku saat aku menatap daftar obrolan di media sosial yang menyala hijau. Agar momen pertemuan ini makin berkesan dan meledak menjadi kebahagiaan yang tak terkira, aku mengambil keputusan nekat: aku akan sengaja mengabaikan Irfan di dunia maya selama satu minggu penuh tepat sebelum hari keberangkatanku.

Siasat ini kumulai pada suatu malam. Aku sengaja masuk ke dalam akun media sosialku, membiarkan status profilku terlihat online olehnya, namun aku bersumpah tidak akan menyentuh atau mengirimkan satu pesan pun ke dinding profilnya. Aku tahu betul bagaimana tabiat adik angkatku itu. Irfan adalah tipe anak yang mudah sekali ngambek dan sensitif jika mendapati orang-orang terdekatnya mendadak berubah dingin. Dan benar saja, siasatku langsung memancing reaksinya di hari pertama.

"Ka Joel... Dari tadi online sombong banget nih, nggak nyolek sama sekali....?"

Kata-kata Irfan yang terpampang di dinding profilku sengaja tidak kuhiraukan. Aku hanya membacanya dari balik layar komputer tabung di warung internet langgananku sambil menahan tawa. Sengaja. Biar dia marah. Kalau bisa sampai benci sekalian untuk sementara waktu, aku malah akan merasa senang. Semakin besar kekesalannya di dunia maya saat ini, akan semakin runtuh pula emosinya saat tiba-tiba sosok abangnya ini berdiri di depan pintu rumahnya.

Lihat selengkapnya