Malam di Kota Hujan selalu punya cara yang teramat dingin untuk memeluk sepi. Hujan yang turun sejak lepas magrib tadi menyisakan rintik gerimis yang malas, mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarku dengan irama yang monoton dan menjengkelkan. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh pendaran lampu meja yang temaram, aku duduk menekur di depan monitor komputer tabung yang mendengung pelan. Ruangan ini terasa begitu luas, sekaligus begitu sempit oleh gumpalan rasa kesal yang sejak beberapa hari ini menyumbat dadaku.
Aku menatap layar. Di sudut kanan atas, sebuah titik hijau kecil menyala dengan terangnya tepat di samping nama akun milik Kak Joel. Dia online. Dia ada di sana, entah di warung internet mana di sudut Banda Aceh, menjelajahi jagat maya yang tak kasat mata ini. Namun, keberadaannya yang begitu dekat di dimensi digital justru terasa ribuan kali lebih jauh daripada jarak geografis yang memisahkan pulau kami.
"Ka Joel... Dari tadi online sombong banget nih, nggak nyolek sama sekali....?"
Jari-jemariku mengetikkan kalimat itu di dinding profilnya dengan entakan yang agak keras pada papan ketik. Dadaku naik turun menahan gemuruh yang tiba-tiba saja membuncah. Aku menunggu. Satu menit, lima menit, hingga jarum jam dinding di kamarku bergeser melewati angka sepuluh, tidak ada satu pun balasan yang masuk. Titik hijau di samping namanya masih menyala dengan angkuh, membuktikan bahwa dia tidak sedang menjauh dari layarnya. Dia melihat pesanku. Dia membaca keluhanku. Namun, dia sengaja memilih untuk tidak acuh.
Hatiku kesal bukan main. Perasaan jengkel yang panas mendadak menjalar dari ulu hati hingga membuat telingaku terasa panas. Ini sudah hari keenam. Enam hari penuh tanpa satu pun sapaan hangat, tanpa ada satu pun gurauan tentang lagu-lagu Ungu Band yang biasanya menjadi menu wajib obrolan kami setiap malam. Mengapa kakak angkatku berubah sedingin es di kutub? Apa salahku? Apakah kesibukannya di Serambi Mekah sana telah membuat eksistensiku sebagai seorang adik angkat menjadi tidak lagi penting dan terlupakan begitu saja?
Rasa kesal itu lambat laun bercampur dengan rasa gengsi dan sakit hati yang pekat. Aku merasa seperti seorang pengemis yang meminta-minta perhatian dari seseorang yang dulu dengan perhatiannya akan selalu ada untuk melindungiku. Dengan napas yang tertahan dan tangan yang sedikit gemetar karena amarah yang memuncak, aku mengarahkan kursor tetikus ke arah menu pertemanan di profilnya. Pikiranku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Rasa jengkel yang kekanak-kanakan mendominasi seluruh kesadaranku malam itu.
Klik...! Dengan satu ketukan tegas, aku memutuskan untuk keluar dari daftar pertemanannya. Aku menghapus nama Kak Joel dari dunia mayaku. Biar saja! Biar dia tahu rasanya kehilangan kontak denganku. Biar dia mencari-cariku jika suatu saat nanti dia tersadar dari sikap sombongnya yang tak beralasan itu. Lagipula, untuk apa aku mempertahankan hubungan digital yang hanya sepihak ini jika yang kudapatkan hanyalah punggung dingin dari seseorang yang kuharapkan bisa menjadi tempat mencurahkan keluh kesah?