Mangga Golek yang Kau Rindukan

Langit Berawan
Chapter #5

Kepanikan Sebelum Terbang

Malam terakhir di tanah kelahiran sebelum melangkah menuju belahan pulau lain selalu menyisakan debar yang tidak biasa. Di dalam kamar kayu yang menjadi saksi bisu pertumbuhanku, segala persiapan praktis sebenarnya sudah mendekati kata sempurna. Tas ransel besar berwarna hitam sudah tergeletak pasrah di sudut ruangan, menggembung padat berisi beberapa potong pakaian terbaik, dokumen perjalanan, serta oleh-oleh khas Aceh yang sengaja kusiapkan untuk kawan karibku di seberang lautan. Di atas meja belajar, selembar tiket pesawat fisik dengan tujuan Jakarta untuk penerbangan esok pagi, tanggal 19 Desember, sudah terselip rapi di dalam dompet kulitku.

Rencana yang kurajut berbulan-bulan kini tinggal selangkah lagi menuju kenyataan. Rasa puas sempat membuncah di dalam dada saat memikirkan bagaimana ekspresi terkejut dan raut gembira yang akan terpancar dari wajah Irfan, sahabat sekaligus adik angkatku, ketika melihatku tiba-tiba berdiri di depan rumahnya di Bogor. Namun, sebelum kelopak mataku terpejam untuk mengistirahatkan tubuh yang esok subuh harus sudah bersiap menuju Bandara Sultan Iskandar Muda, aku memutuskan untuk pergi ke warung internet di dekat persimpangan jalan kampung. Aku hanya ingin melakukan satu ritual kecil yang biasa kulakukan: memastikan situasi digital kami sebelum esok hari aku benar-benar berada di dalam burung besi.

Udara Desember di Banda Aceh malam ini terasa cukup menusuk, membawa sisa-sisa aroma air laut yang asin berbaur dengan angin dingin yang berembus konstan dari arah pesisir. Di dalam bilik warnet yang pengap oleh kepulan asap rokok dari beberapa pengunjung lain, aku mendudukkan diri dengan santai. Aku menyalakan komputer tabung, menunggu proses booting yang lambat dengan senyum kecil yang masih bertengger di sudut bibir. Di dalam kepala, aku masih membayangkan betapa suksesnya taktik mendiamkannya selama satu minggu ini dalam memupuk rasa rindu di antara dua orang sahabat.

Aku memasukkan kata sandi dan membuka halaman media sosial pribadiku. Hal pertama yang kulakukan adalah langsung mengarahkan kursor menuju kolom pencarian dan daftar kontak terdekat. Namun, saat halaman profilku terbuka sepenuhnya, mataku mendadak terpaku pada deretan nama di daftar pertemanan.

Nama Muhamad Irfan tidak ada di sana.

Aku tertegun. Jantungku serasa jatuh gedubrag, meninggalkan kekosongan yang instan di dalam rongga dada. Permukaan kulitku mendadak sedingin es meski hawa warnet saat itu cukup hangat. Aku mengucek mata berulang kali, mengira pandanganku mengabur karena kelelahan menyusun jadwal perjalanan. Dengan tangan yang mendadak gemetar dan keringat dingin yang mulai membasahi telapak, aku mengetikkan nama lengkapnya di kolom pencarian global. Akunnya masih ada, lengkap dengan foto profil berwajah serupa denganku yang menatap lurus ke depan. Namun, tombol di bawah fotunya tidak lagi bertuliskan "Kawan", melainkan telah berubah menjadi "Tambah sebagai Teman".

Lihat selengkapnya