Pintu bus antar-kota terbuka dengan desah hidrolik yang berat, dan seketika itu juga aroma khas Bogor langsung menyergap indra penciumanku. Kota Hujan ini menyambut kedatanganku bukan dengan keramahan yang hangat, melainkan dengan guyuran air langit yang turun dengan sangat deras dan pongah. Langit di atas terminal Baranangsiang tampak kelabu kelam, bergelayut rendah seolah-olah semenjak pagi tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi sinar matahari untuk menembus. Hawa dingin yang lembap segera menusuk pori-pori kulitku, memaksa tubuh ini merapatkan jaket tebal.
Bogor benar-benar menampilkan identitas aslinya sore itu. Di sepanjang jalanan yang kulihat, barisan angkutan kota berwarna hijau daun—kendaraan ikonik yang memenuhi setiap sudut kota ini—saling berkejaran membelah genangan air, menciptakan cipratan-cipratan tinggi di tepi pembatas jalan. Para pejalan kaki tampak terburu-buru, berlindung di balik payung-payung aneka warna atau merapatkan diri di selasar ruko-ruko tua yang berderet di sepanjang trotoar. Di kejauhan, bayangan pepohonan raksasa dari arah Kebun Raya tampak meliuk-liuk gemulai dihantam angin barat, menciptakan suasana eksotis sekaligus asing bagi seorang pemuda pesisir sepertiku.
Suara gemuruh air yang menghantam atap seng dan aspal jalanan berpadu dengan klakson kendaraan, menciptakan simfoni riuh yang menandakan kehidupan Kota Hujan yang tetap berdenyut kencang di tengah kepungan cuaca ekstrem.
Aku melangkah dengan agak tergesa menuju sebuah halte bus yang cukup luas untuk menghindari basah. Setelah menghempaskan tas ransel hitamku ke atas bangku beton yang dingin, aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi rongga dadaku dengan udara Bogor yang sarat akan aroma tanah basah dan dedaunan. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan udara dan darat yang melelahkan seketika menguap, digantikan oleh letupan semangat yang membuncah di dalam dada. Di sinilah aku sekarang, berada di kota yang sama dengan kawan karibku. Jarak ribuan kilometer kini telah terpangkas habis, tinggal menyisakan beberapa puluh menit perjalanan lokal untuk bisa bertemu langsung dan berjabat tangan dengannya.
Dengan senyum lebar yang tak mampu kusembunyikan, aku meraba saku jaket dan mengeluarkan telepon genggamku. Aku sudah tidak sabar untuk mendengar suara Irfan. Aku ingin mendengar bagaimana nada terkejutnya saat aku memberi tahu bahwa abangnya dari ujung Sumatera kini sedang berdiri di salah satu halte kota kelahirannya. Jari-jemariku dengan cepat menekan deretan nomor ponsel Irfan yang sudah kuhafal di luar kepala. Kuangkat benda pipih itu ke telinga, menunggu dengan dada yang berdebar penuh antusias.
Namun, alunan nada sambung yang kuharapkan tidak kunjung terdengar. Sebagai gantinya, sebuah suara perempuan dengan nada datar dan mekanis menyergap pendengaranku, memberikan pengumuman yang membuat senyum di wajahku langsung runtuh seketika.